
Saat Naila sedang mencuci tangannya di wastafel, dan mengikat rambutnya. Ada seorang wanita yang melihat dan tersenyum ke arah Naila.
"Hai, kamu Naila istrinya Brian kan.?" Naila mengangguk, dan baru mengingat siapa gadis di hadapannya ini.
"Bukannya kamu Riska, temannya mas Brian. Yang waktu itu bertemu di pantai.?"
"Ya kamu benar, aku Riska temannya sekaligus mantan terindah nya Brian." Gadis itu tersenyum sinis ke arah Naila.
"Maksud kamu bicara seperti itu apa.?"
"Gak ada maksud apa-apa ko. Ow iya seminggu lalu aku bertemu dengan Brian di restauran, tapi ko tidak ngajak kamu ya. Soalnya kita makan malam berdua loh, romantis lagi." Riska memanas manasi Naila.
Naila tersenyum. " Maksud kamu apa, mau jadi kompor dalam hubungan rumah tangga aku.?"
"Naila kamu bicara sama siapa.?" Teriak Debby dari dalam toilet.
Naila tidak menjawab panggilan Debby.
"Kamu gak percaya. Lihat saja nih, aku punya buktinya. Bukan hanya itu, Brian itu masih menyukai aku, bahkan saat pulang pun kita masih sempat berpe...lukan dan cipika-cipiki. Nih lihat kalau gak percaya.."
Riska tersenyum sinis, dan memberi foto foto saat bersama Brian malam itu. Bukan hanya itu Naila di berikan foto Brian saat masih bersama Riska. Terlihat Brian begitu amat menyayangi gadis di hadapannya Naila ini.
Brak... Pintu toilet Debby dan Devi terbuka. Alangkah terkejutnya saat mereka melihat Naila dengan seorang gadis. Devi tidak mengenal gadis itu, tapi kalau Debby kenal siapa gadis itu.
"Hei, kamu ngapain di sini. Kamu kasih Naila foto apa, kamu jangan provokasi Naila ya .?" Bentak Debby.
"Hai Debby kita ketemu lagi, sudah lama kita gak pernah ketemu.?"
"Jangan pura pura, kamu kasih unjuk apa ke Naila.? Awas kamu sampai macam kepada Naila." Ancam Debby.
"Siapa dia Debby. Mau ngapain dia.?" Sambil menatap Riska dengan tatapan tak suka nya." Naila kamu di apain sama dia, kamu gak di apa apain kan sama dia.?"
Naila tidak menjawab, saat ini Naila merasa dadanya begitu sesak. Naila ingi sekali menumpahkan air mata, agar tidak sesak lagi.
"Aku gak apa-apa kan Naila. Aku hanya memberi tau sesuatu ke dia, itu saja. Yasudah kalau begitu aku pergi dulu ya. " Riska pergi begitu saja meninggalkan Debby Devi dan Naila.
"Nai, dia gak ngapa-ngapain kamu kan.?" Tanya Debby dengan panik, karena melihat Naila hanya diam.
" Memangnya gadis itu siapa si Deb.?" Tanya Devi yang sejak tadi penasaran.
" Mantan kak Brian, Dev. Nai bilang sama aku dia kasih unjuk foto apa ke kamu.?"
__ADS_1
Tanpa di sadari sudut mata Naila mengalir air mata. Dan Devi yakin ada yang di katakan dengan gadis tadi ke Naila.
" Brengsek tuh cewek. Biar aku cari Deb, kamu jaga Naila. Gak mungkin kalau gak ada apa-apanya, Naila sampai menangis." Devi hendak melangkah, namun Naila menahannya.
"Jangan Dev, aku mohon. Lebih baik antar aku pulang ke rumah saja ya." Devi dan Debby pun mengangguk.
Kini mereka bertindak ada di dalam mobil, dengan diantar Denis.
"Nai, tuh cewek kasih unjuk kamu foto apa. Aku mohon kamu jangan percaya ya, ingat Nai jangan di pikirkan nanti kamu sakit.?" Ucap Devi
"Iya Nai, kamu ketempat bunda aja ya jangan di rumah sendirian. Nanti kamu kenapa Kenapa gimana, kita khawatir loh Nai.?" Kata Debby di angguki oleh Devi dan Denis.
"Iya Nai, lebih baik ketempat bunda saja ya.?" Usul Denis.
"Kalian ngerti gak sih, aku mau pulang. Aku mau sendiri dan istirahat. Kalau kalian gak mau antar aku pulang, aku naik taksi aja sendiri. Berhenti di sini aja, aku mau naik taksi". Naila mengeluarkan nada marah nya.
"Iya iya kita antar kamu pulang. " Jawab Denis. Devi dan Debby menatap Naila dengan perasaan khawatir.
"Jangan ngeliatin aku seperti itu, jangan kasihan sama aku. Aku gak bisa kalian lihat dengan tatapan seperti itu". Naila menghapus air matanya." Aku gak kenapa-kenapa,aku hanya ingin sendiri dulu. Devi kamu tau aku seperti apa kan, aku butuh waktu sendiri .?" Sambil memegang tangan Devi.
Devi menganggukkan kepalanya.
Kini Naila sudah sampai dirumahnya, dan Naila kini sedang berada di kamarnya.
Mas Brian bukan pria jahat yang menyakiti atau mengkhianati pasangannya.
Naila berbicara seorang diri, sambil menghapus air matanya.
Di lain tempat, saat Brian hendak keluar kantor. Karena waktu jam kerja pun sudah selesai, dan waktu nya pulang. Saat hendak bejalan menuju parkiran, handphone Brian berdering.
"Ya assalamualaikum dek, kenapa.?
"Kakak di mana. Udah jam pulang belum.?"
"Udah Debby, kenapa Deb. Kamu sudah jalan jalan dengan Naila, terus Naila lagi ngapain sekarang.?"
"Itu dia ka, yang ingin aku beritahu. Tadi Naila bertemu dengan Riska mantan kakak, saat kita di toilet. Dan seperti nya dia memberitahu sesuatu ke Naila, dan setelah itu Naila langsung diam saja. Kami gak tau apa yang di beri tau Riska ke Naila."
"Astaghfirullah, terus Naila nya di mana sekarang.?"
"Dia di rumah kakak. Tadi kita ajak pulang ketempat bunda dia sempat membentak kami dan marah, ingin pulang sendiri. Kalau gak mau antar pulang dia."
__ADS_1
"Yasudah, ini kakak mau pulang lagi di parkiran. Terimakasih ya infonya dek, kakak tutup telpon nya. Assalamu'alaikum...
Tut panggilan pun di putus oleh Brian.
Dua puluh menit perjalanan Brian dari tempat kerja kerumahnya. Kini Brian sudah sampai di rumah. Tujuan Brian saat ini mencari istrinya di mana, karena sejak tadi Brian khawatir dengan kondisi Naila.
Saat sampai depan kamar, Brian menarik nafasnya. Ceklak Brian membuka pintu kamarnya dan melihat Naila sedang berbaring di kasur.
"Assalamu'alaikum...."
"Waalaikumsallam.." jawab Naila pelan.
Brian mendekat ke arah Naila, lalu mengecup keningnya.
"Sebentar ya sayang, mas bersih bersih dulu." Naila mengangguk.
Brian yang melihat istrinya kini sedang memandangi foto mendiang kedua orang tuanya. Brian sudah yakin kondisi Naila sedang tidak baik baik saja.
Brian pun masuk ke dalam tandas untuk membersihkan dirinya. Itulah kebiasaan Brian saat ini. Membersihkan diri mengganti pakaian saat pulang kerja. Apalagi saat ini Naila sedang mengandung, Brian tidak ingin mendekati istrinya dengan kondisi badan yang kotor dan berkeringat. Walaupun Brian bekerja di dalam kantor tetap saja Brian selalu menjaga kebersihan.
Sepuluh menit Brian membersihkan badannya, dan barulah Brian mendekati Naila.
Brian mendekati istrinya,seakan Brian tidak tau telah terjadi sesuatu kepada Naila.
"Sayang, kamu ko sudah pulang. Katanya mau menginap lagi di rumah bunda.?"
Sambil membelai kepala Naila.
Naila enggan menjawab ucapan Brian.
"Kamu sudah makan belum.?" Naila menggelengkan kepalanya. "Kamu kenapa ko hanya menggelengkan kepala saja. Kamu sakit, apa ada yang kamu rasain sayang.?"
Naila mengangguk." Ada yang aku rasain saat ini".
"Apa yang kamu rasain sayang, di mana . Kaki kamu pegal, sini aku pijit kaki kamu.?"
"Bukan kaki, tapi di sini." Menujuk bagian dadanya.
Brian mencoba menyentuh tangan Naila, namun Naila menolak tangan nya untuk di sentuh.
Bersambung...
__ADS_1