
"Pak, dari Blanc Compani sudah datang!"
Lelaki itu memberikan laporannya yang diawali mengangguk hormat dulu pada Damaresh dan Kaivan.
"Suruh masuk!" titah Kaivan karna Damaresh yang hanya memberikan anggukan.
Tak sampai sepuluh menit terdengar suara ketukan pintu di susul sapa ramah dari suara perempuan.
"Selamat pagi, Pak. Maaf saya sedikit terlambat."
Yeslin??... Ya itu Yeslin.
Wanita itu berdiri dengan pose paling cantik dari tubuh sexinya yang berbalut busana kerja ketat di padu rok span di atas lutut dan masih terdapat belahan yang menampilkan kulit putihnya nan mulus. Sepertinya dia sangat niat sekali untuk pamer body.
Damaresh langsung menghadiahinya dengan tatapan tajam dan expresi wajah yang jauh dari keramahan.
Tapi bagi Yeslin Damaresh dengan tatapannya dan expresinya saat ini sungguh lebih mempesona dan memabukkan, ingin rasanya ia segera melempar tubuhnya sendiri untuk bersandar di dada Damaresh yang bidang, lalu mengalungkan kedua tangan di lehernya yang mulus dan kalau bisa mendapat kecupan dari bibir sexinya yang berwarna merah muda itu.
Angan Yeslin melambung tinggi ke angkasa hingga senyuman yang diyakininya sendiri sangat indah itu tak pernah lepas dari wajahnya, tak perduli Damaresh yang bahkan enggan untuk menyapanya.
Begitupun Kaivan yang sedang duduk tegak di atas sofa warna hijau itu, ia memutar kepalanya menatap Yeslin dan juga memberikan tatapan tajamnya.
Kedua pemuda ganteng itu berada dalam pemikiran yang sama, ada apa Yeslin datang kemari. Ini di Bali lho,
kenapa wanita yang tak pernah surut niatnya untuk mendapatkan Damaresh itu menyusul mereka ke Bali.
Tersadar kalau Damaresh dan Kaivan tengah dalam mode keheranan melihat kehadirannya, Yeslin segera memperkenalkan diri secara formal.
"Saya Yeslin Adelina dari Blanc Compani, saya di sini menggantikan pak Etien sebagai penanggung jawab proyek ini."
Kaivan langsung menghembuskan napasnya kasar,
Blanc Compani mengganti penanggung jawab tanpa ada pemberitauan yang sebelumnya? wahh cari masalah mereka. pikir Kaivan. Apalagi yang mereka kirim Yeslin, putri Alex Wilson yang diketahui tak mempunyai cukup pengalaman di bidang ini, kendati dia putri pemilik perusahaan Blanc Compani. Dan lagi dapat ditebak tragedi apa yang akan terjadi pada Damaresh bila Yeslin bekerjasama dengannya dalam satu Frame, bisa dipastikan kalau wanita itu akan menempel terus seperti lintah. Kaivan jadi bergidik sendiri membayangkan semuanya.
Berbeda dengan Damaresh yang langsung menyesalkan keputusan Alex Wilson, Pemilik Blanc Compani yang mengganti penanggung jawab proyek gedung kantor Pramudya Corp di Bali tanpa pemberitauan padanya
secara resmi. Ini sudah menyalahi aturan, Sepertinya Blanc Compani perlu diberi pelajaran.
"Boleh saya duduk?" tanya Yeslin.
Sebenarnya besar keinginanya untuk tetap berdiri saja, karna dengan itu tubuh sexinya terexpos sempurna.
Tapi karna hells yang ia gunakan lebih dari ukuran biasanya, membuat kedua kakinya pegal juga ketika berdiri terlalu lama.
"Kai, panggil Pak Darwin kemari!"
Damaresh tak mengiyakan permintaan Yeslin tapi langsung menyuruh Kaivan memanggil Darwin penanggung jawab proyek di Bali itu dari pihak Pramudya Corp.
Yeslin yang semula menampilkan wajah penuh percaya diri, kini terlihat mulai pias melihat expresi wajah Damaresh yang mengeras, lelaki itu pasti berusaha menahan kemarahan. Yeslin bukan tak tau kalau perihal ini menyalahi aturan, tapi tenang saja, ada peran orang penting di balik kehadirannya di sini sebagai penanggung jawab dari Blanc Compani, orang penting tersebut pasti akan membuat Damaresh menerima dirinya untuk bekerjasama dengan mereka.
Yeslin mengalur napasnya pelan, mensugesti dirinya untuk tenang.
Darwin hadir di ruangan itu, menganggukkan kepalanya dengan hormat ke hadapan Damaresh yang langsung bertanya tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Apa ada short notice dari Blanc Compani terkait penanggung jawabnya yang diganti?"
"Ada Pak, tapi menurut pemberitauan dari mereka, Bu Yeslin bukan menggantikan Pak Etien tapi dia hanya mewakili pak Etien untuk datang kesini sebagai penanggung jawab Blanc Compani, karna pak Etien harus menggantikan tuan Alex yang tiba-tiba sakit, Pak. Dan untuk selanjutnya penanggung jawabnya tetap pak Etien." Darwin memberikan penjelasannya dengan lengkap, hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan Yeslin barusan.
"Dan kau tidak memberitaukan ini kepadaku?"
"Maafkan keputusan saya, Pak." ujar Darwin cepat.
"Dalam short notice mereka terdapat tanda tangan nyonya Claudya Willyam, sebagai penjamin bu Yeslin.
Jadi saya pikir, hal ini sudah diketahui oleh Bapak secara pribadi.
Kali ini, expresi kesal tercetak jelas di wajah tampan Damaresh. Lagi-lagi wanita itu turut campur atas hal yang bukan urusannya. batinnya dengan menggeram.
"Kau tau, Darwin? ini urusan perusahaan, bukan urusan keluarga!" pertanyaan Damaresh itu sekaligus teguran untuk Darwin.
"Ma'afkan saya, Pak." gugup Darwin dan segera menunduk.
"Apa aku juga perlu mengganti posisimu di sini, agar kau lebih banyak punya waktu untuk mempelajari aturan dalam kontrak kerja kita?"
Damaresh berucap tajam yang segera membuat Darwin menunduk dengan wajah tegang. Proyek ini sudah berjalan tiga puluh peresen dalam tanggung
jawabnya, akan sangat beresiko besar jika tiba-tiba penanggung jawabnya diganti, Damaresh pasti tak akan mengambil keputusan yang berakibat buruk pada proyeknya sendiri. Tapi Darwin tau betul kalau bos besarnya itu tak segan untuk mengambil keputusan
extream jika dirinya sedang merasa tersinggung. Maka kemungkinan posisinya diganti, itu bukan mustahil untuk terjadi
Apa kabarnya Yeslin, yang berada di antara ketegangan itu serta dirinya pula yang menjadi penyebab ketegangan itu terjadi.
"Ta-Tapi Aresh," Yeslin tampil untuk mencerahkan semuanya dengan berbekal kedekatannya selama ini dengan Damaresh. yah setidaknya menurut Yeslin dirinya adalah calon istri Damaresh yang sudah di sah-kan oleh Claudya, tapi ditolak mentah-mentah oleh Damaresh. Hhhh miris. (Author mencibir)
"Tante Clau bilang, kalau ia sudah memberitaukan ini kepadamu, jadi kurasa kehadiranku di sini sudah shah atas persetujuanmu," lanjut Yeslin.
Yeslin segera menunduk dengan keluhan sedih, tega sekali kau berkata sekasar ini pada calon istrimu,Resh.
batinnya dengan rasa tersayat.
Damaresh menarik napasnya kuat untuk mengalurkan kekesalannya. "Aku menunda untuk meninjau lokasi hari ini! Darwin kau boleh keluar!"
"Te-Terima kasih, Pak."
Darwin segera membungkukkan badannya penuh kelegaan dan terima kasih. Bak mendapatkan durian runtuh, titah Damaresh ini sebagai tanda ia terlepas dari segala tuntuan kesalahan atas hal ini.
Sepeninggal Darwin. "Apa saya sudah bisa memberikan laporan, Pak?" tanya Yeslin, tentu saja ia sudah ingin mengahiri posisi berdiri cantiknya, karna pegal yang dirasanya dari tadi.
"Kau dengarkan laporannya, Kai! aku akan kembali lebih dulu ke vila," putus Damaresh.
"Baik Pak,"
"Tapi Pak bukankah saya harus menyampaikan laporan ini kepadamu langsung sesuai peraturannya?" Yeslin mencegah Damaresh yang sudah memutar tumitnya untuk berlalu dengan ucapannya.
Tatapan tajam dari Damaresh segera menghunjam wajah Yeslin. "Kau mengingatkan aku tentang peraturan? bagaimana dengan dirimu sendiri yang sudah datang kesini dengan menyalahi peraturan?"
tanya Damaresh tajam yang sukses membuat wajah Yeslin memanas karna malu.
Tak hanya itu, Damaresh masih melanjutkan ucapannya. "Kalau kau tidak suka dengan keputusanku, kau boleh keluar!"
Yeslin segera terdiam, sepertinya mematuhi Damaresh
__ADS_1
adalah keputusan yang paling tepat sekarang.
Damaresh tak langsung keluar dari dalam ruangan itu,
tapi ia membuka pintu Private room yang ada dalam ruangan itu juga. Ada seorang wanita berhijab duduk dalam ruang private itu sambil membaca buku.
"Arra!" panggil Damaresh ke arahnya.
"Iya," Aura terdongak menatap kehadiran Damaresh dan menampilkan senyum sempurna.
Ahh senyum itu, Damaresh selalu butuh waktu meski hanya sepersekian detik untuk menormalkan perasaannya setiap kali netra indahnya menangkap senyum Aura, bahkan karna kawatir akan terlena dengan senyum yang sudah memesonai jiwanya itu, Damaresh sampai memberikan peraturan pada Aura.
Jangan tersenyum! (Eps 23).
"Kita kembali ke vila sekarang!"
"Baik," Aura patuh tanpa tanya dan segera berdiri meraih tasnya, lalu gegas menghampiri Damaresh yang segera meraih tangannya.
Mereka melangkah beriringan dengan kelima jemari
Aura yang berada dalam genggaman Damaresh, melintasi Yeslin yang kini duduk berhadapan dengan Kaivan. Tangan Yeslin yang sedang membuka berkas di depannya segera terhenti seketika melihat pemandangan yang sama sekali tak terduga. Terlebih
genggaman tangan keduanya, sukses membuat fokus Yeslin beterbangan tak tentu arah
Tatapan mata Yeslin terus mengekori keduanya berikut tautan tangan mereka sampai tubuh Damaresh dan Aura hilang tertelan pintu ruangan.
"I-Itu Aura?" Yeslin mengarahkan tanya pada Kaivan.
"Seperti yang kau lihat," jawab Kaivan.
"Aura ada di sini juga?"
"Apa pertanyaanmu itu masih perlu ku jawab?" tandas Kaivan. Tak penting banget Yeslin mempertanyakan keberadaan sesuatu yang memang sudah terlihat.
"Bu-Bukan begitu, Aura itu sudah bukan personal asistant Damaresh kan? kenapa ia ikut juga kemari?
Bukankah kalian di sini karna urusan pekerjaan?"
Pertanyaan Yeslin yang bertubi-tubi tentang hal yang bukan urusannya, membuat Kaivan segera menatapnya dengan tangan bersedekap.
"Yeslin, kau kemari mewakili perusahaan atau atas nama personal?"
"Tentu saja perusahaan," tegas Yeslin.
"Ya sudah, fokus saja pada urusan perusahaan, tidak perlu mengulik hal yang bukan urusanmu! atau aku akan berpikir kalau kau kemari tidak hanya semata-mata mewakili Blanc Company, tapi karna ada interest pribadi." Kaivan berkata pedas, dalam beberapa tempat Kaivan memang bisa bermulut sama pedasnya dengan Damaresh Willyam.
Yeslin melayangkan tatapan tak suka pada Kaivan atas ucapannya, tapi ia tak bisa memberikan sanggahan
karna semua itu memang benar adanya. Dalam hati Yeslin hanya bisa menggerutu. Jika bukan karna genggaman tangan Aura dan Damaresh yang membuatnya kehilangan kesadaran untuk tetap bersikap profesional, dirinya tak akan menjadi sasaran kata-kata pedas Kaivan.
(Eeh malah menyalahkan orang lain)
************
************
__ADS_1
Hari senen, teman-teman!
Adakah yang bersedia memberikan vote pada cerira ini? aku ngarep banget lho..aku tunggu ya..