
"Yasudah kamu di sini saja. Aku ke dapur dulu ya, kamu duduk sini aja. Kalau ingin minum bilang ya, biar aku ambilkan. Hemm...." Seraya membelai wajah Naila dengan manja.
Naila pun mengangguk, dan berjalan menunggu di kursi makan.
Sebenarnya Naila saat ini hatinya benar-benar meleleh di perlakukan manis oleh Brian. Entahlah perasaan marah dan kesal Naila seakan hilang begitu saja. Jika Brian memperlakukan Naila sangat manis.
Brian kini sedang bersiap-siap untuk bertempur dengan alat-alat dapur. Sebenarnya Brian kurang begitu bisa masak, tapi kalau masalah nasi goreng telur mata kodok yang seperti Naila inginkan. Brian percaya diri karena masih bisa membuatkan nya.
Walaupun mata Brian sudah seperempat whatt. Brian berusaha menahannya,untuk mengabulkan permintaan istrinya agar mau memaafkan dirinya.
Untung hanya nasi goreng telor mata kodok. Hadeeeuuhhh.... Semangat Brian demi di maafkan sama Naila, harus bisa mengambil hatinya lagi. Hanya nasi goreng saja mah gampang, walaupun mata tinggal lima whatt, harus tetap semangat...
Brian bergumam menyemangati dirinya sendiri. Brian kini sedang berkutat di dapur, membuat bumbu. Pertama menceplok telurnya setengah matang, selanjutnya bumbu nasi goreng . Ada telur bakso irisan ayam pula, dan terakhir nasi nya. Tak lupa Brian menambahkan garam sedikit penyedap rasa, dan juga kecap manis. 10 menit Brian berkutat membuat nasi goreng, Brian hanya tinggal meletakkan nasi nya di piring. Lalu di tata telur ceplok dan irisan timun nya.
"Tara... Sudah siap nasi goreng, dengan telor mata kodok nya. Spesial untuk istri ku tersayang..." Ucap Brian dengan membawakan spiring nasi goreng untuk Naila.
Ada sedikit senyuman di bibir Naila, namun Brian tak menyadarinya.
"Trimakasih mas".
"Sama sama sayang. Di makan ya, kalau tidak enak jangan di makan takut kamu eneg. Aku cobain si pas, gak tau kalau kamu yang cobain.?"
Naila mencicipi nasi goreng buatan Brian, Brian berharap nasi gorengnya enak di mulut Naila.
"Bagaimana sayang, enak gak.?"
"Enak.." Jawab Naila singkat, membuat Brian merasa kurang puas dengan jawaban yang di berikan Naila..
Sebenarnya rasanya kurang garam, tapi kenapa aku suka ya. Mungkin Dede nya suka masakan papah nya...
Naila makan dengan sangat lahap, saat tinggal setengah piring Naila pun memutuskan untuk udahan makannya.
__ADS_1
"Ko udahan sayang makan nya, gak enak ya.?"
"Sudah kenyang."
"Sini aku habiskan makanannya.." Brian mengambil piring nasi bekas Naila.
" Mas itu bekas aku. Memang kamu bikin nya gak banyak, hanya sepiring saja.?" Brian mengangguk.
"Nasi nya hanya tersisa segitu di tempat nya. Ya untuk kamu saja, aku buatin nya. Gak apa-apa sayang segini cukup, sayang sayang kalau sampai di buang."
Brian melanjutkan makan nasi goreng bekas Naila, sebenarnya Naila merasa tak tega dengan suaminya itu. Ingin sekali Naila membuatkan untuk Brian namun Brian melarangnya.
Setelah Brian selesai menghabiskan nasi gorengnya, Brian mencuci piring dan alat bekas memasak nya.. Lalu Naila berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamar tamu nya. Namun Brian menahannya untuk tidak kembali ke kamar tamu.
"Aku mohon kembali ke kamar kita ya, jangan di sana. Aku tidur di sofa badan aku sakit, gak nyaman juga khawatir sama kamu. Kalau aku di kamar sendirian, sama aja gak bisa tidur. Karena gak ada kamu di samping aku. Jangan di kamar itu lagi ya, di kamar kita aja." Brian dengan wajah memohon nya.
Entah kenapa Naila merasa tak tega dengan ekspresi wajah suaminya saat ini. Sangat memelas kan, dan akhirnya Naila pun mengangguk kan kepalanya.
Sudah pasti Brian sangat bahagia dengan jawabannya Naila. Akhirnya Naila berjalan menaiki anak tangga menuju kamar nya, dan Brian membuntuti Naila di belakangnya.
Brian hanya bisa menghela nafasnya, saat Naila membelakanginya.
Saat Naila hendak memejamkan matanya. Tiba tiba tangan Brian mem..eluk Naila dari belakang.
"Maafkan aku sayang, aku mohon jangan mendiami aku seperti ini. Aku tidak bisa Nai, diam diaman seperti ini. Aku sadar sayang aku salah, aku minta maaf. Aku mohon Naila maafkan aku."
Naila menangis membelakangi Brian, Brian tau itu. Karena pundak Naila bergetar, saat membelakangi nya.
"Lihat aku sayang, aku ingin lihat wajah kamu.." Naila pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap Brian.
Brian tersenyum saat Naila menuruti ucapannya. Ada perasaan sedih saat melihat Naila menangis.
__ADS_1
Brian menempelkan keningnya dengan kening Naila. Dan hembusan nafas mereka pun saling bertemu, mereka berdua merasakan hembusan nya.
"Aku minta maaf ya, aku sudah jahat sama kamu. Aku sudah membuat kamu menangis." Ucap Brian seraya mengusap air mata Naila.
Naila pun mengangguk, entah kenapa Naila juga tersentuh hatinya. Dengan permintaan maaf dari suaminya itu.
"Iya aku mau maafin kamu. Aku minta jangan mudah percaya dengan bukti yang belum jelas, kamu harus mendengarkan penjelasan aku dulu seperti apa. Kamu tau mas, Aku hanya punya kamu sebagai suami aku, dan paman Tommy. Jadi aku tidak mungkin mengkhianati kamu mas. Karena jika itu terjadi, akan banyak hati yang terluka dan kecewa mas. Aku tidak mau seperti itu . Aku sayang kamu bunda dan semuanya mas". Naila bicara panjang lebar, sambil terisak.
Brian menghapus air matanya Naila.
"Iya aku minta maaf sayang, aku menyesal sudah membuat mu terluka.." Naila pun mengangguk, lalu Brian membawa Naila kedalam dekapannya.
Dan akhirnya mereka pun berbaikan. Dan mereka tidur dengan saling berpel...ukan
Keesokan paginya, Brian mengantar Naila ke rumah sakit. Untuk memeriksa kandungan yang sudah janjian dengan dokter yang direkomendasikan dari dokter Alvin.
Naila kini sudah dengan posisi bersandar di tempat tidur pasien. Dan baju Naila di angkat sedikit sebatas perut saja oleh dokter. Untung saja dokternya wanita, kalau laki laki ya Brian sedikit tidak ikhlas.
Bagian perut Naila di berikan gel ultrasound, setelah itu dokter menggunakan alat Doppler, atau USG. Untuk melihat gambar bentuk janin pada kandungan Naila.
Sebuah layar, menggambarkan bentuk janin yang berada di dalam perut Naila. Dokter mengarahkan Doppler nya, untuk mencari letak janinnya. Brian dan Naila mengamatinya dengan seksama, dan sangat tidak sabar ingin melihatnya.
"Nah bapak dan ibu bisa lihat kan, di sini usia janinnya nya perkiraan masih 4 Minggu. Dan Pada minggu keempat usia kehamilan janin ibu berukuran sebesar biji bayam atau biji kacang hijau. Masih sangat kecil kan .?"
Brian dan Naila mengangguk, saat melihat memang janinnya terlihat sangat kecil. Dokter wanita yang bernama dokter Sunny, pun tersenyum melihat ke arah Naila dan Brian.
"Iya ya kecil sekali itu dok. Jadi gak sabar nunggu dia hadir sayang.?"
Brian menge..cup punggung tangan Naila. Tepat di depan dokter, dokter Sanny yang melihatnya hanya tersenyum.
Dokter tersenyum karena melihat betapa perhatian Brian kepada Naila.
__ADS_1
Sedangkan perawat yang menemani dokter Sanny juga turut tersenyum. Bagaimana tidak perawat yang bernama Indri itu masih belum memiliki Padang. Jadi melihat sikap Brian yang terlihat manis, jiwa jomblo perawat itu pun meronta ronta.
Bersambung....