Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
53. Bulan Melihat Bulan.


__ADS_3

"Hallo Tante Clau!"


"Hallo Yes, gimana?"


"Tak sesuai rencana, Tan," Yeslin menghempaskan napasnya sambil merapatkan tubuh pada pintu besar di belakangnya.


"Apa yang terjadi?"


"Aresh mempermasalahkan kehadiran aku, tante Clau,


aku kawatir ini akan berakibat tidak baik bagi Blanc Compani," Yeslin menggigit bibir bawahnya sambil semakin merekatkan benda pipih itu ke samping kepalanya, dimana dari benda itu suara Claudya terdengar jelas.


"Justru itu tujuannya Yes, kau harus bisa bujuk Aresh!"


"Dia malah pergi lebih dulu dari kantor, dan Tante tau, dia membawa Aura juga!"


"Apa?"


Jelas terdengar kekagetan dalam suara Claudya.


"Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan Tante?"


Yeslin terlihat cukup panik, entahlah tetiba saja dia merasa kalau gadis berhijab itu yang semula bukan apa-apa baginya, tapi setelah melihat apa yang terjadi hari ini, ia merasa kalau Aura adalah batu sandungan yang cukup berat.


"Jalankan saja dulu sesuai rencana!"


titah Claudya di telfhon.


"Bagaimana dengan Aura, Tante?"


"Kau tau Yeslin, Aresh tidak mungkin akan suka pada gadis berhijab," ucap Claudya dengan yakin.


"Tapi mereka terlihat sangat dekat, Tan"


Yeslin mengadu dengan wajah yang kembali terlihat kecewa.


"itu jadi urusan ku, anak itu rupanya main kucing-kucingan denganku," Claudya terdengar geram.


"Makasih, Tante,"


"Yeslin, untuk menarik perhatian Aresh, tak hanya cukup dengan tampilan ataupun rayuan, tapi kau juga perlu memutar otak!


Ujar Claudya sebelum mengahiri sambungan telfhonnya.


Yeslin memperhatikan penampilannya sendiri, sangat perfect menurutnya, ia tak hanya betah berlama-lama di salon untuk tampilan indahnya kali ini, tapi ia juga memakai jasa fashion stylist untuk menyokong ambisinya tampil perfeck di depan Damaresh. Tapi seorang yang diharap akan berdecak kagum setelah melihat penampilannya, justru tak menunjukkan apresiasi sama sekali untuknya, bahkan enggan menyapa dan berlalu begitu saja. Yeslin kembali mendesah kecewa.


Tante Clau benar, tak cukup hanya dengan seperti ini untuk mendekati Aresh. Yeslin menerawang sesaat mengaduk-aduk otaknya sendiri uantuk mendapatkan sesuatu yang akan menjadi pengantar Damaresh bertekuk lutut di depannya. Sesuatu tersebut bernama


"Rencana".


Terlihat siluet Darwin melintas, Yeslin bergegas menghampiri. "Pak Darwin sudah mau pulang?"


"Oh Bu Yeslin, iya Bu, saya pikir Bu Yeslin sudah pulang,"


sahut Darwin. Keduanya kini melangkah beriringan.


"Bagaimana kalau kita pulang bersama Pak," ajak Yeslin


"Maaf Bu, saya bawa mobil sendiri," tolak Darwin.


"Pak Darwin bisa suruh sopir pulang lebih dulu, saya akan antarkan bapak," Yeslin berusaha membujuk.

__ADS_1


Pasti sudah ada rencana yang ia temukan di dalam otaknya.


"Saya nyetir sendiri, Bu."


"Yahh," Yeslin menghembuskan napas kecewa, berharap dapat simpati dari Darwin. "Padahal saya sekalian mau mampir ke tempat Pak Damaresh, kan se-arah dengan Pak Darwin,"


"Kalau tempat saya dengan vila yang ditempati pak Damaresh tidak se-arah, Bu Yeslin. Saya di perum Wilis."


"Oo," Yeslin anggukkan kepalanya, selangkah lagi ia akan tau tempat tinggal Damaresh selama di Mangupura ini. Pikirnya. "Jadi kalau vila yang ditempati Pak Damaresh di daerah mana?" lanjut Yeslin.


"Barusan Bu Yeslin bilang mau mampir ke vilanya pak Damaresh, tentu karna ibu sudah tau alamatnya bukan?" baya berusia empat puluh ke atas itu mengembangkan senyumnya.


"Ohh itu, Pak Darwin, saya lupa, makanya saya ajak Pak Darwin pulang bersama," meski terlihat gugup atas ucapan Darwin tapi dengan cepat pula Yeslin menutupi kegugupannya dengan tersenyum sempurna.


"Kalau begitu Bu Yeslin bisa tanya langsung pada pak Damaresh atau Pak Kaivan!, saya gak ada hak untuk memberitaukan," tukas Darwin kendati tetap terlihat ramah.


Yeslin salah menilai tentang Darwin, pria yang selalu terlihat ramah itu ia pikir akan mudah dikelabui, ia tak tau dibalik keramahan Darwin ia juga seorang yang sangat jeli. Dengan kejeliannya ini, Damaresh kerap kali mempercayakan proyek-proyek besar Pramudya Corp padanya.


Loyalitas Darwin pada Damaresh dan perusahaan juga sangat tinggi. Hanya pimpinanya itu saja yang memiliki hak untuk dipatuhinya tanpa syarat, tidak ada orang lain kecuali Damaresh sendiri yang memberi isyarat.


Darwin juga tau tentang rumor Yeslin yang akan dijodohkan dengan Damaresh, sebagaimana Darwin tau kalau Damaresh tak menyambut baik rencana itu.


Cukup mudah kan untuk Darwin menyimpulkan apa tujuan Yeslin mengorek keterangan darinya.


"Saya permisi, Bu Yeslin."


Darwin segera berlalu tanpa harus menunggu Yeslin memberikan jawaban karna wanita itu masih sibuk mencari cara untuk sembunyikan wajahnya setelah malu yang harus ia terima akibat triknya yang mudah terbaca.


(Ada yang mau kasih saran, sebaiknya muka Yeslin di sembunyikan dimana?)


********


Malam menjelang, malam terang bulan.


Byurrrr..


Teriakan itu terdengar nyaring di susul bunyi gedebur dan beberapa jeritan panik yang lain memecah keheningan malam benderang yang bermandi sinar bulan.


Pun juga memecah konsentrasi Damaresh dan Kaivan yang sedang fokus memeriksa database perusahaan.


Keduanya sigap melangkah cepat menuju sumber suara yang berasal dari lantai bawah, dan melihat seorang maid yang juga sedang berlari panik dan tergesa.


"Ada apa?" tanya Damaresh.


"Non Aura jatuh ke kolam renang, Tuan!" wanita itu bersuara panik dengan napas turun naik.


Damaresh dan Kaivan gegas turun dari tangga dan setengah berlari menuju taman samping vila. Ada dua orang maid yang berteriak panik dipinggir kolam renang yang hanya terdapat gelembungan air, tak ditemukan sosok Aura di sana.


Sadar akan apa yang terjadi, kalau kemungkinan gadis itu telah tenggelam di kolam yang sedalam tiga meter itu, Damaresh segera meloncat ke dalam air.


Tak sampai sepuluh menit, ia sudah naik dari kolam sambil mengangkat tubuh Aura yang sudah lemas.


"Arra," Damaresh menepuk-nepuk lembut pipi Aura yang telah terbaring di kursi samping kolam.


"Arra," sekali lagi Damaresh melakukan hal yang sama,


namun tetap seperti semula tak ada reaksi dari Aura.


"CPR Resh!" usul Kiavan.


Damaresh segera melakukan cardiopulmonary resuscitatio (CPR) atau resusitasi jantung paru.

__ADS_1


Barulah setelah itu Aura bergerak terbatuk dan memuntahkan air cukup banyak, tubuhnya pun lemas terkulai di pangkuan Damaresh yang basah kuyub.


Lelaki itu lalu segera mengangkat tubuh Aura.


"Butuh Bantuan, Bro?" Kaivan menawarkan dengan suka rela tapi Damaresh menolak mentah-mentah kebaikan hati temannya itu tanpa kata dan terus


berlalu membawa Aura ke dalam kamarnya dan meminta bantuan pelayan wanita di vila itu untuk Aura berganti baju, dirinya sendiri juga bergegas ke ruang samping untuk mengganti bajunya.


"Kenapa kau sampai jatuh ke kolam?"


Aura sontak menoleh dan manemukan Damaresh sudah berdiri di belakangnya.


"Kau mengejutkanku,"


"Aku sudah ketuk pintu, tapi sepertinya kau sedang melamun," Damaresh segera duduk tepat di samping Aura menatap gadis itu yang rambutnya tergerai lembab. "Jadi apa yang kau pikirkan?" lanjut tanya Damaresh.


"Tidak ada," Aura menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa kau terjatuh?"


"Itu dua pertanyaan yang berbeda kan?"


"Hmm"


"Kau lihat itu!" Aura menunjuk ke luar jendela yang terbuka, di mana langit cerah membentang bermandi cahaya bulan. "Bulan yang sangat terang, aku sedang melihat itu dan kakiku terpeleset. Di Jakarta aku tak pernah menemukan itu, tapi di sini aku bisa melihatnya, aku senang. kalau di rumah aku selalu bisa melihat bulan terang setiap momennya datang."


Cerita Aura penuh antusias.


Damaresh juga ikut melihat yang ditunjuk Aura dan dengan cepat mengalihkan pandangannya menatap wajah Aura. "Bulan melihat bulan," ujarnya.


"Apa?"


"Tidurlah!" Damaresh mengalihkan ucapan.


"Aku masih ingin melihat bulan itu." Aura berdiri hendak melangkah menuju balkon kamar, tapi Damaresh cepat menahan tangannya.


"No Arra, jangan keluar! kau bisa masuk angin.


Sebaiknya kau tidur!" lelaki itu mengeluarkan titahnya dengan tegas.


"Tapi ini moment yang bagus, Aresh, sayang kalau dilewatkan," tolak Aura.


Damaresh segera menarik tubuh Aura hingga terduduk tepat disampingnya. "Arra dengar, wajahmu sendiri sudah seindah cahaya bulan, jadi untuk apa bulan melihat bulan?"


Aura hampir membulatkan matanya mendengar itu.


"Jadi kalimat itu adalah pujian untukku?"


"Hmm"


"Pujianmu sangat kaku," protes Aura sambil menahan senyum.


"Kau tau aku memang orang yang kaku, tapi aku selalu jujur dalam tiap ucapanku," sahut Damaresh dengan netra yang terkunci lekat pada wajah Aura.


"Iya, aku tau, dan aku senang dengan itu."


Aura tersenyum lembut.


Damaresh meraih tubuh gadis itu dan dibaringkan dengan sempurna di atas bantal. "Tidurlah! aku akan menjagamu di sini,"


"Menjagaku?" Aura memicingkan matanya, apa itu artinya Damaresh ingin tidur sekamar dengannya? tanya Aura dalam hati.

__ADS_1


"Iya, agar kau tidak jatuh ke kolam renang lagi,"


ucapan Damaresh itu membuat Aura segera mengatupkan matanya rapat.


__ADS_2