
"Jangan menatapku begitu!
Larangan kedua diucapkan Aura, setelah larangan yang pertama tak diindahkan oleh Damaresh.
Aura kembali melanjutkan aktifitasnya mematut diri di depan cermin, kini giliran merapikan rambutnya yang tergerai sebelum mengenakan hijab.
Rambut bergelombang sehalus sutra itu di ikat tinggi dan rapi menampilkan kulit lehernya yang mulus dan putih.
Sekali lagi Aura melirik Damaresh yang betah berdiri di depan lemari mengawasinya sedari tadi.
Astaga..lelaki itu belum memutar rotasi matanya sama sekali, hanya Aura yang menjadi objeck pandangannya dari tadi.
Tatap mata itu, netra pekat itu, pun cara menatapnya juga, selalu membuat Aura salah tingkah. Untuk jalan aman, Aura segera memberi peringatan agar Damaresh tak memandangnya dengan cara demikian. Nyatanya peringatan yang ia berikan tidak mempan, Damaresh masih enggan beralih pandang.
"Sudah aku bilang, kan? jangan melihatku begitu!" peringatan yang ketiga.
Kali ini Damaresh memberi tanggapan, tak seperti dua peringatan sebelumnya yang hanya ditanggapi diam, Damaresh melemparkan senyuman.
"Kenapa aku tak boleh memandang, katanya kau dan segala yang ada padamu hanya untukku."
Nah..Damaresh pun ajukan protes setelah larangan tak berdasar yang ditegaskan Aura sebanyak tiga kali itu.
"Karna caramu memandang itu tak biasa, Aresh,"
Iya itu yang dirasakan Aura. Kerap kali tatapan Damaresh menghilangkan fokusnya, membuat salah tingkah, terkadang mendebarkan jantungnya di atas normal, terkadang pula membuatnya ingin berlama-lama berlindung dalam tatapan yang seakan merangkum seluruh jiwanya dalam damai, satu tatapan yang melahirkan efeck bermacam dalam diri Aura dari yang sangat menenangkan sampai yang sangat menggelisahkan. Waahh!!
"Cara menatapmu itu bikin tak nyaman,"
lanjut Aura lagi dengan suara melemah.
"Tak nyaman bagaimana?"
"Di sini!" Aura menunjuk dadanya.
"Seperti ada pacuan kuda," imbuhnya.
"Mana? coba aku lihat."
Damaresh malah mendekat, meletakkan kedua tangannya di bahu Aura sedikit mengeluarkan tenaga menarik tubuh Aura agar menghadap ke arahnya.
Selanjutnya ia membungkukkan badan dan meletakkan kepalanya di dada Aura. Walhasil debar jantung bak suara pacuan kuda itupun jelas ia dengar.
Ah dengan caranya begitu, jantung yang awalnya tenang tenang saja, pasti akan berdebar juga, apalagi bila memang sudah berdebar tak menentu dari tadi, pasti debarannya akan lebih menggila lagi.
Damaresh mengangkat kepalanya dan mencuri ciuman di bibir ranum Aura.
Kaget dan merona itu expresi Aura karnanya.
"Ini apa?" Damaresh menunjuk beberapa tanda merah di leher Aura. Satu dari sekian tanda dari jejak keperkasaannya semalam.
"Kalau sudah tau jawabannya, gak usah nanya!" tukas Aura sewot.
Damaresh tersenyum tipis sambil mengagumi dirinya sendiri dalam hati, yang berhasil membuat leher mulus itu bernoda disana-sini.
"Untung aku pakai hijab, sehingga aku tak perlu menutupinya dengan concealer," ujar Aura sambil lanjut merapikan rambutnya.
"Arra,"
"Ya."
__ADS_1
"Kau sudah baik-baik saja?" tanya Damaresh sambil menatap lekat.
"Iya," jawab Aura diserta senyum.
"Kau yakin?"
"Sepertinya, Iya."
Sudah lewat tiga hari dari peristiwa penolakan Claudya yang sangat memukul batinnya, kini Aura audah berusaha menerima semuanya. Sudah mulai berdamai dengan keadaan, awalnya juga ia mengalami hal yang tak jauh berbeda, dari menjadi istri yang tak dianggap, dan kini pernikahannya sudah mulai menghangat.
Kini statusnya berubah menjadi menantu yang tak dianggap. Aura hanya berharap semuanya akan segera berakhir dengan indah, sesuai yang di inginkan.
Damaresh tersenyum, ini sebenarnya hal yang sangat ingin di dengarnya dari Aura, ihwal yang membuatnya tak henti melabuhkan tatap pada istrinya, yang berujung larangan dari Aura karna cara menatapnya yang tak biasa.
Lelaki itu melabuhkan ciuman lembut di ubun-ubun Aura, membuat aroma strawberry yang menguar dari rambut itu memenuhi indera penciumannya.
Tak cukup itu saja, Damaresh pun mendaratkan ujung hidungnya di bahu istrinya dimana bajunya memang belum diresleting sempurna sehingga bahu indah itu masih bisa di explore Aresh dengan ciuman nakalnya.
Aura menunjukkan gerakan reflek akibat ciuman itu dan satu cubitan kecil pun dihadiahkan oleh Aura pada perut Damaresh yang sudah tertutup kemeja.
Lelaki itu tertawa kecil dan segera beranjak keluar dari kamar mereka. yaahh kenapa gak berlanjut sihh??
Usai sarapan bersama, keduanya siap melajutkan aktifitas kerja pagi ini. Dirga hanya tersenyum-senyum saja melihat langkah sang tuan muda yang tak melepaskan jemari Aura dari genggamannya hingga ke mobil.
"Lho? memang kita berangkat bersama?" tanya Aura heran karna Damaresh terus membimbingnya menuju mobil mewah tungganngannya ke kantor, bukan pada mobil Camry yang biasa di pakai Aura ke yayasan.
"Aku akan mengantarmu," jawab Damaresh seraya membukakan pintu mobil untuk Aura.
"Tapi aku hari ini ada jadwal survei lapangan," ucap Aura setelah kini keduanya sama-sama berada dalam mobil yang rodanya mulai menggelinding meninggalkan halaman.
"Ya, kau sudah memberitauku, semalam."
"Katakan saja alamatnya!"
"Jadi boleh?" Aura terlonjak senang.
Damaresh mengangguk, mengiyakan.
Fadia yang memang telah berdiri menunggu sejak 15 menit lalu, tak segera menyadari ketika mobil super mewah itu berhenti di depannya, karna bukan itu mobil yang biasa digunakan Aura menurut sepengetahuannya. Sampai Aura membuka kaca samping dan menyembulkan wajah cantiknya dari sana.
"Fadia, ayo naik!"
"Ah Aura?" Fadia sesaat terkesiap sebelum gegas membuka pintu mobil mewah itu di bagian belakang.
Dan setelah melihat siapa yang duduk memegang kemudi di samping Aura, Fadia sejenak merasa tegang.
Tatapannya mengarah penuh tanya pada Aura yang duduk di depan.
Aura hanya melemparkan senyuman, sesaat perjalanan terisi dengan keheningan hingga terdengar panggilan telfhon dari smartphone milik Damaresh. Lelaki itu masih memasang earphon sebelum mejawab panggilan.
karna posisinya yang sedang mengemudi, membuatnya cukup kesulitan, sigap Aura segera memasangkan earphone tersebut di telinga Damaresh tanpa adanya penolakan.
bahkan terlihat Damaresh mengusap lembut pipi Aura sebelum mulai bicara di ponselnya.
Semua itu tak luput dari perhatian Fadia yang menahan napas, ia memang tak pernah tau dengan jelas, apa dan bagaimana hubungan Aura dengan pak Damaresh Willyam, meski semua tau kalau keduanya memiliki kedekatan yang tak biasa dari beberapa kali Damaresh menjemput Aura ke yayasan, ditambah lagi fasilitas
mewah yang dipakai gadis itu tiap kali pulang pergi dari yayasan.
Tapi tak ada satupun yang berani mempertanyakan, semua itu atas ultimatum dari Olivia yang melarang semua pekerjanya berbuat sesuatu yang akan membuat Aura merasa tidak nyaman, sekaligus hanya sebentuk pertanyaan, siapa yang melanggar akan didepak dari pekerjaan. Maka meski memiliki hubungan yang cukup akrab dengan Aura ketimbang temannya yang lain, Fadia juga memilih bungkam daripada harus kehilangan mata pencaharian.
__ADS_1
Tempat yang mereka tuju adalah sebuah lokasi pembangunan panti sosial, yang digawangi oleh L&D Foundation. Sebagai badan amal terbesar di ibukota, L&D memang telah banyak menorehkan prestasi amal di berbagai lini sosial, kiprahnya ini juga kian mendongkrak nama Pramudya Corp sebagai perusahaan yang menaunginya, sebagai perusahaan besar yang dengan nama baik yang melambung tinggi
menjulang.
Perusahaan besar yang bergerak diberbagai lini bisnis itu memang sudah biasa dan banyak contohnya, tapi perusahaan besar yang memiliki badan amal sendiri sebagai ladang berbagi dengan sesama itu baru luar biasa. Dan itu ada pada Pramudya Corp, dengan L&D Foundation sebagai badan amalnya.
Melihat kedatangan mobil mewah yang sudah sangat dipaham oleh Olivia sebagai milik siapa, ia gegas menyambut Damaresh yang turun dari mobil diikuti Aura dan berikutnya Fadia.
"Syukurlah Pak Damaresh berkenan datang, saya sangat tidak menyangka kalau Bapak yang akan terjun sendiri," ucap Olivia dengan sumringah.
Sempat diberitakan kalau untuk meninjau lokasi kali ini
pihak Pramudya Corp juga akan mengirimkan perwakilan, tak dinyana jika sang big bos-lah yang turun sendiri ke lapangan.
Damaresh menarik sudut bibirnya samar atas ucapan Olivia itu. "Aku kemari, tidak atas nama Pramudya," sahutnya.
"Jadi?" Olivia jadi mengerutkan keningnya.
"Lanjutkan saja kerja kalian sesuai prosedurnya, aku kesini hanya untuk mengantarkan istriku, itu saja."
ucap Damaresh yang langsung mendapat respon beragam dari yang mendengarkan. Olivia yang tersenyum menghalau rasa tak nyaman karna sudah salah menilai, Fadia yang hampir membulatkan mata kaget beserta beberapa temannya yang lain. Dan Aura yang tersenyum senang dengan rekah kebahagiaan yang terpendar di binar matanya yang indah.
Selanjutnya Damaresh memberikan seluruh atensinya pada Aura saja. "Aku langsung ke kantor ya,"
"Iya, Hati-Hati." Aura mencium punggung tangan Aresh setelah memberi wanti-wanti itu.
"Besok sore kita ke Surabaya menjenguk ayah," ucap Damaresh setelah Aura melepas tangannya.
"Benarkah?" Aura terlonjak dan hampir lepas kendali,
gadis itu segera menarik tangan Damaresh sedikit menjauh dari yang lain.
"Aku sangat senang, Aresh. hampir saja aku memelukmu,"
ucapnya dengan wajah merona.
"Aku menunggunya," kata Damaresh mengharap.
"Tidak disini," tolak Aura.
"Di mana?"
"Nanti saja di rumah,"
"Kalau di rumah nanti, aku tak hanya menunggu pelukan itu saja," kata Aresh sambil tersenyum.
"Lalu?"
"Pelukan dan kawan-kawannya juga,"
"Apa saja itu?"
"Nanti aku kasih tau dan sekaligus prakteknya."
Damaresh tersenyum senang sambil membuka pintu mobilnya dan membawa tubuh gagahnya masuk kedalam.
Aura mengiringi kepergiannya dengan senyuman.
Kalau menurut kalian ya, pelukan dan kawan-kawannya itu apa saja ya??--
__ADS_1