Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Rujak buah


__ADS_3

"Berarti kehamilan istri anda Sensitif Terhadap Bau. Itu terjadinya perubahan hormon saat hamil dapat membuat indra penciuman wanita menjadi lebih sensitif. Hal ini bisa membuat 


Istri bapak  menjadi lebih mudah merasa mual, saat mencium aroma tertentu. Seperti yang pak Brian sebutkan tadi,


Seperti wangi parfum, masakan yang berbau tajam, dan asap rokok. Jika mba Naila mengalami ngidam nya yang berlebih, nanti bapak bisa membawa mba Naila untuk memeriksa lebih lanjut lagi. Kalau dalam artian ngidamnya mba Naila dalam hal yang tidak wajar saat melihat matahari,atau apapun itu seperti ketakutan."


"Iya dok, tapi istri saya ngidamnya saat melihat matahari dalam hal yang wajar. Ya semoga saja tidak sampai berlebihan jika melihat matahari. Jika istri saya masih ketakutan atau berlebihan saya akan membawa istri saya kesini dok." Dokter Sanny pun mengangguk kan kepalanya.


Setelah memeriksa kandungan dan berkonsultasi dengan dokter Sanny. Mereka bertiga pun berniat untuk pulang . Namun di pertengahan jalan, Naila melihat penjual rujak buah.


"Mas kiri mas, aku ingin beli itu". Naila menyuruh Brian berhenti.


Brian pun akhirnya memberhentikan mobilnya di sisi kiri jalan.


"Kamu mau beli apa sayang.?" Tanya bunda yang duduk di kursi belakang.


"Aku ingin rujak bunda." Naila menunjukan wajah melas nya ke bunda dan Brian. Membuat mereka tak tega akan melihat tatapan Naila.


"Yakin kamu mau itu sayang. Nai kamu ingat saat kita jalan jalan kamu habis makan rujak. Terus apa yang terjadi setelah itu, aku gak mau kamu Kenapa loh sayang."


"Tapi aku ingin loh mas. Boleh ya mas.?Bunda boleh kan Naila makan rujak, aku ingin itu.?" Mata Naila sudah mengembun.


"Brian..." Panggil bunda, dan Brian pun paham dengan panggilan bunda Rossa.


Naila masih menundukkan kepalanya, dengan bibir cemberut. Brian mengamati wajah istri nya yang nampak murung.Ada rasa tak tega pada Brian sebenarnya.


"Yasudah yuk kita beli."


"Gak jadi, aku dah gak kepingin lagi." Jawab nya ketus.


"Astaghfirullah Nai, ayo kita turun kita beli rujaknya." Bujuk Brian kembali, yang tau kalau istrinya kini merajuk.


"Gak jadi, tiba tiba selera aku ingin makan rujak hilang. Kita pulang saja, kepala aku pusing."

__ADS_1


"Nak, kamu beneran sudah gak mau. Ayo bunda anterin, jangan ngambek lagi ya. Yuk turun bunda anterin sayang.?"


"Gak jadi bunda, tiba tiba aja aku gak selera lagi. Aku ingin tidur sebentar kepala aku tiba-tiba pusing." Naila tersenyum ke arah bunda.


"Kamu sakit sayang, kamu pusing. Apa mau kita putar balik ke dokter Sanny.?" Brian sedikit khawatir.


"Gak usah mas, aku hanya pusing sedikit."


"Yasudah kamu istirahat saja, mungkin kamu kelelahan nak". Naila mengangguk.


Naila memejamkan matanya hanya untuk menghubungkan rasa pusing nya, dengan kepalanya bersandar.


Tidak lama kini mereka sudah sampai di kediaman rumah bunda Rossa. Di sana ayah Haris,dan Debby sedang asyik menonton acara di tv. Saat itu juga bunda, Brian dan Naila kumpul bareng dengan ayah dan Debby.


"Semuanya maaf ya aku mau ke kamar dulu, aku ingin istirahat." Kata Naila tiba-tiba, membuat Brian menatap istrinya.


"Yuk aku antar sayang.?"


"Gak usah mas, aku mau sendiri." Brian hanya mengangguk kan kepalanya.


"Brian, lain kali kamu pahami keadaan Naila. Apalagi saat ini dia sedang mengandung, itu perubahan hormon nya. Yang Naila inginkan itu, bawaan dari baby nya. Ibu nya sedih anaknya pun ikut sedih loh di perut nya. Itu Mangkanya ibu hamil gak boleh mudah stress karena dampaknya bisa ke baby nya nak. Kalau Naila senang dan bahagia, itu juga akan berdampak baik untuk janinnya. Gak ada salahnya kamu mengikuti permintaan nya selagi hal yang wajar."


"Tapi Bun, ini tuh untuk kebaikan dia. Pernah waktu itu pas lagi jalan jalan, dia minta rujak. Aku beliin rujak itu, dia makan begitu lahap dan semangat. Sampai di rumah kata nya perutnya sakit, aku gak mau dia sampai kenapa kenapa bunda.?"


"Iya bunda paham sayang, tapi Naila saat ini dia sedang hamil nak. Mengertilah, itu keinginan baby nya.." Bunda menjelaskan dengan sabar agar Brian tidak salah paham.


"Hei jagoan ayah, kamu tau tidak bunda itu tidak suka dengan pedas loh dulu. Sebelum ayah dan bunda menikah, tapi sekarang bunda jadi suka makanan pedas loh. Karena apa, karena waktu bunda hamil kamu, Bunda selalu ingin makanan pedas. Waktu itu Ayah sempat menolak permintaan bunda, bunda kamu merajuk selama 3 hari, bahkan selalu menangis karena mengingat ayah tidak izinkan untuk makan pedas. Setelah ayah beri izin bunda, bunda bahagia dan sangat senang. Dan Alhamdulillah bunda gak Kenapa, karena pedas nya masih normal, kalau berlebihan sudah pasti ayah melarang nya. Dan sampai sekarang bunda jadi suka sama makanan pedas." Timpal ayah Haris ikut menjelaskan.


"Apa sampai segitunya bunda sampai merajuk sama ayah selama 3 hari. Pantas kakak waktu kecilnya sangat pedas mulutnya, suka bikin Naila menangis. Jadi karena kakak itu selama di perut bunda selalu minta yang pedas-pedas." Celetuk Debby membuat bunda dan ayah menahan senyum nya.


"Kakak gak takut kalau Naila juga akan merajuk ke kakak, atau mungkin baby kalian di perut Naila juga ikut merajuk ke kakak. Secara kan, kakak itu dulu sering memarahi dan menjahili Naila. Mungkin anak kakak akan ngambek karena ayahnya sering membuat Mamahnya menangis. Uuuupppss.... Sorry keceplosan, tapi itu benar kan. Hihihi!..." Celetuk Debby sambil mengarahkan dua jarinya seperti huru V.


Debby dapat tatapan tajam dari kakaknya tersebut. Sedangkan bunda dan ayah memberi kode ke Debby untuk diam.

__ADS_1


Debby langsung merapatkan mulut dengan tersenyum.


"Maaf kakak sayang." Brian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Apa mungkin anak ku akan membalas kan dendamnya sekarang. Karena dahulu aku selalu memarahi dan menjahili Naila. Ya Tuhan Naila kemarin menjauhi aku seharian saja kepala ku pusing,dan bingung harus bagaimana. Apalagi kalau beneran Naila sampai merajuk, apa yang harus aku lakukan.


Sambil bergumam dalam hati, Brian memijat keningnya yang terasa berdenyut.


Tidak lama terdengar suara motor Denis di halaman rumah.


"Hallo semuanya, tumben lagi ngumpul. Ka Naila kemana.?"


" Naila di kamar, baru naik. Katanya mau istirahat." Denis mengangguk. " Itu apa yang kamu bawa.?" Tanya Brian saat melihat bingkisan di tangan Denis.


" Ooh ini,aku beli buah. Biasanya ya yang aku tau kalau wanita hamil pasti ingin makan rujak, biar seger kata nya." Jawab Denis. Bunda dan Brian saling menatap.


"Kamu kata siapa .?"


" Itu tuh istri nya Daffa kaya gitu, tiap hari yang di cari rujak. Mangkanya tadi aku ketemu Daffa saat lagi keluar, aku tanya dia mau ke mana. Dia bilang mau beli rujak, istrinya lagi ngidam kata nya. Aku jadi ingat Naila, aku beli aja sekalian, kali aja dia suka.?" Baru Brian ingin bicara dari belakang Terdengar suara Naila.


"Rujak... Denis kamu bawa rujak.?" Denis mengangguk dan tersenyum.


"Waahh... Kebetulan aku lagi ingin makan rujak, trimakasih Denis. Kamu memang paling ngertiin, terimakasih ya.." Sambil mengambil bungkusan rujaknya.


Denis tersenyum melihat Naila begitu bahagia nya. Sambil melirik ke arah kakaknya yang kini sedang menatap Naila dan dirinya. Ada rasa tak enak sebenarnya di benak Denis saat Naila memujinya di depan kakaknya. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur.


"Denis, Debby bunda ayah. Ayo kita makan sama sama rujaknya. Ayo Denis Debby temani aku makan rujaknya yuk." Denis pun mengangguk.


Sambil menarik tangan Denis, lalu Naila juga menarik tangan Debby untuk ke meja makan.


Naila lupa kalau dia tidak mengajak suaminya yang kini sedang menatapnya yang menggandeng tangan ke dua adiknya itu.


Ayah dan bunda pun menepuk pundak Brian. Agar Brian sabar menghadapi istri nya yang sedang hamil. Brian mengangguk kan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2