Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Denis dan Naila


__ADS_3

"Iya iya, gitu aja ngambek."


" Ya sudah nanti aku jemput kamu ya Nai, sampai jumpa lagi.?"


"Iya."


Panggilan terputus dan Naila pun kini melanjutkan tugasnya untuk stok besok. Karena besok adalah hari Minggu, di mana hari produksi libur.


Tepat jam 6 sore selesai magrib, ada motor berhenti di tokonya. Orang yang berada di motor pun masuk, ke dalam toko. Rara yang membuka pintu dengan tersenyum manis melihat pria yang datang saat itu lumayan tampan bagi Rara.


"Selamat sore, selamat datang di toko kami. Ada yang bisa saya bantu mas.?"


"Aah... Iya saya kesini untuk mencari Naila, apa Naila nya ada.?"


"Naila nya ada, sebentar saya panggil kan." Pria itu pun mengangguk.


Sebelum Rara memanggil, Naila pun sudah datang sedang tertawa bersama Devi.


"Ampun Naila, gak lucu aah muka aku kena tepung nih..?"


"Hahahah emang enak, kamu kira kamu aja kena tepung liat aku pun sama." Dari dalam Terdengar suara dua pria yang sedang tertawa.


Benar saja saat keluar dari produksi wajah Naila dan Devi penuh dengan tepung. Dan dengan kejahilannya Naila, yang menahan kedua tangan Devi ke belakang. Membuat Naila tertawa , sedang kan suara Devi merengek minta di lepaskan.


Saat keluar Naila belum sadar saat melihat ada Denis yang datang menjemputnya. Denis pun terkekeh melihat wajah Naila dan temannya ada tepung.


Saat Naila melihat ada Denis, reflek Naila melepaskan tangan Devi dan mendorong nya sampai Devi jatuh duduk.


Bugh... " Aaaw... Nailaa... Aduuh sakit tau gak bok..ong ku .. "kata Devi yang kini berada di lantai.


Naila menutup mulutnya melihat Devi jatuh duduk. Denis menggelengkan kepalanya melihat Naila,sedangkan Naila tersenyum menunjukan gigi nya yang bersih.


"Mari saya bantu kamu berdiri.?" Di depan Devi ada tangan yang hendak menolong nya.


Saat Devi melihat ternyata seorang pria berkulit putih,hidung mancung serta senyuman yang sangat indah. Devi pun memegang tangan itu, untuk berdiri .


"Denis kamu kapan datang.?" Naila tersenyum.


"Baru saja. Naila, lebih baik wajah kamu dan temanmu itu bersihkan dulu. " Denis menahan senyum nya karena melihat wajah dua wanita itu sangat lucu..

__ADS_1


"Aaah iya, tunggu sebentar ya. Ayo Devi, bersih kan muka kita dulu.!" Naila pun segera menarik tangan Devi.


Denis menggelengkan kepalanya, dan tersenyum. Sedangkan Rara masih memperhatikan wajah Denis dengan tersenyum manis.


Saat Naila dan Devi keluar dari toilet, dan di wajah mereka tidak terlihat ada tepung lagi, Denis pun tersenyum.


"Iseng banget si kamu Nai, liat tuh wajah teman kamu tadi kena tepung".


"Habis dia nya jahil tau Denis. Mangkanya aku balas." Naila terkekeh melihat Devi, Devi hanya mencebik kan bibirnya." Ow iya Rara, Devi kenalkan ini Denis. Nah Denis ini dulunya teman kecil aku, dia adik nya kak Brian."


"Ow Denis namanya,pantes ganteng. Kakak nya aja ganteng apa lagi adiknya." Celetuk Rara, Denis yang mendengarnya tersenyum.


"Nah Denis ini Rara, dan ini Devi teman satu kontrakan."


"Salam kenal ya semuanya. Ow iya Nai, ini Devi yang teman kamu yang kamu ceritakan dirumah ya.?" Naila mengangguk.


"Apa Naila menceritakan aku, wah pasti Naila ngomongin jelek tentang aku ya.?"


"Gak ko, Katanya kamu sudah di anggap saudara olehnya." Devi pun mendengar itu langsung melihat ke arah Naila dan tersenyum.


"Apa.. Liat liat sambil senyum senyum kaya gitu...?"


"Uuuuhh sweet banget si Nai." Sambil mencubit pipi Naila karena gemasnya.


Dan kini Naila dan Denis ada di sebuah tempat, di mana terdapat sebuah tempat makan lesehan. Di mana tempat itu sangat nyaman untuk bercerita, karena tempat nya di luar jadi dapat merasakan hembusan angin.


Brian memesankan makanan,dan minuman karena memang mereka belum makan malam. Kini di depan mereka berdua masing masing ada sepiring nasi ayam penyet dengan sambal dan lalapan yang mengunggah selera, dan di temani minuman air jeruk.


"Yakin kamu suka pedas Nai.?"


"Ya aku suka pedas, kenapa kamu masih ragu.?"


"Yayaya Naila kecil ku sudah jadi penyuka makanan pedas. Dulu mana pernah kamu suka itu.?" Denis terkekeh.


Mereka menikmati makanan Mereka sangat lahap.


"Gak terlalu pedas banget si Den, aku juga takut juga kalau terlalu pedas."


"Itu kan pedas Nai, ganti saja ya sambal nya.?" Denis ingin bangun dari duduknya Naila tahan.

__ADS_1


"Jangan Denis, aku makan nya gak semuanya ko. "


"Beneran gak apa-apa Nai.?


"Iya Denis." Naila pun tersenyum. "Ayo lanjutin makan nya nanti keburu dingin kurang nikmat loh." Denis pun mengangguk.


Denis dan Naila melanjutkan makannya dengan nikmat dan di selingi dengan obrolan.


Kini mereka sudah selesai melahap nasi dengan menu ayam penyet. Piring pun bersih tanpa tersisa, hanya di piring Naila masih ada sebagian sambal yang tidak di makan semua nya.


Karena di tempat lesehan itu, tidak jauh dari tempat lesehan ada kursi kayu yang menuju ke arah danau. Ya danau yang biasanya kalau sore, sering ada perahu bebek bebek kan yang melintas di sana.


Naila dan Denis pun pindah duduk di sana, karena pembeli ayam penyet sudah lumayan ramai.


Kini Denis dan Naila sudah duduk dengan menatap lurus ke tepi danau.


"Selama kamu di sana bagaimana kehidupan kamu Nai. Maaf apa benar bibi kamu jahat dengan kamu.?"


"Kehidupan aku biasa saja Den, tidak ada kata menarik seperti dulu saat kita kecil. Andai saja waktu bisa berputar kembali, aku akan bahagia di kelilingi orang yang sayang sama aku. Masih ada ayah ibu ku . "Naila menatap lurus ke depan.


"Hufffthh... Sebenarnya Sikap bibi yang seperti itu sudah hal biasa untuk ku. Aku sendiri tidak tau kenapa bibi begitu membenci aku, walaupun aku berusaha baik tetap dia membenciku."


"Apa paman kamu juga membenci kamu Nai.?" Naila menggelengkan kepalanya.


"Paman orang yang sayang sama aku. Beliau adalah pelindung ku, saat bibi kasar dengan ku. Selain itu ada Ka Fandi dan Melly yang peduli dengan ku. Bahkan paman lah yang menyuruhku pergi dari rumah, agar aku tidak di nikahi dengan pria licik itu."


"Apa di nikahi, kamu hampir dinikahi Nai.?" Naila mengangguk.


"Ya aku di lamar oleh seorang pria licik. Dan aku akan di jadikan istri ketiganya. Untung saja paman datang, kalau tidak mungkin aku sudah di bawa oleh pria itu.."


"Gi...la itu. Sudah punya istri masih ingin menikah lagi, dengan kamu. Udah gitu maksa kamu lagi, pantas saja paman kamu menyuruh kamu pergi. Kenapa kamu gak pergi dari dulu gitu si Nai, kamu bisa bebas dari nenek sihir itu.


"Aku mau kemana Denis keluarga yang aku hanya paman. Selain mereka ada Devi, dia adalah sahabat terbaikku. Dia tempat ku berbagi cerita, Mangkanya saat aku niat Pergi dia ingin ikut dengan aku."


Denis yang mendengarnya juga turut sedih, tapi saat mendengar ada Devi sahabat nya Denis pun ikut tersenyum. Karena Naila saat menceritakan Devi ada senyuman di bibir Naila.


"Kamu tau Nai, Bunda selalu memanggil nama kamu. Entah lah kami tidak mengerti, padahal kami ke tiga anaknya selalu ada di samping bunda saat Bunda sakit. Tapi kamu lah yang selalu di panggil namanya oleh bunda. Mangkanya ka Brian berusaha mencari kamu sampai kamu ketemu."


"Ow ya ka Brian selalu mencari ku.?" Denis mengangguk.

__ADS_1


"Iya ka Brian yang selalu mencari kamu, kami pun juga. Pernah ya ka Brian sampai cuti kerja mencari alamat yang pernah menjadi tempat tinggal paman mu dulu. Tapi mereka tidak ada yang tau alamat baru paman kamu itu Nai."


"Sampai segitunya Ka Brian mencari alamat paman demi aku.?"


__ADS_2