Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
118. Dua Pilihan.


__ADS_3

"Aku minta maaf," ucapnya yang kesekian, dan permintaanya yang kesekian.


Meski jauh di dalam hati, ia sadari mungkin kata maaf itu tak akan pernah ia dapati, tapi ia terus mengucapkannya, sebesar harap dalam hati, karena hal itu yang sangat ingin di dapatkannya kini.


Jangan tanya berapa banyak air mata yang tumpah di wajahnya, jangan tanya seperti apa ekpresi kesedihan di sana. Dan jangan tanya seberapa sakit yang dirasa atas kedua lututnya yang diajak bersimpuh dari sejak semula.


Tapi Claudya mengabaikan semuanya , karena tekad yang terpatri di dalam dada, bahwa ia harus mendapatkan maaf dari Airlangga.


"Bangunlah, Clau!"


Akhirnya, bibir yang selalu terkatup itu memperdengarkan suaranya.


Claudya mendongakkan wajahnya.


Rasa bahagia tak terkira terangkum di dalam dada, mana kala melihat Airlangga yang dari awal enggan menatapnya, kini tengah melabuhkan pandang kepadanya.


"Elang," lirih Claudya seakan tak percaya.


"Bangunlah, Clau!" Airlangga mengulang perintahnya.


"Aku minta maaf," ucap Claudya dengan suara yang tercekat. "Aku minta maaf, untuk semuanya. Semua kesalahanku yang tak bisa ku uraikan satu persatu," tambahnya lagi dengan suara bergetar dan kembali satu titik bening lolos begitu saja, menggelinding melewati belahan pipinya.


Dan itu, adalah air mata yang kesekian kalinya.


"Bangunlah!"


Airlangga kembali menegaskan perintahnya dengan tatapan datar.


Claudya mengangguk, dan wanita itu segera beringsut dari duduk bersimpuhnya di depan kursi roda yang di duduki oleh Airlangga.


Dengan berpegangan pada sandaran kursi, Claudya berusaha menepis rasa nyeri pada kedua kakinya dan duduk secara perlahan di atas kursi tersebut, tak seberapa jauh di hadapan Airlangga.


"Aku sudah mendengar semuanya tentangmu, Clau," ucap Airlangga dengan suara serak. "Hampir tak percaya, kalau kau bisa melakukan semuanya. Tapi benar kata Aresh, Tuhan kuasa mengubah hati manusia dalam sekejab dengan kehendaknya."


Claudya terdiam untuk mencermati semua ucapan Airlangga itu dengan seksama.


Baginya kini suara Airlangga bak gemericik air mengalir di tengah kering kerontangnya


gurun sahara. Terdengar sangat indah di telinganya.


"Aku pikir kau layak untuk diberi maaf.


Tapi kau harus tau, Clau..memaafkan itu mungkin perkara yang mudah, tapi melupakan semuanya, itu yang susah."


Claudya menganggukkan kepalanya pelan, pun menelan salivanya samar, sebelum ucapannya terlontarkan.


"Aku tau, Elang. Aku saja tak akan pernah melupakan semua kesalahan yang telah ku perbuat sendiri, apalagi orang yang telah ku sakiti. Aku sangat paham, Elang. Dan aku memang pantas mendapatkan itu," sahut Claudya dengan kesadaran sepenuhnya.


Airlangga sesaat menatap wajah Claudya yang sedikit pucat, dan sepasang matanya yang sembab, karena tumpahan air mata yng tercurah untuk waktu yang tak hanya sesaat.


"Terima kasih sudah mencariku."


"Aku sangat merindukanmu," isak Claudya, saat sepasang netranya berlabuh pada wajah yang ketampanannya 90% diwarisi oleh putranya itu. Wajah yang selama ini teramat dirindukannya.


Bahkan Claudya sampai enggan untuk bertemu dengan Damaresh dulu, karena kemiripannya dengan Airlangga, suami yang telah dicelakainya dan seklaligus selalu didambakan kehadirannya.


Saat melihatnya pertama kali lebih dua jam yang lalu, Claudya sangat ingin memeluk tubuh tampan yang kini sudah tak segagah dulu itu, guna meluapkan segenap rasa kerinduan yang terasa menjerat kalbu. Tapi Claudya cukup tau diri, akan segala kesalahannya yang mungkin tak patut dimaafkan lagi.


Terlebih lagi, Claudya tau, bahwa dirinya sudah bukan siapa siapa  lagi di mata Airlangga.


"Aku cacat permanen," kata Airlangga.


"Dan semua karena aku, Elang."


"Claudya, aku tak ingin lagi membicarakan siapa yang salah di sini."


Airlangga menatap Claudya datar, hal mana membuat Claudya sedikit mengalihkan pandangan dengan rasa bersalah yang seakan menusuk tulang.


Penting dicatat.


Untuk selalu berhati-hati dalam bertindak dan bersikap, jangan sampai tindakan dan sikap itu adalah sebuah kesalahan yang akan menyakiti orang lain. Karena kita mungkin bisa dengan mudah untuk meminta maaf dan mendapatkan maaf, tapi rasa bersalah yang ada dalam hati kita sendiri atas kesalahan yang telah kita perbuat, cenderung lebih menyakitkan dari pada kita tak pernah mendapatkan kata maaf.


Hal itulah yang dirasakan oleh Claudya, hingga jangan ditanyakan, kenapa air matanya sering menganak sungai di hadapan Airlangga, dan di kala dirinya sedang sendirian.


"Dalam kondisiku yang seperti ini, aku tidak lagi bisa membantu Aresh dalam segala apa yang tengah diperjuangkannya.


Aku ingin kau selalu ada untuknya, Clau.


Jadilah ibu yang sebenarnya bagi putraku.


Mungkin dengan itu, aku akan bisa memaafkanmu."


"Terima kasih, Elang."


Claudya mengusap air matanya. "Aku tidak akan berjanji, karena aku sadar, aku bukan orang yang pantas untuk dipercayai..tapi aku akan buktikan semuanya, semampuku."


Airlangga mengangguk, menatap Claudya sekilas, tatapannya masih dingin, ekpresi wajahnya masih beku, Claudya dapat merasakan semua itu. Tapi dirinya sudah bersyukur, Airlangga masih memberinya satu kesempatan untuk menjadi ibu yang baik bagi Damaresh William, putra mereka satu-satunya.


Damaresh terlihat memasuki ruangan itu dan menatap interaksi yang terjadi diantara kedua orang tuanya dengan ekpresi wajah yang tak bisa terbaca.


"Aresh." Claudya segera berdiri dan menghampirinya, berdiri dalam jarak beberapa langkah di depan putranya itu.

__ADS_1


Padahal sejatinya ia ingin memeluk Damaresh walau sekali saja, tapi Claudya tak berani meminta, kawatir kalau dirinya akan dianggap tak pantas untuk mendapatkan semuanya.


"Terima kasih Aresh, kau memberiku kesempatan untuk bisa bertemu dengan daddymu," kata Claudya dengan mata berbinar.


Damaresh hanya mengangguk kecil. Dari caranya ini membenarkan segala apa yang dipahami oleh Claudya kalau Damaresh memang sengaja memancing orang-orang suruhan Claudya untuk mengikuti Dirga, orang kepercayaan Damaresh.


Terhitung sudah sepuluh hari, Claudya berada di New Zealand beserta beberapa anak buahnya, dalam rangka menemukan keberadaan Airlangga. Meski merasa seperti tengah mencari jarum di tengah tumpukan jerami, karena ia memang tidak menemukan petunjuk yang pasti tentang keberadaan suaminya di negara ini, tapi Claudya terus menyemangati dirinya, kalau suatu waktu nanti, pertemuannya dengan Airlangga pasti terlaksana.


Hingga akhirnya tanpa disengaja orang-orang suruhannya melihat Dirga yang baru keluar dari sebuah minimarket dengan berjalan kaki. Anak buah Claudya segera membuntuti  hingga tibalah mereka di tempat ini, tempat dimana Airlangga berada kini.


Rupanya benar, itu adalah bentuk kesengajaan dari Damaresh yang memberi petunjuk pada orang-orang kepercayaan ibunya untuk bisa menemukan tempat tinggal ayahnya.


********.


"Untuk hal ini, saya perlu menyampaikan dulu pada CEO Alpha DMC, Tuan Edgard," ucap Joana dengan lembut, tak lupa disertai dengan balutan senyum hangat.


"Bagaimanapun, suntikan dana yang kami berikan pada Pramudya Corp, sudah melewati batas nominal peraturan kerjasama perusahaan yang kami terapkan," lanjut Joana lagi dengan pola interaksi yang jauh dari kata intimidasi.


"Bukankah menurut Miss Joana, apapun yang kami butuhkan, Alpha DMC siap selalu untuk memenuhi?" Retoris Edgard dengan tatapan dalam.


"Benar, sepanjang itu tidak melewati batas aturan perusahaan, saya punya kuasa penuh untuk memutuskan, tapi karena ini sudah di atas kesepakatan, saya tidak bisa ambil keputusan sendiri, tanpa persetujuan dari CEO kami."


"Baik, berapa lama batas waktu yang Miss butuhkan untuk menemui pimpinan perusahaan?" Apa perlu kami siapkan vasilitas jet pribadi keluarga kami, agar Anda bisa cepat tiba kembali ke Dubai?"


Edgard menawarkan dengan sangat antusiasnya.


"Terima kasih, Tuan Edgard."


Joana tersenyum simpul.


"Tak perlu saya harus kembali ke Dubai, Saya bisa menghubungi CEO perusahaan dari sini sekarang juga, tapi--"


Joana sengaja menjeda ucapannya.


"Tapi apa, Miss?" tanya Edgard begitu penasaran.


"Pimpinan perusahaan kami, bukan orang yang suka memutuskan sebuah urusan dalam waktu mendadak, beliau akan lebih dulu mengkaji semuanya dan bahkan dengan turun langsung--"


"Bagus Miss Joana, saya sangat berharap, jika CEO Alpha DMC, bisa berkenan datang ke Pramudya," ucap Edgard segera bahkan tanpa menunggu Joana selesai menuntaskan ucapannya.


Joana tersenyum melihat sangat antusiasnya Edgard. Wanita cantik itu melabuhkan tatapannya pada wajah tampan di depannya yang segera mendapatkan sambutan serupa dari Edgard. Sejenak netra keduanya bertemu di ruangan hampa, di antara temaram cahaya lampu dan alunan musik romantis yang mewarnai acara makan malam keduanya.


Suasana seperti itu sengaja dirancang Edgard untuk membangun kedekatan dengan rekan kerja barunya, di samping tentu tujuan Edgard yang menyampaikan permohonan suntikan dana lagi terkait permasalahan terbaru yang tengah dihadapi oleh Pramudya saat ini.


"Saya belum menuntaskan kalimat saya, Tuan Edgard," ujar Joana memutus kontak mata diantara keduanya.


"Ehemm." Edgard jadi sedikit salah tingkah karenanya, namun sebagai seorang lelaki yang sudah cukup berpengalaman dalam menghadapi banyak type wanita, Edgard segera bisa menguasai situasinya.


"Begitukah?" Joana kian melebarkan senyumnya.


"Dengan pasti," sahut Edgard dengan terus menatap tanpa lepas.


"Baiklah, tapi biarkan saya menyelesaikan kalimat saya dulu, Tuan Edgard."


"Baiklah, silahkan."


"CEO kami saat ini sedang mengambil cuti selama sepuluh hari untuk sebuah urusan keluarga di Abudabi. Beliau memang termasuk orang yang sangat romantis dan begitu memperhatikan keluarganya."


"Wahh!" Seru Edgard menanggapi ucapan Joana. "Sangat patut ditiru. Seorang yang sangat sukses, disela kesibukannya selalu menyediakan waktu untuk keluarganya,"


Lanjut Edgard menunjukkan kekagumannya.


"Benar," sahut Joana.


"Karena itulah, meski saya bisa menghubungi beliau dari sini, tapi tidak untuk kali ini, karena kami sangat menjunjung tinggi profesionalitas kerja."


"Bisa dimengerti."


Edgard menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Lalu, apa Miss Joana ada saran lain?"


"Kita tunggu beliau balik tugas saja," saran Joana.


"Berapa lama?"


"Satu minggu dari sekarang."


"Itu terlalu lama, Miss Joana. Saya tidak bisa menunggu selama itu," sahut Edgard segera.


"Apa permasalahannya cukup genting?"


Edgard hanya menjawab dengan senyum, karena tak mungkin baginya untuk mengungkapkan permasalahan yang tengah dihadapi oleh perusahaannya saat ini.


"Kalau memang butuh cepat, jalan satu-satunya adalah berbicara langsung pada pimpinan perusahaan. Tapi seperti yang saya katakan barusan, pimpinan perusahaan kami bukan orang yang bisa mengambil keputusan dengan cepat sebelum dikaji dan turun langsung untuk melakukan peninjauan.


Mohon Tuan Edgard perhatikan kalimat saya. Pimpinan perusahaan yang dimaksud adalah komisaris dan owner perusahaan, bukan CEO perusahaan,"


Tutur Joana dengan jelas.


"Saya paham. Berarti struktural di Alpha DMC, sama dengan di Pramudya Corp, ya Mis?"

__ADS_1


"Kurang lebih begitu, Tuan Edgard."


"Baiklah, jadi kapan Miss Joana akan membicarakan hal ini langsung pada pimpinan perusahaan?"


"Saya masih perlu berkomunikasi dengan rekan saya," sahut Joana.


"Usahakan cepat, Miss," pinta Edgard.


"Tuan butuh cepat?"


"Ya."


"Baiklah, tapi perlu diketahui, pimpinan perusahaan kami hanya akan memutuskan dengan cepat, bila sudah berkaitan dengan dua hal."


"Apa itu?"


********


*********


"Jelaskan kenapa bisa begini, Edgard!"


Teriak William dengan tatapan penuh kemarahan. Napasnya seketika jadi memburu. Obat yang baru saja dikonsumsinya untuk membuat pernapasannya teratur, kini telah kehilangan khasiatnya, akibat laporan yang baru saja disampaikan oleh Edgard padanya.


" kenapa bisa, Winata Group memutus kerja sama dengan kita?" Teriak William lagi dengan berang dan nada yang kian tinggi. Ia bahkan menepis tangan Damian yang mencoba untuk menenangkannya.


"Semua ini karena kebijakan dari, Kakek," jawab Edgard, dia masih terlihat santai kendati melihat kakeknya telah terengah di depan matanya.


"Kau menyalahkan aku untuk ketidak becusanmu dalam mengambil keputusan?" bentak William sekali lagi.


"Kakek mau mendengarkan penjelasanku atau mau marah-marah saja?" Edgard menetang tatap mata sang Kakek yang selama ini sangat ia takuti itu.


William terdiam mencoba mengatur napas yang kian terasa sesak.


"Kakek membuat keputusan untuk menjegal setiap produk minuman teh kemasan dari PT Agro Wonoasri. Pabrik teh milik Om Alarick. Dan ternyata PT Agro Wono Asri itu bekerjasama dengan Pt Indoprisma, milik Winata Group," tutur Edgard.


"Ini pasti kerjaan anak itu." William mendengkus samar.


"Winata Group sangat tersinggung dengan sikap kita, mereka memutus kerjasama, dan meminta pihak kita mengganti semua aset usaha bersama selama ini dalam jarak waktu lima hari saja," lanjut Edgard dengan keterangannya.


"Apa? Berani-beraninya mereka menekan kita seperti ini," sungut Wiliam.


"Berapa yang harus kita bayar?"


"Puluhan triliun, Kek. Dan perusahaan sekarang tidak mampu untuk membayar."


"Tunggu, biar ku carikan dulu jalan keluar,"


Sahut William yang sepertinya emosinya mulai stabil.


"Aku sudah mendapatkan jalan keluarnya, Kek," ucap Edgard segera.


"Apa?"


"Alpha DMC, bersedia memberikan suntikan dana lagi."


"Apa? Kau mengambil keputusan tanpa memberitahukan padaku?" William kembali naik pitam.


"Apa yang harus kulakukan, Kakek sedang dirawat di rumah sakit, aku tak sampai hati untuk memberatkan pikiranmu," sahut Edgard.


"Tapi kembali meminta suntikan dana pada Alpha DMC itu bukan jalan keluar yang tepat," tegas William.


"Lalu dengan cara apa, Kek? Aku tau kalau Pramudya London juga tengah dalam masalah, jika ada jalan keluar yang lain, kenapa tidak?" tukas Edgard.


"Lalu? Apa rekan bisinis barumu itu mau membantu?" Tanya William sedikit mencibir.


"Ya, besok pimpinan Alpha DMC akan datang," jawab Edgard.


"Lalu syarat apa yang mereka ajukan pada kita terkait bantuannya itu?"


Tanya Willam yang sudah dapat menduga, tak mungkin kalau perusahaan tingkat dunia itu mau membantu dengan cuma-cuma.


"Mereka memberi kita dua pilihan," kata Edgard.


"Apa?"


"Merger, atau akuisisi."


"Apa??".....


Dan William pun ambruk mendengar hal itu.


*****%%


********%%%


Haii semuanya..maaf kan diriku yang telat Up ini..


dan selalu telat menyapa kalian tiap hari..


beberapa eps lagi..cerita ini selesai..boleh tetap minta dukungannya kannnn..

__ADS_1


boleh minta vote nya juga..kannn..


__ADS_2