
Dua orang lelaki berbeda generasi, bertemu di depan pintu ruang meeting, tatapan mereka saling beradu dalam durasi singkat. Damaresh yang berdiri dengan gagah, dengan baju kerja lengkap, dan Willyam yang kendati duduk di kursi roda juga tetap terlihat gagah dengan pakaian kebesarannya.
"Sudah genap seminggu," ucap Willyam datar, Dan tak disertai tatapan yang mengarah pada satu objeck tertentu. Tapi semua tau, kalau ucapan itu untuk Damaresh yang berdiri jarak dua meter di depannya, yang juga tak terlihat menanggapi ucapannya.
"Apa kau ingin aku memberikan tenggang waktu?"
tanya Willyam yang sekaligus juga sebentuk penawaran.
"Tidak. Terima kasih," sahut Damaresh tak kalah datar. Dan dengan tangannya ia menyilahkan kakeknya itu untuk masuk lebih dahulu ke dalam ruang meeting yang pintunya sudah dibuka oleh dua orang pengiring Willyam.
Willyam dan Damaresh sudah menempati kursi kebesaran mereka masing-masing sebagai dewan komisaris, yang menghadap pada jajaran kursi dan meja yang diduduki oleh peserta rapat kali ini yang terdiri dari jajaran dewan direksi.
Sekilas, Willyam mengedarkan pandangan pada seluruh anggota rapat, dan netranya berlabuh pada beberapa sosok yang terlihat asing, namun juga merasa pernah kenal. Harusnya Willyam mengoreksi memori ingatan-nya untuk bisa mengetahui siapa adanya sosok yang telah memantik rasa penasaran dalam dirinya, atau melabuhkan tatapan dengan seksama, mana tau dengan itu ia akan mengingat siapa adanya.
Tapi sebagai seorang pimpinan yang harus menjaga ketat kewibawaan, menatap menelisik pada orang yang tak dikenal, apalagi dengan status bawahan, adalah satu hal yang tak boleh dilakukan.
Menurut William.
William pun menegakkan pandangannya, setegak cara duduknya. ketika meeting yang dipimpin langsung oleh Damaresh William itu dimulai.
Seperti biasanya, agenda rapat diawali dengan laporan hasil pengawasan jajaran direksi pada manajemen perusahaan berikut perkembangan perusahaan dalam satu bulan. Dilanjutkan menyusun strategi bisnis baru untuk meningkatkan pangsa pasar, atau mempertahankan strategi yang sudah ada, dengan memberi sedikit inovasi.
Sebelum menuju pada agenda berikutnya, terlihat salah satu peserta rapat, mengajukan tangan.
"Ya, silahkan, Tuan Daniel Smith, CEO BLC corp."
Damaresh mempersilahkan dengan tegas.
Hal mana membuat William segera merotasi matanya pada seseorang yang disebut Damaresh sebagai CEO BLC Corp itu.
Daniel Smith berdiri dari duduknya dan segera menyampaikan apa yang terasa menjadi kendala bagi dirinya terkait kebijakan baru yang telah disepakati. "Saya sangat kagum dengan manajemen Pramudya Corp yang sangat terstruktur, dan saya bangga bisa menjadi bagian dari Pramudya ini, akan tetapi ada bagian dari manajemen yang strukturalnya tidak sama dengan BLC Corp, bagaimana kebijakan Tuan Damaresh terkait ini?"
Daniel Smith, bukan tak tau masalah peraturan hukum perusahaan yang sudah diakuisisi. Mungkin ia sengaja menanyakan itu di hadapan semua direksi untuk menunjukkan bentuk etikanya sebagai pemangku perusahaan yang telah diambil alih, atau justru memang sudah ada MOU sebelumnya dengan Damaresh, untuknya mempertanyakan tentang hal yang sebenarnya sudah diketahui bersama.
Pasalnya, pertanyaan itu sukses membuat atensi William tak beralih dari Daniel Smith, dengan menampilkan beberapa kerutan di dahi, yang menandakan kalau dirinya sedang berpikir keras.
Pasti pertanyaan Daniel Smith itulah, yang menjadi penyebabnya.
"Saya tetap berpegang pada peraturan yang baku, Tuan Daniel. BLC Corp tetap ada dengan anda sebagai CEO-NYA, meski kini BLC telah diakuisisi oleh Pramudya. Tuan Daniel punya hak untuk tetap menjalankan pemerintahan sesuai tatanan yang ada, hanya saja, kami mengkondisikan tim pengawas di sana, seperti yang sudah kita sepakati bersama." jawaban yang jelas diberikan oleh Damaresh, yang tak hanya membuat kerutan di kening William bertambah, tapi juga disertai dengan expresi kaget yang segera ditutupinya dengan menahan napas.
"Terima kasih, untuk kebijaksanaan, Tuan Damaresh," sambut Daniel Smith yang setelah mendapat anggukan dari Damaresh segera kembali duduk pada posisi-nya.
"Hal ini berbeda statusnya dengan Sagen Industries yang sudah Merger dengan Pramudya, maka tak ada lagi, Sagen. Yang ada adalah Pramudya," lanjut Damaresh meneruskan keterangannya yang secara tersirat menyebutkan kesepakatan peleburan atau merger antara Sagen Industries dan Pramudya Corp.
Lagi, hal itu mendapatkan reaksi keterkejutan kedua bagi William, meski riak keterkejutannya tak sebesar yang pertama, namun pada kali ini ia sampai melempar tatap tanya pada Naila Anggara yang duduk tak jauh darinya.
Wanita yang sedari awal rapat sudah menutup bahasanya dengan rapat pula itu, hanya memperlihatkan gelengan kecil, menandakan kalau dirinya juga tidak tau apa-apa.
Anthoni, yang menjadi pemerhati expresi kakeknya dari tempatnya duduk, nampak menyeringai kecil. Entahlah, kenapa ia juga merasa turut puas dengan cara Damaresh memberitahukan kemenangannya pada William. Cara yang sangat elegan, menurutnya.
"Kau sengaja membuat kakekmu ini terlihat bodoh, Aresh?"
Pertanyaan William menghentikan langkah Damaresh yang hendak keluar dari ruang meeting ketika rapat telah berakhir.
__ADS_1
Damaresh memutar badannya, menatap sang pemberi putusan dalam keluarganya itu.
"Orang yang pintar tak akan terlihat bodoh, meski dibodohi dengan cara apapun, Kakek," ucapnya,
yang mengandung nada sindiran halus.
Terlihat William mendengkus, segera aroma ketegangan menguar di sana, membuat beberapa
orang yang masih tinggal, jadi tundukkan kepala.
"Sagen Industri, dan BLC Corp, apa yang ingin kau jelaskan padaku?" William memperjelas maksud ucapannya.
Damaresh memberi isyarat pada Anthoni, yang segera maju memberikan beberapa berkas pada Damaresh.
"Semua penjelasannya ada di sini, Kakek bisa teliti sendiri." Damaresh menunjuk berkas di tangannya, lalu memberikannya pada Naila. Lelaki itu sendiri
segera meneruskan langkahnya.
*********
***********
Willyam kembali membaca dengan seksama untuk yang ketiga kalinya, di ulangi dari atas ke bawah dengan sangat cermat dan lebih teliti, kalau- kalau ada satu huruf yang terlewati, atau mungkin ada satu kata yang ditambahi. Bahkan ia juga melepas dan memakai kembali kaca mata bacanya berkali-kali, kawatir kalau kekuatan kedua netranya yang telah berkurang hampir 30% itu, membuatnya salah membaca.
Dan tak hanya itu, Wilyam juga membacanya terbalik dari bawah ke atas berkali-kali, dan hasilnya tetap saja, tak berubah dari hasil awal yang ia baca, bahkan kini ia menemukan keyakinan kalau apa yang dilihatnya memang begitu adanya.
Harus ia akui kalau yang dibacanya adalah benar, kalau 80% saham BLC Corp London kini telah beralih atas namanya.
Willyam mendongakkan kepalanya, dan menatap Naila yang berdiri di depannya.
Sembari menunggu, pikirannya terus berkelana tentang cara apa yang telah dilakukan oleh Damaresh sehingga bisa memenuhi tantangannya dalam waktu yang sangat singkat, bahkan kurang satu hari dari waktu yang telah disepakati bersama.
Meski Willyam tak melakukan cara apapun untuk mencegah kemenangan menghampiri Damaresh, tapi Willyam merasa yakin kalau cucunya itu tak akan dapat memenangi pertarungan apalagi hanya dalam waktu yang sangat singkat begitu.
Tapi di luar dugaan, Damaresh benar-benar mempersembahkan kemenangan dengan gemilang tanpa memancing keributan.
Luar biasa, demikian Willyam merasakan, meski dalam dirinya masih terus menganalisa cara apa yang telah digunakan oleh cucunya dalam meraih
semuanya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Damaresh sudah berdiri di hadapan Willyam.
"Duduklah!" Willyam memberi isyarat dengan tangan.
"Kau menang, aku mengakui itu," ucap Willyam setelah Damaresh duduk dengan benar di depannya.
"Kau sungguh luar biasa, dan aku sangat bangga padamu," ucapnya lagi penuh sanjungan dan pujian tapi tak didukung dengan expresinya yang masih terlihat datar, sebanding dengan tatapannya yang lurus saja.
Damaresh tak memberikan tanggapan apa-apa, ia hanya menatap saja tanpa kata.
"Dan sesuai kesepakatan, kau boleh untuk tak mematuhi keputusanku, tapi--" Willyam sejenak menjeda kalimatnya untuk mengawasi expresi cucunya itu. "Tidak semua keputusanku yang bisa kau tolak, karna kau pasti tau, kenapa harus begitu."
"Aku tau," jawab Damaresh segera, sesaat setelah kalimat Willyam mencapai titik. "Masih ada keselamatan daddy yang harus ku perhitungkan,
__ADS_1
begitu, kan, maksudmu?"
"Syukurlah kau tau," ucap Willyam tegas. Tatapannya seolah menyiratkan sebuah kalimat-- Kau boleh menang sekarang, tapi aku adalah yang sebenarnya pemenang, karna kau pasti tak akan mengorbankan ayahmu untuk tujuanmu sendiri--.
"Tapi aku juga tau, kalau tak semudah itu kau akan menyakiti ayahku, karna jika kau menghabisi Airlangga, kau tak akan punya kartu lagi untuk menekan putranya," tukas Damaresh dengan tatapan menantang.
Meski dalam hatinya mengakui kebenaran ucapan Damaresh, tapi Willyam memilih diam saja.
"Mari kita persingkat waktu, Kakek. Kau memanggilku kesini untuk memenuhi janjimu, atau untuk memberikan ancaman kedua padaku?"
Tampak Willyam menghela napasnya pelan, mendengar ucapan dari Damaresh itu.
"Silahkan kau sebutkan! bagian mana dari keputusanku yang tidak ingin kau laksanakan,"
titah Willyam dengan tegas.
"Hanya satu yang ingin aku lakukan, dan kau wajib mengabulkan."
"Baik." Willyam mengangguk setuju.
Sepertinya dapat dengan mudah ditebak kalau Damaresh pasti akan menolak poin ketiga, yaitu dijodohkan dengan Naila Anggara.
"Mulai saat ini, biarkan aku mengambil keputusan sendiri tentang hidupku, tanpa ada campur tanganmu," putus Damaresh.
Ia hanya diijinkan menyebutkan satu poin dari ketiga poin keputusan Willyam yang terdapat dalam bab (kalah satu langkah).
Tapi dalam satu poin yang diucapkannya justru mencakup bermacam-macam poin yang lainnya, dari yang sudah dicetuskan dan yang belum diputuskan.
Willyam sendiri sempat terpana, tak menyangka kalau Damaresh lebih cerdas dari dugaannya. Ia setuju mematuhi satu poin saja, namun poin yang dipintanya, justru mewadahi poin-poin yang lainnya. Hal itu membuat William sejenak terdiam tak berkata.
Melihat keterdiaman kakeknya, Damaresh segera berkata. "Apa sekarang, Kakek akan menjadi orang yang menjilat ludahnya sendiri?"
"Tidak." William menggeleng tegas.
"Kau yang menang," tegasnya lagi sambil tersembunyi menahan napas.
Damaresh meraih kemenangan dengan gemilang. Bukan hanya berhasil mengakuisisi BLC Corp, tapi juga merger dengan Sagen Industries dan telah membuat susunan kepengurusan dua perusahaan yang telah berganti status itu dengan rapi.
Tak ada alasan baginya untuk tak memenuhi kesepakatan yang telah dibuatnya.
Mungkin perlu bagi Willyam untuk memikirkan ulang keputusan yang dicetuskannya sendiri barusan, tentang siapa pemenang yang sebenarnya, William Pramudya atau Damaresh William, cucunya.
Para pembaca pasti sudah bisa memutuskannya juga, bukan??
Damaresh segera berdiri dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya William cepat.
"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, bukan? Aku mau menemui istriku, untuk makan siang bersama," ucap Damaresh dan segera berlalu tanpa perlu menunggu jawaban kakeknya lebih dulu.
*****
*********
__ADS_1
***********