Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
124. Karena Cinta.


__ADS_3

“Kalau mau menyebutkan semua kesalahanmu, itu sudah terlalu banyak, hampir tak bisa disebutkan satu demi satu. Tapi hanya ada satu saja kesalahanmu yang menjadi pemicu bagi kesalahan-kesalahanmu yang lain. Kau menolak cinta, Papa.”


“Kau menolak hadirnya cinta dalam hidupmu, kau melarang orang-orang yang jatuh cinta dalam keluargamu, tanpa kau sadari, bahwa kau adalah pemuja cinta itu sendiri, Papa..”


“Kau sangat mencintai mama, bahkan nama mama kau abadikan menjadi nama yayasan yang kau bangun dan kau dedikasikan untuk mama. L&D Foundation, atau yayasan Laura Dewi, kebanggaan kita semua.”


Benarlah apa yang dikatakan oleh Claudya, William


membangun yayasan sosial Pramudya Corp, selang satu tahun setelah kepergian Laura Dewi istrinya, karena sebuah kecelakaan pesawat.


Yayasan sosial itu juga menjadi mimpi seorang Laura Dewi yang belum terwujud, ketika ajal lebih dahulu menjemput.


Laura Dewi selalu mengatakan, memiliki sebuah perusahaan yang besar dan sukses itu hal yang biasa, yang luar biasa adalah jika dengan kesuksean itu kita mampu berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Alangkah lebih baiknya jika Pramudya Corp memiliki ladang amalnya tersendiri dalam sebentuk yayasan sosial.


Dan hati William baru terketuk untuk mewujudkan mimpi istrinya ketika wanita kesayangannya itu telah tiada. Maka nama Laura Dewi pun diabadikan menjadi nama yayasan yang dibangunnya. menjadi


L&D Foundation, Atau yayasan L&D.


L&D itu adalah Laura Dewi.


Selanjutnya kita simak apa yang dikatakan oleh Claudya lagi.


“Kepergian mama yang terlalu cepat telah menghancurkan hidupmu, dan kehancuran hidupmu adalah kehancuran bagi kami, anak keturunanmu... kau membenci cinta, padahal kau sendiri begitu tenggelam dalam cintamu, sampai tak ijinkan siapa pun menggantikan posisi mama dalam hati dan hidupmu.”


Masih ingat dengan BLC Corp, perusahaan yang di gadang-gadang sebagai rival Pramudya Corp, namun akhirnya anak perusahaannya di London berhasil diakuisisi oleh Damaresh demi mempertahankan cintanya pada Aura Aneshka.


Pemilik dan Pendiri BLC Corp, sebenarnya adalah sahabat dari William sendiri. Julian Smith, pemilik BLC, William dan Harun Aybars, ayahnya Airlangga adalah tiga serangkaian yang sama-sama mempunyai naluri bisnis setara keris, tajam dan lancip.


Diantara William dan Julian Smith, hadir Laura Dewi sebagai wanita yang dijodohkan dengan William dan diketahui sebagai mantan kekasih Julian. Tapi keluarga Laura Dewi sangat menentang hubungan itu di karenakan perbedaan keyakinan antara Julian dan Laura. William baru mengetahui adanya kisah cinta masa lalu antara Laura dan Julian sesaat sebelum hari pernikahan.


Hal mana membuat William selalu menaruh kecurigaan pada Laura dan menganggap kalau istrinya itu masih mencintai Julian.


Padahal Laura adalah type wanita yang ngabdi,


selama menjadi istri William ia mengabdi dengan baik pada suaminya yang cukup arogant dan memiliki kebijakan-kebijkan pada anak-anaknya yang bertentangan dengan kepribadian Laura.


Tapi sebisa mungkin, Laura tetap mematuhi dan memperkecil pertentangan dengan suaminya yang sudah tidak memiliki dasar kepercayaan yang tinggi pada perasaannya sebagai seorang istri.


Laura juga yang mewarisi bekal pendidikan agama pada anak-anaknya, ketika William hanya sibuk menumpuk rupiah saja.


Dua bulan sebelum kepergian Laura, William baru menyadari kalau istrinya itu benar-benar secara utuh mencintainya sebagai seorang suami, setelah perseteruan hebatnya dengan Julian yang berakhir menjadi permusuhan.


William segera menebus kesalahannya dengan memenuhi hidup Laura dengan cinta yang tiada tara. Betapa kuatnya jiwa Laura Dewi yang bertahan selama puluhan tahun dalam kecurigaan sang suami yang tak sepenuhnya mempercayai. Dan saat semua itu ia dapatkan, Tuhan tak memberikannya waktu lama, kecuali hanya dua bulan saja, Laura Dewi dipanggil berpulang.


Adalah William yang sangat merasakan pukulan dan penyesalan yang terlalu dalam, hingga ia memilih menyisih dari hidupnya dan anak cucunya,


dan tak memperhatikan tumbuh kembang mereka lagi, kecuali hanya menjejali mereka dengan harta dan kemewahan, serta tuntutan untuk menjadi pewaris bisnis yang handal serta bisa diperhitungkan.


Itulah sebabnya, kenapa Claudya mengatakan:

__ADS_1


Kehancuran hidupmu, adalah kehancuran hidup kami, anak keturunanmu.


Kembali pada Claudya yang terus berbicara dengan papanya.


“lihat apa yang terjadi, Papa!, ketika kau menolak cinta, Pramudya jatuh ke tangan orang lain, kau kehilangan hampir semua aset kebanggaanmu. Kau pun kehilangan kesadaran dan kesehatanmu,"


lanjut Claudya.


“Aresh menatangmu karena kau menghalangi cintanya, Aresh melawanmu karena kau memisahkannya dari cintanya. Kau tak pahami perasaan Aresh, padahal kau sendiri sangat jatuh cinta pada pasanganmu...kenapa Papa?”


Begitu emosi terpancar di wajah Claudya yang tak dapat menahan jatuhnya air mata.


Claudya melepaskan genggaman tangannya dari tangan pucat William untuk menyeka air mata yang luruh pada kedua belahan pipinya. Ditatapnya wajah sepucat kertas sang ayah yang tergolek tanpa daya dalam sebulan terakhir ini. Mata itu tetap memejam, bibir itu tetap mengatup, seakan tak ada tanda kehidupan lagi di sana, kecuali adanya detak nadi pelan dan lambat yang memberitahukan kalau William masih belum saatnya di kebumikan.


Setelah ambruk di kantor pasca pengambil alihan Pramudya Corp oleh Alpha DMC, William tak pernah mendapatkan kesadarannya kembali. Dokter menyatakan kalau seluruh tubuhnya sudah kehilangan fungsi, tapi nyawa masih enggan berlalu pergi. William pasti sedang menerima hukumannya kini, dimana dirinya berada di antara hidup dan mati.


Atas permintaan Aura pada Damaresh, William tak lagi di rawat di rumah sakit, ia di rawat di mansion dengan peralatan medis lengkap, berikut perawat profesional dan dokter spesialist yang selalu datang memeriksa keadaannya. Dan sejauh ini, William belum menunjukkan perkembangan apa-apa.


Seorang perawat masuk membawa peralatan lengkap untuk membersihkan tubuh William. Claudya beringsut dari duduknya demi melihat hal itu.


“Silahkan saja suster!” Claudya menyilahkan karena dilihatnya perawat itu masih diam saja.


“Saya masih menunggu Mbak Aura, Nyonya, biasanya dia membantu saya membersihkan tuan William,” sahut perawat itu.


“Membantumu? Dan kau membiarkan saja itu?” tanya Claudya heran.


"Memang atas permintaan mbak Aura sendiri, Nyonya--" Dan perawat itu menghentikan ucapannya karena orang yang mereka maksud kini hadir dalam ruangan itu.


"Ya, Mbak."


Selanjutnya, Claudya bisa menyaksikan bagaimana Aura begitu cekatan membersihkan tubuh tak berdaya William bersama perawat yang berusia di atas lima puluh tahun tersebut. Kecekatan Aura itu menandakan kalau dirinya bukan hanya sekali dua kali saja melakukan hal ini.


Hal mana membuat Claudya juga ikut membantu, meski sesekali hanya jadi terdiam melihat Aura yang lincah mengalahkan perawat khusus yang dibayar untuk merawat William tersebut.


"Terima kasih ya," ucap Claudya pada menantunya itu.


"Terima kasih untuk apa, Mommy?"


"Kau merawat papa dengan sangat baik, padahal kau tahu, selama ini bagaimana papa terhadap dirimu." Claudya mengusap pelan pundak Aura.


"Disaat kondisi orang tua sudah seperti ini, yang paling tepat untuk mengurusnya, adalah anak cucunya sendiri, Mommy," ucap Aura tanpa terlihat beban sama sekali.


Claudya mengangguk, hatinya merasa tercubit.


Wanita itu lalu meraih tangan William dan mengatakan. "Lihatlah, Papa! orang yang selama ini sangat kau tolak kehadirannya, karena kau anggap tak pantas ada di antara kita, justru merawat mu dengan penuh cinta."


Mendengar ucapan itu, Aura tersenyum, dan sepasang matanya menjadi berkaca-kaca, ketika Claudya menambahkan ucapannya pada William.


"Aura adalah cinta, kehadirannya dalam keluarga kita membawa cinta, bahwa ternyata cinta itu jauh lebih berharga dari segala harta benda yang kita punya. Aura yang telah menyadarkan kita semuanya, Papa." Claudya sendiri juga mengusap satu titik air yang hadir di sudut matanya.

__ADS_1


"Papa akan kembali ke tengah kita, jika di dalam hatimu ada rasa cinta. Tapi kau akan tetap terasing seorang diri begini sekalipun ada di tengah-tengah kita, jika di hatimu tetap menolak rasa cinta,"


lanjut Claudya lagi.


Aura ganti meraih tangan William dan menggenggamnya lembut. "99 nama Tuhan yang disebut sebagai asma-ul husna , cinta, adalah yang mencakup semuanya. Hingga Ada sebagian ulama yang berkata, bahwa cinta adalah namanya yang ke seratus, sekaligus sebagai pelengkap dan penyempurnaan dari 99 namanya."


Selanjutnya Aura membacakan asmau-husna itu.


"Ya Allah, Ya Rahmann, yaa maalik, yaa quddush, yaa salaam, yaa mu''min, yaa muhaimin, ya aziz, yaa jabbar...." Demikian, runtut ia bacakan hingga nama yang kesekian.


Di akhir bacaannya tiba-tiba Claudya berseru tertahan. "Papa!" dan ia melihat terpana pada william yang dari sudut matanya yang terpejam rapat keluar cairan bening yang lalu jatuh menggelinding di pipinya yang pucat.


"Papa merespon Aura, dia menangis," ucap Claudya dengan haru.


"Iya, Mommy, sudah beberapa kali seperti itu," sahut Aura yang mana baginya pemandangan ini sudah bukan yang pertama kalinya.


Claudya sedikit membungkukkan tubuhnya dan berbisik pada William. "Masihkah papa mau mengingkari kekuatan cinta? mengingkari kehadiran Aura sebagai anugerah cinta yang membawa kesejukan dalam keluarga kita?


Sadarilah papa! mungkin Tuhan masih memberimu kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


Seperti Tuhan memberikan kesempatan itu padaku." Suara Claudya terdengar parau di akhir kata. Dan memang terlihat kedua netranya yang berkaca-kaca.


Saat Claudya menegakkan tubuhnya kembali, saat itulah kedua mata William bergerak pelan, pelan tapi pasti yang kemudian terbuka dengan sangat lambat sekali.


"Nyonya, Mbak Aura, lihatlah!"


sang perawat yang melihat itu segera memberitahukan.


Claudya dan Aura sama-sama mendekat dan memperhatikan. Memang benar, sepasang mata William telah terbuka, namun terlihat kosong, dan kemudian setitik air menggelinding dari sana.


"Alhamdulillah.." ucap Aura dan segera meraih tangan William dengan penuh syukur dan haru.


Namun ungkapan syukur yang diucap oleh Aura itu seakan magnet yang berhasil menarik William menuju kesadaran penuh. Tatapan matanya yang semula kosong kini nampak memperlihatkan tanda, bahkan sepasang mata itu merotasi sempurna menggiring pandangan ke arah Aura.


Sepasang bibirnya lalu bergerak-gerak seakan ingin mengucap kata, tapi sepertinya cukup sulit untuk segera melafadzkannya. Bahkan justru air matanya yang luruh lebih dulu sebelum kata terucap dari lidahnya yang kelu.


"A..A...A-rra.." setelah sebelumnya harus melewati perjuangan lebih dulu, William kini mampu mengeluarkan suaranya yang terbata-bata dan membentuk satu kata..nama Aura yang pertama kali disebutkannya.


"Iya, Kakek..ini saya." Aura segera kian mendekatkan dirinya.


Tampak William masih menatapnya dengan seksama dari sepasang mata tuanya yang membasah. "Ka..Ka..Ka-kek...Min..minta maaf..A..A..A..ura."


Meski suara itu terputus-putus, tapi maksud ucapannya dapat di paham dengan jelas maknanya oleh semua yang mendengarnya.


"Selamat datang kembali, Kakek."


Ucapan itu berasal dari Damaresh yang entah dari mana datangnya, ternyata dia juga sudah ada di dalam ruangan itu dan menyaksikan detik-detik kembalinya William. Begitupun dengan keluarga William yang lain, yang ternyata juga sudah berkumpul di sana juga.


"Kau mengawali kedatangan-mu dengan hal yang benar, yaitu minta maaf pada istriku, karena itu memang pertama kali yang harus kau lakukan. Semoga untuk selanjutnya, hanya hal yang benar saja yang akan kau lakukan."

__ADS_1


Aamiinn..


__ADS_2