Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
36. Bukan Personal Asistant Biasa


__ADS_3

"Hallo, Aura Aneshka,"


Sapaan tiba-tiba itu sungguh sangat mengejutkan bagi Aura yang baru saja turun dari mobil.


"P-Pak Anthoni," Aura sedikit gugup menjawab sapa dari lelaki yang tau-tau telah berdiri di depannya itu, apalagi terlihat tatapan menelisik dari Anthoni pada mobil yang dikemudikan oleh Dirga, bahkan sampai mobil itu keluar dari gerbang halaman gedung Pramudya.


"Akhirnya aku bisa ketemu denganmu, Aura," tutur Anthoni dengan senyum mengamati wajah Aura seksama.


"Eeh iya, ada apa ya, Pak?" tanya Aura setelah gadis itu kembali berhasil menenangkan dirinya.


"Apa bos-mu sudah datang?"


"Belum, Pak," sahut Aura. Karna memang Damaresh masih belum berangkat ketika Aura keluar dari rumah tadi.


"Ah kau pasti sangat hafal jadwal kerja Damaresh ya, sampai ketika kau masih berada di sini sekalipun, tapi kau sudah tau kalau dia belum datang," Anthoni tergelak sambil memicingkan matanya.


"Ee," Aura tercekat, sepertinya ia telah salah bicara yang mungkin mengundang kecurigaan Anthoni.


"Kita masuk sama-sama, Aura!" tawar Anthoni segera.


Aura mengangguk dan lalu keduanya berjalan beriringan dalam jarak yang tidak terlalu dekat.


"Kau suka bekerja di sini?" tanya Anthoni sejurus kemudian ketika langkah mereka telah berada dalam gedung.


"Iya, Pak," jawab Aura singkat.


"Iya, akupun yakin begitu,"


Aura diam tak menanggapi, takut akan salah lagi.


Orang-orang dalam keluarga Willyam adalah orang-orang cerdas yang mampu membaca celah terkecil sekalipun, Aura merasa harus lebih berhati-hati.


"Bapak pakai lift khusus petinggi perusahaan saja, sedangkan saya akan pakai lift ini," ucap Aura setelah keduanya tiba di depan pintu lift yang biasa digunakan oleh para karyawan.


"Kau personal asistant CEO, Aura. Seharusnya kau pakai lift khusus itu juga," ucap Anthoni.


"Saya tak biasa pakai lift itu, Pak," tolak Aura dengan nada sopan.


"Atau kau terbiasa memakai lift khusus CEO?" tanya Anthoni sambil tersenyum miring. Aura hanya menanggapi dengan senyum.


Pintu lift di depan mereka terbuka setelah Aura menekannya barusan. "Saya duluan, Pak," pamit Aura pada Anthoni yang tersenyum. Namun lelaki itu justru ikut masuk juga ke dalam lift dan berdiri di samping Aura, lalu pintu lift tertutup. Tak ada siapa-siapa dalam Lift itu kecuali mereka berdua.


Aura sedikit menggeser tubuhnya agar tak terlalu dekat dengan Anthoni.


"Apa itu juga peraturan dari Damaresh? kalau kau tidak boleh berdekatan dengan lelaki lain?" tanya Anthoni


yang sepertinya menyimpan maksud tersendiri di balik pertanyaannya itu.


"Tidak, Pak. ini peraturan dari saya sendiri," sahut Aura.


Sudah termaktub dengan jelas kan? kalau wanita muslimah harus menjaga dirinya dari laki-laki yang bukan muhrimnya.


"Bagus, Aura. Aku suka ada wanita sepertimu di samping Damaresh. Dan aku akan sangat suka jika pada Akhirnya Damaresh akan menyukaimu. Kalau masalah kau akan menyukainya atau tidak, tidak perlu aku tanyakan. Karna faktanya sulit bagi wanita dari kelas manapun untuk menolak pesona sepupuku yang tampan menawan itu," tukas Anthoni yang membuat Aura menghela napas. Satu catatan lagi yang harus di


ingat oleh Aura kalau orang-orang dalam keluarga besar Willyam punya rasa percaya diri yang sangat tinggi.


"Hanya saja--" Anthoni tak melanjutkan ucapannya.


Aura menoleh menatapnya. "Hanya apa, Pak?"


"Sepertinya kau sangat penasaran akan lanjutan kalimatku ya?" Anthoni terkekeh.


"Maaf pak, kalau tidak berkenan jangan dilanjutkan!"


"Tentu akan kulanjutkan, karna kau harus tau hal ini.


Bila Damaresh itu mulai menyukaimu, mungkin dia akan mengingkari atau justru menghindari perasaannya sendiri. Karna Damaresh tidak akan pernah mau terikat perasaan dengan siapapun, bahkan juga dengan wanita yang akan dinikahinya kelak,"


tutur Anthoni.


"Kenapa?" Aura tak dapat lagi menahan rasa penasarannya.


"Dia pemegang kekuasaan tertinggi di Pramudya, yang secara tak langsung membuatnya terikat dengan peraturan keluarga besar kami. Kalau hanya ibunya saja, dia pasti akan melawan, tapi aku tak yakin kalau dia akan bisa melawan kakek kami, Willyam Pramudya."


Anthoni sesaat menatap Aura yang ternyata tengah mendengarkan ucapan pria itu dengan seksama.


"Dan satu hal yang perlu kau tau, Aura. Keluarga besar kami akan sangat menentang bila ada diantara kami yang jatuh cinta pada wanita yang bukan dari pilihan mereka," lanjut Anthoni.


Aura terdiam untuk waktu yang cukup lama setelah mendengar apa yang dikatakan Anthoni itu. Ia merasa tak boleh menelan mentah-mentah semua ucapan itu, tapi juga tak bisa untuk mengabaikan semuanya begitu saja.


"Aku tak bermaksud menakutimu, Aura," ucap Anthoni.


"Kenapa Bapak merasa kalau penjelasan Bapak ini menakutkan bagi saya?" tanya Aura cepat.


Anthoni tersenyum. "Kau tak perlu memberitauku, siapa kau bagi Damaresh, karna aku sudah cukup bisa membaca semuanya, keluarga kami adalah orang-orang yang cukup sulit untuk dimanipulasi, Aura."


"Apa ini sebentuk peringatan atau ancaman pada saya,


Pak?" Aura harus memastikan kemana arah tujuan pem bicaraan Anthoni saat ini.


"Bukan keduanya. Ini hanya sebentuk perhatian kecilku saja pada saudara sepupuku," tegas Anthoni.


Entah kenapa, kalimat itu dirasakan Aura bukan hanya sekadar ancaman atau peringatan, tapi seperti sebuah kegelapan pekat yang menghadang langkahnya di depan. Aura menghela napasnya berat.


"Tanyakan saja, jika ada yang ingin kau tanyakan!"


Anthoni melirik Aura yang terdiam dengan sedikit menunduk.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Terima kasih," ucap Aura.


Bukan karna tidak ada hal yang ingin ditanyakan, bahkan selaksa pertanyaan sudah berjibun dalam kepalanya, akan tetapi ia juga harus bersikap hati-hati pada Anthoni yang belum diketahuinya berada di kubu yang mana. Lelaki itu sudah cukup banyak bicara padahal dirinya hanya dua kali saja bertemu Aura.


Mungkin benar seperti yang dikatakannya kalau ia menangkap sinyal kedekatan antara Aura dengan Damaresh, sehingga ia perlu memberi tau beberapa hal


pada Aura.


Tapi Aura juga merasa tak boleh percaya begitu saja


pada Anthoni meski mungkin dari lelaki ini dia bisa mendapatkan informasi tentang Damaresh dan keluarganya besarnya, tapi alangkah lebih baiknya jika ia tau langsung dari Damaresh sendiri.


Dan bila pada akhirnya nanti ia akan dihadapkan pada keadaan untuk lebih mempercayai yang mana, Aura tentu akan lebih memilih percaya pada Damaresh, suaminya, terlepas seperti apapun bentuk pernikahan yang sedang mereka jalani saat ini.


Pintu lift terbuka dilantai duapuluh.


"Aku turun di sini, Aura. Sampai jumpa." Anthoni menitipkan senyumnya yang tak bisa disebut sebagai senyum keramahan ataupun pertemanan.


Aura hanya menganggukkan kepalanya.


wallahu a'lamu. desahnya dalam hati


****


"santai, Aura! Kulihat dari tadi kau kau sangat serius, apa kau banyak pikiran?" tanya Clara.


Aura segera menghentikan kegiatan mencatatnya yang dilakoninya dari tadi. " Gak kok, Mbak," jawabnya.


"Tapi kau terlihat ngebut banget,"


"Ini beberapa pekerjaan untuk besok, saya selesaikan hari ini karna besok saya tidak masuk kerja, Mbak!"


"Oo begitu rupanya, tapi kau mau kemana?" tanya Clara.


"Menghadiri undangan, mewakili L&D Foundation, Mbak." Dan Aura segera melanjutkan pekerjaannya lagi.


Pintu ruang CEO terbuka dari dalam, menampilkan wajah Kaivan yang berdiri di tengah-tengahnya.


"Clara, jam berapa pak bos akan bertemu pak Anthoni?"


tanya Kaivan.


"Menurut jadwal, lima belas menit lagi. Harusnya pak Anthoni sudah sampai di sini sekarang," sahut Clara.


"Bisa kau hubungi dia, agar jangan sampai telat,"


"Segera Mas."


Dan Clara segera meraih gagang telfhon bersamaan Kaivan yang kembali masuk dengan membiarkan pintu ruangan sedikit terbuka.


Tepat di waktu yang dijanjikan, Anthoni Willyam hadir di tempat itu, lelaki tampan itu segera melempar senyum pada Clara dan Aura, yang segera mendapat balasan yang serupa dari Clara, namun tidak dengan Aura karna gadis itu segera menunduk.


"Sesingkat yang kau bisa," sahut Damaresh.


"Baiklah, aku tau jadwal kerjamu sangat padat, jadi aku tak akan banyak menyita waktumu."


Anthoni sejenak melonggarkan dasi yang dikenakannya.


"Ini mengenai proyek di Bali, ku dengar kakek telah menyerahkan semuanya kepadamu."


"Iya," jawab Damaresh singkat.


"Menurut pertimbanganku, aku adalah kandidat terkuat untuk memimpin perusahaan di sana nantinya," ucap Anthoni.


"Aku salut dengan rasa percaya dirimu yang sangat tinggi." Damaresh menarik sudut bibirnya samar.


"Tapi Edgard pastinya juga sangat menginginkan posisi


itu,"


"Aku bukan ingin menyuruhmu bersaing dengan Edgard untuk mendapatkan keputusanku, hanya memang aku belum memutuskan apa-apa terkait itu, pembangunan gedungnya saja baru berjalan sepuluh persen." Damaresh menatap sepupunya itu dengan pandangan terarah yang dapat terbaca oleh Anthoni kalau semua yang dikatakannya adalah memang sesuai dengan kenyataannya.


"Tentu saja aku menolak bersaing dengan Edgard, kau tau, kan, aku tidak suka persaingan dalam keluarga?


terlebih lagi aku tidak tau siapa orang terdekatmu yang bisa aku jejali dengan hadiah mahal agar ia mau membujukmu untuk memilihku," ucap Anthoni yang tak mendapat tanggapan apa-apa dari Damaresh kecuali tatapan dan expresi wajahnya yang datar.


"Atau mungkin aku bisa membujukmu melalui Aura?"


Anthoni mulai mengeluarkan serangan halusnya pada Damaresh.


"Apa kau yakin akan bisa membujukku melalui personal asistenku?" Damaresh bertanya santai.


"Dia bukan personal asisten biasa bukan? karna tak mungkin seorang personal asisten biasa pulang pergi ke kantor ini diantar jemput oleh Dirga, salah satu orang kepercayaanmu," tukas Anthoni sambil tersenyum miring merasa telah membuka sedikit rahasia Damaresh yang dengan itu, sepupunya itu pasti akan mau memuluskan rencananya.


Damaresh melenguhkan napasnya samar. "Kau tau kalau aku sangat tidak suka jika ada yang menyinggung kehidupan pribadiku," ucapnya datar.


"Iya, aku tau itu, Aresh," jawab Anthoni dengan senyum.


"Dan apa kau pun tau? kalau aku selalu membalas 'lebih' dari apa yang dilakukan orang lain padaku?" Damaresh melabuhkan tatapan tajamnya pada Anthoni.


"Maksudmu?" Kali ini Anthoni tak dapat membaca kemana arah pembicaraan Damaresh.


"Aku tau kau punya keluarga kecil 'rahasia' yang sangat ingin kau jaga dari jangkauan keluarga besar Willyam,"


Damaresh menyeringai kecil. "Kalau kau ingin menjadikan Aura untuk menyudutkanku, aku juga bisa melakukan hal yang sama pada keluarga kecilmu, bahkan lebih, Anthoni,"


Anthoni terlihat menelan salivanya samar. Ia tak menyangka sama sekali kalau Damaresh tau tentang rahasianya selama ini, tapi lelaki itu tak pernah mengusiknya sama sekali tidak berupa celetukan atau sindiran kecil. Sangat salah bila kini ia berusaha mengusik kehidupan Damaresh yang selama ini tak pernah ikut campur dalam kehidupan pribadinya.

__ADS_1


"Aku tak bermaksud menyinggungmu, Aresh," ucap Anthoni cepat, sebelum kemarahan Damaresh menguap menjadi sebentuk tindakan balasan.


"Katakan apa sebenarnya tujuanmu datang kesini, Anthoni. Kau sudah banyak membuang waktuku," sarkas Damaresh.


"Baiklah, mengenai proyek di Bali, aku sama sekali tak berminat untuk menjadi pemimpin perusahaan di sana


nanti, kau bisa serahkan pada Edgard atau salah satu dari Anggara bersaudara, keponakan kakek.


Aku hanya minta bantuan kecil darimu, sebagai bentuk kompensasi pengunduran diriku dari jajaran kandidatmu dan kakek."


"Apa?" tanya Damaresh singkat.


"Aku ingin PT Indah Anugerah, bisa masuk jadi rekanan


bisnis Pramudya Corp!" pinta Anthoni.


"Sudah kau pikirkan matang-matang keputusanmu ini?" tanya Damaresh.


"Apa ada masalah dengan perusahaan itu?" Anthoni balik tanya.


"Bukankah lebih baik jika perusahaan rintisanmu itu jauh dari lingkar bisnis Pramudya Corp, karna dengan itu kerahasiaan identitas kalian akan jauh dari jangkuan keluarga besar Willyam," tukas Damaresh.


Anthoni sejenak terdiam, ternyata Damaresh juga tau kalau PT Indah Anugerah yang dimaksud adalah perusahaannya yang dirintis bersama keluarga kecilnya.


"Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi sepertinya aku ada rencana lain, karna pada akhirnya aku tak akan terus bersembunyi dari keluarga besarku," sahut Anthoni.


"Baiklah, akan ku pertimbangkan permintaanmu," putus Damaresh.


"Terima kasih, Aresh. Kalau begitu aku segera pamit."


Anthoni segera keluar dari ruangan itu setelah mendapat anggukan dari Damaresh.


Anthoni melewati Clara dan Aura dengan senyuman ringan dan sedikit anggukan kepala pada Kaivan yang duduk di sofa tak jauh dari kedua gadis itu. Anthoni lalu melenggang pergi begitu saja.


"Tumben dia damai sentosa," celetuk Clara yang sudah terbiasa menerima basa-basi akrab Anthoni.


"Ciyeehh Clara merasa kehilangan," ledek Kaivan sambil terkekeh.


"Bukan begitu Mas Kai--"


"Clara!" Suara Damaresh menginterupsi apa yang akan dikatakan oleh Clara.


"I-Iya Pak," Gadis itu sigap menjawab.


"Apa masih ada jadwal rapat?"


"Ada Pak, setengah jam lagi!" jawab Clara.


"Cancel satu jam lagi! aku mau keluar sebentar," titah Damaresh.


"Baik, Pak." Clara segera meraih ponselnya.


"Arra!" Damaresh mengalihkan tatapannya pada Aura.


"Iya, Pak,"


"Ikut aku sebentar!" Setelah memberi perintah ia langsung berlalu dengan langkah-langkah lebarnya.


Aura segera bergegas menyusul.


Tak ada bahasa yang diucapkan lelaki itu kendati berdiri berdekatan dengan Aura di dalam lift, hingga tiba di lantai dasar, Damaresh terus bungkam saja menuju ketempat mobilnya yang diparkir dit tempat khusus. Aura pun mengikutinya saja dengan tanpa kata.


"Aresh!" entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Yeslin sudah berdiri menghadang langkah Damaresh,


membuat lelaki itu segera menghentikan langkahnya.


"Kau mau kemana?" tanya Yeslin sambil melirik Aura dengan ujung matanya.


"Keluar," jawab Damaresh singkat.


"Bersamanya?" Yeslin memutar pandangannya pada Aura.


"Iya, seperti yang kau lihat,"


"Ta-tapi aku janjian dengan tante Clau untuk menemuimu, Aresh. kami ada hal penting yang perlu disampaikan padamu," ucap Yeslin sambil menatap Damaresh lekat.


"Lain kali saja, aku mau keluar." Damaresh segera melewati Yeslin menuju ke mobilnya sambil memberi


isyarat pada Aura untuk mengikuti.


"Tapi ini sangat penting, Aresh!" seru Yeslin.


"Urusanku juga jauh lebih penting," sahut Damaresh terus berlalu.


Dan Yeslin hampir membulatkan matanya melihat Damaresh membukakan pintu mobil untuk Aura dan menutupnya kembali setelah gadis berhijab itu duduk.


Yeslin menatap nanar mobil lexus hitam yang mulai melaju itu hingga menghilang dari pandangan.


Aura Aneshka, siapa sebenarnya gadis itu?


mengapa Damaresh memperlakukannya dengan istimewa. Batin Yeslin.


----?????-----


**Part ini banyak sekali ya..lebih dari 2k


sengaja karna besok mau libur up.

__ADS_1


Next part-nya hari senen, insha-Allah.


jangan lupa dukungannya selalu ya**..


__ADS_2