Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
108. Hadiah ulang Tahun.


__ADS_3

Tidak lebih dan tidak kurang walau hanya satu menit saja dari waktu yang dijanjikan, Damaresh betul-betul datang setengah jam sebelum acara inti digelar.


Hadirnya yang bak seorang pangeran disambut dengan penuh penghormatan dan menjadi pusat perhatian dari segenap tamu undangan yang menyediakan waktu sepenuhnya untuk beralih dari apa yang sedang dilakukan, hanya untuk menatap sang putra tampan yang melintas dengan segala atribut kemewahan dan tampilan high clas.


Ada beberapa bidikan lensa yang mengarah pada langkah-langkah tegas Damaresh, ada yang datang menghadang langkahnya dan menjabat tangannya untuk memperlihatkan eksistensinya pada sang pemangku kekuasaan yang paling tinggi di Pramudya itu sekarang.


Ada yang memberikan basa-basi dengan bahasa super ramah dan tampilan muka super manis, dengan tujuan untuk meninggalkan kesan sebagai kolega atau calon kolega bisnis yang perlu diperhitungkan, dan namanya tidak terhapus dari jajaran nama, rekan.


Sepintas lalu, terlihat apa yang didapatkan oleh Damaresh itu sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan, namun sebenarnya hanyalah semu yang tersimpan dalam tujuan tertentu yang jauh dari keikhlasan.


Membosankan.


Hal itu mungkin yang dirasakan, kenapa paras rupawan itu tak pernah berhias senyuman. Karna bukan ketulusan yang ditemukannya dari pergaulan sekitar, melainkan sebuah kepalsuan.


"Alihkan tatapanmu, Nola!" perintah Edgard pada istrinya yang ikut-ikutan tak berkedip menatap Damaresh sebagaimana banyak perempuan yang lain, yang terhipnotis pada kerupawanan Damaresh William.


Nola tersenyum miring, menanggapi titah suaminya yang masih setia memegang gelas wine di tangan. "Kau cemburu?" cebiknya dengan sedikit


mengedikkan bahu.


"Aku sangat cemburu pada Damaresh." Edgard menenggak minumannya yang diiringi tawa oleh Nola.


"Itu sangat terlihat, Ed," ujarnya dengan senyum bangga.


"Bukan karna kau yang melihatnya," ralat Edgard segera.


"Lalu?"


"Tapi pada apa yang didapat oleh Damaresh sekarang, karna itu semua hak-ku," tandas Edgard.


Nola tertawa sumbang, tawa yang memiliki dua makna yang bersamaan, antara menertawakan dirinya yang terlanjur senang, karna mengira Edgard betul-betul merasa cemburu. Dan menertawakan Edgard yang tidur terlalu panjang, hingga mimpinya pun tak kunjung selesai.


"Kau sudah kalah dalam semua hal, berhentilah berhayal," kecam Nola dengan tatapan meremehkan.


"Dan salah satu penyebab kekalahan, karna aku tak memiliki pendamping yang bisa menyumbangkan kemenangan," Edgard balik mengecam, hingga dalam sekejap, suasana disekitar mereka dipenuhi dengan atmosfer ketegangan.


"Jangan terburu-buru untuk mengahiri sandiwara!"


suara peringatan dari Anthoni, entah darimana datangnya adik Edgard itu yang tau-tau kini telah berdiri dekat diantara keduanya.


"Lihatlah! banyak pasang mata yang melihat kalian"


Anthoni memberi isyarat dengan matanya pada beberapa orang yang memang tengah melihat ke arah mereka. "Tetaplah, menjadi pasangan yang paling bahagia hingga acara ini, usai!" imbuhnya lagi.


Terlihat Nola menarik napasnya samar.


"Merasa lelah?"


Anthoni menatap kakak iparnya itu sekejap.


"Bertahan! ini, kan sudah menjadi pilihan kalian,"


tukas Anthoni dengan menarik satu sudut bibirnya samar. Itu bukan kata-kata penyemangat, melainkan sindiran yang terlihat jelas dari raut muka Anthoni ketika mengucapkan.


"Bisa minta waktunya sebentar?" pertanyaan itu datang dari Damaresh. Dengan tiba-tiba saja lelaki itu sudah ada di dekat mereka.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Edgard datar.


"Kau dan Anthoni," sahut Damaresh tak kalah datar.


"Dengan senang hati, sepupu," jawab Edgard dengan menekankan kata akhir dari kalimatnya.


Damaresh segera berlalu, diikuti Edgard dan Anthoni yang melangkah tidak dalam jarak yang cukup dekat. Mereka menuju satu tempat yang telah ditentukan oleh Damaresh, tempat yang tak jauh dari jajaran tamu ViP yang tengah beramah tamah dengan William, sang empunya acara.


"Aku ingin menawarkan pada kalian sebuah kerjasama," ujar Damaresh segera memberitaukan maksudnya.


"Dalam hal apa?" tanya Anthoni.


Namun belum Damaresh menjawab, Edgard segera berkata.


"Kau sudah diatas awan saat ini, untuk apalagi memerlukan kerjasama dengan kami."


"Untuk membawa kalian berada di atas awan juga," sahut Damaresh.


"Kedengarannya menarik," kata Edgard.


"Jadi setuju kerjasama denganku?"


"Apa bentuk kerjasamanya?" tanya Edgard, yang membuat Anthoni memutar bola matanya, malas. Menurutnya, Edgard hanya memperpanjang waktu saja dengan ucapannya, karna pada Akhirnya, dirinya akan tetap menyetujui Damaresh seperti saat ini.


"Peraturannya kali ini, aku tak harus menyebutkan lebih dulu apa bentuk kerjasamanya, tapi aku akan menyebutkan keuntungan apa yang kalian dapat dengan ikut bekerjasama," ujar Damaresh.


Sangat menarik bagi Edgard, karna ia adalah type orang yang cenderung tak perduli dengan apa yang harus ia lakukan, jika hasil yang sangat sesuai bisa didapatkan. "Apa keuntungannya?"


Dengan cepat ia menanyakan.


Edgard langsung tergelak.


"Yang benar saja, Resh," cebiknya ringan.


"Aku hanya mengatakan yang benar," tegas Damaresh.


"Hah..apa saja yang kuinginkan? Apa yang kuinginkan, kau tidak akan bisa memberikan," tukas Edgard.


"Aku tau apa yang kau inginkan, bahkan sebelum kau mengatakannya, Ed. Dan aku tidak akan menawarkanmu kerjasama jika aku tak mampu memberikan keinginanmu," ucap Damaresh tegas.


"Baiklah, sepakat," putus Edgard dengan cepat.


Damaresh lalu memalingkan pandangannya pada Anthoni. "Dan kau?" Tanya-nya.


"Apapun itu," sahut Anthoni.


"Terima kasih." Damaresh menganggukkan kepalanya.


Damian terlihat menghampiri mereka.


"Tuan muda  dipanggil tuan besar," ucap Damian menyampaikan maksudnya.


"Siapa?" Tanya Edgard.


"Tuan muda semua."

__ADS_1


Rupanya acara inti akan digelar sebentar lagi, terlihat William telah menduduki kursi kebesaran dan menyapu pandang pada segenap tamu undangan seakan sedang mengabsen siapa saja yang datang untuk memberikan ucapan selamat dan restu.


Selamat, untuk ulang tahun William.


Dan restu, untuk peresmian pertunangan Damaresh dan Naila Anggara.


Awalnya Claudya yang diberi kesempatan pertama untuk memberikan ucapan selamat, dan sekaligus mempersembahkan hadiahnya, diikuti oleh Cristhine yang mewakili putra laki-laki William, yaitu Alan william yang telah berpulang. Bisa di pastikan kalau malam ini pemilik kerajaan bisnis Pramudya itu akan bertaburkan ucapan selamat dan bergelimangan hadiah mewah.


Disusul kemudian, ketiga cucu William. Dimana kesempatan pertama diberikan pada Edgard William, hal ini seolah sengaja telah diatur, karna biasanya Damaresh lah yang mendapatkan kesempatan pertama.


Usai memberikan ucapan selamatnya, Edgard segera berkata. "Aku tak dapat mempersembahkan apapun pada kakek, karna dari segala bentuk hadiah yang bisa kuberikan, kakek bahkan sudah lebih dulu memilikinya, aku hanya ingin memberikan segenap kepatuhan yang tanpa jeda padamu, Kek."


Ucapan bernada puitis dari Edgard mampu membuat William tersenyum puas dan senang.


"Malam ini, aku akan mengabulkan apa saja yang kalian pinta padaku, berupa satu permintaan. Kau, Anthoni dan Damaresh," ucap William penuh rasa senang. "Semuanya kuberikan sama," imbuhnya lagi sembari menatap penuh rasa bangga pada ketiga cucunya yang sama-sama terlihat tampan dan gagah  malam ini.


Edgard dan Anthoni segera ucapkan terima kasih secara bersamaan, beda dengan Damaresh yang hanya mengangguk dengan sebaris senyuman.


Selanjutnya Anthoni yang memberikan ucapan selamatnya, sebagaimana Edgard iapun memberikan hadiahnya berupa sebaris doa dan harapan. "Semoga segala hasrat kakek terpuaskan," doa Anthoni singkat. Rasanya itu lebih pantas untuk disebut sindiran dari pada doa.


William saja tak menampilkan senyumnya setelah mendengar doa singkat Anthoni itu. Beda saat ia mendengarkan ucapan Edgard barusan.


Dan kini giliran Damaresh, terlihat William memberi isyarat tersembunyi pada Damian yang segera diangguki paham oleh sang kepercayaan. Sepertinya sebuah rencana untuk Damaresh akan segera dilancarkan.


Damian menyisih sebentar dan ia datang lagi kemudian dengan membawa Naila Anggara yang sudah terlihat begitu cantik dan elegant berdiri disamping ayahnya.


Keduanya berdiri di belakang Damian dan tinggal menunggu isyarat dari William untuk maju ke depan.


Sedangkan William sendiri dan semua mata undangan, berikut segenap mata kamera dan para pemburu berita, sedang sepenuhnya memperhatikan Damaresh yang kini mulai memberikan ucapan selamatnya.


"Sebenarnya, aku ingin memberikan Kakek sebuah hadiah. Tapi karna melihat saudaraku yang lain, sepertinya aku memutuskan untuk mengikuti mereka saja," ujarnya setelah memberikan ucapan selamat ulang tahun.


Damaresh kini menatap William saja,


"Kakek, aku hanya ingin mengucapkan satu hal, atau lebih tepatnya memberitukanmu satu hal. Bahwa mulai saat ini, aku, Damaresh William menyatakan untuk mengundurkan diri dari jabatanku sebagai CEO Pramudya Corp."


Damaresh memutuskan kalimatnya begitu saja setelah semua ucapannya telah didengar dengan sempurna oleh semuanya, khususnya, William Pramudya. karna setelah ucapannya itu, kegaduhan yang tercipta disana dengan ekpresi dan reaksi yang sama. Terkejut dan tak menyangka.


Bahkan William sepertinya menerima sport jantung atas penuturan Damaresh, sehingga ia masih diam saja dan tak bereaksi apa-apa. Hingga lalu.


"Ini, yang kau sebut sebagai hadiah ulang tahunku?" tanya William datar.


"Ya," sahut Damaresh tak gentar.


*****


********


**********%


*********


Duhh rencana mau lanjut..apalah daya tangan tak sampai..


apakah pengunduran diri damaresh akan diterima oleh William..next episode ya..besok, insha allah.

__ADS_1


__ADS_2