Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
35. Senyummu Sungguh Indah.


__ADS_3

"Aura!"


Wajahnya yang cantik menenangkan,


senyumnya yang lembut menghanyutkan,


dan tatapannya yang teduh menyejukkan.


Itu memang Aura Aneshka.


"Benar ini Aura?" Kaivan masih tak percaya pada pandangannya sendiri, membuatnya menatap lagi dengan seksama wanita yang membukakan pintu untuknya dan Damaresh Willyam di rumah itu.


Pakiannya yang longgar tak membentuk lekuk tubuh dan sepanjang semata kaki, hijab yang selalu menyempurnakan tampilan tertutupnya, itu memang benar Aura.


"Kenapa kau ada disini, Aura?" tanya Kaivan yang masih menatap gadis di depannya berlama-lama. Tatapannya masih enggan beralih dari wajah yang setiap kali dilihat selalu menyejukkan mata itu.


"Kondisikan matamu, Kai!" sarkas Damaresh sebelum Aura menjawab pertanyaan Kaivan.


Kaivan segera tertawa renyah. "Pawangnya gak terima," ucap Kaivan dengan sedikit mencebikkan bibir.


"Kau belum tidur?" Damaresh segera mengalihkan perhatian Aura dari Kaivan dengan pertanyaannya.


"belum, aku sengaja menunggumu," sahut Aura.


"Memang kau tau, kalau aku akan pulang kesini, malam ini?" Damaresh melangkah melewati Aura dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di atas sofa.


"Iya, aku merasa yakin, kalau malam ini kau akan datang," sahut Aura. Gadis itu kini berdiri tak jauh di samping Damaresh.


"Ada hal yang perlu kusampaikan padamu," ujar Aura kemudian, dan gadis itu lalu diam menunggu persetujuan Damaresh.


"Apa aku harus pergi? agar kalian leluasa bicara berdua, atau aku tetap di sini? dan anggap saja aku ini sosok tak kasat mata," celetuk Kaivan.


"Ckk," Damaresh berdecak menatap sahabatnya itu.


"Arra, aku akan selesaikan urusanku dengannya dulu,"


kata Damaresh pada Aura.


"Baiklah, aku akan menunggu." Dan Aura segera berlalu setelah sempat melempar senyum ramah pada Kaivan.


"Jadi Aura tinggal di rumah ini, Resh?" tanya Kaivan.


"Hmmm"


"Sudah lama?"


"Cukup lama,"


"Baguslah, sebelum aku berniat mengajaknya tinggal bersamaku," ucap Kaivan yang membuat Damaresh menghadiahi-nya tatapan tajam.


****


Kaivan baru pulang satu jam kemudian dari rumah itu.


Damaresh segera bergegas mandi dan bersiap-siap untuk istirahat karna memang sudah lewat jam sebelas dan tubuhnya juga sudah terlalu lelah, tapi sebelum matanya terpejam sempurna ia ingat pada Aura yang mengatakan ingin berbicara dengannya, lelaki itu segera beringsut


keluar dari kamar meski ia tak yakin kalau Aura belum tidur sekarang.

__ADS_1


Pintu kamar Aura sedikit terbuka dan lampu di dalam juga masih menyala, namun sudah dua kali Damaresh memanggil namanya tak ada jawaban dari dalam.


Lelaki itu segera mendorong pintunya dan terlihat Aura tengah berdiri tegak di atas hamparan sajadah dengan memakai mukennah.


Setelah merampungkan sholatnya plus dzikir dan berdoa, Aura segera membuka mukennahnya dan melipatnya dengan rapi.


"A-Resh," lirih Aura setelah ia membalikkan badannya


dan melihat pemandangan tak biasa terpampang di depan matanya.


Damaresh duduk selonjor di tepi pembaringan dengan sepasang mata terpejam, tubuhnya bersandar dengan nyaman pada beberapa bantal yang disusun, napasnya terlihat teratur, mungkinkah lelaki ini sudah tertidur.


"Aresh!" seru Aura antara memanggil dan membangunkan.


Damaresh membuka matanya dan menatap wajah Aura lekat yang kali ini juga tak memakai hijabnya.


"Kau sudah selesai?" suara lelaki itu terdengar serak,


pasti ia sudah terlelap barusan ketika Aura memanggilnya.


"Iya. Maaf, aku tidak tau kau datang,"


"Kau bilang ingin bicara denganku, kan?" Damaresh membenahi posisi duduknya.


"Tapi kau pasti sudah mengantuk,"


"Aku masih bisa tahan membuka mataku, sampai sepuluh menit ke depan,"


Aura paham maksud ucapan itu, kalau Damaresh memberinya waktu sepuluh menit untuk menyampaikan kepentingannya. Gadis itu segera mengambil amplop yang ada di atas meja rias dan memberikannya pada Damaresh.


"Itu undangan dari pesantrenku untuk L&D. Mbak Fadia yang memberikannya padaku beberapa hari lalu,"


tanpa berniat membukanya.


"Aku ingin minta ijinmu, untuk menghadiri undangan itu," kata Aura.


"Kalau aku tak mengijinkan?"


"Aku hanya akan pergi dengan se-ijinmu," tegas Aura.


Damaresh diam sambil menatap Aura dalam, setelah penegasannya barusan. Gadis itu tersenyum tipis yang


membuat Damaresh menghela napasnya samar.


"Terkait ini, Olivia sudah menemuiku!" ujar Damaresh


kemudian.


"Benarkah? lalu apa kau mengijinkan aku pergi?" tanya Aura penuh harap.


"Belum kuputuskan, bisa jadi aku mengijinkanmu, bisa juga tidak." Damaresh meletakkan undangan itu kembali di atas nakas. Aura mendesah kecewa, tapi mematuhi keputusan Damaresh itu adalah kewajibannya sekarang.


"Kalau kau tak mengijinkan, aku tak akan pergi," putus Aura. "Tetapi mungkin--" Aura tak melanjutkan ucapannya.


"Mungkin apa?" tanya Damaresh cepat.


"Mungkin aku akan membujukmu agar di-ijinkan pergi,"

__ADS_1


"Caranya?" Damaresh merasa tertarik untuk mengetahui cara apa yang akan dilakukan gadis itu untuk membujuknya.


"Mungkin dengan cara, aku akan berhenti tersenyum padamu," kata Aura. Karna hanya itu saja yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Kau yakin hanya dengan cara itu?" pertanyaan Damaresh terdengar meremehkan.


"Sebenarnya tidak begitu yakin, tapi hanya itu saja yang kupikirkan. Lagi pula, tersenyum padamu itu juga satu hal yang sia-sia," ucap Aura yang membuat Damaresh sedikit mengerutkan keningnya.


"Maksudmu?"


"Aku tidak pernah mendapatkan senyum balasan darimu. Mungkin nasibku juga akan sama seperti Clara, yang katanya sudah bertahun-tahun tersenyum padamu dan kau tak pernah membalasnya. Jadi kuputuskan untuk berhenti dulu tersenyum padamu,"


Mendengar ucapan Aura itu, Damaresh menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis. Menurutnya,


apa yang dikatakan Aura itu sangat lucu, mana ada orang yang memberitaukan mau tersenyum atau tidak,


bukankah senyum itu adalah reaksi tubuh secara alami


sebagai bentuk respon dari apa yang dirasa atau apa yang dilihat. Jadi tak bisa direncanakan untuk dilakukan atau tidak.


"Wahh!" Seru Aura sambil menutup mulutnya melihat lelaki di depannya itu. "Kau tersenyum, Aresh?"


Gadis itu seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Benarkah?" Damarezh juga seperti tidak sadar apakah ia benar telah tersenyum atau tidak.


Aura segera mengambil ponselnya di atas nakas dan hendak mengarahkan pada Damaresh.


"Aku tidak suka difhoto, Arra," cegah Damaresh.


"Ah tidak, aku bukan ingin mengambil gambarmu."


Aura menggelengkan kepalanya tegas. "Aku hanya ingin mencatat peristiwa ini di agendaku. Karna ini peristiwa langka, Aresh. Awal aku melihatmu tersenyum, jadi aku akan mencatatnya, hari apa, tanggal berapa dan jam berapa, semuanya aku akan catat." Dan Aura benar-benar hendak mengetikkan sesuatu, namun Urung karna melihat Damaresh yang kian menarik kedua sudut bibirnya dan membentuk lengkungan yang sempurna atas sikap Aura itu.


"Kau sangat tampan, Aresh," puji Aura. "Kau betul-betul sangat tampan dengan tersenyum begitu."


imbuhnya lagi yang membuat Damaresh menghentikan senyumnya dan menatap gadis di depannya itu dengan tatapan yang tak terbaca.


"Aku pikir kau tidak tau caranya tersenyum, ternyata kau bisa juga. Dan senyummu sungguh indah," lanjut Aura dengan pujiannya.


"Tidak ada orang yang tidak tau caranya tersenyum, Arra, hanya saja mungkin, belum ada hal yang membuat orang itu mau tersenyum," ujar Damaresh yang diangguki setuju oleh Aura.


Gadis itu ingin berbangga diri sekarang, berdasarkan apa yang diucapkan oleh Damaresh barusan, bisa jadi dirinya yang bisa membuat pria yang terlahir tanpa senyuman itu, kini bisa tersenyum.


Damaresh segera bangkit dari posisi duduk selonjornya. "Kau berhasil membujukku dengan ancamanmu, Arra," ujarnya.


"Artinya?"


"Aku megijinkanmu menghadiri undangan itu. Jadi kau tak perlu berhenti tersenyum padaku, karna senyummu juga sungguh indah," kata Damaresh. Dan lelaki itu juga mengulang kalimat Aura barusan yang memuji senyumannya.


"Terima kasih Aresh, kau bukan hanya sangat tampan, tapi juga begitu baik." Aura kembali melontarkan kalimat pujian seiring dengan kebahagiaan hatinya mendapatkan persetujuan suaminya itu untuk pergi ke pesantren. Aura sudah sangat merindukan suasana Darul-falah plus teman-temannya di sana.


Damaresh mendesah kecil dengan pujian itu dan segera melenggang keluar, namun tiba di tengah pintu, ia memutar tumitnya kembali dan menatap Aura.


"Jangan pernah memuji laki-laki lain seperti itu, Arra!


Aku tidak suka."

__ADS_1


Aura mengangguk memastikan sambil tersenyum senang.


__ADS_2