
Ada yang berbeda di mansion kediaman keluarga besar Willyam Pramudya hari ini. Suasana yang biasa sepi dan dingin, kini terlihat hangat dan ramai. Setidaknya hal itu tergambar dari ruang makan keluarga dimana seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama setelah kedatangan sang maha raja, Tuan Willyam Pramudya, komisaris sekaligus owner Pramudya Corp.
Lelaki berusia di atas enam puluh tahun itu nampak masih gagah dengan gurat-gurat ketampanan yang masih tersisa jelas di wajahnya. Ia duduk di kepala meja menyantap hidangannya.
Di samping kanannya, duduk Damaresh Willyam bersebelahan dengan Nyonya Claudia. Lalu jarak satu kursi dari Claudia, duduk Antoni Willyam, laki-laki yang memiliki wajah sebelas duabelas dengan Edgard. Berseberangan dengan Damaresh, duduk Edgard Willyam didampingi istrinya, Nola. Lalu Nyonya Cristine, ibu dari Edgard dan Antoni.
Seperti diketahui bersama, Willyam Pramudya memiliki
tiga orang anak. Claudya Willyam, ibunda Damaresh.
Alan Willyam, ayah dari Edgard dan Antoni, lalu Alarick Willyam putra bungsu yang tak ditemukan keberadaannya dalam jajaran keluarga besar Willyam hari ini. Bahkan menurut kabar putra bungsu Willyam Pramudya itu sudah menarik diri dari nama besar keluarga Willyam karena sesuatu hal.
Jadi, tidak ada anak perempuan dalam keluarga besar Willyam Pramudya, semuanya laki-laki yang sama-sama memiliki ketampanan di atas rata-rata terutama Damaresh Willyam, lelaki yang lebih banyak menutup mulutnya saat ini ketimbang keluarganya yang lain, yang sibuk menjilat Willyam Pramudya dengan puji-pujian tak penting.
Wajar bukan, jika semuanya ingin mendapatkan perhatian dari sang empunya kekuasaan, siapa tau dengan itu dapat tambahan jumlah kepemilikan saham di Pramudya Corp atau setidaknya tambahan aset di bidang yang lain. Ah lagi-lagi ujung-ujungnya uang.
Namun seberapa banyak, mereka menarik perhatian Willyam Pramudya, dalam hati, lelaki itu sudah menobatkan Damaresh Willyam sebagai putra mahkota kerajaannya. Dikarenakan banyaknya keunggulan yang dimiliki Damaresh ketimbang saudaranya yang lain, disamping sebagaimana sesumbar Damaresh dulu pada Edgard kalau dirinya adalah "tambang emas" keluarga besar Wilyam Pramudya. Maka jelas jika perhatian Willyam lebih tercurah pada Damaresh, meskipun tak sepenuhnya mengabaikan dua cucunya yang lain.
"Aresh, kau sendiri bagaimana?" Willyam mengalihkan pertanyaan pada Damaresh setelah beberapa jenak lalu ia mendengarkan laporan tak langsung dari keturunannya yang lain terkait kesibukan dan penghasilan yang mereka dapat tiap harinya, terlebih Edgard yang nampak sekali ingin cari muka lebih di hadapan kakeknya. Padahal kalau bukan karna belas kasih dari Damaresh, Edgard pasti sudah terdepak dari kursi kebesaran CEO Mediatama.
"Sebagaimana hasil pantaun, Kakek." sahut Damaresh singkat. Ia merasa tak perlu banyak perpanjang kata, karna ia tau kakeknya yang lebih memilih tinggal di luar negeri itu memiliki kamera pengawas tak kasat mata di semua lini bisnisnya di tanah air. Tak ada titik kecilpun yang akan luput dari pantauannya. Jadi untuk apa banyak berhambur kata, jika ternyata tuan Willyam sudah tau semuanya.
Mendengar jawaban cucu tersayangnya, Willyam mengeluarkan tawa khasnya sambil menepuk pundak Damaresh satu kali.
"Mungkin hanya satu yang perlu Papa ketahui tentang Damaresh," celetuk Claudya. Wanita yang selalu mengedepankan tampilan mewah dan berkelas itu terlihat sangat bersemangat ketika Willyam sudah mengarahkan pembicaraan terhadap putra tunggalnya.
"Apa Clau?"
"Sudah saatnya, dia menentukan calon pendamping hidupnya, betul kan Pa?" Claudya memberikan senyum ke arah putranya yang nampak kurang suka dengan topik pembicaraan yang dipilih Claudya sekarang.
"Aku setuju Tante Clau, sudah saatnya saudaraku ini mengahiri perburuan para gadis yang mengejarnya selama ini," sahut Edgard. Ia sengaja menampakkan sikap sok perhatiannya pada saudara yang sekaligus dianggap rivalnya dalam memperebutkan tahta di Pramudya Corp itu sejak dulu, hingga ia menyatakan kekalahannya beberapa waktu lalu ketika Damaresh menunjukkan taring tajamnya.
__ADS_1
Damaresh hanya melirik Edgard dengan ujung matanya.
"Betul Aresh, kau memerlukan pendamping untuk kesuksesan karirmu ke-depan," Nyonya Cristine ikut memberikan pendapatnya.
"Kalau menikah hanya dimaksudkan untuk mendukung kesuksesan pekerjaan, aku tidak membutuhkan itu Tante Crish," sahut Damaresh datar.
"Setuju. Selama ini Damaresh sudah sukses tanpa hadirnya seorang istri." tutur Antoni Willyam.
"Memang benar," timpal Claudia. "Tapi Aresh akan lebih sukses lagi kalau dia didampingi oleh wanita yang punya kemampuan untuk mendukung pekerjaannya."
imbuhnya lagi.
"Apa Kak Claudya sudah ada calonnya untuk Damaresh?" tanya Crishtine.
"Tentu ada, dan aku yakin Papa juga sudah pasti setuju dengan calon yang kuajukan ini," Claudya menggulirkan pembicaraan pada tuan Willyam untuk mendengar pendapat sang penentu keputusan dalam circle keluarga Pramudya itu. Namun tak ada tanggapan apa-apa darinya, kecuali tetap santai menyantap makanannya. Karna sabda Pramudya memang selalu tampil di akhir cerita, sebagai penanda kalau keputusan telah mencapai finishnya.
"Kenapa malah meminta persetujuan kakek dulu, Tante? harusnya kan ditanyakan pada Damaresh saja,"
"Damaresh akan patuh pada ibu dan kakeknya," jawab Claudya penuh percaya diri. Tentu saja ini juga sindiran buat Antoni yang berkali menolak untuk di jodohkan karna merasa tak tertarik, sedangkan wanita yang di sukainya justru di tolak mentah-mentah oleh keluarga besarnya karna tidak sepadan. Antoni lalu memutuskan tidak menikah saja ketika tak pernah lagi menemukan kata sepakat dengan keluarganya.
Tentu karna hal itu Antoni disebut tidak patuh pada aturan keluarga.
Lain halnya Edgard yang setuju menikahi Nola, wanita pilihan keluarga, sedangkan dalam dirinya tak pernah tumbuh rasa cinta pada istrinya. Jadilah Edgard mencari kesenangannya di luar rumah dengan mengencani beberapa wanita termasuk sekretarisnya di kantor.
Setali tiga uang dengan Nola yang juga tak pernah menginginkan Edgard sebagai suaminya, membuatnya juga melakukan hal yang senada. Tapi pasangan suami istri itu akan tampil bak pasangan paling bahagia di depan umum, dengan cara mereka yang piawai memakai topeng kepalsuan.
Hal ini bukan tak diketahui oleh keluarga besar Pramudya, namun mereka menutup mata menganggap itu adalah hal yang biasa. Kecuali Christin yang hanya bisa berharap dalam hati agar tragedi mendiang Alan Willyam,suaminya, tak akan terulang pada Edgard.
"Ahh aku tak sepenuhnya percaya," sahut Antoni menanggapi ucapan Claudya. Ia mengetuk-ngetukkan sendok makannya ke atas meja.
Caranya yang tidak sopan ini sempat dilirik oleh tuan Willyam.
__ADS_1
"Aku yakin Aresh akan memilih menikah dengan wanita
yang dicintainya," ucap Antoni lagi.
"Laki-Laki dalam keluarga besar Willyam Pramudya tidak boleh asal jatuh cinta. Karna mereka hanya akan jatuh cinta pada wanita yang sudah ditentukan oleh aturan keluarga." tandas Claudya. Dia memang berperan sebagai pembuat undang-undang dalam keluarga Pramudya yang tentunya undang-undang itu sudah di sah-kan oleh tuan Willyam. Atau justru atas isyarat tuan Willyam-lah undang-undang itu dibuat.
"Kalau jatuh cinta itu ada katalognya, mungkin bisa di arahkan seperti pemikirannya, Tante Clau itu,"
Antoni menyertai senyum miring dalam ucapannya.
Selama ini memang hanya dia saja yang punya hobby mendebat "Ibu Suri" kerajaan Pramudya itu. Beda dengan Edgard yang seperti enggan bersilat kata dengan Claudya, apalagi Damaresh yang justru merasa enggan untuk hanya sekedar bertemu saja dengan ibu kandungnya tersebut.
"Aku akan membuatkan katalog itu dari deretan wanita berkelas tentunya. jika diibaratkan barang, aku pilihkan dari brand ternama," kata Claudya penuh semangat.
"Jangan lupa yang pandai menghamburkan uang juga, Tante. Kalau laki-laki dalam keluarga Pramudya tidak boleh jatuh cinta, maka wanita yang datang dalam keluarga ini juga harus punya kemapuan shoping dan traveling di atas rata-rata. Karna memang seperti itu, kan potret rumah tangga dalam keluarga Pramudya ini," tukas Antoni di iring senyum mencibirnya.
Damaresh diam-diam menarik sudut bibirnya dengan ucapan Antoni itu, meski dia jarang bertegur sapa dengan sepupunya tersebut, namun pemikiran Antoni yang simple sering lebih disukai oleh Damaresh dari pada Edgard.
"Hmm," sang raja memberikan interupsi dengan dehemannya. Yang menandakan pembicaraan itu akan segera diputuskan.
"Apa pendapatmu dalam hal ini, Aresh?" tuan Willyam bertanya langsung pada Damaresh terkait keinginan ibunya itu.
"Masih banyak hal yang perlu aku fokuskan, Kakek."
sahut Damaresh santai.
"Baiklah, tapi jika suatu saat aku menilaimu sudah ada pada titik 'harus' maka, kakekmu ini tak menerima penolakan, Aresh!" pungkas tuan Willyam.
"Iya," jawab Damaresh singkat.
Seperti diberitaukan sebelumnya, ketika sang raja sudah bersabda, tak ada celah lagi bagi siapapun untuk membantah. Dan pembicaraan itu, selesai.
__ADS_1
Author: Part ini juga selesai.