
Lelah dan lega bercampur jadi satu dalam dirinya, lelah karna aktifitasnya yang sangat padat sedari tadi, dan lega karna sebuah masalah sudah teratasi, setelah ini Yeslin tak akan menjadi satu dari sekian hal yang harus ia hindari, bahkan bisa dipastikan kalau wanita itu tak akan berani menampakkan dirinya lagi.
Satu hal yang sangat ingin dilakukannya sekarang adalah menemui Aura dikamarnya, meski sebenarnya tubuh fisiknya sudah berteriak-teriak minta istirahat tapi rasanya tak lengkap kalau harus melewati saat tanpa melihat wajah cantik Aura meski hanya sesaat.
Tapi Damaresh tak menemukan gadis itu dikamarnya, dan di beberapa bagian dari vila yang biasanya menjadi tempat favourit Aura, juga tak didapatinya, dari keterangan para pelayan yang ditanyainya, tak ada yang memberi jawaban pasti dimana Aura berada.
Damaresh bergegas menuju kamarnya untuk mengambil ponsel, dan seketika langkahnya terhenti, karna menemukan pintu kamarnya sedikit terbuka, padahal tak ada siapapun yang berani memasuki kamar itu tanpa seijinnya. Beberapa dugaan kini mulai bercokol di kepalanya.
Gegas dan waspada pria tiga puluh tahun itu segera melihat kedalamnya, dan segala kecurigaan serta kewaspadaan pun luruh begitu saja, setelah melihat apa yang terjadi di dalam sana.
"Apa disini tidak ada ART?"
Hampir lima menit Damaresh menyaksikan hal apa yang dilakukan Aura di dalam kamar itu. Ya..Aura yang di carinya dengan cukup panik karna seakan menghilang tanpa pesan ternyata tengah berada di kamar Damaresh, ia tengah merapikan beberapa baju dan melipatnya rapi, lalu merapikan tempat tidur dan membereskan beberapa berkas yang berserakan di atas meja, hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang asisten rumah tangga, begitu pikir Damaresh.
"Sebenarnya tadi memang mereka yang mau membersihkan semua ini, tapi aku melarangnya," jawab Aura santai, ia tak terlihat terkejut dengan kehadiran sang empunya kamar. Tangannya terlihat terampil menuntaskan pekerjaannya.
"Kenapa?"
Damaresh melangkah menghampiri dan berdiri dekat disamping gadis itu.
"Karna aku yang ingin mengerjakannya,"
Sahut Aura yang masih dengan cekatan menyelesaikan semuanya.
"Kau istriku Arra, bukan ART, jangan melakukan apa yang bukan menjadi tugasmu!"
"Tapi melayanimu adalah salah satu kewajibanku."
Aura lalu menoleh pada Damaresh setelah semua pekerjaannya beres. Netranya teduh menyapu wajah rupawan di depannya itu, suaranya mengalir merdu seiring raut wajahnya yang sendu. "Terima kasih untuk semuanya."
Gadis itu mendekat, mengikis jarak, dan kedua tangannya melingkari pinggang
Damaresh seiring kepalanya dan bagian tubuhnya yang lain ikut menyandar pada tubuh tegap itu, Aura merangkulnya erat.
"Aku minta maaf, Aresh. Aku telah salah menuduhmu," ucapnya terdengar lirih, pelan tapi pasti.
Semua yang terjadi di ruang tamu tadi, tak ada satupun yang terlewat dari perhatian Aura, dari sejak kedatangan Yeslin dengan segala aksi protesnya pada Damaresh, sampai wanita itu pergi bersama satrya dengan kehilangan muka, Semua dilihat dan didengar jelas oleh Aura, membuat gadis itu mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi.
Damaresh segera membalas pelukan gadis itu dengan erat, bahkan wajahnya segera menunduk menciumi kepala Aura. "Aku senang jika kau telah tau semuanya."
Aura mengangkat wajahnya menatap Damaresh. "Maafkan aku."
"Sudahlah, semuanya sudah selesai."
"Kau belum menjawab permintaan maafku, Aresh."
Damaresh tersenyum lalu menunduk mencium kening Aura lama, setelahnya ia mempertemukan ujung hidungnya dengan hidung mancung Aura.
"Ya, aku memaafkanmu," ucapnya serak dengan hembusan napas hangatnya menyapu wajah Aura.
"Terima ka--"
Aura tak dapat menuntaskan ucapan terima kasihnya karna sepasang benda kenyal Damaresh mendarat sempurna di bibirnya dan mengulum lembut. aura semakin mengeratkan tangannya di pinggang Damaresh ketika sapuan lidah hangat lelaki itu menguasai bibirnya dengan tanpa terlewat walau hanya satu inchi saja.
Namun hanya sekejab, Damaresh segera mengahiri semuanya dan memeluk erat tubuh Aura. "Kau sudah makan?"
"Sudah," jawab Aura dengan memejamkan mata, sambil mengatur debar-debar tak menentu di dada akibat ulah Damaresh baru saja.
__ADS_1
"Sudah sholat ....."
"Sholat Isya'?" Aura cepat menyambung pertanyaan lelaki itu.
"Ya."
"Sudah, tadi. Kau sendiri bagaimana?"
Keduanya masih betah dalam mode berdiri saling berdekapan.
"Aku merasa sedikit lelah,"
"Sebaiknya kau segera beristirahat,"
Ucap Aura dan mulai merenggangkan pelukannya.
"Aku masih ingin mandi dulu."
"Berendam saja pakai air hangat, agar badanmu segar kembali," usul Aura yang langsung mendapat persetujuan dari Damaresh.
"Aku bantu nyiapin, boleh?" tanya Aura.
"Apa tidak merepotkan?"
Aura menggeleng dan segera bergegas ke kamar mandi, ia menyalakan air di dalam bahthub, mengatur suhunya dan setelah di rasa cukup, ia segera memberitaukan Damaresh yang ternyata telah memakai handuk mandi.
"Aresh, airnya sudah siap."
"Terima kasih Arra."
"Ya, aku akan kembali ke kamarku," ucap Aura dan segera memutar tumitnya untuk berlalu.
"Ya," panggilan Damaresh itu membuat Aura seketika menghentikan langkah.
Damaresh mendekatinya dan memegang tangannya lembut.
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Boleh," sahut Aura segera.
"Temani aku berendam!"
"Ee," Aura langsung menunduk dengan raut wajah tegang, dan untuk sesaat tak ada jawaban yang keluar dari bibir mungilnya.
"Kau tidak mau?"
"Bu-bukan begitu," gugup Aura dan segera terdongak menatap Damaresh.
"Apa kau takut?" tanya Damaresh tanpa melepaskan tatap.
"Tidak. Aku hanya--" Aura tak melanjutkan ucapannya, bahkan segera menunduk kembali.
"Apa kau merasa malu?"
"Iya," jawab Aura jujur. Tentu saja ia sangat merasa malu, berendam itu aktifitas yang dilakukan tanpa memakai baju, Aura merasa sangat malu untuk berada dalam satu frame dengan pria itu
dalam keadaan begitu.
__ADS_1
"Kenapa harus merasa malu, bukankah kita ini pasangan halal? Kau sering mengatakan itu padaku."
Aura kembali menunduk, ia tak punya jawaban lagi atas ucapan Damaresh. Selanjutnya ia biarkan lelaki itu menuntun tangannya menuju ke kamar mandi dan membimbingnya duduk di tepi Bahthub yang sudah terisi air hangat.
"Aku bantu melepaskan bajumu ya?"
Aura terlihat menahan napas kemudian dengan ragu-ragu dia mengangguk sambil segera tundukkan kepala dengan wajah pucat.
Damaresh memulainya dengan melepas penutup kepala Aura dan melepaskan ikatan rambutnya hingga surai hitam bak sutra itu tergerai indah menutupi pundak Aura. Damareh meraih beberapa helainya dibawanya pada hidung dan dihirupnya, aroma strawberry segera menguar di penciumannya.
Selanjutnya tangannya bergerak membuka risleting baju Aura yang saat itu mengenakan pakaian panjang sejenis abaya sehingga dengan satu tarikan saja
baju yang membungkus tubuhnyapun terhempas.
ribuan bahkan mungkin jutaan kata pujian telah berbaris rapi dalam kepala Damaresh siap untuk diucapkan melihat keindahan tubuh Aura di depan matanya, tapi lelaki itu lebih memilih menuntaskan pekerjaannya, apalagi melihat wajah Aura yang tertunduk kian dalam dan semakin tegang, Damaresh sungguh tak ingin menyiksa gadis itu dalam rasa tak nyaman yang terlalu lama.
Damaresh terus melepas dalaman Aura dan segera mengangkat tubuh polos istrinya itu kedalam bathtub, dirinya sendiri segera bergabung setelah melepaskan handuknya.
Damaresh memposisikan diri dibelakang Aura dengan kedua tangan melingkari pinggang rampingnya, dagunya bertumpu pada pundak gadis itu. Aura merasa sangat bersyukur dengan Damaresh duduk dibelakangnya, sehingga dia tak dapat melihat semua
bagian tubuhnya.
"Arra."
"Ya."
Aura menjawab dengan suara yang hampir tak kedengaran.
"Kau merawat tubuhmu dengan sangat baik,"
sebentuk pujian sederhana diucapkan Damaresh.
"Itu semua pemberian Allah, aku hanya merawat dan menjaganya sebagai bentuk rasa syukur atas karunianya," jawab Aura dengan sesekali mengatur napasnya akibat debaran tak menentu membuat napasnya seakan memburu.
"Pasti gadis sepertimu ini yang disebut sebagai wanita saliha," puji Damaresh lagi.
"Amiin," lirih Aura.
"Aku sangat mengaguminya."
"Apa?"
"Semua yang ada padamu, sangat indah." Damaresh mencium pundak gadis itu lama, terasa tubuh Aura semakin tegang karnanya.
"Kepada siapa kau akan memberikan tubuh indahmu?"
Sepertinya ini pertanyaan jebakan. pintar sekali Damaresh mencitakan suasana romantis dalam kelembutan, padahal aslinya dia adalah seorang yang sangat kaku, tapi di depan Aura seolah menjelma menjadi pria yang memiliki kelembutan seribu.
Bahkan Damaresh juga sempat tajkub dengan dirinya sendiri dan sikapnya pada gadis itu.
******
************
*****************
Skip dulu dehhh. kalau diteruskan, ini pasti akan sangat panjanggg..nanti yang baca jadi bosann..
__ADS_1
Tenang-Tenang.. jangan marah dulu, aku pasti lanjutkan kok, kasian juga Aresh dan Arra kalau terlalu lama berendam begitu.
Hanya saja, ini kan hari senen, ada yang mau kasih vote gak..hihi..(ngarep banget aku mah).