
"Karena Emiil iya. Karena mantan kamu itu, yang sudah membuat kamu menangis. Tadi aku melihat kamu duduk di dekat nya."
Naila gelagapan saat mendengar suaminya tau, jika dirinya duduk dengan Emiil.
" Mas aku bisa jelasin semuanya. Aku mohon kau jangan salah paham, sama apa yang kamu lihat..?" Naila menggenggam tangan suaminya.
Brian diam dan hanya menatap wajah istrinya, yang kini terlihat panik saat dirinya mengatakan itu.
Ggrrreeeppp.... Naila memeluknya.
"Mas aku mohon kamu jangan marah, ini gak seperti apa yang kamu lihat. Aku bisa jelasin ke kamu. Aku mohon kamu jangan marah sama aku mas...Hiks hiks hiks...." Naila menangis di dada bidang Brian saat ini.
Brian membelai rambut istrinya.
"Mas tidak marah sama kamu,mas tau bukan kamu yang salah. Mas justru khawatir sama kamu sayang. Maaf sebenarnya tadi aku mendengar kamu dan dia bicara, dan aku tau kamu tidak salah sayang. Sudah jangan menangis lagi, aku takut kamu kenapa kenapa sayang. Mangkya aku menyusul kamu kesini, saat kamu keluar tadi."
"Benarkah mas, kamu mendengar." Brian mengangguk.."Aku keluar, karena aku tidak mau mendengar pembicaraan dia. Aku takut kamu liat dan salah paham sama aku, aku takut kamu marah sama aku mas. Aku minta maaf ya mas..."
"Tidak perlu minta maaf sayang. Sudah jangan sedih lagi. Yuk sekarang kita masuk lagi, kamu belum makan ya. Ingat sekarang di sini ada baby kita, jadi kamu jaga kesehatan ya." Naila mengangguk.
Lalu Brian dan Naila berjalan ingin masuk ke dalam gedung di mana Devi dan Denis sedang menjadi raja dan ratu.
Next ke Emiil.
Kini Emiil sedang duduk bersama paman Tommy. Di mana Emiil sedang di nasihati oleh pak Tommy.
"Om minta kamu lupakan Naila, om tidak ingin Naila tidak nyaman dengan kamu. Dan kamu tau kan sekarang Naila itu sudah menikah. Naila sudah menemukan kebahagiaannya sekarang, kamu juga tau kan kehidupannya saat masih tinggal di rumah om. Naila selalu Sedih karena ulah bibinya, belum lagi dia terluka oleh kamu. Di saat dia berharap kamu akan menikahinya, tapi kamu malah minta mengakhirinya. Dan padahal Naila ingin mempertahankan hubungan nya dengan kamu, dan ingin membantu kamu untuk pulih kembali. Agar dia bisa terus bersama kamu, pria yang baik di mata Naila. Dan yang perlu kamu tau, saat kamu mengakhiri hubungannya dengan Naila, Naila menabrak seseorang. Orang itu minta tanggung jawab, dia meminta Naila untuk mau menerimanya lamarannya dan dijadikan istri ke tiganya. Dari situ saya tidak ingin keponakan saya di sentuh atau di sakiti oleh siapapun, termasuk kamu. Jadi saya harap, kamu menjauh lah dari Naila. "
__ADS_1
"Tapi om, saya sangat mencintai Naila. Sulit bagi saya melupakan Naila. Saya sadar saya sudah melukainya, tapi saya menyesali om.?"
Pak Tommy tersenyum sinis menatap Emiil." Menyesal, rasa penyesalan kamu itu sudah tidak berarti bagi Naila. Karena sekarang Naila sudah mendapatkan kebahagiaan, bersama suaminya. Kamu carilah pengganti Naila, jangan kamu ganggu Naila kembali. Ingat perkataan saya akan melindungi Naila , seperti saya melindungi anak anak saya. Paham kamu, sekarang kamu pergi dari sini, saya tidak akan segan-segan melakukan hal yang kasar sama kamu."
Tidak ada jawaban dari Emiil, Emiil berjalan melangkah meninggalkan pak Tommy. Emiil mengikuti perkataan pak Tommy untuk meninggalkan tempat itu.
Namun saat di parkiran,Emiil berpapasan dengan Naila dan Brian yang akan masuk ke dalam gedung. Brian menatap Emiil dengan tatapan dingin nya, sedangkan Emiil sendiri kini menatap Naila. Mata emiil menangkap tatapan mata Naila, mata Naila terlihat sembab.. Naila sendiri hanya menundukkan mata, ia enggan ingin menatap Emiil.
"Saya peringatkan kau, jangan pernah mencoba mendekati Naila kembali. Karena Naila sudah menjadi istri saya, dan sekarang Naila juga sedang mengandung anak saya.. kalau kamu masih melakukannya lagi, saya tidak akan segan-segan memberikan kamu...." Lagi lagi Brian belum selesai bicara, Naila sudah mencelak pembicaraan Brian.
"Mas ayo kita masuk, kepala aku sedikit pusing.." Ucap Naila sambil memegang lengan suaminya.
"Ya ampun sayang, kepala kamu pusing. Yasudah ayo kita masuk dulu, kamu masih kuat tidak.?" Naila mengangguk.
" Naila kamu gak apa-apa.?" Tanya Emiil yang sedikit khawatir.
"Cukup Emiil, aku tidak apa-apa. Lebih baik kamu balik, aku mohon Emiil. Kamu tidak perlu khawatir, karena ada suami ku yang selalu di samping ku ". Ucap Naila, tanpa melihat Emiil sedikit pun.
Hati Emiil sedikit sakit dengan apa yang Naila katakan, tanpa melihat dirinya. Emiil sendiri juga sadar diri, kalau dirinya sudah kelewatan.
"Yasudah aku minta maaf, karena kedatangan aku membuat kamu tidak nyaman. Aku minta maaf, sekarang aku akan balik. Semoga kamu baik baik saja ya Nai, aku tidak bermaksud membuat kamu seperti ini." Naila hanya mengangguk, dan menundukkan kepalanya." Yasudah aku permisi."
Emiil pun berjalan meninggalkan Naila den gedung tersebut. Naila mengusir Emiil, sebab Naila tidak ingin suaminya tambah kesal. Karena Naila tau, kalau Emiil itu orangnya sangat menantang dengan setiap perkataan orang. Dan Naila tau, kalau Emiil itu orangnya tidak akan menyerah. Jika belum Naila yang mengatakan sudah cukup, Emiil akan terus menantangnya.
Sebenarnya Naila juga tidak tega, mengusir Emiil seperti itu. Ya tapi mau bagaimana lagi, Naila sadar jika di sampingnya ada suaminya. Dan Naila menghargai itu, daripada Brian emosi, mending Emiil yang di suruh pergi.
Brian masih menatap Emiil, yang berjalan mencari letak mobil nya.
__ADS_1
"Mas ayo kita masuk ke dalam." Bujuk Naila, dan Brian mengangguk.
Dan akhirnya Naila dan Brian pun berjalan masuk ke dalam gedungnya.
Saat di dalam pun Naila hanya duduk di kursi, dan untuk kali ini Brian tidak ingin meninggalkan Naila sebentar saja. Fandi yang sejak tadi juga diam diam memperhatikan Naila dan Brian. Bukan karena masih ada rasa melainkan bahagia, karena Naila ada yang mencintai nya dengan tulus.
Next malam harinya.
Kini acara pernikahan Devi dan Denis pun selesai sudah. Dan seluruh keluarga pun sudah kembali ke rumahnya. Brian Naila dan keluarga Naila, kini sudah kembali kerumah Brian. Tapi tidak dengan Devi, kini Devi sudah tinggal bersama Denis di rumahnya.
Devi yang kini sudah bersih dari makeup, keringat. Dan Devi sendiri pun menggunakan piyama untuk tidur dengan motif Doraemon. Denis sendiri terkejut saat keluar dari toilet melihat Devi menggunakan pakaian tidur lengan panjang, motif Doraemon.
Astaga dia pakai baju tidur tangan panjang, dia sadar gak sih. Heran masa malam pengantin pakaian dia rapet begitu, mana ada kesempatan kalau seperti ini.." Gumam Denis dengan menggaruk keningnya.
Devi sendiri pun tanpa rasa berdosa memberikan senyuman manisnya ke arah Denis. Denis pun membalas senyumannya Devi, yang kini sudah menjadi istrinya.
" Mas sini mas, kita buka kado pernikahan kita yuk..." Ucap Devi sambil menunjukkan kado berbentuk kotak.
"Buka kado, kenapa buka kado si sayang. Buka yang lain aja apa sih.?" Pancing Denis, berharap Devi mengerti maksudnya Denis.
" Buka yang lain, buka apa ya.?" Devi memikirkan perkataan suaminya itu.
" Aaaaahhh... Maksud Kamu buka amplop kondangan mas. Ayo ayo mas, kita lihat isi amplop nya, aku juga penasaran. Hihihi....."
Denis pun menepuk keningnya, karena merasa frustrasi dengan jawaban istrinya itu.
Bersambung....
__ADS_1