Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
121. Melepas Tirani William.


__ADS_3

"Aresh!" Edgard berdiri dari duduknya sebelum Damaresh membubuhkan tanda tangan setelah Pramudya Corp resmi diambil alih atas namanya.


"Jika kau memang pemilik Alpha DMC, tidakkah kau bisa merubah kesepakatan ini, sebagaimana layaknya dua perusahaan yang dimiliki oleh dua orang yang masih terikat ikatan keluarga?"


Sebuah penawaran dan sekaligus permintaan diajukan oleh Edgard, di detik-detik terakhir sebelum Pramudya berpindah kepemilikan.


"Kesepakatannya dari awal tidak seperti itu, Edgard."


"Atau kau memang sengaja melakukan jebakan hingga Pramudya berada dititik yang seperti sekarang?"


Setelah tak berhasil dengan permintaannya, Edgard merubah haluan pembicaraannya menjadi tuduhan.


"Tidak ada istilah jebakan dalam dunia bisnis, yang ada adalah strategi," jawab Damaresh.


"Tapi--" kembali Edgard ingin melanjutkan ucapannya, entah kali ini akan berupa permohonan atau tuduhan lagi.


"Bisakah, kau bicara setelah aku selesai saja? Segala pertanyaanmu akan segera ku jawab setelah ini," sergah Damaresh bahkan ketika Edgard baru berucap satu kata dari beberapa kata yang mungkin akan diucapkannya.


Damaresh kembali melayangkan fokusnya pada beberapa kertas terakhir yang harus ia tanda tangani untuk secara resmi mengakuisisi Pramudya Corp menjadi milik Alpha DMC.


"Tunggu!"


Kali ini yang mencegahnya bukan lagi Edgard, tapi langsung William Pramudya sendiri yang untuk beberapa saat yang lalu ia terdiam seribu bahasa.


Semua pasang mata segera menatap pada pemilik Pramudya Corp itu seksama.


"Jelaskan kepadaku, bagaimana bisa kau menjadi pemilik Alpha DMC, atau ini hanya bagian dari strategimu saja?"


Bahkan William rupanya sangat berharap, semua ini hanya sekedar mimpi belaka.


"Kau sangat cerdas, dan langkahmu tidak bisa terbaca. Pasti ini adalah bagian dari strategimu saja, Aresh," lanjut lelaki tua itu dengan amat sangat yakinnya. Ia masih beranggapan, kalau cucunya itu hanya sedang bermain peran untuk membantu Pramudya agar lepas dari jerat Alpha DMC.


Padahal ia sudah mendengarnya dengan jelas, dan di depan matanya sendiri, kalau Alpha telah resmi mengakuisisi Pramudya Corp.


"Tuan Damaresh, menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Alpha DMC, disaat masih menempuh study di LA."


Joana mengambil alih memberikan jawaban. "Saya tau sendiri hal itu, karena saya adalah bagian dari keluarga besar Dimitri Liem, pendiri Alpha DMC.


Alpha menjadi sebesar sekarang juga karena kehandalan bisnis Tuan Damaresh, hingga ia berhasil menjadi pemilik dari Alpha DMC lima tahun silam," lanjut Joana.


"Apa jawaban dari Joana ini sudah cukup memuaskanmu, Kakek?"


Damaresh menatap William yang terlihat menggeleng pelan dan bergumam samar.


"Aku tidak percaya."


"Saat kau mengangkat aku sebagai CEO di Pramudya ini, saat itu aku sudah menjadi owner dan sekeligus komisaris Alpha DMC. Aku mengendalikan perusahaan itu dari rumahku, beruntungnya aku memiliki team yang sangat solid di sana yang bisa memahami setiap kode bisnis dariku, tanpa aku perlu hadir di hadapan mereka."

__ADS_1


Pasti semuanya masih ingat bagaimana kehidupan Damaresh William dulu dimana ia hampir melewatkan waktu malam-malamnya hanya di ruang kerjanya dan baru usai ketika subuh hampir menjelang, dan ketika Aura bertanya sesibuk apakah pekerjaan menjadi seorang CEO, Damaresh mengatakan kalau pekerjaannya itu bukan tentang


Pramudya Corp. Inilah jawabannya sekarang.


Hal itu dikarenakan ia mengendalikan dua perusahaan besar sekaligus, siang hari sebagai CEO Pramudya Corp, dan malam harinya sebagai komisaris Alpha DMC Corp yang dua kali lebih besar dari Pramudya. Tapi tak ada satupun, baik di Pramudya Corp atau di Alpha DMC yang tau, kalau Damaresh Aybars Perkasa pemilik Alpha DMC, dan Damaresh William, CEO Pramudya Corp adalah orang yang sama.


"Berarti, Pramudya Corp sudah menjadi target sasaran Alpha DMC, untuk diakuisisi sebagaimana perusahaan-perusahan lain yang sudah diambil alih oleh Alpha,"


tukas Edgard sambil menatap Damaresh tajam.


Damaresh menarik kedua sudut bibirnya samar, lalu menggeleng pelan.


"Justru, aku menjauhkan Pramudya Corp dari jangkauan bisnis Alpha DMC selama ini, dengan tujuan agar kerahasiaan identitasku tetap terjaga. Bukan tidak pernah CEO kami mengajukan nama Pramudya sebagai rekanan baru, karena Alpha memang menyisir perusahaan-perusahaan besar di berbagai negara untuk ditarik sebagai rekan, guna kian melebarkan sayap bisnis kami. Tapi aku selalu menolak dengan berbagai alasan."


"Lalu kenapa sekarang kau datang, menawarkan kerjasama dengan strategimu yang luar biasa, hingga lalu menarik kami pada situasi terendah seperti sekarang?" tanya William.


"Itu karena keangkuhan dan kesombonganmu, Kakek," jawab Damaresh William dengan tegas.


"Aku??"


Nyata sekali William tidak terima dengan ucapan itu, tatapannya berkilat penuh amarah, napasnya mulai terlihat tidak teratur kareannya.


"Iya, Karena Kakek."


Damaresh lebih menegaskan jawabannya lagi.


berada dalam ruangan.


"Diantaranya, Iya. Tapi yang membuatku tak dapat lagi menahan sabar menghadapimu, adalah disaat kau menghancurkan Om Alarick," tegas Damaresh, membuat semua yang berada di sana, terutama dari jajaran keluarga besar William jadi saling pandang heran.


"Alarick?"  Bahkan William pun juga terlihat bergumam.


"Dia sudah keluar dari keluarga besar William, dia merintis usahanya sendiri dari nol, tapi dengan mudahnya kau menghancurkan semuanya, bahkan dengan cara yang sangat tidak profesional.


Kau hancurkan semua jerih payahnya hanya dalam sekejab mata. Om Alarick salah apa? Lebih dari itu kau membuat puluhan orang kehilangan mata pencaharian, kau membuat beberapa orang yang menjadi tumpuan hidup keluarganya dari beberapa karyawan om Alarick cedera permanen dan tak bisa lagi bekerja. Apa salah mereka padamu?"


Tak ada jawaban apa-apa dari William atas tanya itu, yang mana membuat Damaresh melanjutkan kata yang sempat tertunda untuk diucapkan.


"Kau begitu angkuh karena memiliki kekuasaan, kau anggap semua orang harus patuh padamu dan mengikuti jalanmu, padahal kami, anak keturunanmu sendiri saja punya jalan hidup dan pemikirannya tersendiri, apalagi orang lain, kakek.


Tapi aku tau kau tak akan menyadari hal ini, sebelum apa yang ada padamu dan yang kau banggakan selama ini berupa harta dan kekuasaan itu terenggut darimu.


Aku lalu menunjuk Joana dan Kaivan untuk mendekati Pramudya setelah aku memuluskan jalan mereka melalui Blanc Comopany dan Winata Group."


"Maksudmu?"


"Aku pemilik 80% saham di Blanc Comphany, dan  60% di Winata Group. Tidaklah mereka bertindak, melainkan setelah mereka menerima isyarat dariku,"

__ADS_1


Ujar Damaresh dengan senyuman kecil singkat yang seakan mengisyaratkan kemenangan tersirat, terlebih disaat semuanya dibuat terdiam dan saling pandang dengan ketakjuban.


"Apa maksudmu dari semua ini, Aresh?!" Teriak William dengan amat sangat gusar.


"Bukankah sudah kujelaskan barusan,


Bahwa aku ingin membuatmu menjadi lebih manusia dan tau caranya bertoleransi antar sesama manusia.


Karena harta dan kekuasaan yang kau punya, kau telah lupa bahwa kau itu seorang manusia, kau anggap dirimu itu seakan tuhan yang bisa menguasai semuanya. Maka penting untuk merenggut semua kebanggan yang selama ini kau punya untuk menyadarkanmu dan mengembalikanmu sebagai manusia."


"Kau.." william menunjuk wajah Damaresh dengan tangan bergetar, napas yang semakin terengah, namun sepertinya Damaresh tak iba akan hal itu, dan tak kawatir kalau sesuatu yang buruk akan menimpa sang kakek, ia terus melanjutkan ucapannya, karena baginya pantang untuk meninggalkan sebuah urusan sebelum selesai.


"Sekarang apa lagi yang kau banggakan Kakek, aku bahkan memiliki harta yang lebih banyak dan lebih berlimpah darimu, bahkan kini, Pramudya Corp sudah resmi berpindah tangan menjadi milikku."


Damaresh mengangkat berkas kepemilikan atas Pramudya Corp yang baru saja selesai ditanda tanganinya itu.


"Apa sekarang, Kakek masih berpikir untuk men


guasaiku dan anak turunmu yang lain?"


Tak ada jawaban apa-apa dari William, yang ada adalah helaan napas lega dari


Beberapa keturunan William termasuk Edgard yang seakan merasa terlepas dari jerat tirani William.


Lalu bagaimana dengan William, setelah ia hanya bisa terdiam. Tentu saja ia hanya bisa diam, karena setelah itu, setekah ucapan Damaresh itu, tubuhnya sudah ambruk ke lantai, dengan bibir yang mengatup dan sepasang mata yang memejam.


Bersamaan dengan jerat tiraninya yang terlepas, tubuh William pun terkapar,


Entah ia sedang pingsan atau justru sudah berpulang....


****


******


******


Assalamu alaikum teman2..


maaf ya semuanya..aku tak pernah punya kesengajaan untuk menggantung kalian, apalagi sampai membuat jamuran..tapi karena beberapa hari lalu, HP ku hilang.....


sedih rasanya.jadi putus komunikasi dari semua teman2 dan juga dari kalian, para pembacaku yg setia dan aku sayang...


Tapi alhamdulillah..subhanallah..Akhirnya dgn kuasanya..ponselku kembali ke tangan..walaupun kartunya hilang juga banyak data yg lain..tapi untungnya akun MT ku masih tetap bisa digunakan. jadi masih bisa lanjut cerita tentang aresh dan Arra yang sudah tiba di detik2 akhir ini..


Ada yg masih simpan vote, gak..kasih dongg..


aku tunggu ya..

__ADS_1


__ADS_2