
Brain yang mendengarnya langsung marah, dan langsung melepaskan pelukannya Naila. Brian langsung menghampiri Jenny, dan menatap dengan tatapan marah.
Brian menarik tangan Jenny, lalu membawanya ke parkiran karena Brian tidak mau jadi bahan tontonan. Naila mengikuti Brian kemana Brian membawa Jenny.
Brian menatap Jenny dengan tatapan membunuh, dan itu membuat Jenny bergidik negeri. Brian masih mencengkram tangan Jenny dengan sangat kencang, membuat Jenny kesakitan.
"Lepasin, kasar banget si sama cewe." Ucap Jenny yang mencoba melepaskan tangan Brian dari lengannya.
Namun sayang, tangan Brian cukup kuat mencengkram lengan Jenny, sampai Jenny kelelahan untuk berontak..
"Apa yang kamu lakukan kepada istri ku. Belum puas kamu hah, menyakiti istri ku selama tinggal bersama kalian. Aku peringatkan kamu, jangan pernah menyentuh atau menyakiti istri ku. Aku tidak pernah memandang fisik, mau kamu pria atau wanita sekali pun. Jika kamu masih mencoba menyakiti istriku, aku akan menyakiti kamu juga. Kalau perlu, aku juga akan menjebloskan kamu, untuk bersama ibumu yang kejam itu. Mengerti kamu.? Jangan pernah coba coba mengganggu istri ku lagi, camkan itu baik baik.." Jenny hanya diam dengan tatapan ketakutan.
Brian melepaskan cengkraman nya dengan kasar, hingga Jenny terjatuh ke bawah.
Brian masih berdiri di hadapan Jenny, dengan tatapan penuh ancaman.
"Aku peringatkan kamu. Jangan pernah coba coba kamu mengancam atau menyakiti Naila istri ku. Walaupun kamu anak om Tommy, atau siapapun. Aku tidak peduli, apalagi sampai melukai Naila. Aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran ke kamu. Kalau perlu kamu akan aku masukan bersama ibu mu itu. Dan aku tidak main-main dengan perkataan ku ini, kamu mengerti kan.." Jenny mengangguk kan kepalanya dengan wajah menunduk.
Brian pun tersenyum sinis, dan langsung menghampiri Naila yang kini sedang berdiri bersama Raka.
Ada rasa tak tega di benak Naila saat melihat Jenny seperti itu...
Saat berhadapan dengan Naila, raut wajah Brian dari memerah karena marah. Berubah seketika menjadi tersenyum hangat kepada Naila. Dan Raka memperhatikan raut wajah Brian saat berada di dekat Naila.
" Sudah selesai dengan lalat kecil itu. Sekarang kita kembali yuk masuk.?" Naila mengangguk.
Brian menggenggam tangan Naila, dan membawanya untuk masuk ke dalam restauran Raka. Namun mata Naila masih melihat Jenny yang masih duduk di jalan, sambil memijat lengan nya.
🌵
__ADS_1
🌵
🌵
🌵
Kini Naila dan Brian sedang berada di dalam mobil. Ya selesai kejadian itu, Naila meminta untuk pulang. Naila meminta untuk pulang ke rumah mereka, namum Brian tidak mau. Brian membawa Naila untuk pulang ke rumah Bunda, sebenarnya Brian sedikit khawatir dengan Naila.
Sejak kejadian bertemu dengan Jenny, Naila menjadi diam. Brian sendiri tidak tau, apa yang dikatakan oleh Jenny kepadanya. Tapi Brian yakin, Jenny mengatakan yang membuat Naila terluka.
Kini mobil mereka sudah sampai di halaman rumah bunda Rossa. Brian langsung turun dan membukakan pintu untuk Naila. Brian menggenggam tangan Naila saat masuk kedalam rumah.
Saat sampai ruang tamu, Debby, Devi dan bunda. Mereka sedang bercerita begitu asyik, sampai Debby tertawa terbahak-bahak.. Saat Naila masuk, Debby dan Devi menghampiri Naila. Debby menggandeng tangan Naila,dan Naila berusaha tersenyum kecil kepada Devi dan Debby.
"Nai, gimana seru gak belanja pakaian bayinya. Lucu lucu ya pakaian nya.?" Tanya Debby dengan tersenyum.
Brian melihat raut wajah Naila, yang hanya memberikan sedikit senyuman nya.
"Devi, Debby, bunda. Maaf aku tidak bisa bergabung dengan kalian bercerita, maaf ya Dev. Aku lelah ingin istirahat di kamar, maaf semuanya.." Devi mengangguk.
Naila berjalan menuju ke arah anak tangganya. Debby Devi dan bunda memperhatikan sikap Naila yang sedikit berubah.. Bunda menatap ke arah putranya, seakan meminta jawaban kepada Brian.
Brian tersenyum. "Maaf ya, tadi ada masalah sedikit yang membuat sikap Naila berubah. Dan itu membuat mood Naila buruk.." ucap Brian dengan suara berbisik.
"Memang Naila kenapa Brian.?" Tanya bunda, ikut menimpali.
"Aku tidak bisa jelaskan sekarang. Aku ingin menyusul istri ku dulu. Maaf ya...?" Semuanya pun mengangguk kan kepalanya.
Brian berjalan dengan cepat, menyusul Naila yang kini sedang menaiki anak tangganya. Brian sengaja tidak mengeluarkan barang barang belanjaan. karena yabg terpenting saat ini,adalah istrinya..
__ADS_1
Kini Naila dan Brian sudah berada di kamarnya. Naila duduk di tempat tidur, sambil bersandar. Naila masih diam melamun, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Brian sendiri jadi bingung, harus mengatakannya apa. Karena biasanya Naila lah yang memulai berbicara, untuk mengobrol.
"Sayang, kamu jangan diam aja dong. Sekarang kamu ceritakan,apa yang di katakan gadis sin*ing itu.? Sejak tadi di mobil, kamu diam terus. Aku bingung jadi nya,harus bagaimana....?"
"Mas, apa aku boleh minta sesuatu sama kamu.?"
"Apa sayang, kamu katakan saja sama mas. Tapi kamu jangan diam seperti ini ya.?"
"Mas, aku minta tolong bebaskan bibi Farida.?" Mendengar Naila bicara seperti itu, Brian diam.
"Kenapa kamu minta bibi Farida di bebaskan. Apa itu karena gadis tadi yang memintanya, jawab Nai.?"
"Aku mas yang memintanya, bahkan sudah lama kan aku minta itu dari kamu. Tapi kamu tidak mendengarkan permintaan aku itu. Aku minta untuk menjenguk bibi, kamu pun melarang nya.?"
"Tapi aku melakukan itu ada alasan nya Nai.?"
"Alasan apa mas. Mas aku hanya kasian kepada bibi, dan apalagi dia sekarang sakit sakitan. Apa kamu tega mendengar nya mas. Aku tidak tega mas, bagaimana pun beliau bibi ku satu satunya.. Mas maafkanlah bibi, kasian mas bibi sakit sakitan di sana... Aku juga kasian dengan paman, dia sering kesana hanya untuk menjenguk bibi yang sakit. Dan sekarang paman juga sakit, aku tidak tega mas dengar nya..."
"Cukup aku tidak mau mendengar nya lagi. Kalau paman kamu sakit, nanti kita jenguk paman kamu. Tapi jika untuk bibi kamu, di sana juga sudah ada dokter yang mengobati para napi yang sakit. Dan aku tidak mau jika sampai kamu menjenguknya, kamu mengerti. Dan kamu juga tau alasannya kenapa. Alasannya adalah, karena dia sudah melakukan perbuatan yang tidak baik kepada kamu. Sampai kapanpun aku tidak mau,dan tidak akan memaafkan bibi kamu itu.."
"Tapi mas, tuhan saja maha pengampun. Masa kamu tidak si mas.?"
"Ya aku tau, tuhan maha pengasih dan maha pemaaf. Tapi buat aku, sulit untuk memaafkan bibi kamu. Lihat saja anaknya, dia saja berani menyakiti kamu, apalagi jika bibi kamu di bebaskan. Kalau dia sadar dan bertaubat, kalau tidak. Bisa merajalela Nai, aku tidak mau itu terjadi..."
Naila pun langsung diam, Naila tidak ingin berdebat dengan suaminya itu. Naila sendiri bingung, dengan sikap suaminya yang pendendam itu. Naila merasa cukup lelah jika harus berdebat dengan suaminya. Naila hanya diam dan menatap ke arah lain. Naila tidak ingin melihat wajah suaminya yang kini sedang memperhatikan dirinya....
Bersambung.....
__ADS_1