Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
116. Tidak Dapat Jatah.


__ADS_3

"Aresh, terima kasih," Alarick menepuk pundak keponakannya itu sambil tersenyum lebar.


Hanya setengah bulan dari kejadian kebakaran yang menghanguskan semuanya, dan membuat puluhan pekerjanya kehilangan mata pencaharian, kini Alarick tak hanya bisa membangun kembali pabriknya tapi juga langsung bisa memasarkan kembali hasil produknya dalam jangkauan pasar yang lebih luas dari sebelumnya.


Dan semua itu tak lepas dari peran serta Damaresh. Entah apa yang dilakukan oleh keponakannya itu, ketika ia tiba-tiba membawa Alarick untuk ikut bergabung dengan perusahaan ritel waralaba terbesar di Indonesia, yang memiliki ratusan toko yang tersebar di seluruh nusantara.


Tanpa banyak syarat ataupun melalui sebuah proses survei yang panjang, Alarick langsung teken kontrak kerjasama dengan PT Indoprisma tersebut, dan terhitung mulai hari ini, Alarick kembali bisa mendistribusikan hasil produknya.


"Semua ini memang hal yang harus kulakukan, Om. Tak perlu berterima kasih," sahut Damaresh. Mengingat semua ini terjadi karena dirinya juga.


Alarick mengangguk, namun seketika terhenyak ketika sebuah ingatan melintas dalam benaknya. "Indoprisma itu, anak perusahaan Winata Group ya Resh?"


"Iya," jawab Damaresh singkat.


"Bukankah Winata Group itu rekanan bisnis Pramudya Corp?"


"Benar."


"Jadi maksudnya?" Alarick jadi menatap Damaresh penuh tanya. "Secara tak langsung kau memasukkan aku dalam lingkaran bisnis Pramudya Corp?"


"Itu tempat paling aman untuk bisnisnya  Om Alarick. Setelah ini kakek tak akan menyentuh bisnis, Om lagi, karena bila itu ia lakukan, sama saja dengan merugikan bisnisnya sendiri," sahut Damaresh.


"Ku rasa, papa tak akan takut merugi demi untuk kepuasannya sendiri, Aresh."


"Benar, tapi itu beberapa waktu lalu, ketika Pramudya masih berada di atas angin. Tapi kalau sekarang, kakek pasti masih berpikir sepuluh kali untuk melakukannya."


"Apa kondisi Pramudya Corp betul-betul sudah memprihatinkan?" tanya Alarick.


"Cukup memprihatinkan, tapi Edgard belum menyadarinya, sedangkan kakek saat ini, fokus mengurus Pramudya di London bersama Anthoni."


Alarick menatap Damaresh seksama walau tidak dengan durasi waktu yang cukup lama. "Sepertinya aku tidak terlalu mengenalimu ya, Resh?" Pertanyaannya muncul di akhir penilaian.


Damaresh tertawa renyah karenanya.


"Om Al, mencurigaiku?"


"Tidak." Alarick menggeleng tegas.


"Aku hanya tak habis pikir, bagaimana cara mu melakukan semua ini. Dari mulai mengajak kerjasama dengan PT Indoprisma serta mendapatkan informasi tentang Pramudya Corp dengan detail. Kalau kau masih sebagai CEO Pramudya, aku tak akan mengherankan hal ini," ungkap Alarick terkait pemikirannya tentang Damaresh.


"Pemilik Winata Group, masih sangat suka bicara denganku, Om. Sehingga aku bisa minta tolong padanya," sahut Damaresh.


"Tapi bukankah papa sudah memblacklist-mu untuk bekerja di  perusahaan manapun di negara ini? Apalagi dalam perusahaan-perusahaan yang berada dalam lingkar bisnis Pramudya?"


"Iya, kakek melakukan semua itu dengan kekuasaannya, tanpa ia sadari kalau sebenarnya kekuasaannya itu terbatas. Dan aku berada diluar batas kekuasaannya itu, Om."


"Lalu kenapa kau tidak melawan, Aresh? Kalau kau memang bisa, Kenapa kau membiarkan dirimu ditindas oleh papa?"


"Bukan seperti itu yang aku maksud lebih kuat itu, Om. Seberapapun kuatnya kakek berupaya untuk mematahkan rejeki-ku, tapi Tuhan pasti akan tetap memberiku jalan, selama aku tetap berusaha. Seberapapun berkuasanya kakek dengan hartanya, dia tak akan bisa melawan kekuasaan Tuhan. Itu maksudku."


Alarick langsung tersenyum dan menatap Damaresh takjub. "Kau mempelajari itu dari Aura?" tanya-nya.


"Bukan. Tapi karena Arra aku mempelajarinya," jawab Damaresh.


"Aura Aneshka, gadis itu luar biasa." Alarick mengutarakan kekaguman pada istri keponakannya itu.


"Aura Aneshka dan Sherin Mumtaza itu hampir sama, Om. Mereka satu frame, satu pemikiran dan satu pemahaman yang sama. Kalau Om Alarick bisa kagum pada istriku, semestinya Om harus merasa lebih kagum lagi


Pada istrimu," ucap Damaresh dengan tatapan mengarah.


Terlihat Alarick menghindari tatapannya.


"Om, move-one! Karena dengan itu kau akan bisa melihat kilau permata di sampingmu, tak hanya bisa melihat kilau itu di sampingku."


Dan kini terlihat Alarick tersamar menghela napasnya atas ucapan Damaresh itu.


"Maaf, Om. Tak bermaksud menggurui."

__ADS_1


Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa maksud dari ucapan Damaresh itu pada Alarick. Biarkan pertanyaan itu mengendap dahulu, karena kisah tentang Alarick dan istrinya, akan ada lapaknya tersendiri insha'Allah. Sedangkan dalam cerita ini, hanya fokus pada kisah Aresh dan Arra saja.


*************


Aura meletakkan kartu kredit yang diberikan oleh Damaresh itu kembali di atas nakas.


"Kenapa?" tanya Damaresh yang melihat hal itu.


Aura menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya butuh 500 ribu aja, kok."


"Saat ini, aku gak ada uang cash sama sekali, pakai itu saja, kau kan sudah tau pin-nya," kata Damaresh dengan tatapan terus mengarah pada layar laptopnya.


"Gak usah," tolak Aura halus.


"Kenapa? Kau kan mau ke kota sama Sherin, tarik tunai saja secukupnya."


Aura hanya menggeleng, tanpa menyelipkan ucapan.


Merasa istrinya hanya terdiam, Damaresh segera menoleh, dan didapatinya wajah ayu itu meriak sendu, tatapannya tertunduk, sedang kabut tipis menyelimuti wajahnya, menguarkan kesedihan yang membayang jelas di sana.


"Kenapa Ara?"


Aura mengangkat wajahnya, menatap Aresh sesaat, lalu menggeleng dan kembali menunduk. Meski hanya sesaat, Aresh dapat melihat kalau sepasang netra istrinya itu tengah mengembun.


Damaresh merubah posisi duduknya setelah menjauhkan laptop yang sedari tadi menjadi fokus perhatiannya.


"Sini!" Aresh membimbing tangan Aura untuk mendekat. "Kasih tau aku ada apa." Damaresh menatap wajah istrinya itu seksama.


"Gak ada apa-apa," kilah Aura.


"Kau tidak akan sampai menangis seperti ini, kalau tidak ada apa-apa, Arra."


Damaresh mengusap dua titik bening yang jatuh menggelinding di kedua belahan pipi Aura yang ranum.


"Aku takut, Aresh."


"Kau." Suara Aura mulai bergetar.


"Kenapa denganku?"


"Kau sudah tidak bekerja, kau hanya sesekali membantu om Alarick, tapi kata Sherin kau tidak bersedia dibayar. Tapi kau  terlihat tidak kekurangan sesuatu apapun. Bahkan kau masih punya black card seperti ini." Aura mengalihkan tatapannya pada kartu kredit tanpa limit yang baru saja ditolaknya itu.


"Lalu?"


Damaresh terlihat sabar dan setia mendengarkan setiap ucapan istrinya itu dengan seksama.


"Aku takut, kau melakukan sesuatu yang berada di luar konteks yang diperbolehkan oleh agama. Aku takut kau mendapatkan semua itu dengan cara yang melanggar syariat. Karena kau kan sudah tidak bekerja."


"Aku bekerja, Arra," ucap Damaresh setelah dilihatnya Aura sudah mencapai titik dari semua kalimatnya.


"Kerja apa?"


"Jadi tukang ojek," sahut Damaresh.


"Ojek apa? Kalaupun kau bekerja jadi tukang ojek, gak mungkin kau dapat penghasilan sebanyak itu," protes Aura.


"Aku bersungguh-sungguh, Ara. Aku jadi tukang ojek selama ini," kata Damaresh sambil menatap istrinya itu lekat.


"Ojek apa?" Tanya Aura dengan mimik serius.


"Aku mengantarmu kemana-mana, kan itu sama saja aku jadi tukang ojek," sahut Damaresh dengan menahan senyum.


"Aresh, aku serius."


"Sini keningnya dulu, sayang," pinta Damaresh.

__ADS_1


"Untuk apa?" Tanya Aura tak paham.


"Ya untuk ku cium lah, sayangku."


Aresh segera meraih tengkuk istrinya itu dengan kedua tangan dan mendaratkan ciuman hangat di keningnya, lanjut pada kedua belahan pipinya.


"Terima kasih untuk semua kekawatiranmu. Tapi kau harus tau..meski aku tak lagi jadi seorang CEO, suamimu ini tidak jatuh miskin, Arra."


"Aku tak paham, Aresh. Kata mommy, kau tak hanya menyerahkan tahta Pramudya, tapi kau juga melepaskan semua saham-saham mu disana."


"Memang benar. Tapi jauh sebelum aku ditunjuk sebagai CEO Pramudya, aku sudah terjun dalam dunia bisnis sejak aku masih kuliah di LA," tutur Damaresh.


"Bisnis apa?" Tanya Aura.


"Beberapa hal, kau akan tau juga nanti, yang penting itu halal."


"Tapi kau tidak pernah terlihat pergi bekerja ke tempat manapun."


"Aku mengendalikannya dari sini," kata Damaresh.


"Dari sini?"


"Ya. Itu!" Tunjuk Damaresh pada laptopnya yang masih terbuka.


"Kau tidak bohong, kan?"


"Kalau aku membohongimu, aku tidak hanya dapat dosa, tapi aku juga bisa tidak dapat jatah," kata Damaresh sambil sedikit menaikkan alisnya.


"Jatah apa?" tanya Aura pura-pura tak paham.


Damaresh terlihat menggerayangi tengkuknya yang tidak gatal dengan tangannya.


Aura jadi memalingkan wajahnya karena menahan senyum, namun dalam sesaat wajah itu telah menjadi sasaran ciuman Damaresh yang sudah merengkuh tubuhnya dengan erat.


Setelah adegan manis dan legit yang dilakukan Damaresh pada istrinya itu selesai.


"Besok, aku akan ke new Zealand, menemui daddy,"


pamit Damaresh.


"Berapa lama?"


"Satu minggu mungkin, selama aku tidak di sini, kau bisa menelepon mommy, minta temani."


"Mungkin saat ini, Mommy juga sedang ada di New Zealand," kata Aura.


"Untuk apa mommy pergi kesana?"


"Ee untuk--" Aura jadi terlihat gugup, ia menatap suaminya dengan pandangan takut.


"Ada apa, Arra?"


"Maafkan aku, Aresh. Aku telah memberitahu mommy, kalau daddy ada di New Zealand."


Damaresh terdiam, ia hanya menatap Aura tanpa kata.


"Tapi aku tak memberitahu mommy, dimana tepatnya. Dan mommy juga menolak untuk dikasih tau secara jelas, menurutnya, mommy akan berjuang mencari sendiri tempat Daddy di negara itu," tutur Aura.


Terlihat Damaresh menghela napas.


"Baiklah, tidak apa-apa," putusnya cepat.


"Benarkah? kau tidak marah padaku?"


Aura segera menatapnya dengan pandangan sumringah.


"Iya."

__ADS_1


"Kenapa kau tak marah?" tanya Aura lagi.


"Khawatir tak dapat jatah," sahut Damaresh yang sukses membuat Aura mencubit pinggang suaminya itu.


__ADS_2