Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
106. Memaknai Kehilangan.


__ADS_3

Allahu Akbar..


Allaahu Akbar..


Senandung gema takbir, dalam suara panggilan adzan, menyeruak masuk dalam pendengaran Aura yang sudah terlalu lama berjalan-jalan dalam tidur panjangnya.


Gema keagungan Tuhan yang terlafadzkan beberapa kali itu, seakan sudah menarik kesadaran Aura untuk kembali pada kehidupan fana-nya lagi di dunia ini.


Sepasang mata berhias bulu lentik itu perlahan terbuka, tatapannya menyapu ke semua arah, dalam hitungan menit, tatapan itu masih kosong tanpa makna, dan beberapa menit kemudian, segenap sukma yang berkelana itupun kembali menempati raganya dengan sempurna. Hal itu terlihat ketika bibir mungilnya menggemakan satu nama.


"A-Aresh," lirih suaranya, dan hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri saja.


Pasalnya, sepasang mata yang baru terbuka itu menangkap siluet tubuh gagah, tinggi tegap, berdiri ditengah ruangan, diatas hamparan sajadah, sedang melakukan sembahyang.


"Apakah itu, Aresh? ... dia sedang sholat?...


Mungkinkah itu, Aresh? .... Aresh bisa melakukan sholat? ..."


Batinnya di cecar dengan beberapa pertanyaan, tatakala matanya memindai sebuah pemandangan langka tak jauh di depan.


Tapi satu titik kesadaran lain yang menamakan diri logika, menarik dirinya secara utuh pada sebuah kesadaran yang bersifat fakta. Dan satu keputusanpun diambilnya segera.


"Tak mungkin Aresh ada di sini, aku sudah pergi meninggalkannya, dan dia sudah bersama wanita lain saat ini.


Apalagi itu, Aresh belum pernah melakukan sholat, ini semua pasti hanya halusinasiku saja."


Aura bermonolog dalam dirinya saja.


Dan sepasang mata yang baru terbuka itu kini mulai berkaca, raut kesedihan menjadi awan kelabu yang menutupi pesona kecantikannya. Satu titik bening lalu jatuh, seiring rintihan dalam dada.


"Aresh ... andai saja, aku pernah melihatmu melakukan sholat seperti halusinasiku saat ini, aku tidak akan pernah pergi darimu, sesakit apapun yang kuterima dengan terus berada di sampingmu."


Tetiba saja, ada satu jemari yang menghapusi air matanya, membuat sepasang mata yang mengatup itu kembali terbuka, dan apa yang dilihatnya kini, pemandangan apa yang terpampang di hadapannya kini.


Wajah tampan itu, terlihat begitu dekat, terlihat begitu nyata, bahkan sentuhan lembut jemarinya terasa begitu hangat.


"A-Aresh-?"


Tak ada jawab yang dapat didengar, hanya pandang yang saling beradu, sebelum tubuh ringkih itu ia rengkuh, dalam dekap hangat penuh rindu.


"Iya, Arra. Ini aku."


Suara Damaresh terdengar bergetar.


Pelan tapi pasti, isakan Aura terdengar.


Kedua tangannya pun merangkul erat tubuh gagah dengan aroma khas yang selalu ia rindukan. Sesaat waktu seakan berhenti, untuk memberi penghormatan pada dua hati yang bersua kembali, namun dalam balutan perih.


Aresh mengangkat wajah Aura ketika tangisnya mulai reda. Jemarinya menghapusi sisa air mata yang terdapat disana. "Kenapa kau tidak pernah memberitukan aku, Arra?" Ia bertanya pelan, dengan suara dalam, tak terkesan menyalahkan.


Tapi Aura menerima itu seakan sebuah hantaman yang menghimpit dadanya dengan rasa sesak, membuatnya kembali memperdengarkan isak.


Aresh membiarkan saja semuanya untuk mendapat jawab dari yang ditanya.


"A-Aku juga tidak tau," jawab Aura dengan suara tercekat.


"Benarkah?"


"Iya, aku juga tidak tau, Aresh. Kalau aku tau, aku tidak akan memintamu untuk menceraikan aku, aku juga tidak akan meninggalkanmu. Aku juga baru tau kemarin dari dokter dan--"


Aura tak dapat melanjutkan ucapannya, karna air mata yang telah membanjir, dan suara yang telah tercekat.


Rasa sangat kehilangan yang teramat dalam, meski tanpa diawali rasa memiliki, kini menyapu rata jiwanya, merejamnya dalam rasa sakit yang sangat.


Aresh kembali membawanya kedalam dekapan, berusaha menenangkan dalam belaian lembut tangannya, meski dirinya sendiri juga merasakan kehilangan yang sama.


"Aku minta maaf, Aresh. Aku minta maaf tidak bisa menjaganya," isak Aura dengan rasa bersalah yang teramat dalamnya.


"Aku yang harus minta maaf, Arra.


Aku yang tak bisa menjagamu dengan baik," sahut Aresh.

__ADS_1


Aura terdiam ketika tiba-tiba saja berita yang dilihatnya itu tampil dalam ingatan.


Aura melepaskan diri dari pelukan Damaresh dan menatap wajah tampan itu penuh tanya.


"Bagaimana kau bisa tau, kalau aku ada disini? Dan bukankah saat ini kau sudah bersama orang lain?" Suara Aura semakin pelan di akhir pertanyaan.


"Aku kalah, Arra."


"Kalah apa?"


"Kalah berperang."


"Aku gak ngerti, Aresh."


Damaresh meraih jemari Aura dan menggenggamnya erat. "Yang aku perjuangkan, yang selalu menjadi pemicu semangatku, sudah pergi meninggalkan aku, Arra."


"Yang kau maksud itu, aku?"


"Siapa lagi."


Aura tertunduk, setelah sesaat netra mereka bertemu di udara. "Aku--"


Hanya itu yang terucap dari bibir Aura, hanya satu kata yang terputus begitu saja.


"Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan tentangku, Arra. Selagi kau masih ada disini." Damaresh menunjuk dadanya sendiri. "Sekalipun kau tidak ada di sampingku, aku tak akan pernah mengambil keputusan untuk bersama orang lain."


"Lalu berita itu?"


"Aku mencintaimu, Arra. Dan aku sekarang tidak tau bagaimana caranya untuk tidak mencintaimu lagi."


"Aresh." Aura segera memeluk tubuh gagah di depannya itu dengan erat dan kembali terisak.


"Maafkan aku, Aresh. Maafkan aku telah meninggalkanmu," ucapnya terbata.


"Tetaplah bersamaku, Arra."


"Iya," sahut Aura parau.


"Iya, aku janji."


Biarkan waktu terlewat, detik dan menit berlalu, biarkan saja, jangan usik mereka.


Biarkan waktu saat ini hanya menjadi milik Aresh dan Arra saja.


Arra berdesis kecil, ketika rasa nyeri terasakan dari tangannya yang diinfus.


Aresh segera membaringkan tubuh itu pada posisi yang paling nyaman. Lalu mencium keningnya dengan sayang.


"Terima kasih, Aresh," lirih Aura.


"Aku yang harus berterima kasih, Arra. Kau mau berjalan denganku lagi.


"Aku mencintaimu, Aresh. Sangat," ucap Aura parau, teringat seberapa besar ia merasa kehilangan, disaat memutuskan untuk meninggalkan.


"Dan aku tidak bisa menganalogikan besarnya arti hadirmu dalam hidupku, Arra.


Bukan hanya sebatas arti hadirmu saja, tapi juga doamu yang sangat ajaib bagiku."


Doa. UcapanAresh itu menandakan kalau lelaki itu percaya dengan kekuataan doa.


Dan apa yang dilihat Aura barusan, mungkinkah itu kenyataan?


"Aresh, maaf, barusan aku melihatmu sedang sholat, apakah itu benar, atau aku hanya salah lihat?"


"Tidak. Kau tidak salah lihat."


Senyum Aura langsung terkembang lebar.


"Mulai kapan kau bisa sholat?"


"Sebenarnya aku bukan sama sekali tidak bisa sholat, aku pernah rutin melakukan sholat semasa kecil, ketika nenek masih hidup."

__ADS_1


"Nenek? Istrinya tuan William?"


"Ya, nenekku seorang wanita keturunan jawa asli, beliau memiliki kepribadian yang lembut dan taat beragama. Nenek mengajarkan pendidikan agama pada semua cucunya, aku, Edgard dan Anthoni diajarkan sholat dan mengaji, diajarkan yakin dan percaya pada kekuasaan Tuhan. Kami juga diajarkan gantian menjadi imam sholat, kana kata nenek, setiap laki-laki itu pasti menjadi imam."


"Subhanallah," decak Aura kagum.


"Siapa nama nenek, kalau boleh tau?"


"Namanya diabadikan menjadi nama yayasan tempatmu bekerja," sahut Damaresh.


"L&D?"


"Laura Dewi."


"Jadi itu nama istrinya tuan William. Pasti tuan William sangat mencintai nyonya Laura Dewi," nilai Aura yang hanya ditanggapi senyuman misterius oleh Damaresh, ia lalu memilih melanjutkan ceritanya.


"Tapi semua tatanan indah dalam keluarga kami itu berubah setelah nenek meninggal


Karna sebuah kecelakaan pesawat. Kehidupan religius itu tak lagi kami jalankan, dan berkomunikasi dengan dengan Tuhan, sudah tak lagi menjadi kebutuhan." Damaresh memutus ceritanya dengan helaan napas panjang.


"Lalu apa yang membuat hatimu terketuk untuk melakukan sholat lagi?" tanya Aura dengan rasa penasaran yang sangat.


"Kehilangan," sahut Damaresh singkat.


"Kehilangan, kehilangan apa?"


"Kehilanganmu dan kehilangan calon anak kita."


Aresh merasakan dirinya ada dalam posisi paling rendah dan paling sakit ketika Aura meminta cerai darinya, ia juga merasakan sebagian dirinya patah ketika harus membiarkan Aura pergi dari sisinya.


Meski ia memiliki seribu cara dan seribu kekuatan untuk menahan Aura pergi dan memintanya tetap tinggal, tapi rasa cinta dan rasa sayangnya yang begitu dalam pada Aura membuatnya sampai pada satu kesadaran, untuk apa membiarkan Aura tetap tinggal, jika dengan itu justru membuat Aura tersiksa.


Sepeninggal Aura, Aresh mencoba selindungkan lukanya dengan aktivitas seperti biasanya dengan intensitas dua kali lipat dari biasanya. Yang sebenarnya dalam jiwanya terasa hampa, ia merasa butuh tempat bersandar, butuh kekuatan untuk mendukungnya tegar, satu kekuatan yang tak harus dicari kemana dan tak juga berupa sesuatu apa. Kekuatan abstrak yang tak kasat mata, namun kekuasaannya tak terbantahkan oleh segenap ketinggian logika.


Saat itulah, pintu hatinya terbuka, seiring kuasa Tuhan yang menurunkan hidayahnya. Aresh kembali berwudhu, Aresh kembali berdiri di atas sajadah untuk sholat, meski tak ada yang ia pinta, jika yang terjadi saat ini adalah yang terbaik baginya menurut sang pemilik kuasa. Dengan itu, dirinya merasa punya kekuatan, meski hampa sering kali merejam dalam kesendirian.


Dan saat dirinya kembali didera rasa kehilangan, akan sang buah cinta yang dirinduinya diam-diam di sudut hatinya terdalam.  datang pada sang pemilik kekuatan, itupun dilakoninya juga yang lalu menghantarkan jiwanya menuju rasa damai dan menerima.


"Ku anggap itu cara Tuhan menegurku, Arra. Dia mengambilmu dariku, untuk sementara, dan dia mengambil jiwa kecilku dalam rahim-mu untuk selamanya.


Ini caraku memaknai kehilangan," ungkapnya dengan tatapan dalam.


Aura merentangkan kedua tangan bersiap menerima pelukan sambil berujar dengan suara bergetar, karna jiwa yang berselimut keharuan.


"Aresh, suamiku."


"Ya, Sayang..."


Sudah bisa diterka, kan, kalau keduanya saling berangkulan untuk beberapa saat kedepan, hingga terdengar suara Kaivan.


"Interupsi, Bos."


Aresh melepas pelukannya dan memutar kepalanya menatap Kaivan. "Apa Kai?"


sungguh suaranya terdengar tak bersahabat ketika bertanya itu.


"Sudah dua kali, bos, aku menahan perawat yang akan masuk ke sini, karna kalian yang masih temu kangen. Tapi kali ini tak bisa lagi, Bos. Mereka sudah menunggu disana!" tunjuk Kaivan pada pintu di belakangnya.


Disana berdiri dua orang perawat yang siap melaksanakan tugasnya untuk memeriksa kondisi Aura. Ada juga Sherin dan Quinsha yang juga menunggu untuk melihat kondisi Aura.


"Satu hal lagi, Bos," kata Kaivan.


"Apalagi, Kai?"


"Stefan menelepon sepuluh menit yang lalu," kata Kaivan.


Damaresh gegas bangkit dan segera keluar ruangan sambil meraih ponselnya yang memang di silence sejak tadi.


******


*************

__ADS_1


Hai..teman-teman..salam hari senen nggehhh..


__ADS_2