
Kursi panas bertegangan listrik yang sangat tinggi itu benar-benar telah menunjukkan ketidak ramahannya pada Edgard.
Mendudukinya, kini tak lagi terasa empuk.
Bersandar padanya, kini tak lagi terasa nyaman, sensasi putarannya juga tak lagi terasa menenangkan. Justru terasa sangat panas itulah kini yang telah Edgard rasakan, hingga ia berkali-kali harus berdiri meninggalkan kursi kebesaran dan mematung di depan jendela memandang keluar.
Suara detik waktu pada jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya juga seperti bom waktu yang sebentar lagi akan meledak, dan lalu menghempaskannya untuk terjun bebas dari lantai 27 itu, dimana ruang kerja CEO Pramudya berada.
Dalam keterdiamannya yang panjang, dan terjebak dalam kebimbangan yang tak ditemukan jawaban, ketukan di pintu terdengar, dan bagi Edgard itu seakan suara malaikat maut yang siap menghantarkannya menuju kematian.
Lelaki itu berjengkit kaget, dan memusatkan rotasi pandang pada pintu yang tinggi besar, seakan hendak mengungkap tabir di sana, bisakah kiranya ia melihat siapa yang datang tanpa perlu membukanya.
"Masuk!"
Akhirnya keputusan cerdas ia ambil, dengan memersilahkan masuk pada orang di depan pintu, sebelum orang itu berpikir kalau Edgard telah pingsan karena terjebak dalam kebingungan untuk mengambil keputusan.
Wajah cantik Clara, yang beberapa saat lalu menjadi sasaran larak-lirik dan godaan maut dari Edgard kini tak lagi terlihat cantik di pandangan matanya. Terlebih lagi, Clara datang tidak membawa wajahnya yang selalu ceria, tapi membawa kabut tebal di sana, mungkin setara dengan ketebalan make-upnya.
"Ada apa?" tanya Edgard segera tanpa perlu menyilahkan sekretarisnya itu untuk duduk lebih dulu.
"Short notice dari PT Enrich, Pak," Clara segera meletakkan selembar kertas dengan ketebalan 2,3 mm di atas meja.
"Bacakan!" Perintah Edgard yang hari ini memang sedang mengibarkan bendera perang dengan semua jenis berkas dan kertas-kertas lain yang berurusan dengan pekerjaan.
"Mereka membatalkan pertemuan hari ini,"
Ucap Clara langsung, karena ia memang telah membacanya sebelum membawa pesan singkat dari PT Enrich ke hadapan Edgard.
"Alasannya?"
"Tidak tercantum."
Sebegitu turunnya wibawa Pramudya Corp sekarang, bahkan perusahaan seukuran PT Enrich yang jangan dibandingkan dengan Pramudya Corp besarnya, kini berani mengirim pesan singkat membatalkan pertemuan tanpa alasan. Padahal di bawah kepemimpinan Damaresh William, petinggi PT Enrich harus menunggu selama hampir satu bulan untuk mendapatkan keputusan dari Damaresh, terkait proyek kerjasama yang mereka ajukan. Itulah yang ada dalam benak Clara sekarang.
"Ada lagi?" Tanya Edgard, seolah berita itu tidak menggemparkan, padahal sudah terlihat jelas, rahangnya yang mengeras, menandakan kalau dalam dirinya sedang ada amarah yang berkobar.
"Blanc Compani meminta bertemu hari ini, Pak," tutur Clara.
Ini lagi. Salah satu penyebab kebingungannya dari tadi. Blanc Compani adalah perusahaan pengembang rekanan bisnis Pramudya yang terhitung setia. Sampai kini perusahaan itu tetap menjalin kerjasamanya, disaat beberapa yang lain menarik diri, pasca pengunduran diri Damaresh dari kursi CEO dan pengakuan mengagetkan dari Claudya William di depan media.
Namun kini, Blanc Company mulai sering memberikan penekanan-penekanan samar. pasalnya, Blanc Compani saat ini tengah menangani mega proyek milik Pramudya Corp yang dibutuhkan dana puluhan Triliun, tapi Edgard tak segera mencairkan dana itu dalam jumblah cukup dikarenakan kondisi keuangan Pramudya yang kini tidak sedang dalam kondisi stabil, sehingga BLanc Compani terus mendesak, dan memberikan alasan kalau ada perusahaan asing yang siap mengambil alih.
Mega proyek itu adalah titipan khusus dari William pada Edgard diawal ia menjabat sebagai CEO, yang harus tetap dijalankan. Sedangkan dalam masa satu bulan ini, perusahaan belum bisa mencairkan dana dalam jumblah yang sangat besar. Inilah salah satu puncak kebingungan Edgard yang membuatnya merasakan kalau kursi CEO yang didudukinya itu terasa panas membakar.
"Saya akan menjadwalkan pertemuan Bapak dengan Pak Damaresh besok," tutur Clara yang segera memutus lamunan Edgard dengan tiba-tiba.
"Apa?" Lelaki itu bertanya kaget.
"Bukankah Bapak minta dibuatkan janji bertemu dengan pak Damaresh?" Clara mengingatkan Edgard pada ucapannya sendiri pagi tadi.
"Mungkin dibatalkan saja," putus Edgard cepat.
__ADS_1
"Sayangnya, saya sudah menghubungi pak Damaresh, Pak."
"Lalu?"
"Pak Damaresh bersedia bertemu dengan Bapak, besok siang," sahut Clara.
"Di mana?"
"Surabaya."
"Jadi, aku harus terbang ke Surabaya?"
Edgard menampakkan raut kesal karna merasa Clara telah membuat keputusan tanpa minta persetujuan padanya dulu.
"Saya juga sudah menyiapkan penerbangan, Bapak, besok ke Surabaya," kata Clara lagi yang mendatangkan keterkejutan kedua bagi Damaresh.
"Kau terlihat sangat antusias sekali ya, untuk mempertemukan aku dengan Damaresh?" Sebentuk tanya mengandung unsur sindiran dilayangkan oleh Edgard pada Clara.
"Sebagai sekretaris, Bapak, tugas saya adalah memudahkan semua keperluan, Bapak, termasuk diantaranya keperluan Bapak untuk bertemu dengan Pak Damaresh," sahut Clara dengan wajah santai.
"Dan lagi, menurut info, miss Joana akan tiba di Surabaya pada pukul 15, nanti. Untuk meresmikan sebuah pusat perbelanjaan terbesar di sana," ucap Clara.
"Sekedar mengingatkan, Bapak tadi juga meminta saya untuk mencarikan info tentang miss Joana," imbuhnya lagi.
Edgard terdiam, membuat Clara segera berinisiatif meninggalkan ruangan, karena semua laporan sudah selesai ia berikan.
Tapi baru saja ia hendak berbalik badan, Edgard menahannya dengan ucapan.
"Sekarang, Pak?"
"Iya sekarang. Dan beritahukan pada pihak Blanc Compani, aku akan mencairkan dana-nya besok!"
"Baik, Pak."
*************
****************
"Sudah ada kabar darinya?" Tanya Edgard dengan tatapan jengah.
"Belum, Pak," sahut Clara sembari sibuk mengotak-atik ponselnya dari tadi.
"Telephon dia lagi!" Titah Edgard dengan raut wajah tak enak dipandang.
Bukan gedung megah, bukan restoran ternama, bukan mall terkenal ataupun sebuah kafe kekinian.Tempat yang dipilih oleh Damaresh untuk bertemu dengan Edgard adalah sebuah taman kota yang sudah kurang terawat di pinggiran kota Surabaya,
dimana kini Edgard duduk menunggu bersama Clara sejak lebih setengah jam lamanya.
Clara yang hendak menelephon Damaresh lagi, jadi mengurungkan niatnya, manakala dilihatnya seorang lelaki ganteng mempesona tengah melangkah ke arah keduanya, tak terlihat ia turun dari sebuah mobil mewah atau angkutan lainnya.
Tiba-Tiba saja sudah berada tak jauh di depan keduanya dengan langkah-langkah tegapnya, namun tak begitu bergesa seperti biasanya, karena mengimbangi langkah anggun seorang cantik berhijab di sampingnya, yang tangannya berada sempurna dalam penguasaan tangan Damaresh atasnya.
__ADS_1
"Pak Damaresh sudah datang, Pak." Clara memberitahukan pada Edgard yang sebenarnya juga sudah melihatnya.
"Tidak ada tempat yang lain ya, Resh?" Edgard menyambut kedatangan sepupunya itu dengan pertanyaan bernada protes.
Damaresh tak menjawab, karena sepenuhnya ia masih memberi perhatian penuh pada Aura, menuntun tangannya untuk duduk tak jauh di depan Edgard dan Clara, bahkan lelaki itu masih sempat membersihkan tempat duduk yang akan diduduki oleh Aura dengan tangannya.
Clara sempat menahan napas melihatnya.
"Ada masalah dengan tempat ini, Ed?" tanya Damaresh setelah dirinya duduk tepat di samping Aura.
"Terlalu terbuka dan panas," jawab Edgard.
"Justru aku ingin mengajakmu lebih sehat," ucap Damaresh.
"Dengan membakarku pada panas matahari?" Sambar Edgard tajam.
"Sinar matahari membuatmu lebih sehat, Ed. Kesehatan yang akan membuatmu lebih kuat," ucap Damaresh santai.
"Ckk.. setelah jatuh cinta, kau sudah banyak berubah, Aresh. Dari mulai berani melepaskan tahta, dan sekarang jadi pandai merangkai kata," sindir Edgard.
"Cinta membuat seseorang lebih manusia, Edgard. Penting memperkenalkan cinta pada manusia yang tidak tau caranya menjadi manusia," sahut Damaresh disertai senyum dikulum.
"Hmmm." Edgard hanya menanggapi dengan berdengung.
"Jadi ada apa kau ingin menemuiku?"
tanya Damaresh langsung.
"Kangen saja pada sepupuku," sahut Edgard. Sebenarnya ia ingin minta pendapat pada Damaresh untuk menyetujui tawaran dari sebuah perusahaan asing yang siap menyuntikkan dana pada Pramudya Corp, dalam jumlah berapapun yang diinginkan.
Tapi kemarin Edgard sudah memutuskan untuk menerima tawaran itu tanpa perlu minta persetujuan dari siapapun, ia sudah teken kontrak kerjasama dengan miss Joana, perwakilan dari perusahaan tersebut.
"Keputusan yang tepat," ucap Damaresh.
"Keputusan apa?" Tanya Edgard tak paham, kemana arah pembicaraan Damaresh.
"Apapun yang kau putuskan, termasuk merasa kangen padaku," sahut Damaresh.
"Ooo." Edgard menghela napas lega. Tadinya ia sempat berpikir kalau ucapan Damaresh itu terkait kerjasamanya dengan miss Joana yang sangat ia rahasiakan dari siapapun, bahkan Clara sang sekretaris tidak ia libatkan dalam pertemuan itu.
"Apa kesibukanmu sekarang, Aresh?" tanya Edgard sejurus kemudian, terdengar seperti cukup perhatian, padahal itu hanya caranya saja mengalihkan perhatian Damaresh yang pandai membaca ekpresi wajah seseorang. Edgard tentu tak ingin rahasianya terbongkar.
"Menyayangi istriku," sahut Damaresh.
"Menakjubkan," seru Edgard sambil tergelak. Seperti mimpi baginya, mendengar kalimat seperti itu muncul dari bibir seorang Damaresh William.
"Senyaman apa posisimu saat ini, Aresh? Kenapa aku jadi penasaran," selorohnya lagi.
"Jatuh cinta-lah! Baru kau akan tau rasanya.
Karena jatuh cinta itu membuat seorang manusia, lebih tau caranya menjadi manusia."
__ADS_1