Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
25. Kecelakaan itu...


__ADS_3

"Dik, aku duluan ya, itu suamiku sudah menjemput!"


tunjuk wanita itu pada seorang laki-laki yang baru saja tiba dengan motornya, dan berhenti tak jauh dari mereka duduk.


Aura mengangguk. "Iya, Mbak. Silahkan!"


Selanjutnya Aura menggiring pandangannya ke arah wanita yang duduk menunggu bersamanya lebih setengah jam yang lalu itu, dimana mereka juga sudah terlibat obrolan ringan tentang beberapa hal.


Wanita itu meraih tangan suaminya, dan mencium punggung tangannya, lalu si lelaki menyerahkan helm yang dibawanya, dan membantu sang istri memakai helmnya. Melihat itu Aura tersenyum sendiri, hingga pasangan suami istri itu berlalu dari pandangannya.


Seperti itulah kira-kira potret rumah tangga yang di-impikannya selama ini, sederhana, tapi saling ada dan saling melengkapi. Sedangkan untuk rumah tangganya sendiri saat ini justru masih jauh untuk bisa disebut sebuah rumah tangga.


Aura menghela nafas dalam. Sudahlah, tak perlu mengeluhkan apa yang terjadi, apa yang ada di depanku saat ini, itulah kenyataan yang harus aku hadapi. Saat ini memang masih begini, tapi aku yakin suatu saat nanti, semua akan indah pada waktunya.


Aura memutus pemikirannya dengan tersenyum penuh harap sebelum senyuman itu terputus ketika terdengar suara benturan cukup keras di depan sana.


Braak...


"Pak, saya pamit mau pulang dulu," Aura segera berdiri dan berjalan mendekati Damaresh yang sesaat terlihat mengangguk kecil. Sebelum lelaki itu menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba tangannya sudah dipegang oleh Aura. Damaresh sigap hendak menepis, namun sebelum semua itu terjadi, Aura menunduk mencium punggung tangan lelaki itu.


Niat Damaresh untuk menepis tangan Aura bukan hanya urung terlaksana, bahkan kini tangannya membeku dalam genggaman Aura setelah ujung hidung mungil gadis cantik itu mendarat di sana.


Sesaat Aura tersenyum sebelum melepaskan tangan itu lagi. Senyum indah yang malah mendapatkan balasan tatapan aneh dari Damaresh.


"Maaf,Pak, kalau saya lancang, saya hanya ingin menerapkan salah satu ahlak istri terhadap suaminya sebelum saya pergi." Ucap Aura tetap dengan mengembangkan senyumnya.


Damaresh hanya tetap menatap saja dengan ekpresi yang tak dapat terbaca. Asal lelaki itu tak melarangnya itu sudah cukup bagi Aura. Dan gadis itu segera bergegas keluar meninggalkan Damaresh sendirian.


Huufft


Damaresh kembali menghela napasnya kasar, ingin mengusir semua ingatan tentang peristiwa itu nyatanya sudah berkali-kali kejadian itu terputar kembali dalam ingatannya membuatnya harus memukul stir dengan kesal.


Tiba-tiba terlihat dua orang lelaki berdiri menghadang laju mobilnya sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.


"Pak tolong!, Tolong,Pak!" seru mereka bersamaan.


"Ada apalagi ini?" Damaresh menggerutu dalam hati.


Sepertinya pilihannya untuk pulang lewat di jalan ini adalah bukan pilihan yang tepat, karna perjalanannya tak selancar yang diharapkan. Bukan hanya perkara pikirannya yang terus ingat akan sikap Aura tadi, tapi kini


pejalanannya dihentikan oleh orang yang tak dikenal.


"Ada apa?" tanya Damaresh setelah mobil berhenti.


"Ada kecelakaan, Pak. Tolong bawa ke rumah sakit,"


Bukan sesuatu yang menarik buat Damaresh, ia sudah siap untuk menolak permintaan itu, kalau bukan karna netranya menangkap adanya siluet wanita berhijab di antara kerumunan itu.


"Aura?"

__ADS_1


Untuk memastikan apa yang dilihatnya, Damaresh turun dari mobil dan menghampiri.


"Arra!"


"Bapak," Memang Aura, gadis itu tengah duduk jongkok di depan wanita yang telentang dengan tubuh terluka.


"Pak, tolong bawa korban ini ke rumah sakit ya!" pinta Aura cepat begitu yakin kalau lelaki di depannya itu memang benar Damaresh.


Damaresh tak segera menjawab, selama ini ia bukan orang yang gampang membawa orang lain semobil dengannya, kalau bukan karna orang dekat. Apalagi ini orang asing yang luka berdarah lagi. Alasannya bukan


hanya karna mobil pribadinya itu yang berharga fantastis serta hanya di miliki segelintir orang saja di dunia, tapi karna ia tak ingin orang lain masuk begitu saja ke dalam area privasinya.


"Kalau Bapak gak bersedia, saya akan cari bantuan lain," Aura berkata tegas mana kala dilihatnya Damaresh terdiam atas permintaannya.


"Kau mengenal korban?"


"Tidak. Tapi kami baru saja bicara bersama di sana,"


Aura menunjuk tempatnya mengobrol dengan wanita itu tadi sebelum suaminya datang menjemput.


"Itu artinya kau tidak mengenalnya, Arra,"


"Setidaknya kami saudara se-iman, sesama saudara wajib tolong-menolong." pungkas Aura.


Gadis itu lalu berdiri celingukan untuk mencari bantuan lain.


"Ya sudah, angkat mereka ke mobil!" perintah Damaresh pada beberapa orang di sana.


Apa karna permintaan Aura, Damaresh membiarkan orang lain masuk ke mobilnya. Atau karna hatinya terketuk untuk menolong juga?


Tidak. Tapi karna mobil yang dibawanya sekarang, adalah mobilnya Kaivan. Ia sengaja tadi bertukar mobil dengan Kaivan karna ingin menyetir sendiri sedangkan Kaivan pulang dengan mobil Damaresh plus supirnya juga.


Sudah lebih setengah jam mereka menunggu di depan UGD, dan Aura juga sudah menghubungi keluarga korban melalui ponsel milik korban yang terdapat di dalam tasnya.


"Kalau Bapak mau pulang dulu gak papa, Pak." ucap Aura sambil menatap Damaresh yang dari tadi hanya diam saja.


"Kau masih ingin di sini?"


"Iya, sampai keluarganya datang, kasian kalau ditinggal begitu saja."


Damaresh mengangguk. "Baiklah, kalau kau masih ingin menunggu, aku pulang dulu. Banyak hal yang harus aku kerjakan malam ini," kata Damaresh.


Aura mengangguk. Dalam hati ia berharap kalau Damaresh akan tetap tinggal untuk menemaninya menunggu, apalagi ini juga sudah malam, tapi apa hendak dikata, Aura tak akan pernah bisa mengatur


lelaki itu.


Damaresh benar-benar pergi setelah menatap Aura sekejab. Sepeninggalnya, Aura mengatur napas berusaha sabar menunggu. Bagaimanapun kalau menolong orang itu tidak boleh setengah-setengah, harus sampai selesai. Aura menegaskan dalam hati.


Rasa melilit di perutnya yang berusaha ditahan sedari tadi, kini semakin menjadi. Gadis itu memang tak sempat makan siang tadi karna tugas yang menumpuk, wajar jika kini cacing-cacing di perutnya mulai berteriak-teriak minta di-isi.

__ADS_1


Aura telungkupkan wajahnya ke atas pangkuannya berusaha bernegosiasi dengan mereka agar bersabar sebentar lagi, setelah ini gadis itu janji akan memenuhi hasrat para cacing itu asal mereka tak lagi bernyanyi.


Untunglah tak lama kemudian keluarga korban yang ditunggunya itu datang. Setelah menceritakan kronologi kejadiannya dengan singkat Aura segera bergegas pergi tentunya setelah menerima banyak sekali ucapan terima kasih dari pihak keluarga.


Gadis cantik itu melangkah bergegas melintasi parkiran untuk sampai di jalan depan dan mencari angkutan yang akan membawanya pulang, namun langkahnya tertahan oleh sebuah panggilan.


"Arra!"


Aura segera menoleh ke arah sumber suara.


Lelaki tampan itu berdiri tak jauh di belakangnya. Tubuhnya berbalut kemeja putih polos saja, tak ada lagi jas dan dasi yang tadi dipakainya.


"Pak Damaresh?"


"Sudah mau pulang?"


"Iya."


"Kenapa Bapak masih di sini?, apa ada yang ketinggalan?" tanya Aura dengan heran. Bukankah seharusnya lelaki itu sudah hampir tiba di rumahnya. Sudah lebih setengah jam ketika Damaresh memutuskan pulang lebih dulu.


"Iya, ada." sahut Damaresh.


"Apa, Pak?"


"Kamu."


"Saya?" Aura menunjuk wajahnya sendiri.


Damaresh mengangguk.


Heran, itulah hal pertama yang dirasakan Aura, akan tetapi kemudian perasaannya menjadi senang karna ternyata Damaresh memutuskan untuk menunggunya.


Mungkin lelaki itu sadar, kalau seharusnya ia tak pergi meninggalkan Aura sendirian. Seharusnya pula ia mengantarkan Aura pulang. Dan seharusnya lagi Damaresh membawa Aura pulang kerumahnya, bukan ke kontrakan. Namun belum lagi perasaan gadis itu selesai berkoar-koar dalam rasa senang, terdengar ucapan Damaresh.


"Tas-mu ketinggalan di mobilku, Arra, ambillah!"


"Ee" Aura langsung terpaku mendengarnya. Ternyata.


"Cepat ambil!" perintah Damaresh. "Dengan apa kau akan membayar taxi untuk pulang, kalau uangmu ada dalam tas itu," kata lelaki itu.


Aura mengangguk, dan segera mengekori Damaresh menuju mobilnya sambil menepuk-nepuk kepalanya berkali-kali. Aura baru ingat kalau tas yang ditentengnya dari tadi adalah milik korban kecelakaan yang ia tolong, sedangkan tasnya sendiri memang tertinggal di dalam mobil.


Setelah memberikan tas itu pada Aura, Damaresh segera masuk ke mobilnya dan melihat Aura masih berdiri di tempat semula.


"Mau aku antar pulang?" tanya Damaresh akhirnya.


"Kalau Bapak tak keberatan," sahut Aura.


"Sekarang tidak, tapi kalau sampai lima menit kau belum masuk mobil, mungkin aku akan berubah pikiran," Keluarlah wujud asli Damaresh yang suka mengancam.

__ADS_1


Aura bersyukur dalam hati, bahwa segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya. Karna menolong korban kecelakaan itu, Aura kini diantar pulang oleh suaminya meski harus diawali dengan drama kecil dulu. seharusnya hal itu sudah berlaku dari dulu, tepatnya dari sejak mereka sah sebagai suami istri.


Tapi memang semua ada waktunya tersendiri bukan, dan Aura Aneshka adalah salah satu orang yang percaya akan hal itu.


__ADS_2