
Brian yang baru pertama kali melihat Naila seperti itu merasa takut. Sedangkan Devi dan Melly sudah terbiasa melihat Naila yang memanggil orang tuanya. Namun mereka juga khawatir dengan kondisinya Naila sekarang.
Perlahan Naila membuka matanya, Brian merasa tenang saat melihatnya.
Brian tersenyum melihatnya, Devi dan Melly pun juga tersenyum.
"Syukurlah kamu sudah sadar sayang. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku gak akan maafkan bibi kamu, sampai terjadi sesuatu sama kamu.." Melly yang mendengarnya merasa sedih.
"Ka Nai, maafkan ibu ya ka. Karena ibu kakak sampai seperti ini, Melly malu dengan kelakuan ibu Melly.. Hiks.." Naila menundukkan kepalanya.
"Maafkan kakak ya Melly, harus bicara seperti ini di depan kamu.. " Ucap Brian yang tak tega melihat Melly menangis,sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa ka, Melly tau ibu memang salah. Karena Kak Naila juga harus dapat perlindungan, Melly paham." Devi pun mem..eluk Melly yang menangis.
Naila merasa tak tega melihat adiknya itu menangis. Melly sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Kini Bu Farida sudah di amankan oleh polisi, Naila pun kini menyaksikannya.
"Pak saya tidak salah pa. Jangan tangkap saya.." Ucap Bu Farida yang tangan nya sudah di borgol oleh polisi.
"Dasar anak tak tau diri, begini balasan kamu hah. Setelah numpang hidup di sini, makan tidur gratis. Kamu membawa saya ke jalur hukum.
Naila hanya melihat dengan perasaan tak tega, Naila sendiri tidak ingin masalah ini harus membawa nama polisi. Tapi Naila tidak bisa berbuat apa-apa, Brian yang menginginkan ini.
"Diam jangan menyalakan Naila, selama ini Naila hanya pasrah ditindas oleh mu. Tapi sekarang tidak, tidak ada yang bisa menyakiti Naila lagi. Apalagi Naila milik saya, tidak akan saya biarkan Naila terluka sedikitpun." Ucap tegas dari Brian.
Naila yang sedang berada di pelu..kan Devi dan Debby. Menangis melihat kejadian itu.
"Naila bebaskan ibu Naila. Maafkan ibu Naila, aku mohon Naila". Jenny memohon kepada Naila.
"Bawa dia pak, saya tidak ingin melihat wanita itu di sini." Suruh Brian.
Dan polisi itu membawa Bu Farida, sepanjang jalan Farida terus menghardik Naila.
Dasar anak pembawa si...al. tak tau diri,, di besarkan ini balasannya untuk ku..
Itulah kata kata yang di ucapkan Bu Farida saat di bawa polisi ke dalam mobil. Naila pun menangis mendengar kata kata yang terlontar dari mulut bibi nya itu. Melly, Fandi dan pak Tommy pasrah melihat ibunya yang di bawa polisi. Sedangkan Jenni menatap Naila dengan kebencian, setelah itu langsung pergi masuk ke kamar.
Brian menatap tajam ke arah Fandi.
__ADS_1
"Naila maafkan kakak ya, kakak salah dan sudah menyakiti kamu. Maafkan kakak, atas apa yang kakak lakukan sampai kamu terluka dan ketakutan.."
"Iya ka, aku sudah memaafkan kakak. Ka aku mohon buang perasaan suka kakak sama aku. Aku hanya menganggap mu sebagai kakak saja gak lebih. Maaf ya ka, maafkan aku. Tapi sungguh aku gak nyaman dengan sikap kakak yang memiliki rasa kepada ku .."
"Iya kakak akan berusaha itu. Maafkan kakak yang sudah membuat kamu takut dan tidak nyaman.." Fandi menatap ke semua nya." Maafkan saya, atas sikap saya tadi. Saya tidak akan mengganggu Naila, saya akan berusaha membuang perasaan saya ke Naila. Saya akan menganggapnya sebagai adik saya."
"Iya nak Fandi, kami maafkan." Kata pak Haris yang menepuk pundak Fandi.
"Kalau begitu kami pamit ya Tommy. Maaf kami jadi membuat kekacauan di rumah mu." Kata pak Haris.
"Tidak, justru akulah yang meminta maaf
Karena ulah istriku kalian jadi terbawa masalah. Aku meminta maaf sangat tulus kepada kalian, terutama kamu nak. Paman minta maaf atas nama bibi kamu ya.?"
"Paman tidak perlu meminta maaf, paman tidak salah. Naila sayang paman, Naila menganggap paman seperti ayah Naila." Sambil menyentuh tangan pak Tommy yang menelungkup kan tangannya di depan Naila.
"Kalau kamu menganggap paman ini ayah kamu. Paman ingin dengar kamu manggil paman ini dengan sebutan ayah.." Naila mengangguk.
"Ayah. Hiks hiks hiks...." Pak Tommy pun mem..eluk Naila.
"Panggilan ini lah yang ayah tunggu dari kamu. Ayah sayang kamu sama seperti anak ayah lainnya..." Pak Tommy menitikkan air mata.
"Sudah jangan nangis lagi, ayah gak mau kamu jadi jelek karena kebanyakan menangis." Naila tersenyum. " Yasudah kalau kamu mau balik, hati hati ya. Nanti ayah akan datang kamu jangan khawatir."
Naila pun mengangguk. Pak Tommy melihat ke arah Brian dan menghampiri nya.
"Saya titip Naila dengan kamu. Saya percaya kamu bisa melindungi Naila." Brian mengangguk.
"Iya yah, ayah jangan khawatir. Saya akan melindungi dan akan menyayangi Naila." Pak Tommy pun tersenyum..
Dan akhirnya keluarga Bu Rossa , Brian dan Naila berpamitan untuk pulang. Dan meninggalkan keluarga pak Tommy.
Sepulang dari rumah pak Tomi, 2 hari kemudian. Naila dan Devi beraktivitas seperti biasa. Namun saat Naila dan Devi berada di kontrakan. Tepat jam 7 malam, kontrakan Naila ada yang mengetuk pintu. Saat Naila buka pintunya ternyata Denis dengan senyum manisnya.
"Hallo kakak ipar".
"Hallo adik ipar, hihihi.... Kamu mau ngapain kesini.?"
"Idih emang gak boleh ya kalau main kesini.?" Denis tersenyum." Nai, Devi ada gak.?"
__ADS_1
Sambil tersenyum, dan menaikan alisnya seraya meledek Denis.
"Eeemm... Jadi alasan nya karena Devi ya.?" Denis tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hehehe.... Iya gitu deh, Devi nya ada gak .?"
"Ada ko, sebentar aku panggil dulu." Denis pun mengangguk.
Naila ke dalam, dan memanggil Devi. Devi pun keluar menemui Denis.
"Denis..Ada apa.?"
Denis tersenyum saat melihat Devi datang.
"Eem Dev, kamu sibuk ga.?"
"Sibuk, aku bukan orang sibuk. Seperti biasa aku sama Naila di kontrakan hanya nonton tv aja. Ada apaan si.?"
"Aku ingin ngajak keluar, ngajak makan gitu.?"
"Sama Naila juga.?"
"Ya jangan sama Naila kita berdua aja. Naila nanti ada yang ngajak, aku ingin ngajak kamu aja. Mau ga.?"
"Ko kamu tau Naila nanti ada yang ngajak keluar.?"
"Tau lah, KA Brian tadi bilang ko.?"
"OOO... Yasudah sebentar ya aku ambil tas dulu.?" Denis pun mengangguk.
Tidak lama Devi pun datang dengan memakai tas selempang kecil tanpa makeup, hanya menggunakan lipstik warna bibir. Bagi Denis, Devi terlihat cantik, walaupun tanpa makeup.
Kini Devi pun berjalan menuju di mana motor Denis terparkir, dan mereka pun meninggalkan kontrakan Naila. Dan Naila melihat Devi dan Denis pergi berdua, ada senyuman di bibir Naila.
Entah kenapa Naila berharap kalau Denis menyukai sahabat nya itu. Karena dulu Naila pernah sempat mendengar, kalau Devi sempat memili rasa ke Emiil. Dan itu Naila tau saat Naila sudah jadian dengan Emiil berjalan 3 bulan, dan Naila merasa tak enak hati akan hal itu.
Naila pernah bertanya ke Devi, dan meminta maaf. Namun Devi tidak marah dengan hal itu, justru Devi malah tersenyum melihat Emiil bisa mencintai Naila dengan tulus. Malahan kata Devi dia akan senang jika melihat Naila Bahagia. Devi dan Naila sudah saling menganggap saudara satu sama lain.
Bersambung...
__ADS_1