
"Kesehatan kakek, kembali menurun, sejak semalam, beliau kembali dirawat, Kak. Kakek minta Kak Aresh datang!"
Suara Naila langsung berakhir, menghilang tanpa permisi, untung saja semua kalimatnya sudah mencapai titik.
Semuanya bukan karna gangguan jaringan, atau Naila yang tetiba tersedak biji salak, hingga suaranya bak tercekat, tapi karna Damaresh yang memang mematikan sambungan, segera setelah Naila dianggap tuntas memberikan laporan.
Damaresh meletakkan smartphonnya begitu saja di atas meja, di samping piringnya, lelaki itu kembali menuntaskan sarapannya yang sempat terjeda, namun hanya beberapa suap saja, ia sudah tak berminat melanjutkannya. Terlebih ketika panggilan masuk di ponsel kembali meraung meminta perhatiannya.
"Kak, aku belum selesai bicara, kenapa sudah diputuskan?"
Itu suara Naila yang terdengar, ketika Damaresh memutuskan untuk mengangkat telfhonnya lagi.
"Aku sedang sarapan, Nai," kata Damaresh datar.
"Baiklah, maaf kak, aku menelfhon di saat yang gak tepat. jadi kapan kakak akan berangkat dari sana?
aku akan jemput kakak di bandara."
Suara Naila terdengar sangat antusiasnya.
Damaresh menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi yang ia duduki, sesaat netranya menangkap wajah Aura yang juga sedang menatapnya penuh tanya.
"Aku tidak bisa ke London, sekarang," putus lelaki itu.
"Tapi Kak, ini atas permintaan kakek, ini urgens sekali--"
"Edgard yang akan ke sana, Nai." Damaresh cepat memutus ucapan Naila sebelum selesai.
"kenapa kak Edgard? kakek minta Kak Aresh yang datang."
"Edgard juga cucunya, ia juga punya kewajiban membantu pekerjaan kakek di sana, bukan hanya aku,"
tandas Damaresh.
"Tapi ini bukan hanya semata tentang pekerjaan, Kak."
"Kelihatannya kau sangat tau banyak ya, Nai?"
pertanyaan bernada sindiran itu meluncur begitu saja dari Damaresh sebagai imbas dari kekesalanya pada Naila yang telah merusak mood nya pagi ini, di saat sarapan lagi.
"Baiklah kalau kakak belum bisa datang, aku akan sampaikan."
Dan Naila pun memutuskan sambungan tanpa di minta, setelah ucapan Damaresh sukses membuatnya memutus kata.
Damaresh meletakkan smartphone di dalam saku kemeja dan segera membawa tubuhnya berdiri
"Aku ke atas dulu," pamitnya pada Aura yang duduk berhadapan dengannya dan melakukan sarapan bersama.
Tanpa tunggu jawaban, Damaresh segera membawa tubuh gagahnya menghilang di balik sekat ruangan.
Meski ditinggal sendirian, Aura tetap melanjutkan sarapan hingga tuntas dan duduk menunggu di teras, karna hari ini, Damaresh yang akan mengantarkannya ke yayasan.
Sudah lewat hampir setengah jam dari jadwal keberangkatan, tapi Damaresh tak juga datang. Aura akhirnya memutuskan untuk menyusul dan menanyakan, jadi dan tidaknya dirinya diantarkan.
Tapi langkahnya terhalang oleh Dirga yang gegas menghampiri. "Mari Mbak Aura, saya antarkan ke yayasan," ucapnya segera.
"Disuruh Aresh, Pak?"
"Iya, tuan muda katanya ada pekerjaan mendadak."
Aura mengangguk pelan, dan segera memutar tumitnya keluar, di ikuti Dirga dari belakang.
*****
Seperti biasa setiap menjelang makan siang, Fadia akan selalu mendatangi ruangan Aura untuk mengajak makan siang bersama, baik melalui delivery order, atau mendatangi rumah makan terdekat.
Meski sudah menjadi istri seorang CEO ternama, tapi Aura tetap lebih suka menikmati makanan sederhana seperti yang biasa ia cecap selama ini dari sejak masih tinggal bersama ayahnya.
"Pesan saja ya, aku males keluar," usul Aura dengan raut lesu, dari sejak pagi hampir tak ada keceriaan yang
menghias di wajahnya, Pun juga tak berbanyak kata, hal itu terlihat jelas ketika mengikuti rapat barusan terkait rencana menyalurkan bantuan korban gempa di daerah Jawa Barat.
Aura yang biasa tampil dengan ide-ide cemerlangnya bila sudah berkaitan dengan misi kemanusiaan, jadi lebih banyak diam dan hanya jadi pendengar, sementara dalam maya pikirnya hanya rupa tampan sang suami saja yang berseliweran di sana.
__ADS_1
"Kok lemes, Ra? jangan-jangan--"
"Jangan-jangan apa?" tanya Aura cepat memutus kemungkinan dan dugaan yang akan dilontarkan oleh
Fadia tentangnya.
"Kamu hamil," tebak Fadia.
Aura hanya melabuhkan tatapan tanpa tanggapan, kalau hal itu benar, tentu ia akan sangat bersyukur sekali, bisa mendapatkan anugerah berupa keturunan
dari Tuhan, tapi nyatanya, baru tiga hari yang lalu ia menuntaskan tamu bulanannya, apa ia dalam tiga hari dirinya akan langsung hamil begitu saja.
"Benar?" Fadia masih menunggu jawaban.
Aura menggeleng pelan, karna memang bukan itu penyebab dirinya seakan tak punya tenaga sekarang, tapi karna pikirannya terus terfokus pada Damaresh yang dilihatnya langsung berubah setelah mendapat telfhon dari Naila Anggara tadi sewaktu sarapan, bahkan Damaresh sampai mengurungkan niatnya untuk mengantarnya ke yayasan.
Dirinya sungguh tak punya kecurigaan apapun pada suaminya, tapi ia hanya merasa sedih saja tiap kali mengingat kalau dirinya hampir tak pernah menjadi
tempat berbagi Damaresh untuk semua keresahannya.
Apa yang menjadi bebannya dalam hal pekerjaan atau apapun, Damaresh seperti ingin menanggungnya sendiri saja, tanpa ada niat ingin berbagi dengan Aura.
Aura sadar, kalau kemampuannya yang terbatas tak akan mampu mengimbangi Damaresh dalam banyak hal, hanya sebagai istri ia ingin turut serta menanggung beban suami yang terlihat sekali kalau ada banyak hal yang disembunyikan oleh Damaresh dari dirinya, entah karna dianggap belum waktunya untuk tau, atau karna dianggap tak mampu membantu.
Aura yang tenggelam dalam pikirannya sendiri, tak menyadari ketika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu, yang hadirnya membuat Fadia segera berdiri dari duduknya serta memutus niatnya begitu saja untuk lanjut menginterogasi Aura, bahkan kini sepasang matanya harus menyaksikan adegan manis nan romantis tatkala pria yang baru datang itu menundukkan wajahnya mencium kepala Aura yang berbalut hijab berwarna hijau toska.
Aura yang mendapat perlakuan demikian dengan tiba-tiba segera mendongakkan wajah untuk melihat siapa pelakunya. Tetapi justru dengan itu, beberapa kecupan lembut dan hangat mendarat di kening dan kedua belahan pipinya.
"Aresh!" Aura berseru kaget setelah menyadari siapa pelaku yang mencuri ciuman darinya itu.
Pria tampan itu tersenyum tipis.
"Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?" tanya Aura.
"Aku yang harus bertanya, apa yang sedang kau pikirkan, sampai tak menyadari kedatanganku?" Aresh melayangkan tatapan selidik pada wajah cantik nan lembut itu.
Aura melenguhkan napas. "Kamu," jawabnya pelan.
"Untunglah." Damaresh menunjukkan expresi wajah yang seakan merasa lega.
"Ya, kalau saja kau jawab sedang memikirkan selain aku, ku pastikan dia, apapun dan siapapun itu, akan menjadi target ketiga, setelah Stefan dan Kaivan,"
ujar laki-laki itu sambil menunjuk sepasang matanya sendiri dengan ujung jari.
"Kau ini." Aura segera memukul lengan Damaresh.
"Bercandamu menakutkan," lanjutnya sambil bergidik.
"Hmm, Maaf," ucap Fadia menginterupsi keduanya.
Ia yang beberapa saat jadi sosok tak kasat mata, merasa harus meninggalkan tempat itu segera, terlebih dengan adegan romantis yang dipamerkan keduanya membuat naluri jomblo sejatinya berteriak menuntut diadili.
"Saya permisi," ucap Fadia setelah berhasil mengalihkan atensi Damaresh dan Aura jadi terarah padanya.
"Gak jadi pesan makanan, Fadia?" tanya Aura.
"Lain kali saja," jawab Fadia sambil memberi isyarat pada Damaresh. Fadia segera keluar ruangan sambil menggerutu dalam hati.
"Ihh romantis banget sih pak Damaresh, padahal kelihatannya, orangnya sangat dingin dan kaku."
"Ada apa kau kemari, Aresh?" tanya Aura seraya melihat suaminya itu yang telah duduk manis di sofa.
"Menemuimu."
"Apa ada hal yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Aura sambil membawa tubuhnya untuk duduk di samping Damaresh yang terlihat menggelengkan kepala. "Atau, kau ingin mengajakku keluar, untuk makan siang?" tebak Aura dengan wajah berbinar.
Jalan berdua Damaresh, untuk hanya sekedar makan, adalah satu hal sederhana yang menjadi impian Aura, namun demikian ia tidak pernah memintanya.
Damaresh menatap wajah istrinya itu sekejab dan berkata tanpa rasa bersalah. "Sayangnya, tidak Arra, aku tak punya niat begitu."
"Ahh, kau terlalu jujur." Aura berdecak dengan sedikit mengerucutkan bibirnya. "Padahal aku belum makan siang," lanjutnya menggerutu.
"Aku sudah barusan," ujar Damaresh dengan tanpa melabuhkan tatap pada Aura. Wanita berhijab itu menatap suaminya menahan kesal.
__ADS_1
Terdengar ketukan di pintu. "Masuk!" titah Aura.
Dan ternyata yang datang adalah Olivia.
"Ibu." Aura segera berdiri untuk menghormati atasannya itu.
Olivia tersenyum lembut padanya dan segera mengalih tatap pada Damaresh. "Pak, pesanan anda, sudah siap," lapornya.
Setelah mendapat anggukan dari Damaresh, Olivia segera memberi isyarat tangan ke arah luar ruangan. Dan masuklah ke dalam ruangan kerja Aura itu tiga orang wanita yang berpakaian sebagaimana pramusaji sebuah restoran ternama, mereka membawa beberapa makanan yang kendati tertutup tudung saji, tapi aroma lezatnya sudah menyeruak keluar, menyapa penciuman Aura dan menciptakan gelitikan di perutnya, sehingga cacing-cacing di dalam sana, mulai
berteriak meminta jatah.
"Silahkan di nikmati, Pak! kami semua permisi," ucap Olivia memohon diri setelah beberapa hidangan itu tersaji apik di atas meja. Dan selanjutnya ketua L&D Foundation itu keluar ruangan di ikuti oleh beberapa pramusaji yang lainnya.
Aura menggiring pandangannya pada Damaresh yang masih tetap ber-expresi datar saja dari semula.
"Kau yang pesan?"
Damaresh mengangguk ringan.
"Untuk apa?"
"Harusnya untuk apa, Ara?"
"Maksudku, sebanyak ini untuk apa?" Aura menatap aneka makanan yang memenuhi meja, semuanya terlihat lezat dan menggoda selera. Aura memang merasa lapar, tapi ia jelas tak akan mampu menghabiskan makanan-makanan itu sendirian.
"Sini!" Damaresh meraih jemari Aura dan memintanya duduk kembali. "Aku memesan sebanyak ini, karna aku tak tau, apa menu makan siang kesukaanmu," ucapnya setelah Aura kembali duduk di sisinya.
"Kau pilih saja, mana yang kau mau, selebihnya kau bisa berbagi nanti dengan teman-temanmu."
Aura segera menelisik makanan-makanan itu dengan pandangan, dan setelah mendapati, apa yang ingin ia cicipi, tangannya segera meraih piring saji dan mengisinya dengan menu terpilih. "Kau tidak ingin makan juga?" Ia menoleh pada Damaresh.
"Aku ingin menyuapimu saja," sahut lelaki itu sambil meraih piring makan yang telah terisi dari tangan Aura.
"Ini, untuk permintaan maafku, karna tadi aku telah meninggalkanmu sarapan seorang diri," ucap Damaresh mengiring suapan pertama yang telah diterima Aura dalam mulutnya, gadis itu sejenak terhenyak, namun segera mengangguk dengan tatapan berpijar senang.
"Yang ini, aku minta ma'af, karna tadi tidak jadi mengantarmu kesini," ucap Damaresh lagi mengiring suapan kedua yang diterima sang istri.
Dan kembali anggukan senang dilayangkan Aura disertai tatapan yang lebih berpijar dari yang pertama.
Dan untuk suapan yang ketiga, Damaresh juga menyertakan beberapa kata. "Dan ini, aku minta maaf,
karna telah mematahkan harapanmu, untuk makan siang di luar bersamaku," ujarnya menyertai senyum pada akhir kalimat.
"Kau ingin membuatku menangis, Aresh?" tanya Aura seiring kunyahan terakhir yang memasuki kerongkongan.
Sepasang mata Aura memang terlihat berkaca, ada air mengambang di sana.
"Kenapa kau malah ingin menangis?"
"Caramu meminta ma'af--" Aura segera memutus kalimatnya sebelum mencapai titik, karna adanya bening jatuh yang menggelindingi pipinya.
"Aku kurang kreatif ya?" Damaresh menghapus titik bening tetsebut dengan ujung jari. "maaf," lirihnya kemudian.
"Justru itu, caramu minta maaf, membuatku sangat terharu, aku hampir tak percaya, kalau kau bisa melakukannya," ujar Aura dengan suara bergetar, namun demikian senyum indah terbit di bibir ranumnya.
"Sudah ku bilang, aku juga heran dengan diriku, tapi--"
Damaresh meraup napasnya sejenak, dan lalu mengumpulkan segenap atensi hanya pada Aura saja.
"Aku hanya melakukan berdasarkan apa yang kurasakan, ku harap kau paham."
Aura mengangguk, segera kedua tangannya melingkari tubuh gagah itu, kepalanya pun bersandar nyaman di pundaknya.
-----
-----??
-----?????
hai semuanya.aku up lagi nih..semoga bisa mengobati kangen kalian padaku..ups pada Aresh dan Arra dong.
kalau hari ini aku double up, kalian mau kasih vote gak?
__ADS_1
ngarep aku..ini kan hari senen.
Trimz ya semuanya.