
Damaresh berdiri di depan jendela kamar yang terbuka, pandangannya menyapu hamparan hijau dan asri di luar sana, panorama keindahan yang tak berubah dari sejak awal rumah itu ditempati. Tapi betapapun hijau dan asri yang tersentuh pandangannya tak sekalipun mentransfer kesejukan dalam rongga dadanya. Terbukti dengan tiadanya kata apapun yang terucap dari mulutnya, suasana terasa hening dan senyap dalam seketika.
Aura melangkah menghampiri, berdiri di belakangnya dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang lelaki yang belum melepas baju stelan kerjanya itu, dan kemudian kepalanya menyandar nyaman di punggung tegap Damaresh. " Kau pasti sangat lelah," ujar Aura pelan.
Tak ada tanggapan apa-apa dari Damaresh, ia bertahan dalam mode diam. "Aku akan siapkan kau air hangat ya, berendamlah barang sebentar, mana tau dengan itu rasa lelahmu akan berkurang," ucap Aura lagi, yang lagi-lagi tak mendapat tanggapan. Damaresh bergeming.
Aura segera melepaskan pelukannya dan membawa tubuhnya berdiri ke hadapan laki-laki itu, tampak kini terlihat betapa tajam tatap Damaresh dari netranya yang pekat, tatapan yang merangkum kemarahan dan kekesalan dalam satu bingkai, menandakan jiwanya yang tidak sedang baik-baik saja sekarang.
Aura segera meraih jemarinya dan menciumnya berkali-kali, barulah tatapan Damaresh beralih pada wajah cantik di depannya, namun dengan tatap mata yang datar saja, tanpa adanya expresi yang bisa terbaca.
"Aku tak tau apa sebenarnya yang terjadi antara dirimu dan ibumu, tapi jika kau percaya padaku, dan mau berbagi denganku, aku akan selalu mendengarkanmu Aresh, aku akan selalu ada untukmu," ucap Aura lembut selembut tatapannya yang menyapu wajah rupawan di depannya itu.
"Tubuhku yang kecil ini siap menampung resahmu. karna kedua bibirku ini tak hanya siap tersenyum dan tertawa bersamamu, tapi sepasang mataku juga siap untuk menangis denganmu," ucapnya lagi dengan sepenuh hati. Sebuah untaian kata bahwa ia siap susah senang bersama suaminya.
"Aku belum siap untuk membuka luka-ku Ara," ujar Damaresh singkat, kelembutan kata-kata Aura itu berhasil membuatnya berucap.
"Kalau begitu, jangan katakan apapun! tapi biarkan aku memelukmu, siapa tau dengan itu resahmu bisa berkurang."
Nyatanya justru Damaresh yang merengkuh tubuhnya lebih dulu dan membawanya dalam pelukan, lelaki itu bahkan menyandarkan kepalanya pada ceruk leher istrinya dengan dalam.
Segera Aura mengusap-usap lembut pundak Damaresh, sekedar mentransfer ketenangan pada palung jiwanya yang tergoncang. Dan lalu
Mereka menikmati waktu dengan saling berpelukan untuk beberapa saat yang berjalan.
"apa saja yang dia bicarakan denganmu?" terdengar tanya Damaresh kemudian.
"Tak banyak. Ibumu sepertinya bukan orang yang mudah akrab dengan orang baru, tapi aku salut padanya, dia yang dulu selalu menatapku penuh kebencian, sekarang aku tak menemukan tatapan sinisnya lagi padaku," ungkap Aura menyatakan penilaiannya perihal Claudya yang dalam beberapa jam ini mereka bersama.
"Ibumu hanya memperlihatkan fhoto ayahmu padaku. Ah, Aresh, ayah sungguh sangat tampan, sangat mirip denganmu," puji Aura sambil mengembangkan senyuman.
"Satu kata yang diucapkan oleh Nyonya Claudia saat menatap wajah ayahmu, 'rindu' kata itu yang di ucapkannya, dan aku bisa melihat binar cinta di matanya saat memandang fhoto ayahmu," lanjut Aura
mengisahkan perbincangannya dengan Claudya.
Terasa kalau Damaresh menghembuskan napasnya pelan.
"Dia juga bilang, bahwa dalam beberapa hari belakangan ini, ia banyak menghabiskan waktunya di rumah ini, karna di sini banyak kenangan yang ia dapati tentang kalian," tambah Aura lagi.
"Aku belum bisa percaya padanya, Arra," ungkap Damaresh.
"Gak papa, kalau kau memang belum bisa percaya, tapi setidaknya biarkan ia melakoni apa yang membuatnya sedikit merasa nyaman saat ini," ujar Aura.
Damaresh mengangkat wajahnya dan menatap istrinya itu penuh selidik. "Sepertinya sekarang kau berpihak padanya, Arra."
"Tidak Aresh, aku selalu berpihak padamu, dalam keadaan apapun, aku akan selalu bersamamu, bagaimanapun dirimu, kau adalah malaikatku," ungkap Aura berdasar apa yang dirasakannya saat ini.
"Ada angin di sini, Arra." Damaresh menunjuk dadanya sendiri.
"Angin apa?" tanya Aura tak mengerti.
"Angin sejuk karna mendengarkan ucapanmu," sahut Damaresh sambil menarik kedua sudut bibirnya dan membentuk sebuah lengkungan indah.
Aura juga mengembangkan senyuman indahnya, namun hanya sesaat saja, karna Damaresh yang segera melabuhkan ciuman dan kecupan di wajah cantik itu dengan membabi buta, tidak satu inchi-pun dari wajah itu yang terlewat dari sasaran ujung hidung dan kecupan bibirnya, hingga semua aksinya berakhir dengan pagutan dalam di bibir Aura.
"Terima kasih," ucapnya serak dengan napas sedikit memburu akibat aksi nya itu. Aura mengangguk.
"Aku akan selalu memperjuangkanmu untuk tetap berada di sisiku, Arra," ucapnya dalam dengan penuh penekanan di setia kata, yang kian menegaskan bahwa apa yang diucapkannya, akan dibuktikannya secara nyata.
Aura mengatupkan matanya rapat, dengan rasa bahagia yang berlipat, atas ikrar yang terucap, dari Damaresh yang baru saja ia ungkap.
__ADS_1
"Jika suatu saat kau lihat langkahku terhenti, bukan berarti aku telah menyerah, tetap dukung aku, meski pada saat itu kita jauh," pinta Damaresh dengan nada pasti.
Aura mendongakkan wajah dan melihat Damaresh penuh tanya. "Aresh , dari kalimatmu sepertinya menandakan kalau ada yang akan memisahkan kita"
tukas Aura dengan perasaan yang mulai berdebar tak karuan. Baru saja ia dibuat sangat bahagia dengan janji yang terucap dari Damaresh, kini ucapan lelaki itu pula yang menghempaskannya dalam kekawatiran yang sangat.
"Aku akan terus berusaha, agar kita tak akan berpisah selamanya, Arra."
Ucapan Damaresh itu tidak menjawab pertanyaan Aura, tapi menegaskan aksi yang akan dilakukan setelahnya.
Dari semuanya seakan menyiratkan kalau pertanyaan Aura itu benar adanya.
"Kau percaya padaku, kan?" tanya Aresh sepenuh tatap.
Aura mengangguk dengan menepis segala rasa yang telah bercampur aduk. Kembali Damaresh menarik tubuhnya dalam sekali rengkuh, untuk dibawanya dalam pelukan yang utuh.
Kini ketiganya telah berada dalam satu meja, menghadapi aneka hidangan yang tersaji di atasnya.
Claudya tak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajahnya, tatkala meletakkan makanan di atas piring saji putranya, meski diawal aksinya itu sempat menuai
penolakan dari Damaresh.
"Biar Arra saja," ucap Damaresh yang membuat Claudya menahan gerakan tangannya.
"Gak apa-apa Aresh, kali ini, nyonya Claudya ingin menyiapkan makananmu," ujar Aura sambil mengusap lengan suaminya itu lembut.
Damaresh terdiam, yang membuat Claudya berani melanjutkan aksinya kembali. Wanita baya itu bahkan menuangkan minuman untuk Aura.
"Terima kasih, Nyonya," ucap Aura.
"Kau boleh panggil aku, tante, Arra," ujar Claudya.
Claudya mengangguk sambil tersenyum.
Selanjutnya mereka menikmati hidangan dengan diam, hanya sesekali terdengar denting pertarungan antara sendok dan garpu dengan piring makanan, membuat sebuah irama tersendiri dalam pendengaran.
"Aresh, apa benar, Airlangga masih hidup hingga sekarang?" Claudya tak dapat menahan hasratnya lagi untuk bertanya, begitu mereka semua telah menandaskan makanan.
Damaresh hanya mengangguk singkat.
Claudya langsung menahan napas sebelum pertanyaannya terucap dengan suara gagap.
"Ba-Bagaimana bisa? bu-bukankah dalam laporan medistnya di nyatakan kalau dia sudah meninggal?"
"Apa suatu hal yang aneh bagimu, jika keluarga Willyam memanipulasi keadaan?" itu jawaban Damaresh yang terucap dalam sebuah pertanyaan. "Kematian om Alan, dan juga kematian Saraswati, apa kau sudah lupa? bagaimana kalian memanipulasi sebuah berita."
Kata-kata penuh sindiran tajam terucap begitu saja dari bibir Damaresh Willyam.
Wajah Claudya terlihat pucat mendengar itu, terlihat ia bahkan kesulitan untuk sekedar menelan salivanya sendiri, merasa dirinya ditelanjangi, atas perbuatan di masa yang telah lama terlewati.
"Mak-Maksudku siapa yang telah melakukannya?" tanya Claudya masih dengan kegugupan yang sama.
"Aku," jawab Damaresh tegas.
"Apa?" jelas keterkejutan tergambar diwajahnya. "Tak mungkin Aresh, kau saat itu masih sangat muda, umurmu masih ... " Claudya terdiam sekedar mengingat usia Damaresh pada saat kejadian itu.
"13 tahun." lelaki itu berdecak. "Bahkan umurku saja saat itu kau sudah lupa," sindirnya tajam.
Claudya sesaat menunduk dengan rasa malu, tapi segera ia abaikan semuanya karna ada pertanyaan yang harus segera mendapatkan jawabannya.
__ADS_1
"Apa benar kau yang melakukannya, Aresh?"
"Tentu saja, bukan. Aku hanya sekedar menyuruh, yang melakukannya adalah orang-orang suruhan kakek," jawab Damaresh.
"Jadi papa tau?" Raut tak percaya terlintas di wajahnya.
"Ya. Aku membuat kesepakatan dengan kakek dalam melakukan semuanya."
"Kenapa kau melakukannya, Aresh?" tanya Claudya dengan suara bergetar.
"Karna aku ingin menjauhkan daddy darimu."
Claudya menunduk, wajahnya berubah pucat, kedua tangannya yang jemarinya saling bertaut, penuh bermandi keringat. Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dirasakannya sekarang.
Selaksa tanya yang ingin diajukan kini mengendap begitu saja dalam keterdiaman.
Aura melihat semua itu dengan perasaan yang tak bisa di deskripsikan, dari semua pendengaran yang didapatinya dalam percakapan Damaresh dan Claudya, meski tidak dalam bentuk bingkai yang utuh, namun beberapa kepahaman telah didapatnya, walau juga tidak dalam bentuk sempurna.
Damaresh menarik tangannya. "Kita pulang, Arra,"
ajaknya. Aura segera mengangguk, meski tatapannya terus mengarah pada Claudya, merasa kalau pembicaraan ini belum mencapai tuntas, tapi menuruti
Damaresh adalah pilihannya saat ini.
Damaresh telah membalikkan tubuhnya siap untuk meninggalkan ruangan itu, Aura juga sudah berdiri di sampingnya siap untuk keluar bersamanya. Ketika satu kalimat terucap dari mulut Caludya dengan suara bergetar. "Aresh, aku bersalah pada ayahmu, aku telah melakukan dosa besar padanya. Kau, atau siapapun pantas untuk menghukumku, tapi tolong beritaukan aku di mana Elang, tolong Aresh! aku mohon."
Claudya berdiri dari duduknya, menatap Aresh dengan sepasang mata basah, dan raut wajahnya sungguh adalah sebuah pemandangan langka bagi seorang Claudya bisa berexpresi seperti ini adanya.
Memohon, memelas, mengharap dan menghiba terbingkai jadi satu di wajahnya yang biasa menatap lurus dan enggan menunduk di hadapan siapa saja.
Luluhkah Damaresh melihat semuanya? iba-kah dia dengan pemandangan tak biasa yang kini terpampang di depan matanya?
Lelaki itu hentikan langkahnya, melabuhkan tatapnya pada Claudya, tapi kilat tajam matanya masih bertahta jelas di sana. "Sembilan tahun aku sembunyikan daddy darimu, dan kini kau pinta aku untuk memberitau padamu dimana keberadaannya? kau pikir aku bodoh?"
"Aku tak akan melakukan apapun padanya Aresh, aku hanya ingin minta ma'af, itu saja," isak Claudya.
"Simpan saja tangisanmu, Mommy!" geram Damaresh dengan sangat menekankan nada ucapannya pada kata
"mommy". Bahkan kilatan amarah di matanya kini semakin tampak nyata. Baru saja ia merasakan kesejukan seakan diterpa hembus angin semilir karna sikap dan kelembutan Aura.
Tapi kini jiwanya merasakan kepanasan seakan ada api yang berkobar dalam rongga dadanya, akibat tingkah Claudya. Angin dan api dibawa dua wanita yang penting dalam hidupnya. Istrinya dan ibunya.
"Kau tak tau seperti apa hidupku selama ini Aresh,"
isak Claudya yang justru makin menjadi. "Sangat besar rasa penyesalanku atas kesalahan yang kulakukan pada Airlangga, sangat dalam dan--"
Damaresh cepat menyanggah ucapan itu sebelum sepenuhnya selesai diungkapkan oleh Claudya dalam bingkai tangisan.
"Jika memang kau menyesali satu kesalahan, maka tak akan ada kesalahan lain yang akan
kau lakukan. Tapi apa yang kulihat darimu selama ini?
kau tetap berjalan di atas keangkuhan, kau rancang perjodohan bodoh antara aku dengan Yeslin, kau ingin memisahkan aku dari Aura dengan cara yang samar, kau hampir saja membuat ayah Aura meninggal. Bahkan jika saja aku tidak mengancammu malam itu,
kau pasti masih tetap menyatroni hidupku dengan istriku."
Damaresh menghembus napasnya kasar, kilatan amarah di tatapannya semakin menggumpal.
"Berhenti bersikap seperti ini di depanku! jangan pernah mengatakan seperti ini lagi padaku, butuh keajaiban untuk aku bisa mempercayaimu."
__ADS_1
Damaresh teruskan langkahnya sambil terus menarik tangan Aura. Di belakang keduanya tangis Claudya terdengar membahana.