
Tak perlu lagi menjabarkan bagaimana kecantikan wanita itu, tak hanya dari bentuk fisiknya yang nyaris sempurna, juga dari penampilannya yang hampir tiada cela, terlebih lagi dari tutur bahasanya, cara berjalannya, cara menyapanya, dan cara duduknya. Serta cara menatapnya kepada semua yang ada dalam ruangan dan yang telah melabuhkan pandang kepadanya dengan merangkum dua hal dalam pandangan mereka, kekaguman sekaligus keheranan. Akan siapa adanya dirinya.
Edgard memberikannya tempat yang khusus pada wanita itu, yaitu tepat di sampingnya. Egard juga menunda rapat untuk segera dimulai sebelum kedatangannya, dan yang tak tersamarkan, adalah bagaimana cara Edgard memandangnya, yang seakan dirinya adalah seorang kolektor perhiasan langka, dan baru saat inilah menemukan emerald yang sebenar-benarnya.
Bebarapa orang mulai berasumsi, kalau Edgard akan memperkenalkan wanita cantik dengan sejuta pesona itu sebagai calon istri. Bahkan Nola, istri Edgard yang duduk dijajaran kursi para pemegang saham Pramudya Corp, sudah menyiapkan tindakan apa yang harus segera ia eksekusi, jika dugaannya terbukti. Kalau Edgard telah menghadirkan sosok wanita lain untuk menggatikan posisi yang sangat ia nikmati saat ini, yaitu sebagai istri CEO Pramudya Corp, sebuah kedudukan yang sangat bergengsi.
Edgard segera berdiri dari duduknya setelah sesaat saling melempar senyum dengan wanita cantik yang duduk di sebelahnya.
"Perkenalkan semuanya, ini adalah miss Joana." Edgard menunjuk wanita yang telah menjadi pusat perhatian dari sejak kehadirannya itu, tak lupa senyum terindah ia lemparkan pada Joana yang segera mendapat balasan yang serupa dari si empunya nama.
"Saya Joana Liem." Wanita itu memperkenalkan dirinya setelah berdiri sejajar di samping Edgard. "Saya perwakilan dari Alpha DMC Group, siap bekerjasama dengan Pramudya Corp."
Joana kembali ke kursinya setelah berhasil membuat semua orang di dalam ruang meeting itu tercengang.
Bagi semua orang yang sudah mengenal dunia bisnis, tentu tak asing dengan dengan nama perusahaan yang telah disebutkan oleh Joana barusan.
Alpha DMC Group adalah perusahaan yang
Sudah masuk dalam jajaran lima perusahaan besar dunia menurut fortune global 500, nama Alpha DMC sering kali saling kejar mengejar dengan Sinopec Group, perusahaan migas asal Tiongkok yang memiliki 600 ribu karyawan itu. kedua perusahaan itu sering berebut posisi di nomer dua dan tiga dalam urutan lima perusahaan terbesar di dunia.
Fix, Alpha DMC adalah perusahaan besar tingkat dunia.
Pertanyaanya sekarang adalah, bagaimana bisa Edgard bekerjasama dengan perusahaan besar seperti itu?
Bukankah ini sebentuk pencapaian yang luar biasa dari seorang Edgard William, sebagai CEO Pramudya. Damaresh William saja yang kepemimpinannya di nilai sangat sukses, tak bisa bekerjasama dengan dengan perusahaan kelas dunia seperti Alpha DMC. Damaresh lebih fokus merangkul perusahaan-perusahaan dalam negeri dalam kiprah bisnisnya, hingga bisa dikata, Pramudya masuk menjadi salah satu perusahaan terbesar di negara ini.
"Baiklah, Pak Edgard. Saya sangat senang dengan kerjasama ini, saya berharap kerjasama ini terus berlanjut," ucap Joana
Sembari mengajukan tangannya untuk berjabat dengan Edgard.
Interaksi itu terjadi, begitu rapat direksi dan para pemegang saham itu selesai. Rapat yang memperkenalkan program kerja Pramudya yang baru itu berlangsung tak kurang dari satu jam saja.
Sangat antusias, Edgard menyambut tangan indah nan mulus itu, bahkan masih menggenggamnya lembut dalam penguasaan lima jemarinya.
"Begitupun denganku, mis Joana. Aku harap kerjasama berlanjut tanpa akhir." Edgard melontarkan kalimat bernada puitis.
"Mari kita pastikan itu Tuan Edgard," balas Joana dengan menampilkan senyum indahnya. "Semua itu tergantung pada kebijakan Tuan Edgard," lanjutnya lagi seiring tatapan lembut lalu perlahan menarik tangannya dari genggaman tangan Edgard.
"Siap sedia untuk selalu memenuhi aturanmu, mis Joana." Edgard menunjukkan sikap sigap, siap menerima perintah. Hal mana berhasil membuat Joana kembali tampilkan senyuman sempurna.
"Hal ini yang sangat saya sukai dari Anda."
"Aku pastikan apa yang mis Joana sukai, tidak akan pernah pergi," janji Edgard sepenuh hati.
__ADS_1
"Baiklah." Untuk kesekian kalinya Edgard berhasil membuat Joana tersenyum menawan.
Keduanya memamerkan sikap saling membutuhkan dalam kontrak kerjasama yang saling menguntungkan dihadapan para pemegang saham Pramudya Corp beserta para direksi rekanan bisnis Pramudya Corp, yang jumblahnya kini sudah sangat dipangkas atas keputusan Edgard.
Namun bagi Nola, istri Edgard, yang melihat semua itu, dirinya tak melihat interaksi Joana dan Edgard selayaknya dua orang rekanan bisnis yaang sedang menjalani kerjasama, melainkan seperti suaminya yang sedang menampakkan ketertarikan yang luar biasa pada Joana Liem, perwakilan dari Alpha DMC Group itu.
Joana meninggalkan ruangan meeting, tentu saja diiringi oleh Edgard dan dua orang bodyguard Joana yang selagi rapat berlangsung, kedua bodyguard itu juga berada dalam ruangan dalam posisi siaga menjaga majikannya, seakan Joana sedang terancam. Padahal dalam jalannya rapat barusan, Joana justru tapil sebagai pemimpin, memberikan keputusan dan kebijakan-kebijakan baru untuk Pramudya yang bahkan di luar kebijakan Pramudya Corp biasanya.
Dan Edgard membiarkan semua itu, ia terkesan memberikan kekuasaan penuh pada rekan bisnis barunya itu untuk memerintah di daerah kekuasaannya sendiri.
Entahlah.
Apakah ini cara Edgard menunjukkan ketertarikannya pada Joana.
Atau itu adalah bagian dari kontrak kerjasama yang telah disepakati oleh Edgard dengan Joana Liem.
"Jelaskan semua ini padaku!"
William menatap Edgard dengan tajam, ia abaikan peraturan dokter untuk istirahat total, setelah tiba kembali di Indonesia.
Dikarenakan berita yang di dapat dari telik sandi kepercayaannya, perihal rapat direksi yang terjadi dua hari lalu, yang kedatangan seorang Joana liem dan diberikan kekuasaan luar biasa oleh Edgard, belum lagi keputusan CEO Pramudya itu yang memutuskan untuk bekerja sama dengan Alpha DMC tanpa pemberitahuan lebih dulu padanya, hal ini membuat William berang.
Segera ia memanggil Edgard dan meminta penjelasannya dengan tatapan tajam.
"Perusahaan membutuhkan suntikan dana dalam jumblah besar, Kakek."
"Dan kau malah memutuskan kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan yang selama ini sudah mendukung Pramudya?" "Sergah William dengan tajam.
"Karena itu peraturan dari Alpha DMC, kek.
Bahwa aku harus memutus kontrak kerja dengan semua rekanan bisnis kita kecuali Blanc Compani dan Winata Group, karena keduanya adalah perusahaan besar juga."
"Peraturan Alpha DMC, kau bilang?"
William memajukan sedikit tubuhnya.
"Dan kau anggap ini suatu yang wajar, Edgard?" Lanjutnya dengan nada lebih tinggi.
"Tentu saja, Kakek. Alpha DMC, sanggup memberikan suntikan dana sebesar apapun yang kita butuhkan, lalu untuk apa kita banyak menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang lain, kalau ada satu perusahaan saja yang sanggup mensuplai kebutuhan kita?"
Edgard pun menyampaikan argumentasinya yang sepintas memang tampak benar.
"Begitu caramu berbisnis, Ed? Sungguh sangat tak peka," cibir William yang disertai dengan dengkusan kemarahan.
__ADS_1
"Kau tahu, Alpha DMC itu perusahaan asing, yang memiliki kebijakan dan kekuatan jauh diatas kita. Sekali kau salah langkah, mereka akan menggulung kita dengan mudah," tukas William.
"Kupastikan kita tak akan salah langkah, Kakek," ucap Edgard dengan nada pasti.
"Baik, akan aku lihat ke depannya bagaimana. Jika kau membuat kesalahan, kuharap kau bisa mempertanggung jawabkannya padaku."
"Tentu saja," sahut Edgard dan segera bangkit dari kursinya setelah merasa kalau pembicaraan ini sudah selesai.
Tapi sebelum memutar tumitnya untuk berlalu, Edgard masih menyampaikan laporannya. "Proyek mega mall di kelapa gading itu sudah mencapai 90% Kakek," tuturnya.
"Dan 50% dana pembangunannya berasal dari Alpha DMC, bukan?" Tebak William.
Bukan tebakan sebenarnya, karena ia memang mendapatkan laporan yang akurat tentang hal tersebut.
"Karena itu adalah proyek titipanmu padaku, jadi sebisa mungkin, aku berusaha menyelesaikannya dengan berbagai cara," sahut Edgard dengan terselip rasa bangga.
"Dan setelah mega mall itu selesai, bukan lagi atas nama Pramudya, Edgard, Tapi atas nama Alpha DMC, kau paham itu?"
Sambar William yang membuat Edgard terhenyak.
"Apa?"
"Ckk, kau sama sekali tak peka, sangat berbeda dengan Damaresh," cibir William yang sukses membuat Edgard meradang.
"Kakek cukup, jangan pernah bandingkan aku lagi dengan Aresh. Saat ini, aku sebagaiĀ penguasa Pramudya, bukan Aresh. Jadi aku yang berhak mengambil keputusan berdasarkan pemikiranku, bukan pemikiran Aresh," tandas Edgard dan segera pergi dengan wajah bersungut menahan amarah.
"Kau." Serupa dengan Edgard, William pun menahan amarah, Damian segera menepuk lembut pundaknya.
"Tenanglah, Tuan. Jangan terbakar emosi, jaga kesehatan Anda," ucap Damian mengingatkan.
William nampak menghela napasnya beberapa kali, dan lalu menenggak minuman yang diberikan oleh Damian sampai tandas. "Kau pasti bisa membaca Damian, apa yang akan terjadi pada Pramudya Corp, jika sekali saja anak itu salah langkah."
"Iya, Tuan. Saya paham," sahut Damian.
Terlihat William kembali menahan napasnya.
"Maaf, Tuan. Mungkin sebaiknya Tuan kembali meminta Tuan Damaresh untuk kembali memimpin Pramudya," usul Damian beberapa saat kemudian setelah cukup lama terdiam.
"Tidak akan pernah," tolak William cepat.
"Anak itu sudah pernah menolak permintaanku, aku tidak akan pernah mengemis kepadanya lagi. Bahkan sekalipun Pramudya akan gulung tikar, aku tidak akan pernah lagi memohon padanya,"
Tegas William dengan pancaran mata penuh akan kemarahan.
__ADS_1
Bila sudah begitu, Damian hanya bisa terdiam.