
"Nempel terus kayak lintah," sungut Clara sambil menatap tajam dua orang yang melangkah di depannya.
Mood Clara memang langsung hancur begitu masuk ke dalam elevator tadi, gara-gara melihat saingan tak resmi-nya itu sudah ada di dalam sana dan berdiri merapat di samping Damaresh Willyam. Padahal sewaktu makan siang bersama Kaivan dan Aura, Clara sangat terlihat riang meski dalam setengah masa kerjanya, sepasang matanya tak menemukan adanya Damaresh Willyam yang selalu menjadi mood booster dalam setiap hari kerjanya.
Apalagi sikap Yeslin barusan di dalam elevator yang semakin merapatkan tubuhnya pada Damaresh begitu
Clara, Kaivan dan Aura memasuki lift khusus petinggi perusahaan itu sukses membuat Clara ingin mencakar saja muka wanita yang pasti rutin perawatan mahal tersebut.
Beda dengan Kaivan yang mendapati Damaresh berdua Yeslin di dalam elevator itu, ia segera melirik Aura yang berada tak jauh di sampingnya. Raut muka gadis itu juga terlihat terkejut, namun buru-buru disembunyikannya dengan segera menundukkan pandangan.
"Kau sudah datang, Pak?" tanya Kaivan pada Damaresh.
"Iya," jawab singkat Damaresh.
"Langsung dari bandara?" tanya Kaivan lagi.
Kali ini Damaresh hanya mengangguk tatapannya tampak lurus.
"Kami baru saja selesai makan siang bersama," tutur Kaivan lagi.
"Ohh," Damaresh menanggapi singkat seraya ujung matanya melirik pada Aura, gadis itu nampak tengah memperhatikan pantulan dirinya sendiri di dalam lemari besi yang sedang meluncur itu.
Begitu pintu lift terbuka, Damaresh bergegas keluar lebih dulu dan tentu saja, Yeslin segera mengekorinya,
bahkan lalu terlihat wanita itu menautkan tangannya pada lengan Damaresh, sementara Clara, Aura dan Kaivan berjalan di belakang keduanya bak pengiring pasangan pengantin.
"Lintah apa nih? lintah darat atau linta-"
Kaivan menanggapi ucapan Clara dengan tanya santai yang segera di jawab Clara dengan cepat.
"Lintah penyakit,"
"Wahh, beneran jealous ni anak," seru Kaivan sambil tertawa renyah dan melempar tatapan pada Aura.
Gadis berhijab itu mesem dan terus melangkah tertunduk.
"Clara dengar, kau itu bukan orang yang pantas cemburu pada Yeslin," ucap Kaivan sejurus kemudian dengan tatapan serius.
"So?" Clara menghentikan langkahnya dan menatap Kaivan seksama, membuat Aura yang melangkah agak ke belakang dari keduanya juga ikut menghentikan langkahnya.
"Aku tau, rasaku ini tak akan pernah tersampaikan, Mas Kai. Tapi Pak Damaresh masih single, jadi siapapun boleh menyukainya termasuk aku, kan?"
"Yap betul, tapi ku beri tau kamu Clara, Damaresh Willyam itu sekarang sudah punya istri!" tutur Kaivan yang membuat Aura tersembunyi menahan napas.
"Apa?" Clara membulatkan matanya sesaat, namun lalu wanita cantik itu tertawa geli.
"Mas Kai, jangan bercanda deh!" ucapnya masih dengan sisa tawanya.
"Malah gak percaya, aku serius ini," kata Kaivan tegas.
Clara diam menatap Kaivan seksama. "Bagaimana bisa?" tanya-nya heran.
"Bisa saja," sahut Kaivan santai.
Clara menggeleng. "Aku gak percaya," ucapnya.
"Terserah padamu, yang penting aku sudah memberitaukanmu,"
"Ok, kalaupun apa yang dikatakan Mas Kai itu benar,
__ADS_1
apa pak Damaresh mencintai istrinya?" tanya Clara
penuh rasa penasaran.
"Kalau itu aku belum tau," jawab Kaivan jujur. Memang
Tak pernah ada pembicaraan serius antara dirinya dengan Damaresh terkait pernikahannya dengan Aura,
yang ada lelaki itu selalu mengalihkan pembicaraan tiap kali Kaivan membahas hubungannya dengan Aura.
"Kalau begitu aku masih punya kesempatan, kan?"
Clara mengembangkan senyuman.
"Kau bilang tadi, perasaanmu ini tak akan pernah tersampaikan, tapi mengapa kini kau memaksa?"
Kaivan menatap Clara, dalam.
"Karna aku belum menemukan orang yang bisa mengalihkan perhatianku dari pak Damaresh," ucap Clara. "Kecuali-" wanita itu menggantungkan ucapannya begitu saja.
"Kecuali apa?" tanya Kaivan.
"Kecuali kalau Mas Kai mau jadi pacarku," Clara mengembangkan senyumannya lagi.
Kaivan memicingkan matanya mendengar itu.
"Kau sedang menembakku? di sini ada Aura lho,"
"Aura sudah ku anggap adikku sendiri, jadi aku tidak perlu malu padanya," ucap Clara.
Kaivan sudah membuka mulutnya untuk menanggapi ucapan itu, tapi-
Lelaki itu sudah tiba di depan pintu ruang kerjanya
dan menatap Yeslin di sampingnya. "Lepaskan tanganmu!" perintahnya tajam.
Yeslin tersenyum kikuk melepaskan tautan tangannya dari lengan Damaresh. Tak hanya sebatas itu, Damaresh pun berkata lagi.
"Ingat, jangan pernah berani menyentuhku, tanpa se-ijinku!"
"I-Iya," Yeslin menelan salivanya mendengar ucapan Damaresh. Padahal barusan ketika Yeslin melakukan hal itu dan tak mendapat penolakan dari Damaresh, dalam diri Yeslin sudah tertabuh alunan musik bertalu-talu karna perasannya yang terlanjur senang. Tapi mendengar ucapan Damaresh barusan, seketika alunan musik itu berhenti
bahkan alat musiknya pun raip juga entah kemana.
Damaresh segera masuk ke dalam ruang kerjanya di ikuti Kaivan yang lalu menutup rapat pintunya atas interuksi dari Damaresh tentu.
Yeslin segera duduk di sofa tunggu tak jauh dari Clara dan Aura yang juga duduk saling berhadapan menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda untuk makan siang tadi.
Setelah beberapa saat berlalu.
"Bisa tolong bawakan minuman untukku!" seru Yeslin dari tempatnya duduk sambil mengibaskan rambut coklatnya.
"Bisa," sahut Aura.
Gadis itu segera memesan minuman pada OB melalui intercom di atas meja Clara. Yeslin memperhatikan itu dan segera berkata pada Aura.
"Kenapa bukan kau saja yang membawakannya untukku?"
"Aura itu asistennya pak Damaresh, bukan asistent anda," jawab Clara mendahului Aura.
__ADS_1
"Asistentnya Damaresh? itu berarti asistentku juga kan?"
"Karna anda merasa sebagai calon istrinya pak Damaresh? dalam tanda kutip 'merasa' saja ya, bukan benar-benar calon istri," sanggah Clara di sertai tersenyum tipis.
Mendengar itu, Yeslin segera berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati. "Sepertinya kau sangat tidak menyukai itu ya, Nona Clara?" Yeslin tersenyum meremehkan. "Ku beritaukan padamu, kau sama sekali
tidak punya hak untuk merasa suka atau tidak dalam hubunganku dengan Damaresh, kau tau kenapa?
karna kau itu hanya sekretarisnya, sedangkan posisiku sangat kuat sebagai calon istri Damaresh Willyam dan tak akan pernah tergantikan oleh siapapun, termasuk olehmu." Yeslin mengucapkan kalimatnya dengan penuh penekanan sebagai wujud intimidasi darinya terhadap Clara.
Jauh di dalam hati, Clara akui ucapan Yeslin itu memang benar. Tapi Clara tak akan diam saja dengan serangan halus Yeslin padanya seperti ini, terlebih ia punya alasan yang menjadi dasar ketidak percayaannya pada apa yang di proklamirkan Yeslin itu.
"Aku akan mengakui itu, Nona Yeslin, jika sekali saja aku melihat pak Damaresh memperlakukanmu dengan manis," sahut Clara juga di sertai senyum mencibir.
Aura tersenyum miris melihat dua orang di depannya
ini yang memperebutkan apa yang seharusnya menjadi haknya saja sebagai istri Damaresh, namun sampai kini ia bahkan tidak tau dirinya sudah diberikan hak itu atau tidak oleh Damaresh. Tapi kini, dua orang wanita yang berada di "luar pagar" malah terlibat perang intimidasi untuk memperebutkan seseorang yang bahkan tak menyerahkan dirinya untuk dimiliki oleh pasangan hak-nya, apalagi terhadap yang tidak ber-hak. Se-mempesona inikah engkau Damaresh Willyam?
"Kau lihat sendiri barusan, Clara." Yeslin menyahuti ucapan Clara dengan penuh percaya diri. " Kami pergi bersama mengantar tuan Willyam ke bandara, dan kami juga pulang berdua, tentu saja setelah ini ia akan mengantarku pulang ke-rumahku. Kau tidak merasa keberatan, kan, Clara?" Yeslin mencondongkan tubuhnya pada Clara sambil tersenyum menang.
"Rupanya kau sedang menyebarkan berita bohong
Yeslin," terdengar sebuah ucapan tegas.
Siapa? siapa itu yang mengatakan demikian?
Itu adalah perkataan Damaresh, tanpa mereka sadari Damaresh dan Kaivan memang sudah ada di luar ruangannya.
"A-Aresh?" Yeslin kaget. Tentu saja sangat kaget.
"Ckk" Damaresh berdecak kesal. "Menyebarkan kebohongan, itu sama sekali bukan tindakan wanita terhormat Yeslin,"
Wajah Yeslin yang semula cerah berbinar bak raut wajah yang berhasil memenangkan perlombaan, kini langsung memerah bak terbakar panas menyengat.
Lain halnya Clara yang langsung menepuk jidatnya sambil senyum mencibir.
"Kai, kau antarkan Yeslin pulang dulu, sebelum kau ke Enrich Group!" titah Damaresh pada Kaivan.
"Ah tidak Aresh, aku akan pulang bersamamu saja, tidak masalah aku menunggu lama, ee biar aku menunggu di small guest room saja biar aku tidak mengganggu pekerjaanmu," ucap Yeslin dengan selembut mungkin
disertai tatapan penuh harap.
"Kalau begitu, Kai, kau pesankan taxi online saja untuk Yeslin, dan kau langsung saja menyerahkan berkas itu ke Enrich Group!" Damaresh merubah perintahnya.
"Baik, Pak," sigap Kaivan sambil menyembunyikan senyumnya, beda dengan Clara yang bahkan hampir tak dapat menahan tawanya mendengar itu.
"Baiklah, aku pulang bersama Kaivan," tandas Yeslin dan segera melangkah mendahului.
Damaresh menatap tajam Clara yang tertawa kecil melihat hal itu, membuat sekretarisnya itu segera menutup mulutnya cepat.
"Arra,!
"Iya, Pak," sahut Aura sigap.
"Siapkan makan siang untukku di ruanganku ya!" pinta Damaresh.
"Bapak mau makan apa?"
"Terserah kamu, Arra, apa saja menu yang kau pilihkan, aku suka," ucap Damaresh dan segera berlalu masuk ke dalam ruangannya lagi.
__ADS_1