
Udara pagi menyeruak masuk, sesekali di iring hembus angin kecil, serpihan sinar matahari juga mengintip melalui celah gorden yang terbuka.
Aura tersentak. "Astaghfirlohh aku kesiangan," gadis itu memekik lirih dan segera duduk.
"Akhirnya bangun juga," terdengar suara lelaki dari sampingnya, Aura reflek menoleh.
Dan,
"Bapak!" Gadis itu hampir teriak mendapati Damaresh duduk tepat di sampingnya, bersandar di kepala ranjang, dengan dua kaki selonjor dan ada sebuah tab di pangkuannya.
"Ngapain bapak disini?" Aura langsung bertanya dengan nada bicara sangat tak enak di dengar.
"Menjagamu," Damaresh menjawab singkat, sementara jemarinya lincah menari di atas tab.
"Menjaga saya, bapak jangan main-main, siapa yang memberimu ijin masuk ke dalam kamar saya," Aura bergidik menyadari keduanya berada di ranjang yang sama. "Bapak keluar dari kamar saya pak!" Aura segera mengusir Damaresh yang terlihat begitu tenang itu, padahal wajah Aura sudah terasa memanas karna emosi.
"Sepertinya kau belum sepenuhnya sadar ya, kumpulkan dulu semua kesadaranmu, baru aku akan meninggalkanmu," Damaresh menatap Aura sekejab sebelum kembali fokus pada pekerjaan yang di tekuninya sedari tadi.
Aura segera meloncat turun dari kasur kelewat empuk itu dan pandangannya mengitari seluruh ruangan berharap menemukan sesuatu untuk mengusir Damaresh keluar, kemucing misalnya, mungkin bos besarnya ini perlu di hajar juga agar segera keluar dari kamarnya. pikir Aura.
Tapi saat itulah ia baru sadar, kalau ruangan ini kelewat mewah untuk ukuran kamar kontrakannya. Dan setelah di perhatikan lagi, Aura baru sadar kalau ruangan ini memang bukan kamarnya.
"Pak, ini saya dimana sekarang?"
"Apartemennya Kai,"
"Sejak kapan saya disini?" Aura mulai merasa ada yang salah dengan semuanya.
"Semalam,"
"Bersama bapak?"
"Hmmm"
Aura menuntut banyak penjelasan, tapi Damaresh hanya menjawab seperlunya.
"Jadi maksudnya, kita berdua dalam kamar ini sejak semalam?"
"Hmm"
Damaresh yang kelewat santai bertemu Aura yang kelewat panik, memang bukan kombinasi yang pas.
Sebentar lagi pasti pecah perang dunia ketiga di antara
mereka.
"Jelaskan sama saya pak, kenapa saya gak ingat apa-apa sama sekali, dan apa yang sudah bapak lakukan sama saya?" Aura bertanya dengan suara bergetar. Kepanikannya sudah berubah jadi ketakutan.
Tatkala ia melihat ke arah dirinya sendiri yang kendatipun tetap berpakaian utuh, namun rambutnya sudah tergerai bebas, entah dimana sudah hijab yang menjadi penyempurna penampilannya sebagai wanita muslimah itu. Ia pun melihat kasur yang baru saja di tempatinya tampak lusuh dengan bantal berserakan kemana-mana.
Sedangkan Damaresh Willyam sendiri yang pagi ini memang terlihat kelewat tampan dan segar seperti baru saja mandi dengan rambut yang masih basah, semakin membulatkan kecurigaan Aura atas apa yang telah terjadi pada dirinya semalam.
"Kau tidak ingat apapun, karna berada dalam pengaruh obat bius, dan yang kita lakukan semalam disini adalah, tidur." Damaresh menjawab pertanyaan Aura sesuai apa adanya.
"Tidur?" Aura mengulang kata itu lirih lebih menyerupai bisikan pada dirinya sendiri. Tidur bersama seorang lelaki dalam satu kamar dan di ranjang yang sama pula, dalam kondisi dirinya di bawah pengaruh obat bius juga, apapun bisa terjadi bukan.
Aura merasakan kedua lututnya bergetar, tubuhnya menggerosoh begitu saja terduduk di lantai
dan tak lama terdengarlah isak tangisnya.
Damaresh yang memang kelewat fokus dengan pekerjaannya tak menyadari kalau Aura sudah mengambil kesimpulan yang salah akan semua jawabannya, ia malah hanya menatap sekilas pada Aura yang menangis sembari mengumpat dalam hati. Tadi marah-marah, sekarang menangis, dasar labil.
"Kenapa bapak jahat sama saya, apa salah saya pak,
__ADS_1
Saya punya calon suami, kami akan segera menikah.
Tapi bapak sudah merenggut kesucian saya yang selama ini saya jaga hanya untuk lelaki yang halal buat saya nanti. Bapak jahat,"
Damaresh mengernyitkan kening mendengar ucapan Aura yang tersendat-sendat di sela isak tangisnya. Fix,
Sudah terjadi kesalah pahaman dalam diri Aura.
Tapi bukannya menjelaskan Damaresh malah hanya melihat saja pada Aura dengan pandangan takjub, baginya, Aura dengan tangisannya adalah pemandangan indah nan langka yang baru di temuinya kali ini.
Ia baru menghampiri gadis itu ketika terdengar telfhon berkali-kali. "Gak usah nangis, aku gak ngapa-ngapain kamu, kita hanya tidur saja, tak lebih," ucapnya.
"Saya gak percaya, buktinya bapak membius saya, untuk alasan apa, coba?" Aura menjawab sengit. Ia tetap bersikukuh dengan pemikirannnya sendiri.
Damaresh berdecak, " Nih, calon suamimu telfhon, angkat dulu," lelaki itu memberikan ponsel yang di bawanya. Lalu kembali lagi ke posisi semula dengan pekerjaannya.
"Assalamu'alaikum kak," Sapa Aura sambil mengusap air mata.
"Waalaikum salam," suara Akhtar terdengar berat.
"Sedang bersama siapa dik?"
"Ee. se.. sendiri kak," Aura sedikit gugup karna harus berbohong.
"Sekarang sendiri, lalu semalam bersama siapa?"
Akhtar bertanya datar.
"Se. semalam?" Aura bergumam lirih. "gak bersama siapa-siapa kak," sahutnya dengan perasaan tak nyaman.
"Jangan bohong dik, semalam aku telfhon yang ngangkat laki-laki. Siapa dia?" Akhtar berusaha untuk tetap tenang walau suaranya sudah terdengar bergetar.
Aura menatap tajam ke arah Damaresh, karna sudah dapat menduga kalau lelaki itu yang telah mengangkat telfhonnya Akhtar.
"Bersama teman laki-laki pada jam tiga dini hari, gitu maksudnya dik?" Akhtar menjeda kalimatnya sejenak.
Aura menggigit bibir dengan perasaan tak menentu.
"Seperti apa pergaulanmu disana dik, apa Aura Aneshka yang aku kenal dulu sudah tidak ada lagi?"
Sepasang mata Aura langsung berkaca-kaca mendengar ucapan Akhtar itu, dan tak butuh waktu lama setitik beningpun jatuh membasahi pipinya.
"Kak, jangan salah paham dulu, kejadiannya tidak seperti apa yang kakak duga," Aura terisak.
"Memang nya kau tau, aku menduga apa?" Akhtar berkata dengan suara lebih tinggi.
"Maaf kak," Aura menjawab lirih.
"Jelaskan sekarang, itu sebenarnya bagaimana," tuntut Akhtar. Aura terdiam, pasalnya ia juga tak sepenuhnya tau apa yang terjadi. Ucapan Damaresh tak di percayanya begitu saja. Sedangkan Akhtar berhak mendapatkan jawaban, lalu bagaimana sekarang ia harus menjelaskan.
"Itu," Aura masih menarik nafasnya berusaha tenang,
"Jadi semalam aku ada tugas lembur kak dari atasan, karna kecapean aku tertidur di..di tempat kerja."
"Lalu laki-laki itu?"
"Dia atasanku,"
"Kalian lembur berdua saja?"
"Ti..tidak kak, bersama sekertarisnya juga, dan..dan seorang kepercayaan atasanku lagi,"
Apalagi yang bisa di jawab Aura selain mengarang cerita bohong. Dan gadis itu memang bukan seorang yang terbiasa berbohong sehingga dalam pengucapannya banyak kata yang terbata.
__ADS_1
Lalu apa kabarnya dengan Damaresh, perdulikah ia dengan Aura yang susah payah memberi penjelasan pada calon suaminya. Ternyata tidak.
Baginya mengumpulkan dolar itu jauh lebih penting dari pada memperhatikan pembicaraan Aura dengan Akhtar. Apalagi yang di dengarnya hanya ucapan Aura saja, kalaupun mau menguping kurang seru juga kan.
"Semoga kau jujur dik, karna aku belum bisa percaya sepenuhnya." putus Akhtar.
"Kak tolong jangan salah paham," pinta Aura sepenuh hati.
Sesaat tak terdengar jawaban Akhtar kecuali helaan nafasnya. "Insha-Allah," sahutnya kemudian.
"Aku masuk kelas dulu dik,"
"Nanti aku telfhon lagi ya kak,"
"Ia." Dan Akhtar memutus telfhonnya tanpa salam.
Aura menahan nafas terasa perih di dalam hati.
Namun ia segera menghampiri Damaresh dan langsung mendamprat bos tampannya itu dengan tatapan membunuh.
"Kenapa bapak mengangkat telfhonnya kak Akhtar?"
"Calon suamimu itu menelfhon terus, tidurku jadi terganggu."
"Harusnya di rijeck saja pak, jangan di angkat," Aura benar-benar berang. Ia tak yaqin akan bisa menahan diri untuk tak mencakar wajah Damaresh sebentar lagi.
"Aku tak terpikir begitu," Sahut lelaki itu masih dengan mode santai.
"Bapak bilang apa semalam pada kak Akhtar?"
"Ya aku bilang kalau kau lagi tidur, Arra,"
"Bapak benar-benar gak mikir ya, itu sudah bikin Kak Akhtar salah paham tentang kita pak," Aura hampir teriak, emosinya sudah sampai di ubun-ubun tapi Damaresh hanya mengedikkan bahu.
"Dua minggu lagi, kami akan menikah pak, dan karna hal ini, dia bisa membatalkan pernikahan kami, dan itu semua gara-gara bapak." Aura terisak lagi dengan perasaan campur aduk antara marah dan sedih.
"Kalau lelaki itu membatalkan pernikahan kalian, aku bisa menggantikannya, Arra." Ucap Damaresh.
Jawaban apa itu, sedemikian tidak pentinganya ya perasaan Aura saat ini bagi Damaresh hingga ia masih bisa berkata sesantai itu.
"Tidak. Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah sudi menikah dengan bapak." Aura menjawab sarkas.
"Karna bapak tidak akan pernah bisa menjadi imam yang baik, dan bapak juga tidak pernah tau caranya untuk menjadi imam yang baik dalam keluarga."
tandas Aura lagi dengan tatapan sengit.
Ia menyampaikan apa yang dirasakannya saat ini, berikut penilaiannya tentang seorang Damaresh Willyam sejauh ini.
Tapi siapa sangka jika ucapannya itu sangat membakar jiwa laki-laki seorang Damaresh dan membuat harga dirinya yang sangat tinggi selama ini terjun bebas ketempat yang teramat rendah sekali.
Lelaki itu bangkit dari duduknya, berdiri mensejajari Aura, menatap gadis itu tajam. Tak ada lagi sikap santai yang di tunjukkannya dari tadi.
"Harusnya semalam aku benar-benar menidurimu ya Arra, agar aku tak perlu mendapat tuduhan yang tak benar seperti ini." ucapnya tajam.
"Siapa yang percaya kalau bapak tak melakukan apa-apa pada saya semalam, buktinya bapak membius saya," Jawab Aura tak kalah tajam.
"Dengar ya Arra, kalau aku memang menginginkan tubuhmu, aku tidak perlu membiusmu. Masih ada banyak cara untuk membawamu ke atas ranjang dengan dasar suka sama suka. Dan satu hal lagi, kau bilang tidak akan pernah sudi untuk menikah denganku kan..Aku terima tantanganmu, nona.
Kita lihat nanti, siapa yang akan bisa menikahimu. Akhtar, ... atau, Aku."
Aura langsung bungkam. Sekujur tubuhnya mendadak mengeluarkan keringat dingin. Tatapan tajam Damaresh terlebih ucapannya seakan menembus tepat di jantungnya.
Sedangkan Damaresh Willyam langsung berlalu keluar dari dalam kamar meninggalkan Aura yang masih berdiri mematung.
__ADS_1