Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
76. Istri Anakku.


__ADS_3

"Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu," wanita itu duduk di depan Aura, membetulkan posisi duduknya lebih dulu, sebelum lanjutkan ucapannya. "Tapi tolong, apa yang akan ku sampaikan ini, jangan sampai diketahui oleh Bu Olivia, apalagi Pak Damaresh Willyam." wanita itu menatap Aura seksama, menatap tepat pada kedua bola matanya.


"Kau bisa janji untuk itu?"


Aura meletakkan lembaran kertas yang di tekurinya dari tadi di atas meja, karna menimbang lawan bicaranya yang sepertinya sangat butuh perhatian extra


"Memangnya kau mau menyampaikan apa?"


"Tidak akan ku beritaukan, sebelum kau mau berjanji, seperti yang kusebutkan."


Wanita itu bersikeras.


"Baiklah, Fadia."


Terdorong oleh rasa penasaran, akhirnya


Aura mengiyakan.


Fadia, rekan kerja Aura di yayasan, siang ini menemui Aura di ruang kerjanya, setengah jam sebelum waktu istirahat.


Memang sejak hari ini, Aura sudah aktif


Kembali dalam pekerjaannya di L&D, setelah ia kembali ke Jakarta kemarin sore dengan dijemput Dirga. Karna suami tampannya itu masih ada di London sejak dua hari sebelumnya.


"Aku mendengar dengan jelas beberapa


hari lalu waktu Pak Damaresh mengatakan kalau kau adalah istrinya.


Maksudnya istri bagaimana ya?


aku kok sangat kepikiran dengan itu,"


"Jadi ini yang akan kau sampaikan padaku?" Aura menatap Fadia menahan tawa.


"Akan ada hal lain lagi yang akan kusampaikan, tergantung jawabanmu."


"Kalau menurutmu, ada berapa macam istri di dunia ini?" tanya Aura sebelum menjawab tanya Fadia.


"Banyak. Istri sah, istri siri, istri muda, istri simpanan, istri kontrak, pacar berasa istri, atau istri rasa pacar. Kau istri yang mana?"


"Istri sah menurut hukum agama."


Jawab Aura.


Fadia membulatkan matanya cukup lama, menatap Aura seakan menatap sesuatu yang menakutkan saja.


"Kau serius, Aura?"


"Ya."


"Kok bisa? Tapi ya..siapa sih yang bisa menolak Pak Damaresh, sangat tampan, sangat kaya.." fadia menatap menerawang teringatkan dirinya yang sering bermimpi akan berada di posisi Aura saat ini, atau setidaknya menjadi teman kencannya walau sehari.


Aura tersenyum getir mendengar ucapan itu. Pasti, selalu hal ini alasan pertama yang dituduhkan padanya kenapa mau saja dinikahi oleh Damaresh, karna kekayaanya, karna ketampanannya. Bahkan keluarga Damaresh juga pasti berpikir kalau Aura hanya ingin numpang kaya dan ingin numpang hidup enak bersama Damaresh, tanpa mereka tau apa alasan yang sebenarnya dibalik pernikahan itu terjadi.


"Aku bukan wanita yang berdiri dijajaran orang-orang yang memujanya, aku bahkan tak pernah mendambakan sedikitpun untuk menjadi istrinya."


ucap Aura tegas sambil menatap Fadia dalam. "Tapi aku menerimanya sebagai suami setelah kami menikah, dan aku mencintainya, setelah ia menjadi halal


Untukku. Ku harap jawaban ini memuaskanmu, Fadia." tandasnya lagi.


"Ee.." Fadia menjadi gugup dan segera merasa malu atas pertanyaannya sendiri


"Aura, aku minta maaf, aku tak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya merasa penasaran saja akan kebenarannya." Fadia melemparkan senyum lembut sebelum lanjutkan ucapannya. "Karna ya, kalian itu jauh berbeda, tapi mungkin ini yang disebut takdir," putus Fadia kemudian.


"Ya, Takdir." Aura juga mengamininya.


"Hanya saja, ... mungkin banyak hal yang


akan kau alami setelah menikah dengannya, dan mungkin juga itu bukan hal yang menyenangkan," ujar Fadia pelan seraya menatap Aura tulus.


Siapa diantara pekerja di L&D yang tak mendengar rumor tentang keluarga Willyam, itu pasti tujuan Fadia mengingatkan. "Kalau memang kau sudah bulat dengan pernikahan kalian, kuharap kau akan kuat untuk menghadapi hal apapun nanti ke depan,"


Lanjutnya lagi.


Fadia memang satu dari pemuja Damaresh, tapi dirinya tak sampai berani berharap untuk menjadi istrinya,


karna pasti hanya kerumitan saja yang akan dialaminya.


Aura mengangguk, "terima kasih, Fadia."

__ADS_1


Ia anggap ucapan Fadia itu sebagai bentuk perhatian dari seorang teman untuknya.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Fadia kemudian.


"Baiklah, Ayo."


Sebuah mobil mewah terlihat berhenti di halaman gedung kantor yang memang memiliki pemandangan yang asri itu, melihatnya Fadia mencolek lengan Aura yang berjalan di sampingnya. "Mungkin kau dijemput, Aura."


Aura menggeleng. Karna mobil yang mengantarnya bahkan masih terparkir apik ditempatnya, hari ini, Lutfi sopirnya sengaja menunggunya sampai jam pulang kerja atas titah Dirga.


"Aura, itu nyonya Claudya," tutur Fadia yang memang cukup memperhatikan


kedatangan mobil mewah itu sampai si sopir membukakan pintu untuk majikannya.


Aura menghentikan langkahnya, melihat ke arah yang ditunjuk oleh Fadia, memanglah benar, Claudya Willyam terlihat melangkah mendekati keduanya.


"Selamat siang, Nyonya," sapa Fadia penuh hormat bersamaan dengan langkah kaki terakhir Claudya yang menghentikan langkah dalam jarak satu meter di depan Aura dan Fadia.


"Siang," jawabnya singkat. Wanita cantik yang memakai dress panjang semata kaki tanpa lengan berwarna


hijau Soft itu segera memusatkan tatapan hanya pada Aura saja.


"Aku ada perlu denganmu, apa kau ada waktu?"


"Ya," jawab Aura singkat.


"Kalau begitu, aku kesana dulu, Aura," pamit Fadia yang segera mendapat anggukan dari Aura.


"Mari kita ke dalam kantor saja, Nyonya!" ajak Aura pada Claudya sepeninggal Fadia. Sepertinya gadis itu mulai bisa menguasai dirinya setelah sempat gugup atas kehadiran Claudya yang tiba-tiba saja. Bermacam pemikiran pun bercokol di kepalanya.


Claudya menggeleng singkat. "Kita bicara di sana saja!" tunjuknya pada sebuah kursi panjang bercat putih yang


terdapat di bawah pohon besar di sudut halaman.


Aura mengangguk dan segera mengikuti langkah Claudya yang telah terayun lebih dulu menuju tempat yang di maksud.


"Duduklah!" titah Claudya stelah dirinya mengambil posisi duduk lebih dulu.


Aura segera duduk jarak setengah meter di samping ibu dari suaminya itu.


Claudya melepas kaca mata hitam yang membingkai sepasang matanya dari tadi. Tampak kini sepasang mata itu menatap terarah pada Aura.


Entahlah, apa ini hanya perasaan Aura saja yang memang selalu menerapkan untuk tak mudah berburuk sangka pada orang lain, tapi Aura merasa kalau tak ada tatapan sinis ataupun menelisik dari sepasang netra Claudya yang kini mengarah padanya. Kecuali kalau wanita yang dengan jelas menyatakan tak akan pernah merestuinya itu telah mengubah mode serangannya pada Aura dari perang terbuka, menjadi perang rahasia.


"Aku butuh bantuanmu, Aura" ucapnya dengan tegas namun menunjukkan kesungguhan di saat bersamaan.


"Mm bantuan apa, Nyonya?"


"Ini tentang Aresh, aku sudah sering menghubunginya belakangan ini, tapi dia enggan menjawab telfhonku, aku juga sudah sering menemuinya di kantor, di apartemen, tapi sepertinya dia menghindariku." tutur Claudya selayaknya orang yang sedang mengadu, bahkan tatapannya yang selalu tegas dan lurus, kini tampak sendu.


"Jadi apa yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Aura cepat.


"Tolong pertemukan dengan Aresh!"


"Ee.." Aura cukup terhenyak.


"Kalian tinggal bersama, bukan?"


"Ya, Nyonya," jawab Aura.


"Pasti ada tempat tinggal lain, selain apartemennya kan?"


Aura mengangguk. Gadis itu bahkan belum pernah dibawa ke apartemennya oleh Damaresh.


"Dimana Aura? Kasih tau aku alamatnya!"


"Ee ma'af Nyonya," terlihat Aura bergerak gelisah. "Untuk itu saya perlu mendapat ijin dari-- Aresh dulu," ucapnya dengan nada tak nyaman.


"Ya aku tau kau sangat patuh padanya."


claudya membuang pandangannya ke lain arah. "Dan aku pasti tak akan bisa memaksamu untuk memberitaukannya," aku-nya lagi dengan suara pelan.


"Maafkan saya Nyonya," ucap Aura yang sepenuhnya merasa bersalah.


"Tapi kau bisa pertemukan aku hari ini dengannya? atau nanti malam juga tidak apa-apa,"


Dilihat dari permintaan Claudya sepertinya dia memang sangat ingin bertemu dengan putranya, bahkan sampai meminta bantuan Aura, hal yang rasanya sangat mustahil untuk dilakukannya, kalau bukan karna adanya kepentingan mendesak pada Damaresh, putranya.


"Aresh sedang ada di luar negeri, Nyonya," tutur Aura.

__ADS_1


"Di luar negeri?" Claudya terpana.


"Ya. Dia ke london sejak dua hari yang lalu."


"Astaga..kenapa sekretarisnya tidak memberitaukan itu padaku, padahal aku dari kantor Pramudya barusan," ucap Claudya terlihat dengan nada jengkel.


Selanjutnya ia kembali menatap Aura.


"Lalu kapan dia akan kembali?"


"Dia bilang,seminggu di sana, mungkin sekitar enam atau lima hari lagi, dia akan datang," jawab Aura jujur.


"Baiklah, aku akan menemuimu setelah dia datang, ku harap kau akan mepertemukan aku dengannya saat itu,"


"Saya akan menyampaikan padanya, kalau Nyonya ingin bertemu," ucap Aura.


Claudya mengangguk lalu meraih tasnya bersiap untuk pergi,


"Nyonya Claudya," sapa Olivia.


Ketua yayasan itu datang menyapa.


"Ya Olivia."


claudya bangkit dari duduknya di ikuti oleh Aura.


"Saya senang Nyonya datang berkunjung, mari kita ke dalam saja, untuk sekedar minum teh bersama," ajak Olivia dengan ramah.


"Tidak terima kasih, Olivia, lain kali saja," tolak Claudya.


ia membingkai kembali sepasang netranya dengan kaca mata hitamnya.


"Aku kesini hanya untuk menemui istri anakku,"


ucapnya sambil memberi isayrat pada Aura yang berdiri dua langkah di belakang Claudya.


Olivia tersenyum mendengar itu.


"Kalau begitu aku pamit, Olivia."


Claudya lalu memutar kepalanya melihat ke arah Aura.


"Terima kasih untuk waktunya, Aura," ucapnya.


"Sama-sama Nyonya,"


Wanita itu lalu berjalan menjauh dengan langkah-langkah anggunnya tetap dalam pengawasan mata Aura dan Olivia. Hingga Claudya tiba di ujung sana, dimana sopirnya segera membukakan pintu mobil untuknya.


Selanjutnya, Olivia beralih tatap pada Aura.


"Nyonya Claudya tidak menyulitkanmu?"


"Tidak, Bu."


Olivia masih sejenak menatapnya untuk sekedar memastikan kebenaran dari jawaban Aura, tapi kalau dilihat dari gadis itu yang sepertinya baik-baik saja, mungkin benar kalau Claudya memang tidak menyakitinya. Batin Olivia.


"Aku perlu menyampaikan satu hal padamu, Aura."


"Apa bu?"


"Kau ikut aku menyusul Nyonya Christhine, kita berangkat nanti malam,"


"Sangat mendadak, Bu oliv?" Aura terlihat tak menyanggupi ajakan itu.


"Ya, tapi kau masih ada waktu untuk minta ijin pada Pak Damaresh, dan ku kira ini tak akan sulit, Aura, Karna Pak Damaresh sedang ada di luar negeri, kan?"


Aura mengangguk. Sambil memutar otak, bagaimana caranya untuk menolak ajakan itu.


******


*********


***********.


Hari minggu biasanya gak Up ya..


part ini seharusnya aku upload tadi malam..cuma karna ada sesuatu dan lain hal, jadi gak bisa sesuai jadwal..


ya..jadinya harus dikeluarkan sekarang..

__ADS_1


tetap semangat ya semuanya..


khusus untukku sendiri..yang semangatnya kadang suka timbul tenggelam. hihi


__ADS_2