
"Sudah sholat 'isya?"
"Sudah kak, baru saja,"
Seperti biasa, Aura tak bisa untuk tak tersenyum setiap kali menerima telfhon dari Akhtar. Apalagi lelaki itu tak pernah absen untuk mengingatkannya perihal ibadah.
Satu hal mendasar yang harus di lakukan oleh mahluk beragama. Benar-benar calon imam idaman.
"Sudah makan?" terdengar tanya Akhtar lagi.
"Belum kak, ini juga rencananya mau keluar beli makanan," sahut Aura.
"Di mana, apa jauh?"
"Di warung depan, dekat kok,"
"Ada warung juga di sana?" pertanyaan Akhtar terdengar di iring tawa ringan.
"Ada, khusus untuk anak rantau yang uangnya pas-pasan seperti saya," Aura menjawab dengan senyum sambil meraih hijabnya di atas gantungan baju.
"Yang penting makanannya halal dan sehat, dik"
"Ya kak,"
"Ya sudah, kalau mau beli makanan dulu, nanti kalau sudah selesai, aku telfhon lagi ya,"
"Ya sudah kak, Assalamu'alaikum."
Aura meletakkan ponsel dalam saku gamisnya.
Setelah merapikan hijab lebar yang dia kenakan, gadis cantik berwajah imut itu segera keluar dari rumah kontrakannya tak lupa mengunci pintu lebih dulu.
tujuannya hanya satu, sebuah warung tenda yang sudah menjadi langganannya selama ini.
"Neng Aura," bibi pemilik warung menyambutnya dengan senyum ramah seperti biasa.
"Iya bi, bungkus satu seperti biasa ya,"
Bibi warung sudah paham makanan kesukaan Aura tanpa gadis itu harus menyebutkannya.
"Gak di makan disini saja Neng?"
"Gak bi, mau makan di rumah saja,"
"Makan di sini saja neng, biar bibi temanin ya," si bibi seperti mencoba membujuk Aura untuk memakan makanannya disana. Padahal biasanya juga ia tak pernah seperti itu. Bahkan bila Aura datang beli makanan akan langsung di bungkuskan rapi terkadang di tambah bonus krupuk juga. Karna Aura memang kurang terlalu suka makan di luar rumah.
"Saya siapin ya neng, makan di sini saja," si bibi langsung mengambil piring makanan dan langsung meracik makanan pesanan Aura.
Mau tak mau gadis itupun duduk di bangku yang tersedia. Dan tak lama makanan sudah terhidang di depannya.
"Kita makan bersama bi," Aura menawarkan
"Tidak neng," si bibi menolak lembut, ia segera duduk tak jauh di depan gadis itu dengan tatapan kawatir. Duduknya juga terlihat gelisah sebentar-sebentar melongok keluar seperti ada yang sedang ditunggu.
Sayangnya Aura tak memperhatikan gelagat itu, ia kini sibuk memasukkan makanan kedalam mulutnya suap demi suap.
"Paman kemana bi, kok bibi sendirian?"
Aura bertanya di sela makan, karna dari tadi tak dilihatnya paman pemilik warung. Padahal biasanya suami istri itu sangat kompak. Warung ini juga sepi hanya ada Aura seorang yang membeli, biasanya jam segini pasti rame. Karna warung ini menawarkan harga lebih murah dari yang lainnya, karnanya pelanggannya lebih banyak.
__ADS_1
"Lagi keluar," si bibi menjawab singkat, tatapannya kian terlihat gelisah.
Aura segera menghentikan aktifitas makannya karna kepalanya yang mendadak pusing, Aura memijit-mijit pelipisnya sambil berdesis kecil, bahkan pandangannya juga berkunang-kunang. Padahal ia merasa sehat-sehat saja dari rumah barusan. Si bibi hanya diam saja melihat hal itu. Ia baru berdiri ketika di lihatnya Aura telah terkulai lemas, kepalanya telungkup di atas meja dan sendok yang di pegangnya jatuh begitu saja ke lantai.
"Aduh bagaimana ini?" si bibi terlihat begitu ketakutan.
Berdiri di samping tubuh Aura dengan panik. Tiba-tiba muncul seorang lelaki tinggi besar yang segera mengangkat tubuh Aura keluar dari warung itu tanpa kata.
******
"Apa kita tak perlu mengawasi Aura?" Kaivan memecah keheningan dengan pertanyaannya. Entahlah tiba-tiba saja ia teringat dengan gadis itu.
"Kau kawatir padanya?"
"Peristiwa beberapa hari yang lalu itu pasti tak akan berakhir begitu saja."
"Aku tau," sahut Damaresh.
"Lalu?"
"Bukankah kau biasa melakukan banyak hal tanpa harus ada interuksi dariku?" Damaresh menatap Kaivan yang duduk di sebelahnya dalam mobil itu.
Yang ditatap hanya berdecak kecil. Malam ini keduanya pulang lebih awal dari club tempat biasanya nongkrong. Karna Kaivan merasa sedikit kurang enak badan, maka Damareshpun berinisitif memegang kemudi sementara Kaivan duduk manis di sampingnya.
"Jangan bilang kalau kau belum menyuruh orang untuk mengawasi Arra?" Damaresh dapat menebak melihat Kaivan yang hanya terdiam.
"ya belum," Kai menjawab santai.
Damaresh memukul pelan setir mobil, dia masih ingat kalau memukul keras, tangannya pasti akan sakit.
"Sepertinya kau yang sangat kawatir padanya,"
"Aku yang telah membawanya dalam pusaran bahaya."
Damaresh berucap lirih.
"Bagus kalau kau sadar." Kaivan tersenyum mencibir.
Damaresh diam tak menanggapi, sesaat keheningan tercipta lagi dalam mobil itu.
"Saat ini, gadis itu pasti sedang bertelefhonan dengan calon suaminya," Terdengar ucapan Kaivan beberapa saat kemudian.
"Bagus jika benar begitu." Damaresh menanggapi singkat.
"Kalaupun terjadi apa-apa padanya, kau pasti orang pertama yang tau," Kaivan menatap Damaresh sambil menahan senyum.
"Kenapa begitu?" Tanya Damaresh yang fokus menatap jalan di depannya.
"Kau kan sudah meletakkan alat pelacak di dalam pikirannya." Kali ini Kaivan bukan hanya tak dapat menahan senyum tapi sudah tak dapat menahan tawa,
teringat ucapan Damaresh beberapa waktu lalu pada Aura.
Sebenarnya tidak seperti apa yang diduga Aura, tidak ada alat pelacak atau apapun, Damaresh hanya dapat membaca pergerakan Edgard yang biasanya cenderung ceroboh dan mudah terbaca bila dirinya sedang kesal. Perihal penggelapannya diketahui oleh Damaresh, Edgard tentu sangat kesal, namun tak mungkin ia meluapkan
kekesalan pada Damaresh sendiri. Maka targetnya pastilah Aura karna kesaksiannya.
Atas perintah Damaresh, Kaivan mengirim orang untuk mengawasi Aura dari jauh. Jadi perihal Aura yang di bawa oleh orang-orangnya Edgard memang sudah ada dalam pengawasan orangnya Kaivan, namun mereka tidak bertindak karna terlihat Aura mampu menguasai keadaan. Jadi jelas Kalau Damaresh dan Kaivan sangat tau pada peristiwa itu.
Tapi memang Kaivan tak memerintahkan orang untuk lanjut mengawasi Aura, karna dengan pertimbangan kalau pihak Edgard tak akan melakukan tindakan lanjutan sebelum lewat tiga hari. Dan malam ini sudah lewat empat hari dari peristiwa itu, Kaivan terlupa untuk mulai memberi perintah lagi. Berharap saja kalau Aura tak akan mengalami hal yang tak di-inginkan.
__ADS_1
Atas ucapan Kaivan, Damaresh tak menanggapi apa-apa, kecuali hanya menarik sedikit sudut bibirnya ke atas, namun tak sampai membentuk lengkungan.
"Ku kira bagus jika Aura lebih lama bekerja denganmu,
karna sepertinya gadis itu cukup membawa aura positif padamu yang selama ini di penuhi aura negativ yang sangat pekat," Ucap Kaivan lagi
"Aura negativ jidatmu." Damaresh langsung melayangkan tinju ringan di kepala Kaivan dengan sebelah tangannya, yang berhasil dihindari oleh Kai dengan sempurna seraya tertawa ringan
"Ayolah Aresh, kau harus menyadari sesuatu," Ucap
Kaivan lagi dengan sisa tawanya.
"Apa?"
"Kau yang tak bisa senyum itu adalah penyakit langka, yang lebih parah dari kanker stadium empat."
Damaresh hanya mencebik mendengarnya.
"Kuharap ada yang bisa membuatmu tersenyum dalam waktu dekat, karna kalau tidak aku tidak tau akan mengobati penyakitmu yang langka itu ke Rumah sakit mana,"
"Kai, kau mau aku turunkan disini?" kesal dengan ucapan Kaivan yang tak melalui proses pengeditan itu,
Damaresh segera memberikan ancamannya.
"Apa, gak salah bos, ini mobilku lho, yang ada kau yang kuturunkan disini," Kaivan balik mengancam yang lalu di iringi tawa lebar melihat Damaresh yang jadi mati kutu. Memang Kaivan tadi yang menjemput Damaresh ke apartemennya, jadilah mereka pergi bersama dengan satu mobil. Mobil Kaivan yang tengah di kemudikan oleh Damaresh.
Shifft.
Kaivan mengahiri tawanya sendiri dengan desisan.
"Kenapa Kai?"
"Entahlah, kepalaku makin pusing saja," Lelaki itu mengerjapkan matanya karna pandangannya yang sedikit mengabur.
"Aku antar kau ke Apartemen," Damaresh segera memutar arah karna sedianya ia akan pulang ke apartemennya sendiri, baru setelahnya Kaivan pulang sendiri ke tempatnya. Namun melihat kondisi Kaivan yang sepertinya tidak baik-baik saja, Damaresh tentu tak tega.
"Jangan Resh, kau kan bos masak mau mengantarku pulang, aku takut di pecat," Kaivan Mencegah sambil memijit-mijit keningnya.
"Kalau aku sudah tidak punya kerjaan lagi, dengan apa aku memberi makan anak istriku," Lanjut Kaivan lagi dengan sepasang mata memejam.
Damaresh tak menanggapi celetukan tak penting sahabatnya itu, ia terus membawa mobil Kaivan dengan kecepatan tinggi hingga tak butuh waktu lama mobil itu sudah mendarat di depan gedung apartemen yang di tempati Kaivan.
"Yakin kau baik-baik saja Kai?" Damaresh sedikit kawatir melihat Kaivan yang seperti sempoyongan hendak keluar dari mobil.
"Kenapa, kau mau menemaniku malam ini?" Kaivan masih sempat-sempatnya bercanda dalam kondisi setengah mabuk begitu.
"Ckk," Damaresh berdecak kesal. "Kau terlalu banyak minum Kai," ucap Damaresh kesal.
Kaivan menggeleng, karna ia memang hanya minum beberapa teguk tadi di Club, cukup mengherankan kalau sampai seperti ini efek yang dirasakan tubuhnya.
"Aku hanya butuh mandi Resh,"
"Ok, aku langsung saja ya."
"Besok aku gimana?" tanya Kaivan
"Aku jemput,"
"Bolehlah, sesekali berasa jadi bos." Kaivan tersenyum.
__ADS_1