
Mobil Lexus hitam yang baru saja menghentikan laju rodanya di halaman mansion Pramudya itu menambah jumblah deretan mobil mewah yang sudah terparkir rapi di sana. Seminggu sekali deretan mobil mewah yang berjajar di halaman itu sudah menjadi pemandangan yang biasa terjadi, tapi menjadi tak biasa di malam ini dengan kedatangan mobil lexus hitam itu yang sudah diketahui sebagai milik siapa.
Semua penjaga serempak tundukkan kepala saat lelaki tampan yang membalut tubuh gagahnya dengan kemeja hitam itu turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam bangunan utama mansion, melewati beberapa maid dan security yang masih menghentikan
sejenak aktifitasnya hanya untuk sekedar menundukkan kepala dan mengucap "Selamat Malam Tuan Damaresh".
Di ruang utama keluarga beberapa orang sudah berkumpul dan saling berbicara seputar bisnis, kegiatan mereka sehari-hari, hobi mahal yang tengah di geluti, dan lain sebagainya yang tak jauh dari kisaran rupiah dan dolar sebagai penegas kesuksesan mereka dalam menjalani kehidupan ini.
Kehadiran Damaresh dalam ruangan itu pertama kali dilihat oleh Anthoni, yang seperti biasa hadir seorang diri, karna katanya masih belum beristri. (Author tertawa)
"Selamat malam, sang putra mahkota," sapa Anthoni dengan cukup lantang, membuat semua rotasi mata teralihkan dan menjadikan sosok Damaresh Willyam sebagai bintang, yang menjadi satu-satunya pusat perhatian.
Christhine yang mula-mula bangkit dari duduknya dan gegas menghampiri sang keponakan tercinta.
"Malam Aresh,"
"Malam Tante," balas Damaresh datar, tak ada senyum yang ia lemparkan untuk mengimbangi senyum sumringah Christhine.
"Aku sangat senang kau datang, malam ini menjadi sangat spesial dengan kedatanganmu," ucap Christhine lagi, yang disambut anggukan singkat oleh
Damaresh.
"Malam Aresh," Edgard maju berjabat tangan dengan Damaresh sambil berkata "Aku tidak tau, aku harus mengucapkan selamat datang padamu, atau kau yang harus mengucapkan itu padaku," lanjutnya sebagai bentuk sindiran kecil, karna Edgard memang lebih banyak berkegiatan di Surabaya, karna perusahaan yang dipimpinnya berpusat di sana. Tapi tiap seminggu sekali Edgard akan datang ke Jakarta untuk memenuhi aturan untuk berkumpul keluarga. Begitu mudah bolak-balik Jakarta-Surabaya, karna uang memang punya kuasa.
Sedangkan Damaresh yang ditahbiskan sebagai penerus tuan Willyam dan berdomisili di Jakarta hampir tak pernah menghadiri acara itu, karna lelaki rupawan tersebut lebih memilih tinggal di apartemennya sendiri dari pada di Mansion keluarga.
"Kau pasti tau yang seharusnya," sahut Damaresh menyambut tangan Edgard.
Edgard tersenyum penuh arti. Edgard sebenarnya tau kalau sepupunya itu tak pernah menginginkan kedudukan ini, tapi kejeniusan otaknya dan kepiawaiannya dalam berbisnis mengantarnya pada posisinya saat ini, mengalahkan Edgard dan juga Anthoni yang di-klaim sebagai pewaris yang pantas karna terlahir dari putra Willyam, dibanding Damaresh yang keturunan putri Willyam.
Selanjutnya Nola istri Edgard yang maju ucapkan penyambutan di sertai senyuman super menawan yang ia punya, senyuman yang hanya ditanggapi Damaresh dengan anggukan.
"Selamat datang," kali ini Damaresh mengucapkan kata itu pada Dipo Anggara, paman sepupunya berikut Nyonya Melia istrinya, di lanjutkan pada Dien Anggara dan juga istrinya.
"Aresh silahkan!" Christhine mempersilahkan Damaresh menempati kursi kebesaran setelah acara sapa-menyapa itu selesai.
"Maaf Tante, aku masih ada keperluan pada Nyonya Claudya," tolak Damaresh, karna memang itu tujuan awalnya datang ke mansion tidak hanya untuk menghadiri acara kumpul keluarga yang dipenuhi pembicaraan membosankan.
"Oya, Mommy kamu belum turun, ini sungguh bukan kebiasaannya, sebaiknya cepat kau temui dia!"
Christhine segera menyilahkan.
"Silahkan dilanjut semuanya, maaf saya permisi," Damaresh ucapkan kalimat itu sebelum membawa tubuh gagahnya meningalkan ruang utama untuk naik ke lantai tiga, dimana kekuasaan ibunya berada.
Semua kembali duduk diposisi semula setelah kepergian sang putra mahkota.
"Harus begini untuk menghormati sang putra mahkota," celetuk Edgard yang hanya di dengar oleh ibu dan istrinya.
"Ya, padahal, keluarga kita yang paling lengkap disini, dengan kata lain, kita yang paling berhak atas kekuasaan di rumah ini," sahut Nola, mendukung penuh ucapan suaminya. Entah ia mendapatkan teori itu darimana.
"Berhenti mengatakan sesuatu yang tak berguna!"
Christhine segera menegur keras anak dan menantunya itu sambil melempar senyum pada keluarga Anggara, guna menyamarkan bisik-bisik yang ada agar tak menjadi rumor di luar sana.
__ADS_1
"Wahh mommy sangat patuh pada putra mahkota ya,"
sambut Edgard yang menekankan kalimat "putra mahkota" dengan jelas. "Padahal semua jelas tau, siapa yang seharusnya menjadi putra mahkota itu,"
lanjutnya lagi dengan raut tajam.
"Dan kau tak dapat membuktikan diri, untuk menduduki kursi putra mahkota," sergah Christhine dengan menyematkan tatap tak kalah tajam dari Edgard.
"Ehemm," dengungan keras Anthoni menginterupsi
ketegangan yang ada diantara ketiganya. "Karna tak berhasil dengan perang terbuka, sekarang mau perang dibelakang, rupanya," sindir Anthoni dengan mencebik.
Tak ada jawaban apa-apa atas ucapan itu kecuali lirikan tajam dari Edgard, Christhine pun segera mengalihkan
pembicaraan pada Nyonya Melia untuk mengahiri atmosfir ketegangan diantara kedua putranya.
***
Tok Tok Tok
Claudya sudah dapat menduganya siapa yang sedang mengetuk pintu kamarnya, wanita yang memang sudah siap dengan dandanan sempurna itu segera melangkah menuju pintu.
Claudya memang sangat menekankan penampilan dalam setiap kesempatan, meski untuk sebuah acara yang di helat dalam mansionnya sendiri, Claudya selalu tampil perfect untuk menegaskan posisinya sebagai "Sang ratu". Ratu dari klan Willyam Pramudya.
Dan keterkejutanlah yang tampil di wajahnya melihat siapa adanya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya..
"Aresh?" segera senyum indah terkembang diwajahnya
melihat putra tampan kebanggaannya itu ada di depan matanya.
Begitu senang, itulah perasaannya sekarang. Rasa senang yang juga tercetak di wajahnya tidak secara samar.
Berbanding terbalik dengan Damaresh yang hanya melayangkan tatapan datar, menatap ibunya itu sesaat, lalu membuang pandangan ke dalam kamar.
"Kau ingin menjemput mommy? ayo, mommy sudah siap turun." Claudya meraih lengan putranya untuk menautkan tangannya di sana.
Damaresh sedikit menarik lengannya dan menatap sang ibu sejenak. "Boleh aku masuk? aku ada keperluan dikamar ini," Damaresh terus memfokuskan tatapan kedalam kamar mewah nan luas ibunya itu.
"Ee," Claudya sedikit terkesiap mendengarnya, namun segera tersenyum. "Tentu boleh saja, Aresh. Kau mau bicara denganku?"
"Bisa dibilang begitu," tandas Damaresh.
Claudya segera menggeser tubuhnya memberi ruang pada putranya itu untuk melewatinya, Claudya sendiri mengikuti langkah Damaresh di belakangnya.
Lelaki itu menghentikan langkahnya di tengah ruangan
tatapannya terarah pada sebuah lukisan yang menampilkan wajah tampan Airlangga Aybars Perkasa dan Claudya dengan senyum berbinar keduanya.
Konon lukisan itu dibuat oleh tangan profesional yang tak hanya cukup dihargai puluhan tapi ratusan juta.
Pasangan yang terlihat sangat bahagia itu membuat lukisan itu pada aniversari mereka yang kedua dan bertepatan dengan Claudya dinyatakan hamil putra pertama mereka yang sekaligus menjadi putra tunggal pasangan tersebut.
Claudya merotasi matanya pada arah pandangan putranya. "Ya. Aku tetap memajang lukisan itu sebagai satu-satunya kenanganku bersama dady-mu,"
__ADS_1
ucapnya begitu berbangga.
Damaresh memutar kepalanya menatap Claudya, dan tersenyum miring, memang tanpa kata, tapi dari senyumnya, Damaresh terlihat jelas sedang mencibir apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Semua yang ku lakukan memang tak pernah benar di matamu, Aresh," kata Claudya dengan raut sedihnya.
"Karna aku tau, apa yang ada dibalik lukisan itu sehingga kau tetap menyimpannya sampai saat ini,"
Sahut Damaresh dengan mengunci tatap mata ibunya lewat netra pekatnya.
Tampak Claudya membuang pandangan, yang mengisyaratkan kalau ucapan putranya itu benar.
"Kita persingkat waktu saja, aku ingin menyampaikan kepentinganku padamu dan pada kamar ini," putus Damaresh.
Claudya mengangguk dan memilih duduk di sofa empuk yang ada di depan jendela. Damaresh pun duduk tak jauh darinya.
"Pertama, jangan pernah kau ganggu keluarga Aura!"
ucap Damaresh tegas.
Claudya memalingkan wajah sambil tersenyum geli, seakan di depannya tengah berlaku tontonan yang menggelitik hati. "Untuk apa aku berurusan dengan orang-orang di luar circle keluargaku? hanya buang-buang waktu saja," ucapnya sinis disertai cibiran pula.
"Tapi kenyataannya kau menemui ayah Aura dua hari yang lalu," sarkas Damaresh.
Terlihat Claudya sedikit terkejut.
"Untuk apa kau menurunkan harga dirimu dengan menemui orang yang tak se-level denganmu?"
Suara Damaresh mulai naik satu oktaf dari sebelumnya.
"Oo, jadi dia mengadu kepadamu? pasti mereka sudah bicara macam-macam tentangku kepadamu, sampai kau datang ke kamarku saat ini hanya untuk memperingatiku," tukas Claudya. Ia juga menaikkan satu oktaf nada suaranya.
"Mereka bukan orang-orang yang suka bersilat kata sepertimu," ucap Damaresh menohok.
Claudya terdiam, ia harus menelan salivanya dulu sebelum memberi jawaban.
"Aku hanya menegaskan kalau aku tidak akan pernah
menerima putrinya sebagai menantuku, sampai kapanpun, apa aku salah?" tatapan tajam Claudya menantang Damaresh.
"Untuk apa kau bertanya tentang salah dan benar? bukankah kesalahan dan kebenaran itu tak ada bedanya bagimu?
Aku hanya ingin menegaskan, jangan pernah kau ganggu keluarga istriku sampai kapanpun!"
*******
*********
***********
Skip dulu dehh..nih tangan dah kesemutan..
Lanjut besok ya..ada yang masih punya stok vote gak?
__ADS_1
mungkin mau menambah jumblah vote cerita ini??
hihi..siapa tau..gitu..Biar aku bisa ngetik lancar dan gak kesemutan kayak gini.. gitu lho.