
Tiba di London Heatrow Iphone di saku memperlihatkan getaran. "Hallo," sambutnya singkat.
"Di mana, Aresh?" suara tanya dari seberang.
"Om, Al?"
"Iya.
"Aku sudah di bandara, Om. Sebentar lagi, take off."
"Ok. Ditunggu secepatnya, Resh"
Usai panggilan telepon ditutup, Damaresh menghela napas pelan. 'Tumben, om Alarik menelepon hanya untuk mengatakan hal ini. Apakah ini ada kaitannya dengan Arra?' Batin Damaresh bergolak cepat, dan langkahnya pun bergegas. Membuat beberapa orang yang mengiringi, ikut mempercepat.
Tapi, perjalanan menuju private jet yang sudah menanti, tak semulus harapan di hati. Karena tiba-tiba saja ada sekelompok orang menghampiri. Dengan pergerakan yang rapi. Damaresh memicingkan mata merasa mengenali.
Benar saja, satu orang yang bertindak sebagai pemimpin di tengah-tengah mereka, melemparkan senyum penuh arti. "Aku sangat sedih, jika kau sampai melupakan aku, teman," ujarnya dengan menyeringai. Mungkin seringai itu adalah caranya tersenyum. Senyum dari seorang yang setiap saat selalu berkubang dengan kekerasan dan kemarahan. Senyumnya pun menakutkan.
Damaresh berdecak. "Untuk apa menghalangi jalanku?" Terlihat ada kekesalan di wajah suami Aura itu. Tapi tak tergambar ketakutan sama sekali. Padahal yang berdiri di depannya saat ini dengan pengawalan super ketat itu, adalah seorang Mafia yang paling ditakuti.
"Sampai aku berdiri di sini, aku sebagai utusan," Darel, ketua mafia itu menunjuk posisi berdirinya saat ini.
"Klienmu pasti seorang yang sangat penting sekali. Sampai bisa menjadikan seorang Darel sebagai utusan," cibir Damaresh.
"Jangan potong ucapanku, kawan! aku belum selesai." Darel menunjuk Damaresh dengan tongkat kecil yang ia pegang. "Sampai di sini aku sebagai utusan. Tapi sekarang ..." Darel memutus ucapannya dan maju beberapa langkah hingga lebih dekat pada Damaresh. "Aku sebagai seorang teman, yang ingin menemui bos Pramudya Corp, teman akrabku dulu di kampus," lanjutnya sambil kembali tunjukkan senyum. Eh bukan senyum tapi seringai seperti barusan.
"Apa kabar, Aresh." Keduanya saling berjabat tangan dan bahkan berpeluk hangat sekejap. Darel dan Damaresh memang berteman sejak masih sama-sama kuliah di Calivornia, beberapa saat silam.
"Kenapa buru-buru mau kembali, Aresh? apa kau takut padaku?" Darel menaikkan sebelah alisnya.
"Urusanku sudah selesai di sini."
"Urusan apa?"
"Mempertahankan apa yang sudah ku miliki," sahut Damaresh.
Darel tertawa keras tapi hanya dalam hitungan detik saja. "Kau menjawab apa yang ingin kutanyakan. Sepertinya aku perlu berterima kasih padamu, Resh. Kau membuat pekerjaanku lebih mudah."
"Ya. Aku membantumu agar pekerjaanmu lebih cepat selesai."
__ADS_1
"Jadi itu alasanmu?"
"Ya. Aku tak akan mengusik BLC Corp pusat, jika mereka tidak mengusikku duluan. Aku di sini hanya mempertahankan BLC Corp London, yang memang sudah jatuh ke tangan Pramudya sejak beberapa waktu lalu," terang Damaresh.
Damaresh tahu, kalau Darel datang kepadanya itu sebagai utusan dari pemilik BLC Corp pusat. Tanpa mereka ketahui, kalau Darel dan Damaresh adalah sepasang teman yang cukup akrab. Maka inilah yang terjadi dalam pertemuan mereka.
Tak sebagaimana bertemunya seorang ketua mafia dengan calon mangsa. Tapi bertemunya dua orang teman lama yang sudah sekian lama tak pernah bersua.
"Ok aku paham, Damaresh tidak akan mengusik kalau tidak diusik duluan," cetus Darel. Ia maju satu langkah, untuk menepuk pundak Damaresh. "Pulanglah! sepertinya kau sudah tak dapat menahan rindu pada istrimu ya," kelakar Darel tapi tak disertai dengan ekspresi yang turut mendukung.
"Sepertinya istriku akan melahirkan," tukas Damaresh. Dan perasaannya menjadi tidak enak sekarang.
"Ini kabar baik, Aresh!" seloroh Darel. Mafia kejam itu turut merasa bahagia untuk kebahagiaan temannya. "Mungkin suatu saat, kita bisa menjodohkan anak kita, Aresh," cetus Darel. Entah kalimat ini hanya sekedar bercanda atau memang keinginan yang sebenarnya.
"Jika kau dan anakmu bisa lolos uji kelayakan yang akan dilakukan oleh istriku," jawab Damaresh.
"Uji kelayakan?" Darel tampak ingin tertawa. "Berupa apa saja itu?" tanyanya kemudian.
"Harus bisa jadi imam Sholat. Hafal Alquran, dan mampu membaca kitab kuning," jawab Danaresh.
"Aku pilih ujian membawakan diamond termahal di dunia saja, Aresh," kata Darel yang merasa segala hal yang disebut Damaresh adalah hal asing baginya.
Di rumah sakit milik Pramudya Corp, Jakarta.
"Aresh, Aresh sudah dihubungi?" tanya Claudya panik.
"Sudah kak. Dia sudah take off," sahut Alarik.
"Berapa jam dari London ke Jakarta? sekitar 14 jam ya? Ya Tuhan." Claudya meraup wajahnya berkali-kali. "Apa tak bisa perjalanan itu dipangkas jadi dua jam saja," ucapnya lagi. Sebentuk tanya yang entah diajukan pada siapa. Dan tak ada yang menjawab karena secara logika itu jelas tidak mungkin.
Claudya mondar-mandir sambil mencoba menelepon seseorang, tapi sudah berkali-kali dan selalu berakhir dengan decak kesal. "Dia gak bisa dihubungi," ucapnya seraya menghempaskan napas.
"Siapa Kak?" tanya Alarik.
"Aresh," sahutnya. Beberapa orang jadi saling pandang, karena sudah jelas barusan, saat Alarik mengatakan kalau Aresh sudah terbang dari London ke Jakarta.
"Aresh, pasti sedang di pesawat, Tante." Nola yang mengambil alih memberi jawaban.
"Kak, Clau." Cristhine menghampiri Claudya. "Kakak tenang. Kalau, Kak Clau panik seperti ini, Arra bisa ikut panik juga. Ingat kata dokter, kita harus bisa menransfer ketenangan pada Aura."
__ADS_1
"Ah iya benar." Claudya mengangguk dan segera menghampiri Aura yang duduk diam dengan wajah pucat. Sherin duduk di dekatnya sambil sesekali mengusap-usap tangan sahabatnya itu.
"Sayang, caecar saja ya, gak usah melahirkan secara normal," bujuk Claudya. Untuk kesekian kalinya ia berusaha bernegosiasi dengan keputusan menantunya itu. Dan hasilnya Aura menggeleng pelan.
"Sayang, mommy kawatir, kalau kamu melahirkan secara normal, Nak," kata Claudya panik. Yang mau melahirkan siapa? yang panik siapa?.
Aura hanya kembali menggeleng saja.
"Momm, biarkan! kita harus hargai keputusan Aura." Airlangga turut bicara setelah melihat interaksi antara menantu dan mertua itu.
Dokter Prita, dokter spesialis obgyn masuk ke dalam ruangan. Memeriksa sekali lagi kondisi Aura.
"Bagaimana, Dokter?" William yang mengambil alih bertanya.
"Ee, Maaf, Tuan William. Ini sebenarnya masih cukup lama, perkiraan kami sekitar besok subuh ..."
"Apa!" William terhenyak. Membuat kalimat dokter Prita terputus begitu saja.
"Masih besok? jadi maksudmu, cucuku harus kesakitan begitu lama!" berang William.
Dokter Prita langsung pucat dan menunduk. Sebenarnya memang, Aura hanya mengalami sedikit kontraksi, hal biasa dialami oleh wanita hamil menjelang melahirkan. Namun, secara medist kontraksi itu masih termasuk jenis kontraksi palsu, karena volumenya yang tidak teratur dan tidak menyebabkan servick berubah. Dan seperti yang diprediksi oleh dokter Prita, saat-saat melahirkan masih diperkirakan besok.
Tapi keluarga William saja yang terlalu panik, segera memutuskan membawa Aura ke rumah sakit. Padahal, dia bisa tetap menunggu di mansion dulu, sampai mengalami kontraksi asli.
Ya, sudahlah, begitulah memang keluarga Pramudya. Biarkan saja mereka dengan aksinya.
"Aku gak mau tau ya, Dokter. Segera kau buat cucuku tidak merasa kesakitan dan bisa melahirkan secepatnya!" titah William pada dokter Prita.
"Ee ..." Dokter hanya bisa menahan napas. Permintaan William itu memang bukan hal yang tak bisa dilakukan, tapi juga tak bisa diputuskan begitu saja.
"Kakek." Aura mengeluarkan suara. membuat semua mata teralih kepadanya, begitu juga dokter Prita. "Biarkan saja semuanya berlalu sesuai prosesnya yang alami. Rasa sakit itu pasti dialami oleh setiap wanita yang mau melahirkan. Di sini perjuangan kami untuk menjadi seorang ibu. Kalau, Kakek meminta seperti itu, sama saja dengan menentang hukum alam." Aura berucap dengan penuh kebijaksanaan.
"Tapi Aura ..."
"Aku kuat, Kakek. Aku akan melewati semuanya. kalian hanya perlu berdoa untukku."
William akhirnya mengangguk.
"Dan lagi." Aura mengusap-usap perut besarnya. "Anakku ini gak akan keluar, sampai Aresh datang," ucapnya sepenuh keyakinan.
__ADS_1