
Brian kembali merasakan sesak saat membacanya. Di mana saat itu, dirinya dan kedua adiknya membujuk agar Naila juga ikut dengannya. Namun kata bunda, kalau Naila tidak di perbolehkan ikut oleh pamannya. Dan paman nya sendiri lah yang akan membawa Naila dan merawatnya.
Dan dari sana lah Denis Debby nampak murung dan selalu sedih karena kehilangan seorang sahabat yang terbaik yang mereka punya. Bukan hanya Denis dan Debby, tanpa mereka sadari Brian pun juga merasakan kehilangan sosok Naila.
Brian masih serius membaca setiap lembar dari buku itu.
20 April 2018
Selamat ulang tahun Naila Aprilia, ya tidak ada lagi yang mengucapkan kata kata itu. Tidak ada peluk cium dari ibu dan ayah. Tidak ada kata ucapan lagi dari bunda, ayah Debby Denis dan ka Brian.
Dan lagian aku sekarang sudah bersama paman Tommy. Meskipun begitu aku masih ada Paman ka Fandi dan Melly yang mengucapkan nya. Sedih sih,tapi aku bersyukur aku masih memiliki mereka. Aku senang paman memberikan ku kejutan dan hadiah untukku.
Paman tinggal bersama ku, di rumah ku. Karena aku tidak ingin meninggalkan rumah ini, semua kenangan ku bersama ibu dan ayah ada di sini. Tapi rasanya sudah berbeda, lagian sudah tidak ada teman temanku lagi. Dan sekarang Sarah pun sudah tinggal di kampung, dia menemani neneknya dan sekolah di sana. Sedangkan aku di sini masih bertahan, walaupun sudah tidak ada orang orang yang aku sayang. Tidak ada ayah dan ibu untuk mendengarkan ku cerita. Tidak ada lagi Denis dan Debby yang mengajakku bermain. Tak ada lagi ka Brian yang selalu memarahi aku.
Tapi aku masih memiliki dua teman baru ku ini, ya boneka beruang pemberian dari KA beruang. Hihihi ..ya ka Brian itu seperti beruang, walaupun galak tapi lucu.
Ka Brian tau, sekarang aku juga sekolah di tempat SMP kakak. Rasanya beda tidak ada yang segalak kakak. Terimakasih ya sudah memberikan ku boneka ini, sekarang dialah yang menjadi temanku.
Terimakasih untuk ka Brian, si beruang kutub yang teramat manis. Hihihi... Maaf aku hanya berani menuliskan lewat tulisan aja untuk mengagumi kakak. Tapi sekarang kakak sudah tidak tinggal di sini lagi.
Brian tersenyum membacanya, ada rasa bahagia yang saat ini yang di rasakan. Ternyata sebenarnya Naila mengagumi dirinya dari dulu.
"Dasar anak nakal, masih SMP saja sudah mengerti perasaan cinta. Ternyata kamu diam diam mengagumi aku Nai, senang banget aku Nai saat tau. Sekarang aku yakin dengan perasaan kamu ke aku, tidak ada lagi keraguan untuk perasaan kamu ke aku sayang."
Brian pun akhirnya mengakhiri membaca buku milik Naila. Dia tidak ingin melihat Naila ,kalau dirinya sedang membaca buku hariannya..
Dan akhirnya Brian meletakkan bukunya kembali di tempat semula. Dengan berjalan sangat hati-hati agar Naila tak mendengar setiap gerakan langkahnya.
Brian tersenyum saat buku itu sudah berada di tempat, dan beruntung Naila masih dengan posisi tidurnya. Brian pun akhirnya berjalan menuju tempat tidurnya agar bisa bersebelahan dengan Naila.
Huffhh.... Aman. Untung saja istri ku belum membuka matanya, kalau sampai Naila melihatnya bisa panjang. Dan urusannya dia marah dan mendiami aku kembali, mana bisa aku tidur bila harus menjauh dari Naila.
__ADS_1
Kini Brian berbaring sambil menatap wajah Naila,yang sangat tenang saat tidur. Brian tersenyum, sambil membelai pipinya. Brian mengamati setiap inci di wajah istrinya itu, yang kini sedang tertidur.
Gak nyangka ya, kamu yang menjadi istri ku. Padahal dulu kamu yang sering aku marahi, karena kamu selalu berisik dan banyak bicara. Kamu yang selalu aku jahili, aku marahi, tapi kamu wanita yang aku rindukan untuk pertama kalinya saat itu. Pertama kali seorang pria duduk di bangku SMA, ya di mana aku merindukan seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku SD, Setara dengan kedua adikku.
Waktu aku SMP aku anak laki-laki yang pendiam dan sering banyak yang bilang aku sedikit sombong dan sulit untuk bergaul dengan teman-teman di sekolah.
Tapi saat melihat kamu, aku selalu ingin membuka suara aku, dan mempunyai ide untuk menjahili kamu. Entahlah aku juga bingung kenapa bisa seperti itu. Tapi setiap kali melihat kamu menangis, aku seakan menyesal. Dan apalagi setiap kamu tidak mau memaafkan aku, entah kenapa aku paling merasa bersalah, dan berusaha untuk mencari cara agar aku di maafkan kamu.
Itulah Brian berbicara di hati nya saat menatap wajah Naila, yang kini sudah menjadi istrinya.
Naila sudah menunjukkan tanda tanda untuk bangun dari tidurnya, dan membuka matanya. Naila terkejut karena saat ini tepat di hadapannya, sudah ada suaminya yang sedang menatapnya dengan senyuman manisnya.
"Kenapa mas, ko kamu senyum senyum melihat aku.?"
"Gak kenapa kenapa, aku senang aja ngeliatin kamu saat tidur. Kamu terlihat sangat cantik saat tidur.
"Ciih.. kamu sekarang pintar gombal ya mas.."
Naila mengerenyitkan mata nya, Naila tidak mengerti dari perkataan Brian.
"Menyembunyikan perasaan, maksudnya apa ya. Siapa yang kamu maksud itu mas.?"
Brian menggelengkan kepalanya, dan tersenyum. " Tidak, bukan siapa-siapa ko sayang. Sini mendekatkan."menyuruh Naila untuk mendekat.
Kini Naila berada pada dekapan Brian. Sambil menggenggam tangan Naila dan di kecup nya.
Naila tersenyum saat menatap suaminya, yang bersikap manis saat ini.
"Mas kamu kenapa sih, kenapa kamu manis banget si saat ini.?"
"Masa sih sayang. Aku begini karena aku mencintai kamu sayang.." Naila tersenyum mendengarnya. Walaupun terdengar gombal dan membuat telinga Naila terasa geli. Namun entah kenapa Naila menyukainya.
__ADS_1
"Sayang tadi Fandi menitipkan sesuatu untuk kamu. Katanya barang kesayangan kamu yang tertinggal di rumah paman kamu.?"
"Masa si mas, apaan ya yang tertinggal." Naila nampak mengingat ingat, dan akhirnya Naila mengingat nya.
"Aaaaahhh.... Jangan jangan ....? Mana mas barangnya, aku mau lihat. Tolong ambilkan dong mas, apa benar barang yang aku cari..." Pinta Naila .
Brian pun mengangguk, lalu mengambil barang yang tadi Fandi titipkan. Naila mengambil paper bag dari tangan Brian, dan melihat isinya. Naila tersenyum saat melihat isi pada paper bag tersebut.
"Apa sih sayang isi nya.? Senang banget si kaya nya, aku boleh tau tidak.?" Tanya Brian pura pura, padahal sebelumnya Brian sudah liat apa isi tas itu.
Naila tersenyum, lalu mengeluarkan isinya. Di mana ada sebuah boneka beruang berwarna biru, dan juga pensil yang di ujungnya ada boneka lucu. Naila memberitahu kepada Brian, ada senyuman di bibir Brian dan Naila.
"Ini mas, kamu ingat gak, sama dua barang ini..?"
" Bukankah ini boneka yang aku berikan, di saat ulang tahun kamu ya.?" Naila tersenyum dan mengangguk.." Dan yang ini, ini pensil yang aku belikan saat pulang sekolah dulu kan. Kalau gak salah Debby juga punya kan pensil ini.? Tapi pensil dia sudah hilang, tapi punya kamu masih ada.?"
"Ya benar, dua barang ini pemberian dari kamu. Ya aku menjaganya dan menyimpannya dengan baik. Barang ini tertinggal saat aku keluar dari rumah itu, karena aku tidak mau di nikahi dengan pria itu... Jadi tidak terbawa, dan tertinggal di sana. " Brian tersenyum, Naila pun juga tersenyum. Namun senyuman Naila sedikit pudar, dan Naila menundukkan kepalanya.
"Tapi mas, boneka yang satu lagi yang warna coklat, aku tidak berhasil menyelamatkan boneka itu.?"
" Menyelamatkan boneka coklat itu. Memang Boneka itu kenapa sayang.?"
"Bonekanya di bakar sama bibi Farida dan Jenny. Maaf ya mas, aku tidak bisa menjaganya.?"
"Kenapa kamu meminta maaf sayang, ya sudah biarkan saja. Yang penting kamu menjaga yang lain, pemberian aku itu. Memang kenapa bisa di bakar sama bibi dan Jenny.?" Ada rada geram Brian saat mendengar nya.
"Dulu itu, Jenny itu ingin meminta boneka nya. Dan aku bilang jangan, karena ini pemberian dari seseorang. Dan hanya ini kenang kenangan yang aku punya, aku tidak memberikan kepadanya. Lalu Jenny menangis, dan mengadu kepada bibi. Dan bibi merebut bonekanya, sama bibi di masukkan ke dalam api. Sedangkan yang biru, di gunting sama Jenny. Dan setelah itu di buang olehnya. Aku menangis melihat boneka ku terbakar dan rusak. Aku tidak berhasil menyelamatkan boneka yang coklat, tapi aku berhasil menyelamatkan boneka beruang yang biru. Aku menjahitnya kembali,dan menyimpan boneka itu dengan aman."
Ada rasa sesak dan sakit di hati Brian, saat mendengar cerita Naila. Bertapa kejamnya, bibi Farida dan Jenny memperlakukan Naila saat itu. Naila menceritakan nya pun dengan mata yang basah,saat mengingat kejadian yang membuatnya sedih.
bersambung...
__ADS_1