Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
43. Air Mata Clara.


__ADS_3

"Dirga sudah datang?"


"Ya," sahut Aura setelah usai mencium punggung tangan Damaresh dengan khidmat seperti kebiasaannya selama ini.


"Aku pulang ya," pamit Aura.


Damaresh mengangguk kecil dan segera kembali fokus menatap laptopnya, namun setelah Aura membalikkan badannya dan melangkah keluar, Damaresh menatap ke arah gadis itu hingga tubuhnya hilang di balik pintu ruangan yang tinggi.


Lelaki itu bahkan masih tak mengalihkan tatapannya kendati yang menjadi objeck pandangannya sudah tak dapat lagi dijangkau oleh pandangan mata,


Hingga saat ia memutuskan untuk kembali melanjutkan apa yang ditekuninya dari tadi, saat itulah sebuah panggilan masuk menyeruak di ponselnya.


"Ya, Stefan," Damaresh mengangkat telfhonnya.


"Hallo Pak, maaf mengganggu."


Suara Stefan di telfhon.


"Ada apa Stefan?"


"Dirga dalam pengawasan, Pak."


"Dari siapa?"


"Orang-orang yang sama seperti beberapa hari lalu!"


"Suruhan Mommy?"


"Iya, Pak."


Damaresh menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursinya yang tinggi sembari menghela napas, tangannya mengepal, sirat kemarahan terpancar di wajahnya.


"Bagaimana Pak?"


"Aku akan mengamankan Aura."


Damaresh lalu menutup telfhonnya dan gegas keluar dari dalam ruangan.


Clara dan Aura sudah hampir masuk lift ketika panggilan sang bos besar menginterupsi langkahnya. Kedua gadis itu sama-sama menghentikan langkah dan menatap ke arah Damaresh yang menghampiri mereka dengan langkah-langkahnya yang lebar.


"Clara, bawa Arra ikut pulang ke rumahmu ya!"


Damaresh mengeluarkan perintah yang jelas, tapi Clara dan Aura malah terlihat melongo dan saling pandang heran.


"Di bawah, sudah ada orangku yang akan mengantar kalian!" Damaresh melanjutkan perintahnya dengan mengabaikan tatapan keheranan dari kedua wanita di depannya. "Ini perintah!" imbuhnya lagi.


"Ba-Baik pak," sahut Clara yang langsung sadar kalau tak ada lagi waktu dan alasan untuk menampik.


Berbeda dengan Aura yang merasakan adanya kejanggalan atas perintah itu, dan terlebih lagi ini bukan yang pertama kalinya. Beberapa hari yang lalu Damaresh juga tiba-tiba memerintahkannya untuk ikut dengan Stefan ketika dirinya sedang di tengah perjalanan pulang dari kantor bersama Dirga.


Rasa penasaran Aura masih belum terjawab untuk hal itu, kini Damaresh mengulangi perintah yang sama, baginya jelas kalau ada sesuatu di balik semuanya.


Karnanya Aura pun mengutas tanya.


"Kenapa aku harus ikut ke rumah Mbak Clara?"


"Aku menginginkannya," sahut Damaresh sekenanya.


"Iya, tapi kenapa?"


"Harus ku jelaskan semua alasan dibalik semua perintahku Arra? bukankah kau mengatakan untuk selalu mematuhiku?"


Pertanyaan balik dari Damaresh yang disertai tatapan tajam mengarah, dikombinasi expresi datar wajahnya dan penekanan di dalam pengucapan kalimatnya,


adalah paket komplit yang selalu membuat orang lain tak mampu menolak perintahnya. Pun juga dengan Aura yang langsung mengangguk saja dengan mengesampingkan pertanyaan yang sudah mendobrak


kepalanya.


"Waahhh," Clara berseru panjang begitu melihat mobil mewah yang sudah menanti mereka plus seorang sopir yang sudah siap siaga bahkan membukakan pintu untuk Aura dan Clara.


"Berasa jadi nyonya besar, aku sekarang,"


Clara menampakkan senyum senang. Beda dengan Aura yang sudah sering pulang pergi diantar jemput Dirga dengan mobil ini, ditambah lagi keheranan dalam hatinya dengan sikap Damaresh, membuatnya hanya menanggapi ucapan Clara dengan senyum kecil saja.


Dirga sepertinya sudah tau situasinya, ia melajukan mobil tanpa bertanya, membelah jalanan yang padat sore itu, menuju sebuah rumah yang menjadi alamat Clara.


"Kau dimana, Stefan?"


Damaresh menempelkan benda pipih itu di bagian samping kepalanya. Lelaki itu segera menelfhon Stefan setelah melihat mobil yang di kemudikan Dirga sudah meninggalkan gedung kantor Pramudya Corp.


"Tetap di posisi semula, Pak."


"Apa Dirga di ikuti?" tanya Damaresh sambil memijit-mijit pelipisnya.


"Iya Pak. Bagaimana?, apa akan saya bersihkan?"


"Harusnya begitu Stefan, tapi tidak untuk saat ini,"


Peristiwa ini sebenarnya telah membuat Damaresh kesal, dan seharusnya ia menumpas habis segala hal yang telah memicu kekesalannya sebagaimana kebiasaannya selama ini. Tapi dengan melumpuhkan anak buah Claudya sama artinya dengan memberikan bukti yang memang diinginkan oleh Claudya tentang Damaresh dan Aura.


Dirinya tau betul kalau wanita yang telah melahirkannya itu sangat jeli dan peka, jika orang suruhannya di babat dia akan tau siapa yang ada di balik semuanya, dan walhasil segala bentuk kecurigaannya tentang Damaresh dan Aura akan terbukti. Dan hal tersebut pasti akan berakibat tidak baik pada Aura.


Dalam diri Damaresh juga sempat terbersit pemikiran untuk melawan tindakan sang ibu dalam artian telah menabuh genderang perang secara terang-terangan, tapi iapun memikirkan akibat yang pasti juga diterima Aura bila itu terjadi. Memang Damaresh sudah siap untuk menghadapi siapapun, tapi bagaimana dengan Aura yang masih tak tau menau tentang seluk beluk keluarga Willyam Pramudya.


Lagi-Lagi, Aura yang menjadi alasan pertimbangannya

__ADS_1


sehingga ia harus menahan diri untuk tidak menumpahkan kekesalannya atas tindakan Claudya saat ini. Meskipun belum tau atas dasar apa ia memberikan segala bentuk perhatian pada Aura, tapi yang jelas lelaki itu tak akan menyeret Aura dalam pusaran bahaya. Itulah yang ada dalam pemikirannya saat ini.


"Jadi bagaimana pak?"


Stefan masih menunggu interuksi darinya.


"Kembali pada tugasmu seperti biasa! biar mereka jadi urusanku."


"Baik Pak,"


Dan sambungan telfhon terputus setelah Damaresh mengambil keputusan di akhir pemikirannya.


****


"Kau tinggal di mana Aura?"


Clara menanyakan itu sambil meletakkan segelas minuman di hadapan Aura, keduanya sedang bersantai


di rumah Clara setelah Aura menunaikan sholat maghrib barusan.


"Terima kasih, Mbak."


Aura meraih gelas minumannya itu dan menyesapnya perlahan. "Rumah Mbak Clara ini enak banget ya, bikin betah," ucap Aura kemudian.


"Kalau begitu, tinggallah bersamaku,Aura. Kebetulan aku tinggal sendiri di rumah ini, pasti menyenangkan kalau kita bisa tinggal bersama," ucap Clara sambil senyum.


"Terima kasih Mbak, tapi saya sudah merasa nyaman tinggal di rumah yang saya tempati sekarang," tolak Aura dengan lembut.


"Jadi kau tinggal di mana sekarang?"


Clara kembali mengulang pertanyaannya setelah barusan sempat di tepis oleh Aura dengan mengalihkan pembicaraan pada hal lain.


"Ee, di rumah yang tak sebegitu jauh dari tempat tinggalku yang dulu," sahut Aura. "Di rumah suamiku, tepatnya." lanjutnya dalam hati.


"Boleh dong jika suatu saat aku main ke rumahmu?"


"E-e Bo-Boleh," Aura menjawab gugup.


"Di daerah mana itu?" lanjut tanya Clara sambil meraih gelas minumannya. Aura jadi menahan Napas sambil memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat dengan tanpa memberitaukan yang sebenarnya.


Untunglah pada saat itu juga bel pintu berbunyi yang membuat Clara segera bergegas untuk membuka pintu dan Aura pun menarik napas panjang karna terbebas dari tuntutan Clara untuk menjawab pertanyaannya.


"Mas Kai!" terdengar Clara berseru girang melihat siapa yang datang.


"Apa kehadiranku memang sudah di nantikan?"


Kaivan menaikkan sebelah alisnya demi melihat expresi Clara karna kedatangannya.


"Anggap saja begitu," Clara menampilkan senyuman terindahnya.


"Pasti akan lebih senang lagi jika kau tau aku datang bersama siapa," ucap Kaivan sambil menggeser tubuhnya.


"Tuh!" Kaivan menunjuk seorang lelaki tampan yang baru menapakkan kakinya di teras rumah itu.


"Pak Damaresh!" Clara lebih dari hanya kegirangan melihat penampakan pria rupawan itu kini berada di hadapannya.


"Boleh aku masuk?" tanya Damaresh mengabaikan expresi Clara yang sudah campur aduk antara senang dan heran melihat sang bos besar tiba-tiba hadir di rumahnya.


"Tentu," Clara segera memberikan ruang untuk kedua tamu istimewanya itu masuk ke dalam rumah.


"Aura lihat siapa yang datang!" seru Clara pada Aura yang masih duduk terpekur di posisi semula.


Aura memutar kepalanya ke arah sang empunya rumah dan segera berdiri begitu melihat siapa saja yang berdiri di samping Clara.


Baik Kaivan ataupun Damaresh sama-sama melabuhkan pandangan ke arahnya, membuat Aura gegas menghampiri dan berdiri di depan Damaresh dengan bahasa tubuh yang terlihat kikuk.


Tak di nyana Damaresh ternyata mengulurkan tangan


kepadanya yang sempat mendapatkan tatapan heran dari Aura, apa iya suaminya itu ingin ia mencium tangannya di depan Clara dan Kaivan? tanya Aura dalam hati. Kalau bagi Kaivan itu bukan lagi pemandangan yang langka, tapi bagi Clara tidakkah itu nanti akan membuka identitas hubungannya dengan Aura?, namun demi dilihatnya raut wajah tegas Damaresh, Aura segera menyambut tangan itu dan mencium punggung tangannya.


Bisa dibayangkan bagaimana expresi Clara melihat hal itu? dan tak hanya itu saja yang membuat Clara begitu terkejut. Damaresh bahkan menunduk mencium kepala Aura yang tertutup hijab saat gadis itu mencium tangannya.


"Sudah sholat?"


Demikian pertanyaan Damaresh pada Aura setelah istrinya itu usai melakukan ritual mencium tangan.


"Sudah," Aura menjawab singkat. Hal itu karna dirinya juga tak menyangka dengan sikap Damaresh saat ini.


"Sudah makan?" tanya Damaresh lagi, terdengar perhatian, kan?


Aura menggeleng sambil tersenyum.


"Kita pulang Arra, aku kesini untuk menjemputmu,"


"Ee aku ambil tas ku dulu ya,"


"Hmm,"


Aura gegas ke ruangan dalam dimana tadi ia meletakkan tas nya di sana, dan saat ia kembali ke ruang depan keheningan masih tercipta. Keheningan yang diabaikan oleh Damaresh, dimana lelaki itu segera meraih tangan Aura begitu gadis cantik itu telah berdiri di depannya.


"Clara terima kasih ya, atas bantuanmu menerima Arra sesaat di sini," Damaresh berkata pada Clara


yang berdiri mematung.


Gadis itu menggeleng lalu mengangguk, sepertinya dia kebingungan sendiri untuk berexpresi bagaimana, sementara tatapan matanya terfokus pada tangan Damaresh yang menggenggam tangan Aura.

__ADS_1


"Mbak Clara saya pulang dulu ya," pamit Aura juga yang hanya ditanggapi dengan pandangan kosong oleh Clara.


"Kau masih ingin di sini, Kai?" tanya Damaresh pada Kaivan.


"Sepertinya iya," sahut Kaivan.


Damaresh mengangguk dan segera keluar bersama Aura. Kaivan melirik Clara dengan ujung matanya, terlihat gadis itu masih dalam mode berdiri membeku dan membisu hingga Kaivan menepuk lembut pundaknya.


"I-Itu, pak Damaresh mau bawa Aura pulang kemana?"


gugup Clara bertanya sambil menunjuk ke arah pintu rumahnya yang telah menelan tubuh Damaresh dan Aura hingga tak tampak lagi dalam pandangan mata.


"Ke rumahnya," sahut Kaivan.


"Rumah siapa?"


"Rumah mereka."


"Maksudnya, Aura tinggal bersama pak Damaresh?"


"Iya,"


"Ta-Tapi kenapa?" tanya Clara. Dalam sekejab wanita cantik nan pintar yang menjadi sekretaris Damaresh itu


bertranformasi menjadi gadis polos yang tak pandai memahami situasi. Semua karna sikap Damaresh yang terpampang di depan matanya, yang tak pernah terbayangkan dalam benaknya selama ini kalau lelaki itu akan bersikap begitu pada Aura Aneshka.


"Karna Aura Aneshka itu adalah istrinya Damaresh Willyam, Clara!" ungkap Kaivan dengan jelas.


"Ah tak mungkin," Clara menggelengkan kepalanya kuat. "Ini Mas Kai cuma bercanda aja kan?"


"Aku gak bercanda, itu fakta. Aku udah pernah bilang, kan, kalau Damaresh itu sudah punya istri? Aura itu istrinya Damaresh!" ungkap Kaivan lagi.


Tak ada yang perlu ditutupi lagi, dengan sikap Damaresh barusan terhadap Aura, sudah jelas mengisyaratkan kalau lelaki itu ingin mengungkap hubungannya dengan Aura di depan Clara.


Clara jadi melongo untuk beberapa waktu.


"Aku boleh duduk gak nih?" Kaivan mengalihkan perhatian wanita itu dengan pertanyaannya.


"Duduk saja Mas!" jawab Clara. Kaivan segera duduk tetapi Clara sendiri masih betah berdiri di posisinya.


"Kau sendiri mau berdiri saja?"


"Iya aku juga duduk," Clara segera duduk di samping


Kaivan, sementara sepasang matanya terlihat memerah dan dalam hitungan detik air mata Clara jatuh membasahi wajahnya. "Kenapa?" tanya-nya singkat.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa pak Damaresh menikah dengan Aura?"


"Itu hanya Damaresh yang tau alasannya,"


"Fakta ini menyakitiku, Mas," isak Clara.


"Aku tau," sahut Kaivan. Karna itulah ia memilih untuk tidak ikut pulang bersama Damaresh karna ia tau kalau Clara akan sedih jika tau kenyataan tentang Aura dan Damaresh. Clara memang sudah cukup lama menyimpan perasaan pada Damaresh, namun sebagai wanita dewasa dan berpendidikan Clara tak menampakkan perasaannya secara berlebihan, dia hanya berusaha meraih perhatian Damaresh dengan cara-cara yang natural. Tapi meski begitu rasa itu pasti cukup dalam, terbukti dari tangis kepedihan yang di tunjukkannya saat ini.


"Tapi kamu pernah bilang, kan. kalau perasaanmu itu tidak mungkin tercapai?"


"Iya, tapi aku rasa tidak mungkin juga pak Damaresh dengan Aura, Mas,"


"Itu pilihan Damaresh, Clara."


"Dan aku tidak berhak untuk mengusiknya, kan?"


"Damaresh tak akan membiarkan siapapun mengusik hubungannya dengan Aura," sahut Kaivan tegas.


"Secinta itu pak Damaresh pada Aura?"


Clara menatap Kaivan dengan air mata jatuh.


Namun Kaivan tak memberi jawaban apa-apa kecuali tersenyum saja, karna jawabannya hanya terucap dalam hati saja. Damaresh sepertinya sudah jatuh cinta pada Aura, tapi dia belum menyadarinya. dan kalaupun dia menyadarinya nanti, dia tidak akan mengakuinya.


Batin Kaivan.


Clara terus menunduk menghapus air mata, namun air mata berikutnya kembali menetes.


"Mau pinjam pundakku, tidak?" Kaivan menepuk pundaknya sendiri sambil tersenyum.


"Boleh?"


"Hemm,"


Clara segera merapatkan tubuhnya pada Kaivan dan menyandarkan kepalanya di pundak lelaki tampan itu


dengan air mata yang kian deras.


"Tapi jangan lama-lama ya, pundakku bisa pegal juga," ucap Kaivan yang membuat Clara menghadiahinya dengan cubitan di pinggang. Kaivan terkekeh.


"Temani aku malam ini, Mas," pinta Clara.


"Maksudmu?" Kaivan memicingkan matanya.


"Setidaknya sampai aku sudah gak nangis lagi," kata Clara.


"Ooh kirain,"

__ADS_1


"Apa? Mas Kai mikir apa?" Clara mendongakkan kepalanya menatap Kaivan.


"Gak mikir apa-apa," Kaivan cengengesan dan segera meraih kepala Clara untuk di sandarkan lagi di pundaknya.


__ADS_2