
Ahh aku pasti hanya mimpi.
Aura menepisnya cepat dan kembali memejamkan mata, membenahi posisi tidur menyampingnya, menarik selimut hingga sebatas dada. Ucapkan kata bismillah siap-siap melanjutkan tidur yang terjeda karna merasakan usapan lembut di rambutnya, yang diyakininya hanya sekedar halusinasi saja, karna efek rindu pada suami tampannya.
Aura tersenyum sendiri sebelum kembali membawa dirinya menuju tidur lena. Hampir ia terlelap ketika lagi-lagi merasakan sentuhan dikeningnya, bukan sentuhan tangan ataupun apa, tapi seperti ujung hidung mancung yang menyentuhnya dengan sedikit memberi
Penekanan, bahkan terasakan kecupan
bibir juga.
"Ckk" Aura berdecak, dan kembali membuka mata. mulutnya meracau layaknya orang mengigau, "Aresh... Kau belum meninggal, kan? Kenapa sudah gentayangan seperti ini sih?"
Aura mengusap-usap kening licinnya yang baru saja terasa mendapat kecupan itu. Lalu kembali meracau.
"Sebegitu rindunya ya, aku padamu?
sampai aku merasa kau menciumku, padahal kau sedang jauh dariku"
Gadis itu menghempas napas berat.
"Aku ingin tidur lagi, suamiku yang tampan tak tertandingi, ini sudah larut sekali, hadir saja dalam mimpi, jangan lewat halusinasi begini, aku tersiksa.."
racaunya lagi dengan mata yang enggan terbuka, kembali ia berusaha meraih tidurnya kembali.
Namun kembali ia merasakan lagi, bukan hanya sentuhan atau ciuman,
Tapi pelukan di pinggangnya yang ramping, yang sangat jelas terasakan.
"Subhanallaah Aresh, apa aku sudah gila karnamu?" Aura menggeram frustasi.
"Jangan ganggu aku dengan hayalan kayak gini, aku memang sangat merindukanmu, tapi aku tak mau tenggelam dalam hayalan semu begini.
Aresh..jangan ganggu aku!" Aura hampir teriak, mulutnya sudah setengah terbuka, siap untuk melontarkan suara.
Tapi sebuah suara dengan jelas menyeruak dalam pendengarannya.
"Aku hanya ingin memelukmu, Arra."
Aura tercekat, bola matanya memutar kanan kiri, segera ia menunduk menatap perutnya, ada satu tangan melingkar disana, tangan yang jelas terlihat mata, bukan sesuatu yang tak kasat mata.
Aura reflek membalikkan badannya.
Wajah tampan Damaresh, senyumannya, tatapannya yang kini memenuhi pandangan matanya.
"Apa kabar istri cantikku?"
"A-Aresh?"
"Ya ini aku. Bukan orang yang sudah meninggal dan gentayangan seperti ucapanmu," jawabnya dengan senyum di akhir kata.
"Ini benar kau?"
Aura sepertinya belum yakin dengan pandangannya sendiri, pendengarannya sendiri, dan indera perasanya sendiri.
Damaresh mendekatkan wajahnya dan menghujani wajah Aura dengan ciuman mesra. "Ini aku," ucapnya disela aksinya.
Aura segera mendekap tubuh yang masih berbalut kemeja kerja itu dengan erat, tanpa kata, tanpa suara, mencurahkan segenap rasa rindu yang selama ini menyesakkan dada.
Damaresh pun melakukan hal yang sama, merangkum tubuh istrinya dalam dengan kedua lengan kokohnya.
"Aku pikir, aku hanya berhayal saja," terdengar suara Aura lirih dalam pelukannya.
"Jam berapa kau tiba?" tanya Aura setelah mengurai pelukannya dan menatap wajah Damaresh dengan mata memerah.
"Hei," lelaki itu merangkum wajah Aura dengan kedua tangannya. "Kenapa menangis?"
"Aku bahagia kau datang," Suara Aura tercekat karna menahan isakan.
Aresh kembali membawanya ke dalam pelukan. "Baru juga empat hari tak bertemu," ledek Aresh, namun tak urung rasa senang juga menyelimuti perasaannya atas sikap istrinya ini.
"Ya. Harusnya aku tak merindukanmu ya, harusnya aku merindukan orang lain saja, karna kita kan baru empat hari tak bertemu, harusnya aku tak rindu,"
Aura membanting kalimat terakhirnya dengan memasang muka kesal.
Aresh menarik kedua sudut bibirnya lebih sempurna lagi "Aku sangat percaya
diri, Arra," ujarnya dengan senyum tanpa lepas.
"Apa?"
Aura terdongak menatapnya.
__ADS_1
"Kalau kau tak akan memberikan pada orang lain, apa yang seharusnya hanya untukku." ucapnya penuh percaya diri.
"Tapi kau sepertinya tak suka,"
tukas Aura dengan wajah cemberut.
Damaresh tak menjawab, ia hanya mengunci wajah cantik istrinya dengan tatapan lembut.
Tiba-Tiba. "Apa ini?" kaget Aura merasakan kakinya yang menyentuh kaki Damaresh. "Kau masih pakai sepatu Aresh?"
"Ya, melihatmu sedang tidur, aku sangat ingin segera memelukmu, sampai lupa melepas sepatuku," sahut Aresh dengan mimik tanpa dosa.
"Dan kau juga masih memakai baju kerja?" heran Aura lagi setelah melihat seksama suaminya.
"Hmm" dengung Damaresh sambil mengangguk. "Aku dari kantor langsung ke bandara tadi," ujarnya.
"Gak sempat mandi?"
"Gak sempat ganti baju?"
Semua pertanyaan Aura itu di jawab hanya dengan anggukan oleh Aresh.
"Aresh kenapa sihh?"
Aura segera terduduk menatap Damaresh lekat.
"Kau belum mengerti juga?" Aresh malah balik tanya.
"Ya, aku tau,"
"Apa?"
"Kau sangat terburu-buru, karna merindukanku," putus Aura.
Damaresh meraih tubuh istrinya lagi, memeluknya dan menciumnya bertubi-tubi. "Terlalu merindukan orang lain itu tidak nyaman Arra, aku baru tau rasanya." ucapnya dengan napas memburu setelah aksi ciuman brutalnya di wajah Arra itu.
Aura terdiam mengatur napasnya akibat ulah Aresh yang tak melewatkan satu inchi pun dari wajahnya yang tak dihujaninya dengan ciuman penuh kerinduan.
"Apalagi saat aku tak segera bisa mencuri waktu untuk ketemu," lirihnya lagi mengadu dengan raut kesal.
"Sekarang kau sudah mendapatkan waktu itu, kan?"
"Atau aku harus membunuh rasa rinduku, agar tak perlu merasa rindu lagi padamu,"
"Caranya?"
"Selalu membawamu dalam saku bajuku."
Aura melirik saku baju Damaresh dengan ujung mata. "Memangnya aku liliput?" Dan Aura segera menutup mulutnya menahan tawa. "Kau punya selera humor juga ya," sepasang mata gadis itu mengkedip senang lalu gegas turun dari pembaringan.
"Mau kemana?"
"Aku akan siapkan air hangat, untukmu mandi dan ganti baju," jawabnya sambil meraih hijab dari gantungannya, dan kembali menatap Damaresh.
"Gak lupa bawa baju ganti, kan?" tanya-nya lagi.
"Mungkin dibawakan sama Kai," sahut Damares tak yakin.
"Ada Mas kai juga?"
"Hmmm. Aku berdua dia kemari."
"Kalau gitu aku akan masak juga buat kalian."
Aura segera memutar tumitnya untuk keluar dari kamar, tapi Damaresh gegas
menahan tangannya.
"Gak usah, Ara. Ini sudah malam, kau lanjut tidur saja! Aku bisa melakukannya sendiri."
Ara meraih jemari Damaresh dan berkata. "Menyiapkan segala keperluanmu itu salah satu tugasku, Aresh. Dan aku senang melakukannya."
Aura mengembangkan senyum lepas tanpa beban.
"Baiklah," Aresh hanya bisa mengangguk dan menggiring pandangannya mengikuti langkah Aura keluar dari dalam kamar.
** *** ****
"Aresh!"
Kaivan menyikut pelan pundak Damaresh yang beberapa kali menggeser layar smartphon nya.
__ADS_1
"Apa?"
"Kalau ku pikir sih, selama hidupmu, kau lebih banyak melakukan dosa dari pada berbuat pahala," kata Kaivan yang sukses membuat tatapan Damaresh berpindah dari layar Smartphonnya pada wajah tanpa dosa sahabatnya itu.
"Kau tidak pernah sholat, dan lain-lainnya dari ritual ibadah seorang muslim," lanjut Kai. Tak perdulikan tatapan tajam Aresh yang mengarah padanya.
"Kau sebenarnya mau bicara apa, Kai?"
"Ya ini, mau bicara ini. Bahwa dosamu lebih banyak dari pada pahalamu, tapi kenapa kau malah dapat istri wanita shaliha?"
Kai menunjuk Aura dengan isyarat mata.
Gadis itu tengah menata masakan di atas meja, dan menyiapkan sepiring khusus untuk Damaresh berikut air minumnya. Ritual itu dilakoninya setelah menyiapkan air mandi hangat untuk Damaresh tadi.
Damaresh menghembus napasnya, hanya untuk kalimat ini, Kaivan harus memutar kata kemana-mana. rutuknya
dalam hati. "Anggap saja karna aku tak pernah menyentuh wanita sembarangan sepertimu," balas Damaresh tajam.
"Kau tidak menyentuh mereka bukan karna menghindari dosa, Resh."
Kaivan mencibir. "Tapi karna kau laki-laki yang sangat kaku," imbuhnya lagi dengan senyum meledek yang terkembang di bibir sexinya.
"Itu berkah sendiri juga bagiku," ucap Damaresh penuh kemenangan.
"Terkadang jalan hidup itu berlaku tidak adil," Kaivan merubah gaya bicaranya menjadi mode mengadu.
"Apa lagi ini?" Damaresh berdecak kecil.
melirik Kaivan tak senang.
"Ya. Kau yang memang sudah punya segalanya, masih juga mendapatkan istri yang se-sempurna Aura."
"Itu karna, waktu hidupmu dikelilingi banyak perempuan, aku tidak. Jadi saat aku punya wanita yang hak untukku, kau tidak. Ini jalan hidup yang sangat adil bagi kita, Kai." pungkas Damaresh yang membuat Kaivan menghembus napasnya malas.
Perdebatan tak penting itu di akhiri dengan panggilan Aura karna makanan yang sudah siap. kaivan hanya bisa melongo menatap Aura yang memperlakukan Aresh bak raja, semua keperluan makannya telah lengkap tersedia. Dia hanya tinggal duduk dan menyendokkan makanan ke mulutnya.
Walhasil, Kaivan menatap Aura dengan seksama.
"Arra," panggil Damaresh singkat.
"Ya" Aura segera menghadapkan diri sepenuhnya pada Damaresh.
"Sepertinya aku menambah satu target lagi selain stefan, untuk ku congkel bola matanya," ujar Aresh sadis.
"Siapa?" tanya Aura bergidik.
"Tuh," Damaresh menunjuk Kaivan dengan isyarat mata. "Dia menatapmu tanpa kedip dari tadi." tandasnya.
"Jiahahah" sembur Kaivan dengan tawa lebar.
"Pensiun jadi laki-laki yang kaku, sekarang ganti jadi psikopat pencemburu," cibirnya tanpa rasa takut sama sekali atas ancaman Damaresh itu.
"Kupikir target apa," gerutu Kaivan sambil meraih makananya.
"Aku bantu mas Kai?"
Aura menawarkan.
"Dengan senang hati," sahut Kai tersenyum senang.
"Gak usah Arra!" cegah Damaresh cepat.
"Hanya aku di sini suami-mu. Bukan dia."
****"* ***** ****..
Typo Maksi ya..ngetiknya terburu-buru.
Dikejar target Up pagi..
takutnya ada yang rindu..padaku,
kalau gak ada yg rindu? ya gak papa..
aku berlapang dada saja..
yg penting jangan lupa..like..koment..
gift dan vote nya ya..
matur nuwwunnn
__ADS_1