Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
Extra 10


__ADS_3

Pemandangan yang tersaji di hadapannya tidak bisa disebut sebagai gambar dua dimensi. Tapi seperti kolaborasi dari dua hal yang sangat jauh berbeda, lalu bersatu dalam satu wadah dan secara bersama-sama. Amazing, mungkin begitu, kalau boleh dibilang.


Stefan saja yang berdiri di samping Damaresh memicingkan mata melihat kolaborasi indah itu. Mungkin dia sedang mengagumi semuanya yang diibaratkan karya seni, adalah seni yang cukup langka. Atau kalau diibaratkan kolaborasi musik, itu seperti musik Rock dan gambus yang dipadu secara bersamaan.


Apa sih, pemandangan yang tersaji di depan Damaresh dan Stefan sekarang??


Ceritanya begini, hari ini Damaresh datang ke kantor terlambat satu jam dari biasanya. menapaki lantai mewah depan ruangan, Sekretarisnya memberitahukan kalau ada tamu dari BLC Corp pusat yang sedang menunggunya di dalam sana.


Damaresh yang tak pernah punya stok senyum pada selain istrinya, menanggapi laporan itu dengan anggukan singkat dan wajah datar. Setelahnya ia teruskan langkah ke dalam diikuti oleh Stefan.


Dalam ruangannya, pemandangan tak biasa itu yang kini tersaji di depan matanya. Pemandangan langka itu terlihat pada dua orang tamunya sekarang. Satu seorang laki-laki berperawakan tinggi putih dengan busana kerja kelas wahid--jika dinilai dari jenis kain, siluet dan modelnya--yang membalut tubuh tegap lelaki itu. Gagah dan rapi, selayaknya pakaian kerja seorang executive muda yang bekerja di balik meja.


Dan bersamanya, seorang wanita cantik, yang biasa dikata cantik luar biasa--entah cantik itu asli, atau hanya rekayasa sapuan kuas make-up semata--dengan pakain yang dikenakan. Ahh, kalau semua pembaca melihatnya pasti akan mengurut dada.


blous yang digunakan sangat tipis dan membalut tubuhnya dengan ketat. Tak hanya itu saja, belahan di bagian dada sungguh menodai pandangan mata. Dan rok mini yang dipakainya, bukan saja sekedar berukuran mini, tapi masih ditambah belahan yang melewati batas kewajaran.


Stefan terlihat kebingungan, mau menyebut wanita ini sebagai sekretaris lelaki itu, rasanya terlalu dipaksakan, karena penampilannya bahkan lebih gila dari wanita yang biasa bertemu dengannya di club malam.


Tapi Damaresh tak menatap secara berlebihan, bahkan hanya sekilas saja netranya berlabuh pada wanita yang mengexplor tubuhnya secara besar-besaran itu, selebihnya Damaresh hanya melihat pada lelaki yang datang bersamanya saja.


"Kami ingin menawarkan kerja sama, yang pastinya akan sangat menguntungkan bagi pihak Pramudya," ucap lelaki itu setelah basa-basi yang berdurasi lima menit, telah berlalu.


"Setiap kerja sama itu menguntungkan kedua belah pihak, kalau hanya sepihak saja, itu namanya hadiah, atau pembodohan, bukan kerja sama," tukas Damaresh. Sebuah ucapan yang membuat lelaki itu langsung merasa salah ucap barusan.


"Kalau begitu, saya menyebutnya hadiah saja," ralat lelaki itu.


"Ok, hadiah apa yang bisa diberikan ole BLC pusat pada saya? dan apa timbal balik yang harus saya berikan atas hadiah tersebut?"


"Untuk hal itu, biar miss Emily yang menjelaskan." Lelaki itu memberi isyarat pada wanita yang berada di sampingnya. Wanita yang segera mengangguk dan senyuman pun terbit di wajahnya yang super putih dan super mulus itu.


Stefan memicingkan mata mendengar itu, terlebih saat lelaki itu berpamitan untuk pergi lebih dulu. Tapi Damaresh tak menampakkan ekspresi apa pun, ia tetap dengan wajah datarnya, yang kendati datar, sangat elok di pandangan mata. Demikian pasti menurut penilaian Emily, hingga wanita itu seakan enggan mengalihkan rotasi matanya dari seraut wajah memesona bak pahatan patung dewa.


"Saya menganggap ini lebih dari hanya sekedar keberuntungan, bisa mendapat kepercayaan dari perusahaan untuk bertemu, Anda, Tuan." Kalimat basa-basi pertama yang dipilih oleh Emily untuk mulai mencairkan suasana yang tetiba saja kaku, bak bongkahan es batu.


"Waktu berbasa-basi sudah lewat," tukas Damaresh menanggapi ucapan itu. Emily tercekat, spontan saja sebaris kalimat terucap dalam benak. 'Si tampan yang bermulut tajam'.


"Mm, bisa hanya bicara berdua saja, Tuan?"


"Baiklah." Damaresh segera bangkit. "Stefan, kau mewakiliku untuk bicara dengan nona ini ya!" titahnya pada Stefan


yang mengangguk kaku. "Aku masih ada hal yang perlu ku urus," lanjutnya.


Damaresh segera hendak keluar dari ruangannya. Gegas Emily bangkit menghadang langkahnya. "Saya ditugaskan untuk membicarakan bisnis dengan Tuan Damaresh, langsung. Bukan melalui perwakilan," ucapnya.

__ADS_1


"Stefan juga laki-laki," kata Damaresh.


Perkataan yang sepintas lalu tidak sinkron dengan apa yang diucapkan Emily, hingga wanita itu meretas tanya. "Apa maksudnya?"


"Masih perlu aku perjelas? kau tidak datang dengan urusan bisnis, tapi datang sebagai seorang perempuan, pada seorang laki-laki," cetus Damaresh dengan tatapan tajam.


"Tuan sedang menuduhku?"


"Bila ucapanku ini berdasar bukti, sudah bukan tuduhan lagi namanya, bukan?"


"Baik, Tuan punya bukti apa?" tantang Emily.


Damaresh segera mendekat pada wanita berpakaian super ketat dan terbuka di sana-sini itu, kian dekat dan sangat dekat, hingga mengikis jarak. Emily tak menghindar sama sekali, bahkan terlihat kalau dia memang sedang menanti.


Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Damaresh memasukkan tangannya ke dalam baju wanita itu di bagian d4d4.


"Aww, Tuan." Emily menjerit penuh sensasi. "Jangan main kasar dulu, aku bisa memenuhi h4sr4tmu dalam bentuk apa pun, tapi jangan kasar dulu," ucapnya dengan suara di buat se3rotis mungkin, ditambah kedipan mata menggoda.


Damaresh mendengkus, ia mengangkat tangannya ke hadapan wanita itu. Tangan yang baru saja dengan nakal masuk ke balik baju Emily. Dan lihat apa yang ada di tangan itu kini. "Alat penyadap," kata Damaresh sambil memerlihatkan benda kecil berwarna hitam. Sebuah alat penyadap yang juga berfungsi sebagai recorder.


Wajah Emily langsung pias, dan sapuan make-up tebalnya menjadi tak berarti, ketika wajah itu terlihat pucat kini.


"Kalian sungguh tidak bisa bermain cantik," cibir Damaresh. "Mengirimkan wanita untuk menggoda rivalnya itu adalah strategi lama yang sudah tidak terpakai lagi di jaman sekarang," lanjutnya yang sukses membuat Emily terdiam.


"Mungkin aku perlu mengajarimu bagaimana caranya untuk bekerja secara profesional." Damaresh mengitari tubuh Emily dengan pandangan lurus. Caranya ini membuat wanita itu menelan salivanya diam-diam.


"Kembalilah pada yang menyuruhmu! suruh dia menyusun strategi yang lebih canggih untuk menghadapiku!" usir Damaresh pada wanita itu.


Tanpa banyak kata, Emily segera meraih tasnya yang tergolek di atas meja, dan gegas keluar dengan tanpa kata.


Tangan Emily sudah meraih handle pintu, ketika panggilan Stefan menghentikan langkahnya. "Tunggu!"


Lelaki itu menghampiri Damaresh "Penyadapnya, Pak," pintanya. Damaresh pun memberikan benda hitam kecil itu pada Stefan.


Stefan memberikan benda itu kembali pada Emily. "Agar kau tak perlu banyak kata untuk menjelaskan. Suruh saja bosmu mendengarkan rekaman yang ada di sini!"


Emily tak menolak solusi yang diberikan oleh Stefan. Wanita itu teruskan langkah dengan membawa alat penyadap itu, sekaligus membawa rasa malu. Kalau ia masih punya rasa itu.


Stefan dan Damaresh beradu tatap, sebelum tawa mereka menyeruak dalam durasi yang tak terlalu singkat.


BLC Corp pusat dalam posisi bak kebakaran jenggot, karena mendapat serangan bisnis yang terduga dari Pramudya Corp. Setelah database perusahaan mereka diretas oleh Alex, dalam dua hari sudah puluhan langkah bisnis mereka yang dipatahkan oleh Damaresh dan team.


Pihak BLC Corp segera mengetahui apa yang terjadi, karenanya mereka menyudun strategi untuk melawan Damaresh. Sayangnya strategi yang mereka pakai, bukan balik menyerang dalam hal urusan bisnis, tapi mengirimkan kupu-kupu malam yang ditugaskan untuk membawa Damaresh terlena dan terbang. Dan setelahnya sang kupu-kupu akan menguras informasi rahasia perusahaan.

__ADS_1


Sayang disayang, rencana gagal total, karena segera ketahuan sebelum aksi dilaksanakan.


Terdengar panggilan masuk di ponsel Damaresh. Lelaki itu segera menerimanya, kala tahu kalau itu telepon dari istrinya. "Arra?"


"Aresh, kau ada di kantor sekarang?"


"Ya."


"Aku tak peduli, teleponku ini akan mengganggu pekerjaanmu atau tidak," ucap Aura di seberang sana. Terdengar dengan nada tergesa.


"Ada apa, Arra? apa sudah waktunya?" tanya Damaresh cepat.


"Bukan. Persaanku sangat tidak nyaman. Dan aku selalu teringat padamu. Seperti ada hal tak baik yang sedang mengincarmu," terang Aura.


"Berkat doamu, aku sudah terselamatkan dari hal yang tak baik itu, Arra."


"Alhamdulillah ... ja-jadi apa yang terjadi, aresh?"


"Tak terjadi apa-apa, justru aku ingin memberikanmu kabar baik."


"Kabar baik apa?"


"Aku berhasil menyelamatkan BLC Corp."


"Wahh, Alhamdulillah. Aku selalu yakin kau bisa. Aku senang sekali Aresh" Suara Aura terdengar sangat antusias di seberang sana.


"Besok, aku akan kembali ke Indonesia, sampaikan pada putraku ya!"


"Iya. Akan kusampaikan."


"Firasat Arra, sangat tajam," monolog Damaresh, setelah panggilan telepon ditutup.


*******


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mungkin 3 bab lagi selesai, tentunya setelah anaknya Aresh dan Arra keluar.


Adakah yang bisa menebak, anak Aresh ini, laki apa perempuan?


Oh ya, sekedar mengingatkan, mampir ya ke cerita CINTA TAK BERTUAN.. Meski genre ceritanya gak sama, dan alurnya cenderung lambat, tapi gak kalah seru juga dengan cerita ini. Satu hal lagi, Aresh dan Arra juga ada di sana..


Sekarang Cinta Tak Bertuan, tampil dengan wajah baru..

__ADS_1



Aku tunggu kedatangan kalian...


__ADS_2