
"Kau yakin?"
"Ya, aku sangat yakin," jawab Aura dengan sangat antusiasnya.
Aresh mengangguk sembari menatap wajah istrinya yang terlihat berbinar penuh harap. "Baiklah," ujarnya singkat.
Dan binar kebahagiaan itu semakin jelas menghiasi wajah Aura ketika mendengarnya.
Keduanya sama-sama turun dari mobil dan memilih berjalan kaki menuju pabrik sesuai permintaan Aura.
Wanita itu tak hentinya mengulum senyum sambil menautkan tangannya di lengan Damaresh. Merasakan hembusan angin sejuk yang menerpa, melayangkan pandangan pada hamparan perkebunan teh yang hijau membentang di sekelilingnya, dan menikmati berjalan bergandengan dengan orang tercinta..
Ahh rasanya tiada yang seindah saat iniĀ demikian yang dirasakan oleh Aura dan pasti Damaresh pula.
"Kalau capek, kasih tau!" Titah Damaresh ketika langkah mereka baru terayun dan belum mencapai puluhan langkah.
"Aku capek," ucap Aura dengan bermaksud menggoda suaminya atas ucapannya itu.
"Kita balik ke mobil." Aresh segera membimbing tangan istrinya itu untuk membawanya putar arah.
Aura tertawa renyah. "Baru juga melangkah, Aresh, aku belum capek," ujarnya menahan tawa. "Aku malah senang, bisa berjalan kaki begini, berdua denganmu, menyusuri perkebunan teh seperti ini, rasakanlah...ini sesuatu yang sangat sederhana, tapi luar biasa, benar kan?"
Aura melayangkan pandangannya kembali pada hamparan hijau perkebunan teh di sekeliling mereka, cerlang matanya begitu berbinar indah, menandakan kalau apa yang dirasakannya, sebagaimana yang diucapkannya. Ia bahagia.
"Luar biasa, kan?" Aura menatap suaminya itu, meminta pendapatnya.
"Ya. yang luar biasa itu, kau Arra," sahut Aresh.
"Aku?" Aura menunjuk dirinya sendiri.
Aresh mengangguk.
"Nilai keindahan sebuah pemandangan, tergantung pada suasana perasaan yang menilai. Tidak ada definisi yang baku tentang sebuah keindahan, karna keindahan itu tercipta dari apa yang kita rasakan. Dan tidak ada yang dapat menjadi parameter dari sebuah perasaan melainkan kebahagiaan. Intinya, indah dan tidaknya yang kita pandang tergantung pada suasana perasaan yang sedang memandang."
"Wahh!" Aura berseru lirih, bisa juga seseorang yang selalu bekerja di balik meja dan menghadapi tumpukan berkas serta laptop itu menguraikan hal yang sedemikian, batinnya. "Jadi?"
"Pemandangan ini terlihat sangat luar biasa, karna aku menikmatinya bersamamu," ucap Damaresh sembari menatap istrinya singkat. Tatapan yang tak disertai senyuman sebagai pelengkap.
"Jadi, yang luar biasa adalah bukan pemandangannya, tapi--" Aura sengaja memutus ucapannya karna ingin Damaresh yang melanjutkannya.
"Perasaanku padamu, itu yang luar biasa," pungkas lelaki itu dan kali ini, semburat senyum tipis tersungging di bibir merah alaminya.
Aura menatapnya dengan terpana.
"Aresh, bolehkah aku memelukmu?"
"Kenapa tidak? Aku halal untukmu dan begitupun sebaliknya."
Tak perlu berpikir panjang atau menoleh ke kanan kiri untuk memastikan tak ada orang, kedua tangan Aura segera melingkari pinggang suaminya sembari menyandarkan kepala di bahunya dengan selaksa perasaan senang, yang merangkum jiwanya dengan teramat dalam.
Dan tak hanya itu, Aura juga kembali mengajukan permintaan. "Bolehkah aku menciummu disini?"
"Kalau untuk itu, ada etikanya tersendiri, sayang," sahut Damaresh pelan.
Aura tersenyum takjub menatap wajah rupawan itu. "Apakah saat ini, kau adalah Damaresh William yang sebenarnya?"
Pertanyaan yang ambigu diucapkan oleh Aura.
"Kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Sangat jauh dari Damaresh yang selama ini di kenal oleh semua orang."
"Kau tau kenapa berbeda?"
Aura menggelengkan kepalanya.
"Karena perasaanku kepadamu, tidak sama seperti perasaanku kepada semua orang."
Lagi-lagi perasaan yang menjadi tolak ukur sebuah keindahan dan kesenangan, dan itu faktanya, memang.
"Aku ingin jatuh, Aresh," rintih Aura tertahan.
"Kenapa?"
"Terasa tulang-tulangku remuk mendengar ucapanmu."
"Kalau begitu, jatuhlah dalam pelukanku," kata Damaresh disertai senyuman.
"Selalu, sayang. Dan untuk selamanya," balas Aura, pun berhias senyuman.
"Insha'Allah, aminn."
Mata mereka saling memandang, serta saling melemparkan senyuman, jemari saling bertautan, dalam hentakan langkah yang sama-sama terayunkan.
Mereka menuju pabrik pengolahan teh menjadi minuman kemasan milik Alarick, yang letaknya juga di seputar area perkebunan. Alarick adalah pemilik perkebunan teh terluas di kawasan itu, dia juga mengolah sendiri teh hasil dari perkebunannya menjadi teh kemasan siap minum dalam bentuk botol besar dan gelas kecil, dengan merek yang sudah cukup terkenal dan laris manis di pasaran.
Pemasaran teh kemasan mereka juga sudah hampir merata di seluruh negeri ini, bahkan sampai keluar jawa dan Bali.
Di depan pabrik itu sendiri, terdapat beberapa mobil box yang digunakan sebagai pendistribusian minuman kemasan hasil olahan mereka ke beberapa tempat dan pelanggan dalam jumblah besar. Beberapa orang nampak duduk menunggu dan beberapa yang lain, sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Di dalam ruangan kerjanya, Alarick sedang menerima laporan dari orang-orangnya yang berakhir dengan keterdiaman dari laki-laki berusia empat puluh tahunan yang masih terlihat sangat tampan itu.
Hingga bawahannya itu berpamit keluar, Alarick masih diam dan hanya memberi anggukan.
Sherin yang sedari awal ikut terdiam setelah orang kepercayaan suaminya itu memberikan laporan, bergegas menuangkan teh hangat ke dalam gelas kecil, dan menyodorkannya pada sang suami.
"Minum dulu, Mas," ujarnya lembut.
Alarick menerima minuman itu, menatap Sherin sekejab. "Terima kasih," ujarnya sebelum meloloskan minumannya lewat tenggorokan.
"Kenapa bisa seperti ini, ya Mas?" tanya Sherin lirih setelah Alarick memberikan gelas minuman yang isinya telah tandas itu padanya.
"Entahlah," jawab Alarick diiringi helaan napas.
"Ada apa, Om?" Sebuah kata tanya menyeruak diantara keterdiaman keduanya, membuat suami istri itu kompak menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Damaresh bersama Aura disana.
"Aresh," seru Alarick setengah kaget.
"Maaf, masuk tanpa mengetuk pintu lebih dahulu," kata Damaresh sambil sedikit memiringkan kepalanya memberi isyarat pada pintu ruang yang sedikit terbuka.
"Gak papa, Aresh..duduklah!" Alarick segera memersilahkan keponakannya itu duduk, selaras dengan Sherin yang menghampiri Aura dan membimbingnya juga, untuk duduk.
"Kenapa semua pengiriman barang, dikembalikan, Om?" Damaresh kembali ajukan pertanyaan yang tertunda itu.
"Itulah. Aku juga tidak tau kenapa, mereka beralasan kalau konsumen menolak produk kami, padahal sudah cukup lama bekerja sama dengan kami dan sejauh ini tidak ada keluhan apa-apa, semuanya baik-baik saja."
Alarick sejenak menghela napas, sedangkan Damaresh terus menyimak penuturannya dengan seksama.
"Dan tak hanya disini, yang diluar jawa juga dikembalikan semua dengan alasan yang sama. Stock barang di gudang menumpuk, sebagian sudah kami kirim ke beberapa yayasan sosial dan pesantren. Karna hal ini, mungkin dalam beberapa hari ke depan, kami tidak akan produksi dulu," tutur Alarick lagi.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan para pekerja, Om?"
"Hal itu sebenarnya yang sangat memberatkan aku, Aresh."
"Apa hal seperti ini, pernah terjadi sebelumnya, Om?"
"Belum pernah. Ini baru pertama kalinya.
Sepertinya ada yang sengaja memboikot produk kami, entah siapa," tukas Alarick dengan tatapan lurus.
Damaresh memutar kepalanya ke arah Aura dan Sherin yang duduk menyimak pembicaraan keduanya dengan seksama.
"Arra, dan...Tante Sherin," ucap Damaresh terdengar ada nada canggung dalam ucapannya ketika harus memanggil Sherin dengan sebutan Tante. Tapi Sherin justru terlihat senang karenanya.
"Bolehkah aku bicara berdua dengan om Alarick?"
Aura dan Sherin sama-sama mengangguk dan lalu sama-sama keluar dari dalam ruangan.
"Rin, sabar ya," ucap Aura sambil menggenggam tangan Sherin. Sudah hampir setengah jam mereka duduk di luar ruangan, dimana Sherin mengisahkan kejadian yang sebenarnya pada Aura.
"Insha Allah, aku dan suami akan sabar menghadapi ini," sahut Sherin dengan tersenyum. "Yah.. Aku tau, hidup itu ada pasang surutnya, tak selalu diatas dan tak selamanya di bawah, mungkin itu yang tengah kita hadapi sekarang," lanjutnya lagi dengan senyuman yang lebih terkembang.
Aura mengangguk dengan tatapan kagum, diantara mereka bertiga. Aura, quinsha dan Sherin, Sherin-lah yang memiliki pribadi yang lebih kalem dan tenang, ia sering menjadi pengayom bagi kedua orang sahabatnya itu, yang cenderung tegas dan apa adanya.
Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan Damaresh yang keluar dari sana seorang diri.
"Aresh, bagaimana?" Aura segera berdiri menghampiri suaminya itu, bersamaan dengan Sherin yang juga segera masuk ke dalam untuk menemui Alarick tentunya.
"Bagaimana apanya?"
"Semuanya. Apa sudah ditemukan jalan keluarnya?"
"Tidak ada apa-apa, Arra. Semuanya baik-baik saja," sahut Damaresh cepat.
"Bagaimana bisa kau bilang tidak ada apa-apa, aku tadi sudah mendengar semua penuturan om Alarick, dan barusan juga Sherin sudah menceritakannya dengan lebih jelas," protes Aura dengan mimik muka kesal pada Damaresh yang dianggapnya hendak menyembunyikan sesuatu, yang dirinya sudah tau.
"Ucapanku itu sebentuk harapan dan do'a, Arra, kalau semuanya akan baik-baik saja,"
Sahut Damaresh dengan tenang bahkan terselip senyum dalam ucapan.
"Bahkan, dulu kau sendiri yang mengatakan kalau setiap kata itu adalah doa, kan?" Lanjutnya sambil sedikit menoel pipi mulus Aura dengan ujung jari tangan.
"Iya." Aura menampilkan senyum tersipu, membuat rona merah membias di kedua belahan pipinya.
"Aresh--"
"Apa, kau merasa ingin jatuh lagi?"
tebak Aresh dengan cepat.
Aura tersenyum.
"Sepertinya, iya," jawabnya.
"Jatuhlah di pelukanku!"
Aura segera menghambur memeluk suaminya itu yang hari ini telah membuat hatinya meleleh berkali-kali hanya karna sebuah ucapannya yang sederhana.
Ucapan yang menunjukkan kebesaran jiwanya sebagai pribadi muslim yang bertakwa. Aura sangat bahagia karenanya.
__ADS_1
Sangat berbahagai.