
"Kita menghadapi tuntutan sebanyak 963 milliar, Pak, atas hilangnya pesawat itu," pungkas Damian mengakhiri laporannya.
Lelaki itu segera melayangkan pandangannya pada jendela besar yang terbuka di belakang William, karna tak tahan menatap ekpresi sang majikan yang dari awal ia menyampaikan kabar buruk ini sudah diam dengan wajah yang memerah dan tatapan mata yang berkilat penuh amarah.
PT MBC jetset, sebuah perusahaan penyewa jet pribadi baru saja melayangkan gugatan ganti rugi pada William Pramudya atas hilangnya salah satu pesawat terbaik mereka yang diketahui disewa oleh pemilik Pramudya Corp itu untuk sebuah misi. Tapi bukan hal itu yang menyebabkan kemarahan yang terlihat sangat pekat di wajah William, namun adanya laporan perkiraan jet tersebut hilang kontak, yang bisa dipastikan kalau pesawat dengan kabin tak terlalu besar itu menghilang sebelum misi penjemputan Airlangga selesai.
Ditambah lagi tidak didapatkannya kabar dari Pablo dan beberapa anak buahnya yang lain, cukup bagi William untuk menyimpulkan bahwa tawanan kesayangannya itu sudah diselamatkan, pasti oleh orang-orang suruhan Damaresh.
"Terus cari keberadaan Pablo!"
William memberi perintah, mengakhiri keterdiamannya dari tadi. Namun demikian atmosfer kemarahan masih sangat pekat menyelimuti wajahnya.
"Baik, Tuan."
Damian mengangguk patuh.
Ia segera hendak berbalik badan untuk keluar dari ruangan, namun urung karena masuk seseorang dari salah satu pengawal William yang segera berbisik padanya.
Damian menarik napasnya tertahan, ia sudah cukup berat untuk menyampaikan berita buruk itu pada William, kini rupanya ia harus menyampaikan berita buruk selanjutnya pada sang majikan yang masih terdiam dengan raut kemarahan yang terpendam.
Tapi apa mau dikata, berita ini harus disampaikan, apapun resiko yang akan ia dapatkan.
"Tuan, nyonya Claudya sedang menggelar press conference sekarang," tutur Damian.
William bergeming, Damian segera menyalakan televisi berlayar datar yang tersedia dalam ruangan, memilih sebuah chanel siaran sesuai petunjuk dari pembawa pesan, dan tak butuh waktu lama
Acara yang ingin dilihat pun, ditemukan.
Claudya duduk diapit dua orang lelaki di samping kanan dan kirinya, yang tak diketahui mereka itu siapa..
Dengan bahasa terbata dan suara tersendat, Claudya menyampaikan permintaan maafnya di hadapan banyak sorot kamera dan beberapa pemburu berita, terkait kematian Saraswati beberapa tahun silam.
Putri pertama William itu juga membeberkan kronologi peristiwa yang menyebabkan Saraswati meninggal dunia, dimana dirinya memegang peranan sebagai pemberi perintah pada orang-orang bayaran untuk memperingati Saraswati dengan keras agar meninggalkan Airlangga, Tapi naas terjadi peristiwa tak terduga yang menyebabkan Saraswati meninggal dunia.
Dihadapan semuanya juga, Claudya menyatakan siap mempertanggung jawabkan perbuatannya sesuai dengan hukum yang berlaku.
Setelah itu, lelaki yang duduk di samping Claudya yang ternyata adalah salah satu keluarga dari mendiang Saraswati, memberi pernyataan juga. Bahwa keluarga mereka tak akan menuntut Claudya lewat jalur hukum. Mereka memutuskan untuk memaafkan Claudya atas kesungguhan wanita itu menunjukkan penyesalannya, bahkan berani mengakui kesalahannya secara terbuka.
"Matikan!" Bentak William.
Damian mengangguk dan segera melaksanakan perintah sang tuan.
"Cegah berita itu agar jangan tersiar di media apapun!"
"Beritanya sudah naik di semua chanel, Tuan."
"Turunkan segera, apapun caranya!" bentak William dengan kemarahan yang memuncak.
"Tapi, Tuan-"
"Kau tau, apa imbasnya bagi Pramudya Corp, jika pengakuan Claudya itu sampai tersebar luas?" Bentak William lagi dengan tatapan berkilat, seakan gunung merapi yang siap memuntahkan larvanya.
Damian mengangguk. Ia bukan tak tau hal itu, ia bukan tak tau apa yang menjadi kekawatiran William terkait berita tersebut.
__ADS_1
Tapi berdasarkan laporan yang diterimanya, Claudya sendiri yang mengawal berita itu agar segera ditayangkan, hingga dalam hitungan jam, hampir seluruh media di negeri ini sudah menayangkannya.
Meskipun untuk menurunkan berita itu, bukan sesuatu yang tak mungkin untuk dilakukan, tapi berita sudah terlanjur menyebar, dan sudah dikonsumsi banyak orang. Bukankah dengan menggelontorkan uang untuk menurunkannya adalah suatu kesia-siaan?
Demikian menurut hemat Damian.
Tapi lain Damian, lain pula pemikiran William. "Cepat lakukan sekarang, Damian!"
"Baik, Tuan."
Damian gegas keluar ruangan bahkan dengan setengah berlari.
"Anak dan ibu sama saja, mereka sama-sama berani melawanku," sungut William.
William benar-benar kebakaran jenggot. Setelah berita kandasnya pesawat yang ia sewa untuk menyembunyikan Airlangga yang berujung dengan tuntutan ganti rugi dari perusahaan penyedia layanan sewa jett pribadi. Ditambah lagi, fakta menghilangnya jejak Airlangga, kini ditambah dengan Claudya yang membuat ulah, menghancurkan nama besar keluarga William dengan pengakuannya secara terbuka.
*******
************
***************
"Apakah kau baik-baik, saja?"
Aura menatap lekat wajah rupawan itu yang tertunduk fokus menghadapi layar putih berukuran 9 inch di tangannya.
"Ya, aku baik-baik saja," sahut Aresh. Sejenak ia menoleh menatap istrinya dan tersenyum lembut. Selanjutnya perhatiannya kembali berlabuh pada layar tab di tangannya.
"Benarkah?" Tanya Aura lagi seakan tak percaya dengan jawaban yang telah didengarnya sendiri baru saja.
Tangan Damaresh terulur mengusap rambut Aura yang malam ini tergerai indah tanpa balutan hijabnya.
"Aku justru bangga pada Mommy, dia mempunyai keberanian untuk melakukan semuanya di depan publik, tentu karna ia sudah punya tekad dalam dirinya untuk berubah," tutur Damaresh kemudian.
Aura mengangguk dan tersenyum, perasaannya menjadi sangat lega. Awalnya ia sempat kawatir, kalau Damaresh akan terguncang, setelah berita pengakuan Claudya tersiar di media massa, meski kini berita itu seakan hilang di telan bumi, tapi lebih dari 30% penduduk negeri ini pasti sudah mengetahui, termasuk Damaresh dan Aura sendiri.
"Aku rasa, sudah waktunya kau belajar memaafkan mommy," kata Aura lembut, selembut tatapannya, karna ia sangat tak ingin kalau ucapannya ini akan membuat Damaresh tidak berkenan.
"Ya, aku akan berusaha melupakan semua rasa sakitku pada mommy," sahut Damaresh.
Segera Aura tersenyum dan memeluk tubuh suaminya itu dari samping dengan pelukan erat, bahkan lalu ia mendaratkan ciuman lembut di pipi Damaresh kanan dan kiri.
Lelaki itu tersenyum menampilkan ekpresi senang atas perlakuan Aura terhadapnya.
"Apa yang sedang kau kerjakan?" Tanya Aura kemudian, ia kini sudah berbaring di atas pangkuan suaminya itu yang membuat Damaresh harus merubah posisi tangannya yang tengah memegang tab, jadi lebih dimajukan sedikit.
"Ada sedikit hal," sahutnya pelan.
"Kau sudah tidak bekerja di perusahaan, tapi kau masih tetap sibuk saja, Aresh."
"Apa hanya orang yang sedang bekerja di perusahaan saja yang boleh sibuk?"
Aresh menatap istrinya sesaat dengan menyematkan senyum.
__ADS_1
Aura menggeleng, dan sesaat terdiam.
"Kenapa diam?" tanya Damaresh.
"Tidak apa-apa," sahut Aura.
"Atau kau kawatir dengan masa depan kita ke depan?" tanya Aresh lagi.
"Tidak, aku tidak pernah kawatir dengan rizki pemberian Allah. Karna Allah memberikan rizki itu bukan berdasar dari pekerjaannya, atau cara mengerjakannya.
Jika rizki itu diukur dari caranya bekerja keras, maka kuli bangunanlah yang akan cepat kaya. Jika rizki itu diukur dari waktunya kerja, maka warung kopi 24 jam, yang akan cepat kaya. Jika rizki itu milik orang pintar, maka para dosen dan guru besar yang memiliki gelar panjang yang lebih banyak mendapatkannya.
Jika rizki itu hanya karna tingginya pangkat dan jabatan, maka presiden dan para raja, yang akan menduduki 100 orang terkaya di dunia. Tapi Allah memberikan rizki berdasarkan ukurannya tersendiri, pada siapa yang mau meminta dan berusaha mendapatkannya."
Aura mengahiri ucapannya yang mengutip sebuah kalimat bijak yang pernah dibacanya dengan senyuman.
Damaresh menunduk mencium kening istrinya itu pelan. "Tidurlah, sudah malam."
"Aku ingin tidur begini," ucap Aura seraya memalingkan kepalanya menghadap pada perut Damaresh yang hanya tertutup kemeja tipis dan mengendus-enduskan wajahnya di sana. Damaresh diam-diam menahan napas. Tangannya lalu segera membelai-belai rambut Aura yang terus saja menciumi perut sispack suaminya itu, meski terhalangi oleh kain, tapi napas hangat Aura dan ujung hidungnya terasa menggelitik.
"Arra," lirih Damaresh setelah puas menahan napasnya.
"Hmmm," dengung Aura pelan.
"Aku mau mandi dulu, ya. Gerah."
Tanpa tunggu jawaban dari Aura, Damaresh segera memindahkan kepala istrinya itu ke atas bantal, lalu gegas turun menuju ke kamar mandi.
"Kau kan sudah mandi barusan Aresh, kenapa mau mandi lagi?" Tanya Aura heran.
"Entahlah, aku merasa gerah lagi," sahut Aresh dan tubuhnya lalu menghilang di balik pintu kamar mandi.
Aura memperhatikan AC dalam kamar mereka yang menyala sejuk, bahkan udara di kawasan tempat tinggal mereka juga sangat sejuk. Gadis ayu itu menghela napas.
Damaresh berdiri di depan jendela setelah ritual mandinya yang kedua malam ini selesai. Ia mengira Aura sudah tidur, karna sudah bergelung nyaman di bawah selimutnya. ternyata, istrinya itu masih berucap, "Aresh aku minta maaf ya."
"Kau belum tidur?"
Aura duduk menatap suaminya dan kepalanya menggeleng lemah. "Apa aku perlu tidur di kamar lain?"
Damaresh segera duduk di tepi ranjang dan menatap istrinya itu dengan pandangan lembut. "kenapa kau berpikir untuk tidur terpisah denganku?"
"Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku tau kau menahan hasrat, tapi aku tak bisa melayanimu sekarang. karena aku masih dalam masa nifas."
Aura mengucapkan semua kalimatnya itu dengan wajah menunduk.
Aresh menghela napasnya samar. Ia tak menampik apa yang dikatakan oleh istrinya. Semua itu dilakoninya atas nama alasan kesehatan Aura. Dan ternyata kini juga ada alasan atas nama hukum agama. Meskipun istilah yang disebut Aura itu, Aresh belum mengerti, tapi mematuhi hukum agama itu sudah menjadi keputusannya kini.
"Kalau hanya tidur berpelukan, apa juga belum boleh?" ia bertanya pelan.
"Gak papa."
"Tetaplah tidur bersamaku! Aku hanya ingin tidur memelukmu. memastikan kalau kau selalu baik-baik saja, Arra. Aku janji tak akan lebih dari itu."
__ADS_1
Aura segera merentangkan tangannya dan masuk ke dalam pelukan suaminya dengan segenap rasa haru dan bahagia. "Terima kasih Aresh. Kau begitu memahamiku."
"Karena kau cintaku"