
"Apa, Anda tidak ingin melepaskan tuan Airlangga?" tanya Damian hati-hati.
Pertanyaan yang telah disimpan dari beberapa jam sebelumnya itu, akhirnya keluar juga, ia ucapkan juga, dengan mengabaikan apa resiko apa yang akan diterimanya atas pertanyaannya.
Seperti yang sudah diduga, William kini melayangkan tatapan tajam pada Damian atas pertanyannya. "Mulai kapan kau berani turut campur atas keputusanku?"
Pertanyaan tajam pun diarahkan William pada Damian.
"Pertanyaan saya, mewakili kekawatiran saya pada, Anda, Tuan," sahut Damian tanpa rasa gentar.
William terdiam, yang bisa diartikan kalau dia memberi waktu pada Damian untuk melanjutkan ucapan. Maka orang kepercayaan William itupun tak membiarkan waktu tersia-sia kan.
"Seharusnya, Anda lebih memperhatikan kesehatan, Anda, Tuan--"
"Kau lihat sendiri, Damian. Banyak urusan perusahaan yang terbengkalai," sanggah William cepat, bahkan sebelum Damian tiba di akhir kalimat.
"Itu karna perhatian tuan Damaresh terpecah, untuk terus mencari keberadaan ayahnya, dan juga untuk mengurusi perusahaan yang telah anda limpahkan padanya."
"Sudah kubilng, aku akan melepaskan Airlangga jika ia patuhi aturanku, jadi dia tinggal fokus pada perusahaan saja," sungut William.
"Tuan Damaresh tak serta merta meninggalkan urusan perusahaan, bahkan gerakannya justru jauh lebih cepat dari pada, Tuan," ucap Damian.
"Begitu penilaianmu?" William kembali arahkan tatapan tajam pada sang tangan kanan.
"Maaf, Tuan, saya tidak bermaksud lancang, semua ini terlahir dari pengamatan berdasar perintah dari, Tuan."
"Sampaikan penilaianmu!" Titah William.
Ia tau selama ini, Damian justru dapat melihat celah kecil yang terkadang luput dari pengamatannya sendiri.
"Kontrak kerja dengan Winata Group kemarin yang terancam batal, karna adanya kesalahan short notice, tuan Damaresh segera memperbaiki kesana sebelum, Tuan tiba, padahal saat itu tuan Damaresh sedang ada di Bali. Ia bisa dengan cepat dan sigap mengurai benang kusutnya dengan sangat jeli."
Damian menghentikan sejenak uraiannya demi melihat ekpresi wajah sang tuan. Dan tatkala dilihatnya William tampak sedang fokus mendengarkan, Damian pun segera melanjutkan.
"Begitu juga dengan mega proyek raja ampat yang terancam gagal karna terkendala perijinan, tuan Damaresh segera menuntaskan dengan gerakan cepat dan tak mampu, Anda prediksi. Padahal tuan Damaresh saat itu sedang ada di Surabaya, dan--"
"Tunggu, Damian," William segera memotong ucapan Damian, setelah merasa mendapatkan suatu pemahaman.
"Aresh memang menyelesaikan permasalahan itu dengan cepat, tapi dia hanya menguraikan sebagian, dan selebihnya ia limpahkan padaku untuk menyelesaikan. Hmmm" William memijit pelan pelipisnya seiring daya pikirnya yang mulai melanglang buana.
"Ini cara Aresh untuk mengecoh perhatianku, sial," geram William sambil kepalkan tangan meninju sudut meja, setelah satu pemahaman di dapatkannya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Damian yang masih belum memahami situasinya.
__ADS_1
"Anak itu telah berhasil mengelabuiku, karna kesibukan di perusahaan, sudah empat hari aku tak memindahkan Airlangga," ucap William dan segera bangkit meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang. Dari pembicaraannya yang mengalir, dapat dipahami kalau ia sedang menanyakan situasi Airlangga di sebuah tempat.
"Syukurlah, situasinya aman saja," ucapnya setelah mengakhiri pembicaraan di telphonnya.
"Jadi, Tuan selalu memindahkan posisi tuan Airlangga?" tanya Damian.
"ya, dalam setiap 36 jam, aku selalu memindahkan Airlangga ke lain tempat meski masih dalam negara yang sama. Dan dalam lima hari sekali, aku mengirim Airlangga ke negara yang berbeda."
"Tidakkah itu terlalu merepotkan, Tuan?"
"Kalau tidak begitu, Aresh akan dapat dengan mudah mengetahui posisi ayahnya. Anak itu juga punya kaki tangan yang luar biasa. Dan kau lihat saja, apa tindakannya sekarang padaku, ia berhasil mengecohku, untung aku segera menyadarinya, dan Airlangga aman di tempatnya."
Damian hanya tersembunyi menghela napas, mendengar penuturan William, jauh di dalam lubuk hatinya, sudah mengalir rasa lelah. Tapi kenapa William sepertinya tak pernah lelah.
"Aresh harus kuberikan hukuman," ujar William, yang membuat Damian segera dongakkan pandangan.
"Hukuman apa, Tuan? dan kenapa harus dihukum?
bukankah tuan Airlangga, baik-baik saja?"
"Belum tentu anak itu tidak punya rencana berikutnya, aku harus waspada," tukas William.
Selanjutnya ia memindai pandangannya terarah pada Damian. "Kau ikuti perintahku, sekarang!"
"Baik, Tuan."
Mengabaikan salam hormat dari semua yang berpapasan dengannya atau yang tanpa sengaja menjadi sasaran netra tajamnya, Damaresh ayunkan langkah tegapnya di lobi kantor Pramudya, di sampingnya sang executive asistant
mensejajari langkahnya.
Dua orang lelaki matang nan sempurna dengan ketampanan wajah dan tubuh tegapnya itu, menjadi titik fokus setiap rotasi mata, walau dalam
arti sekedar curi pandang saja. Pasalnya, pesona sang CEO dengan executive asistan-nya masih menempati tempat teratas sebagai pesona dari sekian pesona yang sampai saat ini belum ditemukan penggantinya. Hingga duo gagah itu menghilang dibalik elevator, barulah waktu berjalan normal seperti biasanya setelah sesaat terhenti karna segenap mata hanya teralih pada Damaresh dan Kaivan saja.
"Kenapa banyak wartawan?" pertanyaan itu datang dari Damaresh setelah kedua kakinya menapaki lantai 26 menuju ruang meeting, dimana keduanya sedang ditunggu kehadirannya saat ini.
"Entahlah, Bos, aku juga tidak paham," jawab Kaivan.
"Apalagi yang direncanakan oleh kakek," lirih Damaresh yang langsung merasa curiga, ditambah lagi pintu ruang yang dibiarkan terbuka, tak seperti biasanya bila rapat sedang di langsungkan. Namun kendati begitu ia terus membawa tubuhnya memasuki ruangan, dimana Kaivan mengekor di belakang.
Dalam ruangan rapat itu, ternyata tak hanya berkumpul semua dewan direksi tapi juga para pemegang saham yang merupakan keluarga inti dari keluarga William Pramudya. bahkan semua kepala divisi sudah ada di sana. Serta yang sangat mencolok dipandangan mata, adalah adanya beberapa sorot kamera media yang meliput jalannya rapat, ini sungguh bukan kebiasaan yang biasa dianut dalam tubuh Pramudya Corp.
Tampak sorot mata teduh Claudya mengarah pada Damaresh, seakan menyayangkan melihat putranya itu datang. Setengah jam sebelumnya Claudya telah berkirim pesan yang meminta Damaresh agar tidak usah datang. Sayangnya, pesan yang disampaikan oleh Claudya itu belum sempat ia buka ketika memutuskan untuk datang ke Pramudya Corp sekarang.
__ADS_1
Melihat kedatangan sang cucu kebanggaan, William segera berdiri dari kursi kebesaran.
"Selamat datang, pewaris Pramudya Corp," sambutnya dengan senyum terkembang.
Segera para awak media menjalankan peran, membuat puluhan jepretan kamera mengarah pada Damaresh dan William.
Dihadapan semuanya, William segera mengumumkan pelimpahan kekuasaan atas Pramudya Corp pada Damaresh William, kendati ini
diluar pengetahuannya, Damaresh masih bisa menerima dengan diamnya.
Tapi pengumuman berikutnya yang disampaikan William itu yang membuat Damaresh tak bisa terima.
"Bersama ini pula, kami umumkan calon pendamping untuk cucuku Damaresh, Naila Anggara, putri tunggal Dien Anggara, pemilik Anggara Corp."
Naila yang duduk di kursinya dongakkan kepala sambil melongo heran, semua ini tak pernah ia sangkakan, tatapannya segera mengarah pada sang ayah yang duduk berseberangan, Dien Anggara juga gelengkan kepala, tanda tak paham.
"Kemarilah, Naila!" panggil William pada Naila agar segera maju. Sementara gadis itu masih melongo tatapannya terlempar ke berbagai arah, mencari siapa saja yang mungkin bisa mengeluarkannya dari situasi ini. Apalagi tatkala melihat tatap tajam Damaresh, Naila seakan tak punya nyali untuk mendekat.
William kembali memanggil untuk yang kedua kalinya. Sedangkan Naila masih tetap melongo saja, hingga Dipo Anggara menghampirinya membimbingnya untuk berdiri dan menuntunnya menuju William yang berdiri bersebelahan dengan Damaresh William.
"Tindakanmu sudah melewati batas," ucap Damaresh lirih menahan geram di samping William.
"Apa kau bisa menolakku sekarang?" jawab William dengan tatapan tetap mengarah ke depan.
"Aku tak akan tinggal diam," ancam Damaresh dengan suara bergetar.
"Semua gerakanmu sudah bisa kubaca, Aresh.
Dan apalagi yang kau mau? wanita itu sudah tak lagi bersamamu."
"Kita lihat saja nanti, Tuan William," geram Damaresh, bahkan wajahnya terlihat memerah menahan kobaran amarah.
Naila sampai di hadapan keduanya. William segera mengarahkan gadis kesayangannya itu untuk berdiri tepat di samping Damaresh, beberapa jepretan kamera sambut menyambut membidik.
"Kak, aku benar-benar tak tau menau tentang hal ini," ucap Naila lirih, disela tuntutan harus memberikan senyuman pada awak media.
Damaresh tak memberikan jawaban, kecuali hanya melirik gadis di sampingnya itu dengan ujung matanya yang tajam.
Setelah acara pengambilan gambar selesai dimana
Wiliiam yang menampakkan raut paling senang dan sekaligus merasa menang, salah seorang awak media mengajukan tanya pada Damaresh.
"Bagaimana tanggapan Tuan Damaresh tentang pertunangan anda ini dengan Nona Naila Anggara?"
__ADS_1
"Saya tidak punya tanggapan apa-apa. Tanyakan saja pada tuan William Pramudya, karna dia yang punya rencana, bukan saya," jawabnya tandas,
Jawaban yang sukses membuat beberapa orang saling tatap, dan lalu di akhiri dengan menghela napas, ketika Damaresh memilih pergi begitu saja, dengan tanpa kata. meninggalkan kasak kusuk yang segera diredam oleh William Pramudya.