
"Apa ini hal yang benar?" Akhirnya Aura memecahkan keheningan yang tercipta dari sejak roda mobil mewah itu bergulir meninggalkan gedung megah kantor Pramudya Corp, dengan pertanyaannya.
"Apanya?"
"Ibumu ingin menemuimu, tapi kau terkesan menghindarinya," kata Aura sambil menatap Damaresh lembut. Aura tentu mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkan oleh Yeslin barusan.
"Sudahlah, lupakan hal itu!"
Damaresh berucap santai.
"Maksudmu?"
"Tidak ada hal penting yang akan disampaikan oleh wanita itu kepadaku," sahut Damaresh.
"Wanita itu!" Aura mengulang ucapan Damaresh dengan keheranan. "Itu sebutan untuk Yeslin atau untuk ibumu?" tanya-nya.
"Keduanya."
"Gak papa kalau untuk Yeslin, Aresh. Tapi jangan untuk nyonya Claudia, dia ibumu!" Aura mengingatkan.
Damaresh menoleh pada gadis disampingnya itu dengan tatapan tajam. "Bisa tidak, jangan bahas itu, Arra!"
"Apa aku salah ucap?" tanya Aura hati-hati.
"Tidak. Hanya saja aku punya alasan dibalik setiap tindakanku, dan aku belum bisa membaginya pada siapapun, termasuk dirimu," tandas Damaresh.
Aura segera menghela napasnya pelan. "Baiklah, aku paham. Dan aku minta maaf telah membuatmu tak nyaman," ucap gadis itu lembut.
Damaresh tak menjawab kecuali kembali fokus pada jalanan di depan. Hal sepahit apa yang telah terjadi antara dirinya dengan sang mommy yang membuat lelaki itu membuat sekat yang sangat tebal dengan ibu kandungnya sendiri. Dan bahkan ia jadi begitu sensitif tiap kali ada yang mengingatkan tentang hubungan biologisnya dengan Claudya.
*********
"Tuan muda belum tidur? ini sudah sangat larut?" tanya
Dirga, pengasuh yang paling dipercaya oleh Damaresh.
laki-laki yang ketampanannya sudah tercetak sangat jelas meski baru berusia tiga belas tahun itu menggeleng.
"Daddy sudah pulang?" tanyanya datar.
"baru saja saya melihat mobil tuan Airlangga sudah datang!. Apa tuan muda butuh sesuatu?"
"Tidak. Aku akan mengambilnya sendiri, sekalian menemui daddy," Damaresh segera melangkah menyusuri lorong depan kamarnya menuju tangga yang akan menghubungkannya ke lantai dua mansion Pramudya yang megah itu. ketika langkahnya gontai menuruni tangga yang melengkung dan berlapis beludru tebal berwarna gold, terdengar sebuah mobil yang berhenti dihalaman.
Damaresh tak heran dengan itu, pulang larut malam dari berbagai aktifitas di luar baik dari soal pekerjaan atau hanya sekedar nongkrong di club malam dan sebagainya adalah rutinitas biasa bagi keluarga Willyam Pramudya. Mansion mewah dan megah itu hanya menjadi milik mereka sesaat, tepatnya setelah hampir masuk jam 0:0 sampai lewat jam delapan pagi.
Setelah itu, mansion megah itu akan menjadi milik para maid yang bekerja di sana.
Airlangga Aybars Perkasa, pria dewasa yang terlihat sangat tampan sempurna diusia empat puluh lima tahun itu tampak duduk di salah satu sofa tunggal sambil menyesap segelas minuman di tangannya. Dia pasti baru saja datang terlihat dari jas yang masih dikenakannya berikut dasi yang sudah terlihat dilonggarkan dan dalaman vest yang juga masih melekati tubuh atletisnya. Menantu keluarga Willyam yang berdarah indo-turki itu memang memiliki ketampanan yang sempurna. Dan Damaresh, putra tunggalnya yang mewarisi ketampanan tersebut.
Melihat sang daddy, Damaresh menyegerakan langkahnya menghampiri. Sebagai anak ia perlu tidur sangat larut untuk bisa berjumpa dengan orang tuanya
sendiri. miris bukan??
meski Airlangga akan selalu datang ke kamarnya untuk sekedar mengusap rambutnya setiap kali pulang kerja, namun disaat itu, Damaresh yang sudah terlena ke alam mimpi tidak akan menyadarinya. Sikap Airlangga ini sangat berbeda dengan Claudya yang cenderung menyerahkan seratus persen segala keperluan putranya pada para pengasuhnya yang telah dibayarnya mahal. Wanita itu hanya akan tampil sebagai ibunya Damaresh setiap kali putranya itu meraih penghargaan atas prestasi akademiknya atau berbagai juara yang diraih Damaresh dalam tiap ajang perlombaan seputar kecerdasan.
Baru saja, Damaresh hendak membuka mulutnya untuk memanggil sang Daddy, pintu ruangan itu terbuka dari luar menampilkan Claudya dengan gaun mahal yang membalut tubuhnya dan tas dari brand ternama yang setia dalam genggamannya. Claudya Melangkah menghampiri sang suami yang nampak tak hirau dengan kedatangannya
"Kau sudah pulang rupanya," sapanya sinis pada Airlangga.
"Hmm, kau juga baru datang," sahut Airlangga tanpa repot-repot menoleh pada Claudya yang malam ini berdandan kelewat cantik, bahkan make-up mahalnya itu masih tetap melekat di wajahnya kendati telah beberapa jam berlalu dari sejak digunakan.
"Tepat sekali, kau tau Elang, aku baru datang dari mana?"
Airlangga kembali menyesap minumannya sebelum menggelengkan kepalanya.
"Aku baru saja mengirim orang untuk menghabisi wanitamu," Claudya berbisik di telinga Airlangga, namun dengan suara cukup keras hingga didengar juga oleh Damaresh yang saat itu berdiri di anak tangga paling bawah memperhatikan kedua orang tuanya.
Mendengar itu, Airlangga segera memutar kepalanya menatap nanar Claudya.
"Saraswati?"
"Iya, Saraswati. Dan baru saja orang suruhanku mengabariku, kalau mereka telah merampungkan pekerjaan mereka dengan sempurna," Claudya tersenyum menang lalu berganti tertawa senang.
Airlangga segera berdiri dari duduknya menatap Claudya dengan tatapan membunuh. "Apa yang kau lakukan pada Saras, Clau?" Suara kemarahan Airlangga menggema hampir di seluruh penjuru mansion.
Claudya hanya memperdengarkan tawanya seraya mengkibas-kibaskan tangannya ringan.
Sadar kalau istrinya tak akan memberikan informasi apapun, Airlangga segera bergegas keluar.
"Elang! kalau kau pergi, kau pun akan mati!" teriak Claudya, namun Airlangga tak menggubris ia terus keluar menuju mobilnya dan melajukannya tergesa meninggalkan mansion.
Damaresh menjadi saksi semuanya, saksi pertengkaran terakhir dari kedua orang tuanya. lelaki berusia tiga belas tahun itu mencengkram tangga dengan kuat berusaha menahan segala gejolak dalam dadanya dari apa yang didengar dan dilihat.
"Aresh!"..
__ADS_1
"Aresh!"
Suara lembut memanggil namanya disertai genggaman hangat di tangannya menyadarkan Damaresh dari perjalanannya yang menapaki kembali masa yang telah terlewat bertahun lamanya.
"Aresh, apa yang terjadi?" tanya Aura panik.
Damaresh menoleh ke arah gadis itu yang tengah memandangnya dengan penuh kekawatiran, dan tangannya menggenggam erat tangan Damaresh seakan menyalurkan kekuatan dan kehangatan secara bersamaan.
"Arra," lirih Damaresh setelah kini memahami situasinya bahwa ia tak lagi berada di masa itu.
"Kau kenapa, Aresh?" tanya Aura lembut. Gadis itu memberikan perhatian sepenuhnya pada lelaki yang duduk di sampingnya tersebut.
"Aku tidak apa-apa, Arra," sahut Damaresh sambil menarik napas pelan.
"Kau hampir menabrak, Aresh!"
"Apa?" Damaresh segera melayangkan pandangannya ke depan. Ternyata mobil telah berhenti dan lalu lintas di depannya nampak semrawut, bagaimana tidak, Damaresh telah mengulang kembali kegilaannya dalam menyetir, dia melajukan mobilnya bak kesetanan di jalanan yang padat, akibatnya ada beberapa mobil yang harus banting stir karna menghindari laju mobilnya. Dan kegilaan itu berakhir ketika Aura mengguncang-guncang lengan Damaresh membuat lelaki itu menghentikan mobilnya dengan mendadak hingga menimbulkan suara derit rem yang memekakkan telinga.
"Apa kau yakin kalau kau baik-baik saja?" tanya Aura cemas.
Damaresh menatap gadis itu lekat dan lalu pandangannya tertuju pada tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Aura.
Menyadari Damaresh menatap tangannya, Aura segera melepaskan genggamannya.
"Maaf, aku spontan saja barusan," lirih Aura.
"Tidak apa-apa, Arra. Kau berhasil menenangkan-ku,
terima kasih," ucap Damaresh cepat sebelum gadis itu salah paham dengan sikapnya.
Aura tersenyum mendengarnya.
"Kita jalan lagi, karna kalau tidak sebentar lagi polantas akan menuju kemari."
Damaresh segera menghidupkan mesin mobilnya lagi dan dalam sekejab roda mobil mewah itupun bergulir meninggalkan lokasi yang telah dibuatnya semrawut karna ulahnya tadi.
Belum terlalu jauh berjalan terdengar panggilan telfhon dari ponsel Damaresh Willyam. Setelah memelankan laju mobil dan memasang earphone di telinga Damaresh segera berbicara dengan penelfhonnya. "Ada apa, Steef?"
"Nona Yeslin mengikuti anda, Pak!" suara Stefan di telfhon itu yang hanya bisa didengar oleh Damaresh saja.
"Dimana?"
"mobil putih, lima puluh meter di belakang anda. Tepat di belakang mobil fortuner hitam!"
Sesuai arahan dari Stefan, Damaresh melayangkan pandangannya ke belakang. "Ya, aku melihatnya Steef,"
"Aku akan membawanya ke jalan aman, setelah itu bagianmu!"
"Baik, Pak."
Damaresh segera menutup telfhonnya.
"Ada apa?" tanya Aura, dia kawatir kalau keduanya dikejar polisi. Karna dia memang tak mendengar ucapan lawan bicara Damaresh di telfhon.
"Tidak ada apa-apa, Arra ... Sepertinya aku butuh minum." lelaki itu mengalihkan pembicaraan.
"Iya, ku pikir juga begitu,"
"Apa kau punya usul, tempat minum yang cocok untuk saat ini?"
Aura menggeleng. "Aku orang kampung, Aresh. Seleraku juga kampungan, pasti tak akan cocok denganmu," ujarnya sambil tertawa renyah.
"Kali ini aku akan mengikuti seleramu," ucap Damaresh.
"Benarkah?"
"Apa perlu aku ulang lagi?"
Aura sepertinya lupa kalau Damaresh tak suka mengulangi ucapannya dua kali.
"Ah tidak. Baikkah kalau begitu kita ke jalan Pierre Tendean," ajak Aura.
"Untuk apa kita pergi ke tempat kontrakanmu itu?"
"Di sana ada penjual minuman yang kusukai, Aresh."
"Hmm. Baiklah,"
Di jalan itu, Damaresh memelankan laju mobilnya sesaat dan lalu menarik gasnya cepat membuat mobil itu seakan melesat. Aura hampir menjerit karnanya.
Sebenarnya itu adalah sebentuk kode yang dilemparkan oleh Damaresh pada Stefan, entah lelaki bernama Stefan itu berada dimana, yang jelas ia selalu tau pergerakan tuannya.
Sementara itu.
"Kemana mereka tadi, aku kok tidak melihat mobilnya lagi, padahal jelas mereka melewati jalan ini," Yeslin bermonolog sendiri sambil celingukan kanan-kiri. Sebentar- sebentar melihat ke belakang lalu kembali pandangannya lurus ke depan. Tapi memang mobil Lexus hitam yang dikemudikan oleh Damaresh sudah tak dilihatnya lagi.
__ADS_1
"Harusnya tadi aku melaju lebih dekat agar tak kehilangan jejak begini. Tapi kalau terlalu dekat aku kawatir Damaresh akan tau kalau ku buntuti," gerutu Yeslin pada dirinya sendiri.
Wanita itu segera hendak menarik laju mobilnya untuk menyalip mobil di depannya, namun entah dari mana datangnya sebuah mobil land cruiser hitam melaju pesat dari arah berlawanan dan meluncur deras ke arahnya. Yeslin sudah tak dapat lagi menguasai kemudinya karna jarak yang sangat dekat.
Walhasil tabrakan kecilpun terjadi.
Mobil yang dikendarai Yeslin menabrak pagar pembatas, sedangkan mobil Land Cruiser hitam itu sendiri tetap melaju santai meninggalkan TKP tanpa ada yang menghalangi.
Beberapa saat kemudian, kembali terdengar panggilan telfhon dari Ponsel Damaresh.
"Bagaimana Steef?"
"Tugas sudah selesai, Pak." lapor Steef.
"Terima kasih, Steef," Damaresh kembali menyimpan ponselnya. Mobil mewah itu kini telah menapaki ujung jalanan Pierre Tendean 11 seperti keinginan Aura.
Namun gadis itu menjadi Terpana melihat di sepanjang
jalan itu tak lagi berjejer kios-kios pedagang seperti biasanya, bahkan terlihat beberapa bangunan ditempat itu mengalami pembongkaran.
"Tunggu sebentar, Aresh!"
Damaresh segera memelankan laju mobilnya untuk memberi ruang pada Aura melihat keadaan sekitar dengan seksama.
"Apa yang terjadi ditempat ini? kenapa tak ada lagi kios-kios pedagang itu di sini?" monolog Aura.
"Boleh aku turun? aku ingin tanya ada apa dengan tempat ini?" pintanya pada Damaresh.
"Kau tidak ingin bertanya padaku saja, Arra?"
Damaresh menatap gadis itu seksama.
"Kau tau jawabannya?" tanya Aura heran.
"Hmm"
Aura pun menatap lelaki tampan itu dengan seksama.
"Kau ingat insiden itu, Arra?"
"Insiden apa?"
"Kejadian yang membuatku mengajakmu tinggal bersamaku?"
Aura sejenak terdiam untuk mengingat semuanya.
"Ja-Jadi kau benar-benar meneruskan rencanamu untuk membangun gedung apartement dan pertokoan di sini?" tanya Aura setelah ia mampu mengingat semua kejadiannya waktu itu.
"Iya,"
"Tapi kenapa Aresh? apa hanya karna hal itu?"
"Arra, dari sejak empat tahun lalu, tanah disepanjang
jalan Pierre tendean ini memang telah menjadi
milik Pramudya Corp, kami membelinya dari PT Enrich group. Namun saat itu aku belum punya rencana apa-apa pada tanah ini hingga kejadian malam itu."
Aura mendengarkan dengan seksama semua penjelasan dari Damaresh tersebut.
"Tepat dua minggu sebelum kejadian, pihak Enrich menawarkan kerjasama dengan kami untuk membangun gedung apartement dan pertokoan di sini
yang masih belum aku setujui, karna kejadian itu aku menerima tawaran tersebut," pungkas Damaresh.
"Tidakkah caramu ini begitu kejam pada mereka, Aresh?" tanya Aura pelan.
"Pemilik kontrakan itu juga sudah menuduhmu dengan kejam untuk sesuatu yang tak pernah kau lakukan,
Arra, harusnya dia sudah tau kalau kau selama ini selalu menjaga diri dan membatasi pergaulanmu, tapi dia malah menuduhmu tanpa bertanya lebih dulu." sahut Damaresh.
Aura menghela napasnya pelan dan sesaat masih terdiam. " Aku bisa berbangga diri jika salah satu alasanmu adalah karna aku, tapi aku juga merasa sedih terhadap mereka yang harus kehilangan tempat tinggal." ucap gadis itu kemudian.
"Pada dasarnya, cepat atau lambat mereka memang harus pergi dari tanah ini, Arra, karna tanah ini memang bukan hak milik mereka. Aku hanya membuat prosesnya lebih cepat saja. Tapi kau tenang saja, perusahaan sudah membayar ganti rugi yang layak pada mereka."
"Benarkah?"
"Kalau kau tidak percaya, kau boleh turun dan bertanya pada salah satu dari mereka, aku tunggu di sini!" titah Damaresh dengan tangan bersedekap.
Aura menggeleng. "Tidak usah, aku percaya padamu,"ujarnya.
Damaresh kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
"Aresh, Terima kasih ... untuk semuanya," ucap Aura dengan tersenyum lembut. Damaresh hanya mengangguk kecil.
"Jadi kita mau minum di mana sekarang?" tanya lelaki itu setelah laju mobilnya meninggalkan kawasan jalan Pierre Tendean.
__ADS_1
"Aku tidak punya usul lagi, karna setauku hanya di sini ada penjual minuman yang aku suka," sahut Aura.
"Kalau begitu kita kembali ke kantor," putus Damaresh yang di angguki setuju oleh Aura.