
"Kai.."
Sontak gelak tawa antara Kaivan dan Aura terhenti, ketika suara bass itu menyeruak diantara keriangan keduanya yang sedang mengobrol bersama di beranda rumah.
Kaivan sudah membuka mulutnya siap menjawab sapa dari bos sekaligus sahabatnya itu dengan cara yang paling benar, tapi apa kemudian yang ia dengar.
"Ngapain, pagi-pagi sudah ada di sini?"
Kaivan mengerutkan kening, mencermati ucapan Damaresh yang tidak tepat kalau itu disebut pertanyaan, tapi justru lebih mengarah pada teguran.
Kaivan memutar kepalanya menatap Aura.
"Apa semalam, kau tidak menemaninya tidur? Sampai ia lupa titahnya sendiri padaku." Tampak raut kesal di wajah Kaivan, lelaki itu jauh-jauh datang dari Jakarta atas perintah Damaresh, tapi kini bos besarnya tersebut seolah lupa dengan perintahnya sendiri.
Aura hanya menampilkan senyum dikulum mendengar itu.
"Tentu saja karna aku kangen padamu, bos," sahut kaivan meneruskan niatnya untuk menjawab.
"Aku menyuruhmu datang kesini untuk suatu urusan, bukan untuk berdua-dua dengan istriku," sembur Damaresh lagi.
Jangan lupakan expresi wajahnya yang bukan cuma datar seperti ciri khas-nya selama ini, tapi juga seperti ada awan kelabu di sana.
"Oo, jadi itu masalahnya." Kaivan anggukkan kepalanya pelan, lalu merotasi kepalanya kembali pada Aura.
"Masuklah, Nyonya Damaresh! Sepertinya suamimu sangat tidak menyukai kau duduk denganku."
Aura tertawa renyah, ia segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Damaresh yang tetap setia berdiri di tengah pintu.
"Aku buatkan minuman hangat ya," ujar Aura sambil tangannya sedikit bergelayut di pundak suaminya itu.
"Ya," Lelaki ganteng itu menjawab singkat.
"Mas Kai, mau minum apa?" Aura juga bertanya pada Kaivan. Karna Kaivan memang baru sampai sekitar lima belas menit lalu, ketika Aura sedang membersihkan ruang tamu rumah sederhananya. Maka Kaivan juga belum disuguhi minuman apa-apa.
"Gak usah!" cegah Damaresh, bahkan sebelum Kaivan menjawab.
"Kenapa?" tanya Kaivan tak terima.
"Istriku bukan pelayan, dia hanya akan melayani kebutuhanku saja, bukan orang lain," ujar lelaki itu datar sembari mendudukkan tubuhnya di atas kursi di depan Kaivan.
"Tapi mas Kai itu tamu kita, Aresh." Aura coba mengingatkan.
"Biar bik jum saja yang membuatkan minumannya," sahut Aresh tetap dengan mode datarnya.
Bik jum itu masih kerabat Aura yang dipekerjakan untuk menjadi ART di rumah Lukman. "Tanganmu hanya untuk melayani kebutuhanku saja, Ara," lanjut lelaki itu lagi.
Yang segera dipatuhi oleh Aura dengan anggukan.
Kaivan yang dalam sesaat masih melongo mendengarkan hal itu akhirnya segera tergelak kencang. "Bucin-mu pada istrimu sudah stadium empat, Aresh," ledeknya, dengan sisa tawanya.
"Tidak tepat." Aresh menggeleng tegas.
"Kalau stadium empat, sebentar lagi sekarat," imbuhnya.
"Sedangkan perasaanmu tidak akan pernah mati," sahut Kaivan menebak.
"Tepat."
"Karna hijabnya dan segala kelembutan Aura yang telah mengikat hatimu," ucap Kaivan lagi seraya hempaskan pelan kepalanya di sandaran kursi yang ia duduki.
Damaresh sejenak diam mencermati kata-kata Kaivan yang membawanya pada suasana pernah mengalami atau pernah mengatakannya. "Dejavu," ungkapnya singkat memberitaukan rasa yang didapat.
"Itu ungkapanmu waktu acara penghargaan di London." Kaivan mengingatkan.
"Kau tau itu?"
"Beritanya sudah menyebar, Bro." Kaivan mengiring tawa dalam ucapannya, ia hampir lupa kalau CEO Pramudya itu bukan orang yang suka berselancar di dunia maya, juga bukan orang yang akrab dengan media. Jangan tanya Damaresh siapa artis paling terkenal di negara ini, dia tidak akan tau. Tapi tanyakan siapa saja pebisnis handal di setiap negara, maka dalam sekejab ia akan menjawabnya.
"Syukurlah.." Damaresh menanggapi santai.
"Karna hal itu pula calon istrimu berteleponan denganku sepanjang malam," tutur Kaivan.
"Siapa?"
__ADS_1
"Memang kau punya calon istri berapa, sampai kau tidak ingat itu siapa?"
Kaivan mendamprat bos-nya itu yang pagi ini kelewat santai dia lihat.
"Yang aku tau, aku sudah punya istri dan tidak punya calon istri," ucap Damaresh.
"Wahh bener bucin akut ini," gumam Kaivan. "Naila, Resh," kata Kaivan lagi.
"Oo." Hanya itu saja tanggapan Damaresh,
Tampak tak tertarik, diam-diam Kaivan menarik napas lega. Biar bagaimanapun, Naila sudah ditahbiskan sebagai calon istrinya Damaresh oleh tuan William, sebagai sahabat sekaligus bawahan, ia tak ingin melakukan hal yang akan membuat Damaresh tersinggung, bila ketahuan ia sedang mencoba menjalin kedekatan dengan Naila Anggara.
" Aku butuh bantuanmu, Kai." Aresh justru bicara hal lain. "Bisa?"
"Gak usah bertanya, aku sudah diprogram untuk mematuhimu, kan?"
"Ini bukan urusan perusahaan, Kai."
"Lalu?"
Damaresh tak melanjutkan ucapan karna kehadiran Aura yang membawa nampan berisi dua gelas minuman hangat.
"Ini buatan tangan mbok Jum, kan , Aura?"
Kaivan memberi isyarat pada minuman yang diletakkan Aura di depannya.
"Ya," sahut Aura dengan senyum.
"Syukurlah, karna aku takut akan terjadi masalah padaku, kalau kau yang membuatkannya untukku," kata Kaivan seraya melirik sang bos tampan yang nampak tak terusik dengan ucapannya, ia bahkan tengah menikmati minuman hangat buatan istrinya itu dengan khidmatnya.
"Aku ke dalam dulu,"pamit Aura setelah menanggapi dengan senyum ucapan Kaivan itu.
"Jadi apa saja tugasku?" tanya Kaivan setelah seteguk minuman hangat lolos melewati tenggorokan.
"Ada beberapa hal yang harus ku kerjakan secara bersamaan, tentang perusahaan dan tentang urusanku pribadi, jadi aku ingin kau menggantikanku di beberapa tempat,"
tutur Damaresh.
"Justru aku menunjukmu untuk menggantikanku tentang urusan pribadi."
"Apa? Kau ingin aku menjaga Aura, maksudmu?"
"Jangan aneh-aneh!" Aresh langsung menghadiahi Kaivan dengan tatapan tajam.
Kaivan tergelak, ia lupa kalau sahabatnya itu akan sangat sensitiv bila sudah disinggung tentang istrinya. "Lalu apa?"
"Dady-ku di sandera."
"Oleh?"
"Kakek."
"Tujuannya?"
Damaresh tak memberikan jawaban kecuali hanya keterdiaman.
"Ok, aku paham," ucap Kaivan sesaat kemudian. Ia telah menemukan sendiri jawabannya tanpa perlu diberitaukan.
"Kau belum menemukan titik terang tentang keberadaan om Elang?"
"Semalam, jejaknya diketahui ada di Thailand, tapi menjelang subuh kakek sudah memindahkannya lagi, orang-orangku kalah cepat." Damaresh mengakhiri ucapannya dengan hembusan napas berat.
William tentu lebih senior dalam permainan ini, karna ia memang sudah pemain lama dibandingkan Damaresh, kendati lelaki itu lebih cerdas dari William.
Tapi pengalaman sering selangkah lebih cepat diatas kecerdasan.
"Jadi apa yang harus ku lakukan?"
"Mengecoh perhatian kakek."
Jika Damaresh kalah cepat bermain kejar-kejaran dengan William karna kakeknya itu memang lebih piawai, maka Damaresh harus merubah permainan yang sesuai dengan standart kemampuannya juga,
Bukan? Itulah cara yang dipilih oleh Damaresh sekarang.
__ADS_1
"Aku belum paham," ucap Kaivan.
"Nanti kujelaskan."
*******
*******
"Arra, nanti sore aku kembali ke jakarta sama, Kai," ucap Aresh langsung begitu tubuhnya masuk ke dalam kamar dan mendapati Aura sedang merapikan lemari pakaian.
Ucapan suaminya itu langsung menghentikan aktivitas Aura dengan seketika. "Kita baru tiba di sini, dini hari tadi, masak kau sudah mau kembali ke Jakarta?" protenya tanpa menatap Damaresh.
Tak ada jawaban dari Damaresh, membuat Aura memutar kepalanya menatap suaminya itu yang ternyata juga tengah memandangnya dengan diam.
Mungkin Damaresh sedang heran, karna ini yang pertama kalinya, Aura mengajukan protes terkait dengan kepergiannya.
"Ya, aku tau kamu sibuk, banyak kerjaan, tapi setidaknya pamitnya jangan terlalu mendadak begini. Kasih aku waktu untuk bisa bersamamu, sebelum kamu pergi.
Kamu juga perginya pasti lama, gak tau kapan mau kembali," ucap Aura dengan wajah tertunduk, tapi dari suara dan nada ucapannya, jelas kalau ia sedang sedih.
Hening.
Aura pun memutuskan melanjutkan pekerjaan, tapi tiba-tiba saja tubuhnya dipeluk Aresh dari belakang, rambutnya yang sedang tak tertutup hijab pun menjadi sasaran ciuman.
Tak hanya itu Aresh bahkan mengangkat tubuhnya dan di dudukkan di pangkuan, netranya pun menangkap bulir bening bak kristal yang luruh di wajah sang istri idaman.
"Kenapa nangis?"
Aura hanya menggeleng pelan, dengan air mata yang turun kian bersambutan.
"Aku gak boleh pergi?"
"Boleh." Suaranya tersendat dengan isakan.
"Lalu kenapa nangis?"
"Gak tau," jawabnya sambil meredamkan wajahnya dalam-dalam dalam pelukan Damaresh yang segera meengusap-usap kepalanya pelan.
Sesaat waktu ia biarkan hening, menyisakan isakan Aura dalam dekapan. Pikirannya kini mulai bercabang terkait sikap sang istri yang seakan berat untuk ditinggalkan. Tapi satu tekad harus ditegakkan, bahwa untuk utuhnya kebersamaan, itulah tujuannya harus rela sesaat berjauhan dengan istrinya.
"Aku gak tau, kenapa aku merasa sangat sedih kau akan pergi, Aresh," isak Aura sambil coba menatap wajah suaminya dalam jarak yang sangat dekat itu.
"Karna kau sayang padaku, kau tak ingin jauh dariku "
"Iya." Dan sesaat Aura masih terisak, sebelum lanjut berucap. "Dan Kamu gak sayang padaku," ucapnya dengan raut sedih.
Damaresh menarik dua sudut bibirnya membentuk dua lengkungan sempurna..senyum yang sangat indah.
Jemarinya menyusut bening kristal di wajah Aura dengan pelan, dan ujung hidung mancungnya sekaligus bibir kisablenya menyusuri wajah itu dengan lembutnya.
"Sejauh apapun aku pergi, dan berapapun lamanya, kau adalah tempatku, kembali, Arra. Hanya kau saja" ucapnya pelan setelah ciumannya mengakhiri penulusuran.
Aura melingkarkan kedua tangannya dengan erat di tubuh Damaresh dan kepalanya bersandar nyaman di dada bidang suaminya itu.
"Aku gak mau berubah posisi, aku akan tetap begini sampai kau pergi," ujarnya memanja.
"Ya," jawab singkat Damaresh, ia sedia memberikan segenap lelahnya untuk Aura, asal istrinya itu merasa nyaman dan bahagia.
Jangan tanyakan ketika selama dalam pesawat yang membawa dirinya dan Kaivan terbang ke Jakarta, Aresh sering memijit-mijit kedua tangan dan pahanya, karna hampir satu jam duduk memangku Aura yang bahkan sampai terlelap di sana.
*******
**********
Sudah episode 100 ya. berarti dah gak lama lagi nih, kalian ngikutin perjalanan Aresh dan Arra.
Ehh ya..salam hari senen lho..
Biasa, lah...vote nya..saudara-saudara...
untuk episode kemarin, aku ngikuti suara terbanyak ya, yang usul untuk dikasih judul..MOBIL TAK BERGERAK.
Aku lanjut ngetik dah..biar nanti siang episode 101 bisa segera menyusulll..
__ADS_1