
"Assalamu'alaikum.." Aura yang baru usai melakukan sholat dhuhur di musholla, mengucapkan salam ketika membuka pintu ruang perawatan ayahnya, karna Lukman sudah sadar tadi pagi, ia pasti yang akan menjawab salamnya ini.
"Waalaikum salam.." ternyata salamnya dijawab oleh dua orang sekaligus, suara laki-laki semua, yang menandakan kalau Lukman tak sendiri disana.
Aura segera melihat seksama, siapa yang sedang bersama ayahnya.
Ah ternyata seorang yang sangat di rindukannya, meski hanya 24 jam yang tak bertemu mata.
Seorang tampan rupawan yang... Entah harus bagaimana, dan dengan kalimat apa Aura akan menggambarkan
Pesona suaminya yang diakui oleh semua kalangan.
Kalian liat sendiri saja, dan silahkan dinilai sendiri .... !
Yang jelas kini, Aura hentikan langkah melihat seakan tak percaya, kalau trah tampan itu kini ada di depan matanya, dan tengah menatapnya dengan pandangan yang....Ahh.. Tatapan seperti itu yang selalu melambungkan hati Aura.
Aura tak dapat mengendalikan gerak tubuhnya yang gegas mendekat dan segera memeluk tubuhnya yang tegap.
Lelaki yang masih tak melepas lilitan dasi dari lehernya itupun melingkari tubuh Aura dengan dekapan yang hangat.
Sesaat mereka biarkan Lukman menyaksikan kemesraan dua insan yang yang telah terikat halal, dengan ikut merangkum kebahagiaan.
"Kau datang?" lirih tanya Aura dengan wajah yang tetap terbenam di dada Damaresh Willyam.
"Ya" Damaresh menundukkan kepalanya untuk
melepaskan ciuman di kepala istrinya.
"Kenapa datang? Kau-kan banyak pekerjaan?"
Pertanyaan bernada protes dilayangkan Aura. Sebenarnya hatinya saat ini penuh berbunga-bunga, dan berdaun-daun juga, plus berkebun-kebun tentunya. (meminjam istilahnya kak Ayu Widya)
"Karna aku tau, di sini ada yang merindukanku."
Damaresh memberi jawaban puitis.
"Dan kau tak rindu?" Aura mendongakkan wajahnya menatap lelakinya itu.
"Aku di sini, karna aku rindu."
Jawaban yang membuat senyum terkembang indah di wajah Aura dan sesaat masih menyapu wajah tàmpan itu dengan tatapan lembutnya.
"Arra."
"Ya"
"Ayahmu melihat kita."
Reflek, Aura melepaskan pelukannya, baru tersadar kalau ada orang lain di sana, selain mereka berdua, dan orang itu adalah ayahnya sendiri yang menjadi saksi romansa antara keduanya.
Ah Aura, apa yang kau pikir setelah bertemu suami tampanmu?
Dunia seakan milik berdua, gak ada orang lagi selain kalian saja? dan yang lain termasuk Authormu ini hanya ngontrak? wah-wah- perlu dikasih pelajaran ini.
"A-Ayah..ma-af a-aku.." Aura gugup setelah menghadapkan wajahnya pada Lukman.
Baya berwajah teduh itu tersenyum.
"Gak apa-apa nak, ayah paham," ucapnya penuh pengertian.
__ADS_1
"Aura..kau mencintai suamimu?" tanya Lukman sore itu, disaat hanya berdua saja karna Damaresh pamit keluar bersama Stefan.
"Ee.." mendapat pertanyaan seperti itu, Aura yang sedang mengupas kan buah untuk Lukman segera menghentikan gerakan tangannya. Wajahnya menunduk dan memerah di saat yang bersamaan.
Lukman tersenyum. "Kelihatannya tak perlu dijawab, ayah sudah tau," kata Lukman sedikit menggoda putrinya itu.
Aura terdongak menatap ayahnya sejenak dan kembali menunduk menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat itu.
"Dia suamimu, nak. Mencintainya itu bukan hanya boleh tapi juga wajib."
Lukman lalu meraih tangan Aura.
"Kau bahagia bersama suamimu?"
"Iya ayah,"
Aura memang merasakan kebahagiaan
Itu ketika bersama Damaresh betapapun banyaknya ketidak samaan di antara mereka berdua.
"Kau ingin terus bersamanya?" tanya Lukman lagi.
Aura mengangguk meski terasa ada yang mengganjal di sisi hatinya yang lain, tapi anggukan reflek itu ada akibat perintah dari hatinya juga bukan?
"Jadi sudah tidak ada lagi yang kau ragukan dari suamimu?"
"Mungkin hanya satu ayah,"
"Apa?"
"Dia belum menjadi pria yang sholih, yang taat beragama," Aura berucap sambil tundukkan wajahnya.
"Apa setelah menikah, kau sudah berhenti meminta suami yang sholih pada Allah?"
"Teruslah minta suami yang sholih pada Allah, mudah-mudahan Allah mengabulkannya dengan cara membuka hati suamimu untuk mendapatkan hidayahnya, sehingga menjadi hamba yang patuh padanya."
"Selain itu, ada lagi yang kau ragukan dalam pernikahanmu?" tanya Lukman lagi setelah Aura mengangguk atas ucapannya baru saja.
"Tidak ada ayah,"
"Syukurlah nak, ayah lega sekarang."
Lukman menghela napasnya pelan.
"Kenapa ayah?"
"Aku sedikit memikirkanmu, karna kau menikah dengan orang dengan latar belakang keluarga yang sangat jauh berbeda, keluarga kita dan keluarga suamimu berada dalam hierarki yang tak sama, yang mungkin akan sulit bagi keluarga mereka untuk menerimamu, begitupun sebaliknya kau juga akan sulit menyatu dengan mereka. Terkadang perbedaan itu menjadi batu sandungan yang besar dalam keutuhan rumah tangga." tutur Lukman sambil menatap putrinya dalam.
"Ayah dulu tak sempat memikirkan itu, ketika meminta kalian untuk menikah, saat itu ayah hanya ingin menjagamu dari fitnah, ayah tak memikirkan kedepannya, bagaimana jika nantinya keluarga suamimu tak bisa menerimamu, karna pernikahan itu bukan hanya antara kau dan suamimu, tapi keluarganya juga---"
Lukman memangkas ucapannya yang sebenarnya belum tuntas itu karna sepasang matanya yang sudah berkaca-kaca.
Aura mendekatinya dan memeluknya. "Ayah, sebenarnya ada apa?
Aku tau, ayah berbicara seperti ini, karna ada sesuatu yang terjadi."
Lukman mengusap kepala Aura pelan.
"Jalankan rumah tanggamu dengan niat ibadah, apapun yang terjadi nanti, jadikan Allah saja sebagai sandaran ya, karna tak selamanya ayah akan ada bersamamu--" Lukman kembali tak dapat melanjutkan ucapannya karna kedatangan Rahma dan Farlan juga istrinya Farlan.
Rahma menyuruh Aura untuk pulang dulu bersama Damaresh agar bisa istirahat dirumah, sementara mereka akan menemani Lukman di rumah sakit.
__ADS_1
Aura sebenarnya tak ingin beringsut dari sisi ayahnya, tapi Lukman justru menyarankan hal yang serupa dengan Rahma.
******
"Terima kasih kau datang, aku sangat merasa senang," ucap Aura pada Damaresh yang sedang memeluknya erat, keduanya kini sama-sama merebahkan tubuh di kamar Aura seusai sholat maghrib barusan.
Catat: hanya Aura saja yang sholat.
"Tapi aku tak bisa menginap, aku harus kembali ke Jakarta jam sebelas nanti."
Memang hanya segitu waktu yang bisa dicurinya untuk menemui Aura, tak lebih dari 12 jam saja.
Aura mengangguk lemah, dalam hati terasa berat, ia ingin Damaresh tetap ada didekatnya, entahlah, mengapa sekarang ia sangat tak ingin jauh dari lelaki itu. "Kua pasti mencuri waktu untuk datang kesini, kan?"
"Iya, maaf tak bisa lama." Damaresh semakin mengeratkan pelukannya.
"Aresh menurut cerita bibi Rahma, ada yang datang kemari menemui ayah, bibi menyangka itu kita--"
"Itu mommy,"
"Ee.." Aura sejenak diam dengan perasaan mulai tak
nyaman, "Kau tau dari siapa kalau itu Nyonya Claudya?"
"Stefan, dia memberitauku tadi,"
"Tapi belum pasti Aresh, aku akan menanyakannya dulu pada Ayah,"
"Ayahmu juga sudah memberiatuku tadi, kalau kemarin mommy menemuinya,"
Aura membalikkan tubuhnya menatap Damaresh, tampak lelaki itu memejamkan matanya, Aura pun tak ingin mengusiknya lagi dengan kata-kata.
Dalam benaknya kini merekam semua ucapan Lukman,
dirinya kini faham, mengapa ayahnya itu berkata demikian.
"Apa yang kau pikir?" Damaresh menoel-noel hidung Aura dengan ujung hidung mancungnya.
"Tidak ada, kau istirahatlah! nanti kan kau mau kembali ke Jakarta, baik-baik disana ya,"
"Hmm" Damaresh kembali memejamkan mata.
Aura menarik kepalanya dan mencium kening lelakinya itu. Damaresh kembali membuka matanya menatap Aura sambil senyum.
"Stefan ikut pulang bersamamu?"
"Tidak. dia tetap disini menjagamu,"
"Tidak perlu Aresh, kau ajak pulang saja dia!"
"Kenapa?"
"Dia selalu memperhatikanku, mengawasi gerak-gerikku, memang sih dia gak bicara, tapi aku merasa gak nyaman,"
"Dia memang kuperintahkan untuk mengawasimu, Arra."
"Tapi dia itu lelaki muda, dan dia selalu memandangku,
bagaimana jika dia jatuh cinta padaku?" tanya Aura asal-asalan.
Dan respon Damaresh sungguh diluar dugaan.
__ADS_1
"Akan aku congkel matanya bila dia berani begitu,"
kalimat itu diucapkan disertai tatapan tajam, Aura jadi bergidik juga melihatnya. Segera ia peluk tubuh itu dengan erat dan membiarkan wajahnya menjadi sasaran ciuman Damaresh yang seakan tak mau lepas.