
"Ada perlu apa datang kemari?"
Aura menghela nafas mendengarnya. Pertanyaan Damaresh itu bukan hanya tidak ramah tapi juga tidak bersahabat. Padahal yang datang di hadapannya saat ini adalah Nyonya Claudia, ibunya.
Seperti sudah kebal dengan sambutan tak bersahabat dari putranya yang bahkan di ucapkan sebelum dirinya duduk, Claudia tak mengurungkan niatnya untuk duduk manis di depan Damaresh Willyam.
"Tentu saja karna aku rindu dengan putraku, sudah lama kau tidak pernah pulang kerumah."
Benar, selama ini Damaresh memang tinggal di apartemennya sendiri, dia akan pulang kerumah bila kakeknya yang ada diluar negeri itu datang.
Dan selama ini Claudia juga tak pernah mempermasalahkan hal tersebut, bila kini ia mengatakan demikian ditambah lagi dengan embel-embel kata rindu, itu hanya basa-basi yang menggelikan dalam pendengaran Damaresh.
"Katakan saja apa keperluanmu, aku tau bukan hanya karna hal itu kau datang kemari."
"Sepertiya kau sudah tidak sabar untuk mengusir Mommy pergi ya," Claudia menghias wajahnya yang cantik dengan senyuman. Tatapannya terpaku pada ketampanan wajah putranya yang mengingatkannya pada sosok masa lalunya, dan membuat Claudia mendengus samar.
"Ku dengar kau sudah punya Personal Asistant yang baru, apa kau merasa cocok dengannya?" Claudia melirik ke arah Aura yang berada tak jauh dari mereka. Tanpa di beritaukan Claudia sudah tau kalau itulah Personal Asistan putranya yang baru.
"Ia."
"Jika kau ingin mengganti asisten lagi, bilang saja. Mommy akan carikan." Hanya melihat dari ujung mata sekilas saja, Claudia sudah tau kalau gadis berhijab itu sama sekali tak cocok untuk menjadi asisten pribadi Damaresh.
"Tidak. Terima kasih."
"Apa tak sebaiknya kau tempatkan asistenmu di luar ruangan ini saja?" Claudia mengusulkan dengan senyum.
"Tempat yang paling tepat untuknya adalah disini. Di dekatku." sahut Damaresh.
Aura terdongak mendengar ucapan itu. Jantungnya berdetak tak normal. Kalimat apa itu tadi. Kenapa Damaresh tidak mengkondisikan ucapannya, kan yang mendengarnya bisa jadi salah paham. Dalam hal ini Aura Aneshka sendiri, kasian nanti kalau dia sampai baper.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan, Aresh posisimu disini adalah seorang CEO, sangat tidak etis bila kau berbagi ruangan dengan asisten pribadimu."
Claudia tak dapat menerima jawaban putranya.
"Tidak ada lagi yang perlu di bahas tentang PA disini,
aku sudah mendapatkan orang yang tepat dan sudah menempatkannya di tempat yang tepat." Sahut Damaresh cepat.
Sekali lagi, Aura menahan nafas mendengarnya. Sedemikian rupa Damaresh melindungi dirinya di depan ibunya yang dari tatapannya saja sudah dapat di nilai kalau dia tak suka pada Aura. Jangan di tambah lagi ya pak. Saya bisa baper. pintanya dalam hati.
Claudia terdiam, sepertinya berdebat dengan Damaresh tak akan pernah membuahkan hasil. Baiklah, jika rencana A tidak berhasil, masih ada rencana B yang akan segera di jalankan.
"Yeslin sepertinya sangat ingin bekerja denganmu disini. Bisakah kau mencarikan posisi yang tepat untuknya?" Rencana B dilancarkan.
"Mommy bicara saja langsung pada bagian HRD."
"kenapa harus ke bagian HRD?"
"bukan bagianku untuk merekrut karyawan baru, semua sudah ada divisinya masing-masing. Apa Mommy belum tau itu?" Damaresh menyindir halus.
__ADS_1
Claudia berusaha menyimpan kekesalannya dalam hati, bersikap keras adalah bukan cara yang tepat untuk menghadapi Damaresh Willyam, ia tau itu meski dirinya hampir tidak pernah memperhatikan tumbuh kembang
putranya itu dari kecil.
"Kau adalah pimpinan disini Aresh, jadi untuk apa aku harus bersusah payah bicara pada pegawaimu, jika aku bisa bicara langsung padamu." tolak Claudia.
"Kalau Mommy bertanya padaku. Maka tidak ada tempat yang tepat untuk Yeslin disini. Karna tempatnya yang paling tepat itu bersama Mommy, shoping, traveling, clubing, dan segala hal lainnya yang hanya menghamburkan uang dan bersenang-senang."
Ucap Damaresh. Ia sudah kesal dengan sikap Claudia yang selalu ingin mendekatkan dirinya dengan Yeslin.
Apalagi tujuannya kalau bukan hal materi. Claudia ingin Damaresh menjalankan pernikahan bisnis dengan yeslin yang adalah putri pengusaha kaya raya. Meskipun perusahaannya tak sebesar Pramudya Corp, tapi bila kedua perusahaan itu di kawinkan hasilnya pasti akan semakin besar dan tak tersaingi. Dan putranya yang akan merajai semuanya. Alhasil pula Claudia akan terus menikmati kekayaan tak terbatas itu tanpa susah-susah bekerja selamanya.
Cukup cerdik bukan.
"Jika Mommy sudah selesai, aku ada meeting sebentar lagi." Damaresh mengusir ibunya itu samar.
Mendengar itu Aura melirik agenda kerja bosnya itu hari ini, dan ternyata tak ada jadwal meeting untuk hari ini, kalaupun ada sudah di gantikan oleh Kaivan dan Clara. Jadi fix, Damaresh hanya ingin mengusir ibunya saja.
"Baiklah Mommy pergi," Claudia mengambil tas mahalnya di atas meja. "Tapi Mommy harap, Yeslin dapat segera bekerja disini, ini juga permintaan papanya pada Mommy, jangan tolak keinginan papanya Yeslin, kalian kan rekanan bisnis yang sangat baik selama ini." Claudia menepuk pundak putranya. Lalu beralih menatap Aura. "Siapkan segala keperluan tuan Damaresh dengan sempurna, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang!" Ia memberi titah sebagaimana nyonya besar pada umumnya.
Aura hanya mengangguk. Sang nyonya keluar ruangan.
Terlihat Damaresh menghempaskan pundaknya pada sandaran kursinya yang tinggi, sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Sesaat Aura melihat hal itu, saat berikutnya ia malah ikut-ikutan melakukan hal yang sama.
"Arra."
"Eeh." Aura segera membuka mata dan mendapati Damaresh sudah berdiri di sampingnya.
"Ikut aku keluar!" Damaresh langsung mendahului sebelum Aura mengiyakan.
Untuk bisa menyusul langkah-langkah cepat Damaresh, Aura harus mempercepat langkahnya dua kali lipat, dan hasilnya nafasnya menjadi ngos-ngosan.
"Kita mau kemana pak?" kesal karna selalu tertinggal jauh di belakang, ahirnya Aura hentikan langkahnya dan bertanya.
" Ikut saja." Jawab Damaresh tanpa menghentikan langkahnya.
"Tapi bapak berjalan terlalu cepat, saya capek gak bisa menyusul bapak." Aura berkata cukup keras karna jarak mereka yang tak lagi dekat. Bahkan nafasnya terdengar ngos-ngosan ketika bicara.
Damaresh menghampirinya. "Jangan manja!"
"Saya gak manja, sedikitpun gak ada pikiran untuk bermanja-manja, apalagi terhadap bapak." sahut Aura tajam. Gadis itu memang tampak kecapean terlihat titik keringat di wajahnya. Pasalnya Damaresh membawanya beberapa kali menuruni tangga bukan memakai lift. Entah mereka sekarang sudah ada di lantai berapa.
"Mau jalan lagi, atau aku gendong?"
Eeh itu penawaran atau ancaman?, Aura terdongak melihat wajah Damaresh, dari expresi pekat wajah atasannya itu, Aura dapat menilai kalau itu ancaman.
Ya kali seorang Damaresh mau menggendong asistennya. Ia sengaja mengucapkan itu karna ia tau kalau Aura adalah tipe wanita yang akan menolak berkontak fisik dengan lelaki yang bukan mahramnya.
Kali ini Damaresh melangkah lebih pelan agar Aura bisa menyusulnya dan tak lagi menggunakan tangga tapi memakai lift, namun bukan lift khusus petinggi Pramudya Corp. Alhasil mereka kini berada dalam lift bersama beberapa karyawan yang lain, yang berdiri menyisih melihat keberadaan Damaresh disana.
__ADS_1
Di lantai berikutnya tiga orang lagi masuk dalam lift
membuat semakin sesak saja jumblah orang didalamnya. Para karyawan itu bukan hanya tak berani berdiri di dekat Damaresh tapi juga di dekat orang yang bersamanya yakni Aura. Jadinya mereka berdiri berhimpitan.
Damaresh melirik hal itu dengan ujung matanya, lalu dengan tangan kanannya ia menarik tubuh Aura hingga merapat ke arahnya. Aura yang kaget segera berontak, tapi Damaresh malah merangkul pundak gadis itu dengan kuat.
"Pak, lepas!" Aura berbisik lirih dengan menahan geram.
Damaresh tak bergeming ia tak hiraukan penolakan Aura yang di lakukan diam-diam agar tak di dengar yang lain yang adalah karyawan Pramudya Corp semua.
"Diam. Ini untuk kebaikan semuanya." Damaresh berbisik tepat di telinga Aura.
"Tapi saya yang tak baik dengan seperti ini pak." sahut Aura dengan muka merah menahan marah. Marah atau malu ya..
"Apa jantungmu berdebar keras, karna terlalu dekat denganku?" Aura tercekat mendengar pertanyaan lirih Damaresh itu.
"Ahh iya, aku dapat mendengar suara detak jantungmu dengan jelas." ucap Damaresh lagi, yang membuat Aura semakin tak mampu menjawab. Dalam hati iapun merutuki detak jantungnya yang berpacu kian cepat karna ulah Damaresh itu.
"Sial." Aura mengumpat sendiri. Untunglah pintu lift segera terbuka dan ternyata mereka kini telah berada di lobby Kantor Pramudya.
Aura melangkah gontai sambil menarik nafas berkali-kali, ia kini sudah tak berminat lagi untuk menyusul langkah-langkah kaki Damaresh yang terlalu cepat. Namun ternyata lelaki itu menunggunya di depan lobby, di dekat pintu keluar kantor yang terbuat dari kaca besar dan tebal.
"Sebenarnya kita mau kemana pak?" Tanya Aura begitu telah berdiri tepat di depannya.
"Mengajakmu senam untuk kesehatan." Sahut Damaresh santai.
"Maksudnya?"
"Naik turun tangga itu adalah senam untuk melatih otot-ototmu. Dan di dalam lift itu senam untuk kesehatan jantungmu." Damaresh menjelaskan. Sebuah penjelasan yang bernada sindiran. Aura membulatkan matanya, namun tak bisa berkata apa-apa.
"Sepertinya detak jantungmu terlalu normal selama ini, jadi perlu di pompa agar bisa berdetak lebih cepat lagi, untuk mengetahui sejauh mana kesehatan jantungmu." ucap Damaresh lagi, di lengkapi dengan seringai puas di wajahnya.
Gimana pembaca sekalian, masuk akal gak sih, penjelasannya si Damaresh ini?
"Bapak mau ngerjai saya ya?" Aura menatap kesal.
Damaresh menggeleng cepat. "Ini ujian untukmu." ujarnya.
"Ujian apa?"
"Layak tidak kau mendapat ijin tidak masuk kerja besok."
"Kok gak nyambung ya pak?" Aura mengerutkan keningnya. Damaresh tak menanggapi. Suka-suka dia kan mau ngapain aja. Penguasa mah bebas.
Aura tidak tau saja kalau Damaresh sebenarnya melakukan semua itu adalah karna ingin menghilangkan kekesalannya sendiri dengan kedatangan Nyonya Claudia ke ruangannya berikut maksud kedatangannya. Sekat tak kasat mata yang tercipta antara dirinya dan ibunya sejak kecil sepertinya tak bisa di tembus dengan hal apapun.
Tapi sikap Claudia yang seolah perhatian padanya, padahal yang sebenarnya hanya untuk kepentingannya pribadi, membuat Damaresh muak. Namun di saat yang bersamaan dia juga harus bisa menahan diri demi menjaga citra baik keluarga besar Willyam Pramudya di mata publik.
Jadi naik turun tangga itu, bukan ujian untuk Aura, tapi untuk menetralisir amarahnya yang tak bisa terlampiaskan. Dan dari pada dia melakukannya sendiri tak ada salahnya ia ajak Aura untuk menemani.
__ADS_1
Sekali lagi. Penguasa mah bebas melakukan apa saja.