
Hikss... Hiks.. hiks... Naila menangis saat mendapat kan suaminya justru membentak nya. Padahal Naila juga tidak ingin bersikap seperti itu, namun entah kenapa Naila merasa suaminya sangat bau. Dan itu membuat perut Naila terasa berputar, dan Naila seperti mual.
"Aaaahhh... Aaaaaa ... Mas kamu jahat, bisa bisanya kamu membentak aku disaat aku seperti ini. Kamu kira ini keinginan aku, bukan mas. Kamu itu bau, mangkanya aku suruh kamu mandi, dan minta pakai wangi wangian. Tapi bukan nya wangi, ko malah makin bau. Aku belum bilang kamu membentak aku, kamu jahat nyebelin tau gak..." Omel Naila di tambah dengan menangis .
Astaga apa yang aku lakukan, kenapa aku lupa kalau Naila kan lagi sensitif banget. Semenjak hamil, dia selalu mudah marah. Eeh ini malah aku membentak nya, astaga makin jadi dah ini. Yang ada aku kena ceramah bunda, kalau tau Naila di bikin kesal.
Brian merasa bingung dan serba salah, harus berbuat apa.
"Sayang aku minta maaf, aku gak bermaksud membentak kamu. Aku hanya bingung harus bagaimana. Aku minta maaf ya jangan nangis dong sayang.."Tidak ada jawaban dari Naila, Naila pun juga tak menatap suaminya.
"Ya sudah aku mandi lagi, biar aku tidak bau ya." Naila mengangguk.
Brian pun segera berjalan menuju kamar mandi, dan Brian pun akhirnya mandi kembali. Karena Brian tidak ingin istri nya ke bauan mencium aroma tubuhnya.
Entahlah sebenarnya Brian sudah merasa dingin, kalau harus mandi dua kali dalam jarak waktu yang cepat.
Rambut ku saja belum kering, sudah mandi lagi. Sabar sabar Brian, dari pada istri mu merajuk.
Brian mengoceh sendiri di kamar mandi.
Sepuluh menit Brian selesai, dan keluar dengan wajah segar dan rambut basah nya. Untuk kali ini Brian tidak menggunakan wangi wangian. Brian tidak mau jika harus mandi lagi, karena di bilang bau oleh Naila.
Brian menghampiri Naila yang kini sedang menatapnya. Brian tersenyum dan duduk di samping Naila.
" Bagaimana apa aku masih bau sayang.?"
Naila mengendus tubuh Brian layaknya kucing mencium bau ikan. Lalu Naila menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Brian merasa lega mendapatkan Jawaban,yang membuat dirinya harus mandi untuk ke tiga kali nya.
"Mas...~"
"Apa sayang, kamu mau apa...?"
"Peluk..." Kata Naila dengan suara manja nya.
Brian tersenyum saat mendengar istrinya. Apalagi dengan Naila yang sudah tersenyum sangat manis, tentunya Brian sangat menyukainya.
Brian merentangkan tangannya, dan Naila pun berada dalam pelu...kan Brian saat ini.
__ADS_1
"Maaf ya mas, karena masa kehamilan ku ini. Kamu harus mandi sampai dua kali. "
"Gak apa-apa sayang. Kan memang mas kalau mandi bisa dua kali atau tiga kali sehari, sama aja kan.?"
"Beda mas, biasanya kamu kalau mandi pagi, dan sore. Kalau tiga kali, ya kalau siang kamu merasa gerah baru kamu mandi. Ini kamu pagi udah dua kali mandi. "
"Gak apa-apa sayang. Apa si yang gak buat kamu, Pasti akan aku turuti." Sambil membelai pipi Naila."
"Mas, kita jalan jalan yuk. Aku ingin cari makanan, terus kita ketempat bunda deh.." Naila sangat antusias sekali mengatakan itu.
Brian mengerenyitkan mata nya menatap sang istri bicara.
"Tumben kamu minta jalan jalan. Memang kamu ingin beli makanan apa sayang, hemm...?"
"Aku ingin makan, es cendol beras. Terus kue semprong, dan juga kue rangi.Yuk mas, aku lagi ingin makan itu.."
"Yakin kamu ingin itu hemm.?" Naila mengangguk." Yasudah sekarang kita siap siap. Tapi beli di mana ya jajanan kaya gitu.?"
Naila nampak berpikir.
"Di mana sayang.?"
"Dekat rumah kita dulu sayang. Kan sekarang sudah jadi halte busway, nah dari tempat itu ada tuh tukang kue rangi, dan tukang es cendol beras.. Tapi kalau kue semprong nya aku gak tau di mana. Heheheh... Tapi dulu tuh,aku kalau pulang kerja aku suka liat di jalan mas. Bapak bapak yang jualan di pikul gitu.."
"Yakin di sana. Tapi lumayan jauh loh sayang tempatnya, kamu yakin mau kesana.?"
"Kenapa kamu gak mau ya kesana. Yasudah gak usah deh gak jadi, biar aku minta beliin sama Denis aja." Kata Naila dengan bibir cemberut nya.
"Tuh kan, memangnya aku bilang gak mau.? Kan aku hanya bilang yakin mau kesana, kan jauh. Nanti kalau kamu kecapean bagaimana, aku gak mau kamu kelelahan di jalan.?" Naila masih mode cemberut nya." Iya iya kita cari ya, udah jangan ngambek lagi.."
Brian akhirnya pasrah dengan permintaan Naila, daripada harus berdebat. Takut takut nanti Naila merajuk dan tak mau di dekati oleh nya.
Kini Brian dan Naila sudah berada di dalam mobil. Mereka menyusuri jalan, setiap jalan mata Naila dan Brian melihat kiri kanan jalan. Barangkali ada penjual salah satu yang Naila inginkan, yang kebetulan lewat di sana. Untung untung semua yang Naila ingin kan ada di tempat itu juga, dan itu bisa mempermudah Brian untuk membelinya. Jadi tidak perlu jauh jauh mencarinya yang Naila ingin kan.
Kurang lebih satu jam perjalanan Brian dan Naila mencari makanan yang Naila inginkan. Bibir Brian tersenyum saat melewati jalan yang melewati sekolah SD, di mana Brian melihat penjual es cendol beras. Brian memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Brian dan Naila pun turun dan menghampiri Abang penjual es cendol, yang berada di dalam warung es cendol.
"Kamu mau makan di sini atau di bawa pulang es nya sayang.?"
__ADS_1
"Di sini aja mas." Sambil tersenyum, Brian pun mengangguk.
Lalu Brian berdiri tepat di depan bapak penjual nya.
"Pak es nya dua ya." Pesan Brian.
"Di sini atau mau di bungkus es nya mas."
"Di sini aja pak." Penjual itu pun mengangguk.
Brian dan Naila pun mencari tempat duduk untuk mereka. Brin tersenyum dan menggenggam tangan Naila saat duduk di kursi kayu panjang.
Tidak lama pesanan mereka pun datang, dan Naila begitu sangat bersemangat ingin makan es cendol. Mata Naila berbinar saat semangkuk es cendol beras, dengan tambahan gula merah. Membuat Naila tak sabar ingin menyantap nya.
Brian tersenyum saat Naila memasukkan cendol nya sesendok demi sesendok ke mulut nya. Brian pun ikut menyantap es cendol miliknya, entah Kenapa juga Brian ingin juga menyantap nya.Tak terasa kini es cendol di mangkok milik Naila sudah habis, namun Naila melirik es milik Brian.
"Kenapa sayang, kamu mau lagi es cendol nya.?" Naila mengangguk, Brian pun tersenyum." Yasudah aku pesankan lagi untuk kamu ya.?"
Naila pun tersenyum kegirangan, karena suaminya mengerti apa yang Naila ingin kan.
"Pak, cendolnya di mangkuk satu lagi ya. Dan saya juga minta yang di bungkus ya, sepuluh bungkus."
" sepuluh bungkus mas.?" Brian mengangguk." Baik mas, jadi yang di makan sini satu lagi, dan yang di bungkus sepuluh mas.?"
"Iya pak, buatkan satu mangkuk untuk istri saya."
"Iya mas, saya buatkan sebentar ya.?" Brian pun mengangguk. Lalu duduk kembali dekat istrinya.
Tidak lamanya, semangkuk es cendol yang ke dua milik Naila pun datang. Naila begitu sangat lahap sekali memakan nya.
Brian sendiri tersenyum menatap istrinya yang begitu lahap menikmati cendol.
Kini tiga mangkuk cendol pun sudah kosong, dengan di lahap Brian dan Naila. Akhirnya Brian pun kini sedang membayar es yang di makan, dan juga yang di bungkus untuk di bawa pulang.
Naila yang sedang menunggu di kursi kayu panjang, tepat di depan warung penjual cendol itu.
Bersambung..
__ADS_1