
.
"Aku sudah membawa ratu mu dengan selamat sampai di sini, Aresh," ucap Anthoni. Ia masuk begitu saja ke dalam ruangan CEO Pramudya yang pintunya memang sedang terbuka lebar itu dengan tanpa permisi. Membuat ketiga orang yang sedang berada di sana serempak menoleh.
"Iya," itu tanggapan singkat dari Damaresh.
Ia segera berdiri dan mendekat, lalu meraih tangan Aura yang berdiri di samping Anthoni menarik gadis yang terdiam itu untuk berdiri di sampingnya sendiri.
"Boleh kau periksa, jika ada yang lecet," ledek Anthoni melihat sikap Damaresh yang sigap menjauhkan Aura darinya.
"Terima kasih atas bantuanmu," kata Damaresh datar.
"Tak masalah." Anthoni mengedikkan bahunya santai.
Tapi masih enggan berlalu.
"Apa lagi yang kau tunggu?"
Damaresh mengusir sepupunya itu halus.
"Aku menunggumu mengucapkan terima kasih dengan benar padaku, Resh." Anthoni melampirkan senyum menang dalam ucapannya. Tak berhasil membujuk Damaresh melalui Aura, tak ada salahnya jika langsung meminta pada Damaresh sendiri kan? "Tadi aku bermaksud meminta Aura untuk membujukmu, tapi dia sudah menolakku dengan tegas."
"Ckk" Damaresh berdecak singkat.
"Aku sudah menunggu selama dua minggu Resh, masak observasimu sampai selama itu?" Anthoni menyatakan sedikit protes.
"Ada yang lebih satu bulan, ada juga yang sampai setahun, terserah aku, kan?" sahut Damaresh dengan pongah.
"Tapi aku sudah menanamkan jasa padamu, kalau bukan karnaku, kau tidak bisa menggenggam tangan
Aura begitu," Anthoni memberi isyarat pada tangan Aura dan Damaresh yang saling bertaut, hal itu memang sudah menjadi sasaran pandangan Clara dan Kaivan dari tadi.
Anthoni menaik turunkan alisnya melihat Damaresh yang melabuhkan tatapan tajam padanya.
"Datanglah secara resmi, besok!" Akhirnya Damaresh memberi keputusan dengan titahnya.
"Ok.Jam berapa?" Anthoni terlihat sangat antusias.
"Clara akan menghubungimu!"
"Baiklah aku tunggu." Anthoni tersenyum puas.
"kalau begitu aku pamit,"
"Sebaiknya begitu," sambut Damaresh.
"Sampai jumpa Aura, aku berharap lain waktu bisa membantumu lagi," Anthoni melayangkan senyuman indah pada Aura. Gadis itu hanya mengangguk kecil diserta seulas senyum tipis.
"Ku pastikan setelah ini, Arra tidak akan pernah membutuhkan bantuanmu lagi," tandas Damaresh yang membuat Anthoni tergelak sebelum memutar tumitnya dan pergi.
"Arra, kau istirahatlah dulu di sana! sebentar lagi kami selesai." Damaresh menunjuk ke arah ruang pribadinya.
__ADS_1
"Iya, aku akan sholat ashar dulu."
Aura segera mengambil langkah menuju private room Damaresh itu setelah sempat menitipkan senyum pada Kaivan dan Clara.
*****
"Apa saja yang dikatakan Anthoni padamu?"
Mulut Aura yang menganga siap mengeluarkan jeritan langsung terkatup rapat, dan sepasang matanya yang hampir membulat sepenuh ukuran langsung kembali pada posisi normal. Gadis itu meraba dadanya yang mengeluarkan detakan keras dan kencang sambil mengalur napasnya yang sempat memburu, agar kembali teratur.
Pikirnya, pantulan bayangan hitam di dinding itu adalah penampakan mahluk tak kasat mata, ternyata
itu bayangan Damaresh yang tiba-tiba menyapanya.
"Kau mengagetkanku," gerutu Aura, yang sebenarnya ingin marah dengan cara Damaresh yang tetiba muncul di belakangnya tanpa suara di saat suasana ruang dalam temaram cahaya, dan bayangan Damaresh yang terpantul dengan warna hitam di dinding langsung mencetak pemikiran horor dalam kepala Aura.
"Aku tanya, apa saja yang dibicarakan Anthoni kepadamu?"
Mengabaikan expresi sangat terkejut sekaligus takut dari Aura yang tercetak jelas di depan matanya, Damaresh tetap fokus dengan pertanyaannya.
"Kenapa kau baru menanyakannya sekarang?" tanya Aura heran. Mereka telah melewati moment kebersamaan dari tadi, dari mulai pulang bersama dari kantor Pramudya Corp, dan makan malam bersama dengan menu lezat yang disajikan Dirga, tapi Damaresh tak sedikitpun mengungkit perihal Anthoni yang mengantar Aura pulang dari kantor yayasan L&D sampai ke kantor Pramudya.
Kenapa justru di saat tengah malam begini, di saat Aura terbangun dari tidurnya karna merasa kehausan dan gegas Aura mengambil minuman di kulkas, Damaresh tiba-tiba mengagetkannya dengan langsung bertanya seperti itu.
"Jawab saja, Arra!"
Damaresh tidak berada dalam kondisi sabar menunggu, expresi kelelahan tercetak jelas di wajah rupawannya. Mungkin lelaki ini belum sempat memejamkan mata sama sekali. Sungguh dia memang seseorang yang gila kerja, padahal kekayaannya hampir tak terhitung dengan bilangan matematika, mau dibuat foya-foya untuk 21 turunanpun tak akan habis karnanya.
"Seperti yang dikatakannya kepadamu, dia mencoba membujukku, tapi aku tak mau," jawab Aura, lalu lanjut menuangkan minuman ke dalam gelas dan menenggaknya setelah terlebih dahulu duduk di atas sofa.
"Harus ya Resh, aku di-interogasi tengah malam begini?" protes Aura. Sunggguh dia ingin melanjutkan tidur, meski kantuknya telah lima puluh persen hilang karna keterkejutannya barusan.
"Aku hanya tidak ingin Anthoni meracuni pikiranmu,"
tukas Damaresh dengan niat yang tak surut untuk terus bertanya.
"Tidak. Selain yang kukatakan barusan, dia tak mengatakan apa-apa lagi. Hanya dulu pernah ia membuat pikiranku terganggu dengan ucapannya tentangmu,"
"Apa itu?" tanya Damaresh cepat.
"Dia bilang, kalau suatu saat kau mulai menyukaiku, mungkin kau akan menghindarinya atau kau akan menolaknya, karna kau tidak akan pernah mau terikat secara perasaan dengan wanita manapun, termasuk wanita yang kau nikahi." Aura mengulang kata-kata Anthoni beberapa waktu lalu ketika bersamanya dalam lift di kantor Pramudya. kata-kata yang sempat membuat pikiran Aura tak karuan, terlebih ketika Anthoni mengatakan kalau keluarganya tak akan membiarkan Damaresh jatuh cinta pada wanita yang bukan dari yang mereka pilihkan.
"Kau percaya hal itu?"
Netra pekat Damaresh menyapu seluruh wajah Aura dengan tatapan penuh ingin tau.
"Entahlah, aku belum memutuskan apapun sebelum mendengarnya darimu," putus Aura.
"Anggap saja itu benar, Arra," tandas Damaresh.
Terlihat keterkejutan di wajah Aura dengan ucapan itu, tapi Damaresh tak berniat untuk menarik ucapannya kembali. Lelaki itu juga tak mengucapkan apa-apa lagi, sekadar memberi waktu pada Aura untuk memahami dan lalu kemudian menentukan sikapnya.
__ADS_1
Hening tercipta untuk beberapa saat lamanya. Hingga,
"Dalam cinta, aku hanya punya satu keinginan pada tuhan," ucap Aura dengan suara yang sedikit bergetar.
"Bahwa jika aku akan jatuh cinta, buatlah aku jatuh cinta pada lelaki yang halal untukku. Dan itu yang kurasakan sekarang padamu sebagai lelaki halal-ku, terlepas kau juga mau mencintaiku atau tidak." ungkap Aura dan setitik air matanya jatuh mengiring ucapannya.
"Meskipun sebenarnya bukan orang seperti aku yang kau harapkan untuk menjadi suami-mu?"
tanya Damaresh dengan tatapan lekat.
"Jujur, aku memang tidak pernah berkeinginan ataupun berharap untuk menikah denganmu. Tapi takdir yang telah mengatur semuanya ... hingga aku menikah denganmu," sahut Aura.
"Takdir?"
"Iya."
Damaresh tersenyum hambar. "Itu karna kau tidak tau
apa yang sebenarnya terjadi, Arra. Jika kau tau, apa sebenarnya yang menjadi penyebab kau menikah denganku, apa kau akan tetap menganggap ini takdir?
"Mak-Maksudmu?"
"Aku. Yang telah membuatmu gagal menikah dengan Akhtar. Aku yang telah menyuruh orang untuk mengirim foto-foto kita pada keluarga Akhtar,"
ungkap Damaresh dengan penuh penekanan di setiap kalimat.
"Bu-Bukankah itu semua, perbuatan pak Edgard?"
tanya Aura dengan gugup.
"Tidak. Itu adalah perbuatan orang suruhanku,"
tandas Damaresh.
"Apa?"
tetiba saja Aura merasakan dadanya sesak dan kemudian air matanya menganak sungai di wajahnya yang cantik nan lembut.
*******.
Terima kasih untuk yg tetap setia di sini.
untuk visual Damaresh dan Aura, aku belum menemukan yang tepat sesuai imajinasiku..
tapi aku akan tetap carikan..
kalau perlu aku akan istikhoroh dehh..
buat milih visual yang tepat..
dukungannya selalu kutunggu..
__ADS_1
toel jempol, love dan bintangnya..
aku maksa nihh..harus..wajib..