Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Brian


__ADS_3

"Kalau begitu kak Naila pergi ya sayang, pasti teman teman kakak nyariin kakak."


" Kalau begitu terima ya mba Naila."


"Iya sama sama mba, kalau begitu saya permisi ya. Daah... Asyila sayang." Naila melambaikan tangannya, dan Anak itu pun juga melambaikan tangannya.


Naila pun pergi mencari teman temannya yang juga sedang mencarinya.


"Nailaa...." Ada suara yang memanggil Naila dari kejauhan.


Naila pun menoleh ternyata Devi, Rara dan Kiki. Lalu mereka menghampiri Naila dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Dari mana si kamu Nai, dari tadi kita nyariin kamu.?" Kata Kiki


"Tau kamu Nai, kita nyariin kamu. Liat nih napas kita sampai kembang kempis". Timpal Rara.


"Aku pikir kamu nyusul kita masuk ke rumah hantu. Kita nungguin di sini kaya sapi ompong, tapi gak nongol nongol kamu nya dari dalam.. Aku takut kamu di Sandra sama hantu hantu pria di dalam sana.?" Celetuk Devi sudah terlihat kesal.


Dan Naila hanya tersenyum mendengar Omelan 3 temannya itu.


"Iya iya maaf, tadi aku kesana sebentar. Eeh ada anak kecil yang terlepas dari orang tuanya. Ya jadi aku nemenin anak itu sampai orang tuanya datang."


"Terus orang tua tuh anak datang gak.?" Tanya Devi dengan kesal.


"Iya datang, mangkanya aku langsung kesini takut kalian nyariin."


"Telat, kita udah nyariin kamu. Kamu sama anak itu sama nya. Untung saja anak itu ketemu sama orang tuanya, kalau gak gimana coba. Mau nungguin sampai malam hah...?" Omel Rara seperti Ema Ema yang ngomelin anaknya.


"Iya iya, maaf deh. Terus sekarang kita mau ngapain lagi.?"


"Makan, kita makan dulu. Lapar banget perut aku Nai". Usul kiki di angguki oleh Devi dan Rara.


Akhirnya mereka pun pergi mencari penjual bakso dan mie ayam. Dan mereka pun makan di sana. Setelah makan mereka kembali ke kontrakan.


Keesokan hari, sebelum ke toko Naila keluar hendak membeli bubur ayam untuk sarapan. Namun saat hendak menyebrang, tiba tiba Naila terserempet oleh mobil yang melakukannya sangat kencang.


Aaaa... Bruuugghh..." Aduuuh, ssst...


Ckiit... Mobil itu mengerem. Karena melihat mobilnya menabrak seseorang, orang yang berada di mobil pun keluar. Ternyata seorang pria yang menggunakan setelan jas hitam, yang turun dari mobil. Pria itu menghampiri Naila yang masih duduk di jalan.


Pria yang berhidung mancung, dengan alisnya yang tebal, serta bulu matanya yang lentik. Dengan postur tubuh yang tinggi dan berkulit putih, terlihat sekali kalau Pria itu sangat sempurna.

__ADS_1


Pria itu berjongkok menghadap Naila, dan Naila merasa seperti pernah melihat pria tersebut.


"Maaf banget ya, saya tadi tidak melihat ada kamu menyebrang." Pria itu tersenyum." Apa ada yang luka, mari saya bawa kamu ke kelinik untuk di obati. Saya khawatir kamu terluka ."


"Ti... tidak usah, saya tidak apa-apa, hanya sakit sedikit."


"Justru itu, mari ke kelinik. Agar ada yang di lihat kalau kamu ada luka atau tidak.? Saya benar-benar merasa bersalah mba."


"Tidak apa-apa mas, saya juga sebenarnya yang meleng. Karena saya ingin menyebrang dan tidak melihat kiri kanan."


"Tapi beneran loh, saya tulus dan ingin bertanggung jawab. Eeem, coba kamu bangun dan berdiri sendiri. Kalau kamu bisa berdiri tanpa merasakan sakit, kamu tidak apa apa . Kalau ada rasa sakit kita periksa ke kelinik, bagaimana.?" Naila pun mengangguk.


Kini Naila berusaha berdiri sendiri.


Namun ternyata ada bagian yang sakit.


"Aaaww..ssshhh.." Dan Naila pun duduk kembali.


"Astaga ,tuh kan ada yang sakit. Ayo kita obati luka kamu ini, jangan menolak ya."


Naila pun mengangguk.


Dan kini Naila dan pria itu berada di dalam mobil, menuju ke klinik. Tidak butuh waktu lama mereka pun sudah sampai di klinik, dan Naila pun kini sudah di obati.


"Tidak ada mas, mbak nya hanya memar sedikit. Benturan nya tidak keras, hanya ada luka yang tidak perlu di khawatirkan. Nanti saya kasih obat rasa nyeri dan vitamin." Dengan senyum dokter perempuan itu menjelaskan.


Naila dan pria itu mengangguk.


Setelah Naila sudah di berikan obat, akhirnya Naila di antar pulang.


Selama di mobil Naila hanya diam, tidak banyak bicara.


"Hai kenapa kamu diam saja, di mana rumah mu.? Aaah iya saya Brian, siapa namamu, kalau boleh saya tau.?"


"Namaku Naila". Mendengar nama Naila pria itu mengerem mendadak.


Ckiit..Dugh...Aaaw..


"Maaf, saya terkejut mendengar nama kamu itu..?" Brian melihat Naila yang mengusap keningnya karena terbentur dasboard mobil." Maaf sebelumnya saya bertanya, apa kamu sudah lama di sini.?"


'Sebenarnya aku juga terkejut saat dengar namanya, tatapan matanya aku seperti mengenal nya.' Ucap dalam hati Naila.

__ADS_1


"Eeemm.... Saya baru 2 bulan tinggal di sini."


"Maaf saya ingin tanya lagi boleh, sebenarnya saya penasaran sejak awal tadi. Kamu mengingatkan aku dengan seseorang. Apa nama kamu Naila Aprilia, anak dari pak Fahmi dan Bu Dina.?" Brian yang memberikan pertanyaan nya seakan tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Naila .


Naila yang masih menunduk pun mengangguk kan kepalanya. Dan Brian pun menunjukkan senyum Bahagia mendengar jawaban Naila.


"Ja.. Jadi nama kamu benar Naila, anak dari almarhum pak Fahmi dan ibu Dina..?"


"Iya.. Jadi kamu ka Brian. Anak ayah Aris dan bunda Rossa, kakaknya Debby denis .?" Brian pun mengangguk.


Naila terkejut, saat pria yang di sampingnya kini memeluk nya. Ada rasa bahagia juga yang Naila rasakan, pria yang baru pertama kali dia lihat, ternyata dia teman kecilnya. Pria yang dulu dingin, arogan, bahkan membuatnya sedikit takut, kini sedang memeluknya.


Brian menatap wajah Naila, dan terlihat senyuman yang Naila kenal. Senyuman pria yang sewaktu kecil, menyukai pria itu. Karena sikap dinginnya jika melihat Naila, dan jail nya saat bersama sama, dan sedikit mempunyai sikap arogan karena kepandaian nya. Kini sedang menatap Naila dalam dalam.


"Akhirnya aku berhasil menemukan kamu, dan ternyata kamu di sini, di hadapan aku .?"Naila mengangguk.


"Apa selama ini kakak mencari Nai.?"


"Iya, aku selalu mencari kamu.. Bukan hanya aku, ayah, bunda, Denis, Debby kami semua mencari kamu." Seketika air mata Naila berhasil lolos dari matanya.


"Ya semenjak kalian pergi aku ikut dengan paman. Lalu paman pindah rumah, jadi aku ikut mereka. Hanya paman yang aku punya saat itu, saat semua meninggalkan aku. Hiks.. hiks... "


Naila menangis mengingat kembali 11 tahun lalu.


"Uuuuusssstt.. Jangan nangis, jangan sedih lagi. Dan sekarang kita udah ketemu, pasti mereka sangat bahagia saat kamu datang kembali." Brian mencoba menenangkan Naila, dan Naila pun mengangguk." Sekarang kamu tinggal di mana Nai.?"


"Tidak jauh dari tempat tadi kaka".


"Dekat situ rumah kamu Nai.? Maaf ya kakak tadi nyerempet kamu, beneran gak apa-apa kaki kamu.?"


"Gak apa-apa ka, lagian tadi aku juga meleng. Aku gak liat saat menyebrang , gak sabar ingin beli bubur. Lagian karena kejadian tadi, kita jadi bisa ketemu lagi?"


Brian tersenyum lalu mengacak-acak rambut Naila." Jadi kamu belum sarapan Nai.?"Naila menggelengkan kepalanya.


" Yasudah kita beli bubur di depan sana ya, biar kamu bisa minum obatnya. Kamu tinggal di situ dengan siapa, sama keluarga paman.?"


"Tidak ka, aku sama Devi teman baikku."


Brian mengangguk, lalu mereka berhenti di depan penjual bubur ayam. Lalu Brian membeli 3 porsi bubur ayam, satu untuk Brian dua untuk Naila dan Devi.


Lalu Brian melanjutkan mobilnya kembali. Dan berhenti di pinggir jalan tempat kejadian tadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2