
"Tidak apa apa mba Naila. Ow iya mba Naila apa mau di buatkan susu nya, atau mau minum vitaminnya...?"
"Nanti saja Bu Fitri, aku ingin istirahat dulu."
" Yasudah kalau begitu ibu permisi ya mba Naila.?" Naila mengangguk. Setelah biru Bu Fitri meninggalkan kamar Naila.
Sedangkan Naila masih melamun seorang diri di dalam kamarnya. Naila merasa sudah bersalah kepada suaminya, sudah membuat suaminya begitu marah kepadanya..
Sore harinya ketika Brian pulang dari kantor. Brian tak melihat istrinya, yang biasanya selalu membukakan pintu saat dirinya pulang kerja. Justru yang membuka pintunya adalah Bu Fitri.
"Ko ibu yang membuka pintunya. Naila nya kemana Bu.?"
"Itu mas Gilang, mba Naila nya ada di kamar. Mungkin sedang istirahat, dari tadi juga gak keluar kamar. Hanya tadi pagi saja, siang juga makan nya di dalam kamar.."
"Ya ampun Naila. Tapi istri saya sudah minum vitamin nya Bu.?"
"Sepertinya hanya siang aja mas. Soalnya nya tadi pagi, ibu ingin membuat kan susu untuk mba Naila. Tapi mba Naila nya tidak mau, katanya nanti saja. Jadi ibu buat susu nya siang, jadi mba Naila minum vitamin dan susunya siang."
"Ya sudah kalau seperti itu. Trimakasih ya Bu, ibu juga memperhatikan Naila. Kalau begitu saya ingin ke kamar dulu melihat istri saya.." Bu Fitri pun mengangguk.
Brian pun berjalan menaiki anak tangga, menuju kamarnya. Saat di depan pintu Brian membuka pintu nya dengan hati hati.
Ceklak....Brian membuka pintu di lihat istri nya masih tertidur. Brian menutup pintunya kembali. Lalu Brian mendekati Naila memastikan istri nya yang tertidur.
Naila perlahan membuka matanya, dan melihat suami nya yang sedang tersenyum kearahnya.
"Mas kamu sudah pulang.?"
"Iya mas baru sampai. Ow iya aku mandi dulu ya, soalnya aku bau keringat. Nanti kamu gak mau aku dekati lagi." Naila mengangguk kan kepalanya.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit Brian, membersihkan tubuhnya dari rasa lengket nya. Brian keluar hanya melilitkan handuknya sampai pinggangnya. Brian tersenyum karena Naila sudah menyiapkan pakaian untuknya.
Brian memakai pakaian yang sudah Naila siapkan. Brian menggunakan kaos berwarna abu-abu, dengan jeans pendek selutut berwarna hitam.
__ADS_1
Brian berjalan menghampiri Naila yang kini duduk di depan meja rias, yang sedang memperhatikan nya sejak tadi.
Brian pun menghampiri Naila lalu duduk di pinggir tempat tidurnya, lalu menepuk sisi sampingnya. Agar Naila duduk di sebelah Brian.
Puk.. puk .. Brian menyuruh Naila duduk, Naila pun akhirnya pindah duduk menjadi di samping suaminya.
"Kamu kenapa Hem... Dari tadi ko ngeliatin aku terus sambil senyum-senyum gitu. Kenapa suami kamu ini begitu tampan ya, sampai sampai kamu terus memandangi aku.?" Naila tersenyum dan mengangguk.
Tentu saja Brian terkekeh saat Naila mengangguk kan kepalanya. Brian menyibakkan rambutnya Naila kebelakang telinga, lalu Brian tersenyum kearah Naila.
"Kamu kenapa hari ini malas makan. Tadi Bu Fitri bilang kamu hari ini mengurung diri di kamar. Kamu sedih ya karena tadi pagi aku bentak kamu. Maaf ya aku gak bermaksud membuat kamu sedih.?"
"Tidak mas, bukan karena kamu. Hari ini aku lagi tidak berselera makan saja". Naila nampak berpikir, seperti ingin mengatakan sesuatu kepada suaminya..
"Mas, aku minta maaf ya. Tadi pagi aku sudah membuat kamu marah dan kesal..
Aku janji tidak akan minta kamu untuk membebaskan bibi lagi. Aku tidak ingin kamu marah mas."
"Sayang aku tidak marah sama kamu. Hanya saja aku marah saat mengingat wanita itu melakukan kamu dengan kasar. Dan itu di depan mata kepalaku sendiri. Aku hanya ingin dia sadar dengan kesalahan nya itu Nai. Dan jika memang dia sudah benar benar sadar, aku sediri akan mempertimbangkan masalah kebebasan nya dia. Tapi itu tidak untuk saat ini Nai, kamu mengerti kan sayang sama maksud aku.."
"Iya sayang aku sudah maafin kamu, sebelum kamu katakan. Lagian aku suka sikap kamu yang seperti anak kecil kamu, apalagi sikap manja kamu ke aku, aku suka itu dari kamu..." Goda Brian, membuat Naila tersenyum malu.
"Terus kamu mau makan apa sayang, kalau kamu lagi malas makan. Kasian bibi pasti sudah masak untuk kita. Kalau sampai gak di makan, kan mubazir.?"
"Iya yasudah nanti aku makan. Mas hari ini boleh tidak, kalau kita nginap di rumah bunda. Jujur aku ingin kesana dari tadi siang naik motor. Tapi aku takut gak boleh sama kamu." Brian melotot saat Naila mengatakan naik motor.
"Apa kamu mau naik motor ke rumah bunda.?" Naila mengangguk." Gak, kamu gak boleh kerumah bunda naik motor. Apalagi sendirian kesana nya, walaupun hanya 20 menit sampai sana, tetap aku gak izinin kamu.!"
"Iya mas, Mangkanya aku gak berani kesana. Karena kamu sudah melarangnya mas." Brian tersenyum.
" Terus mau gak mas, kalau kita nginap di sana.?"
"Yasudah iya boleh nanti kita kesana ya, tapi kalau kita sudah makan masakan Bu Fitri ya.?" Naila mengangguk..
__ADS_1
Tepat pukul 7 malam, selesai makan malam. Brian dan Naila bersiap berangkat menuju rumah bunda Rossa. Hanya membutuhkan waktu 25 menit perjalanan, kini mereka sudah sampai di kediaman rumah bunda Rossa.
Devi, Bunda dan yang lainnya sangat bahagia dengan kedatangan Naila kerumah nya. Kebetulan sekali di sana, seluruh keluarga sedang menikmati makan malam.
"Sayang kalian datang di saat yang pas, sekalian yuk kita makan malam sama sama.?"
"Kita sudah makan Bun, tadi sebelum kesini. Soalnya Bu Fitri masak, jadi sayang kalau sampai gak kemakan." Bunda mengangguk.
"Tapi aku mau makan lagi mas, aku masih lapar." Timpal Naila, membuat Brian merasa heran.
"Tapi kan tadi kita habis makan sayang.?"
"Iya tau, tapi aku ingin makan bareng sama bunda dan yang lainnya. Memang tidak boleh ya mas.?" Raut wajah Naila mulai memelas.
Bunda ayah Haris saling memandang, dan melihat ke arah Naila yang merasa sedih. Brian sendiri mulai bingung, karena Naila pasti akan ngambek dengan perkataannya.
Bunda dan ayah Haris pun akhirnya melotot ke arah Brian agar tidak melarangnya..
"Boleh ko sayang, masa anak bunda mau makan gak boleh. Ya kan yah, kalau kamu sudah makan di rumah boleh ko makan lagi di sini. Bunda dan ayah senang malah kalau kamu mau makan bareng kita, iya kan ayah.?"
"Iya dong sayang. Ayo kita makan yuk. Brian ayo kita makan sama sama.!"
"Ya sudah kamu makan saja. Maaf ya aku tidak bermaksud melarang kamu, aku hanya takut nanti kamu kekenyangan karena baru selesai makan tadi.?"
" Tapi aku ingin makan bareng mereka mas...?" Rengek Naila..
"Yasudah yuk kita makan bareng.. Biarkan kalau Brian tidak ingin ikut makan bareng kita, ayah tidak ingin nanti cucu ayah ikut sedih." Bujuk ayah Haris di angguki oleh Bunda..
"Ya sudah kamu makan saja dulu, aku mau ke kamar sebentar ya. Maaf jangan marah lagi, aku minta maaf.." Naila pun mengangguk.
Cup...
Brian pun mengecup kening Naila,dan itu di lihat semua keluarga. Termasuk Denis yang melihat adegan romantis kakak nya dengan Naila. Tapi untuk kali ini, Denis hanya tersenyum melihatnya ke harmonisan kakaknya dengan istrinya...
__ADS_1
Bersambung.....