Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
126. Cinta Terhalang Tahta.


__ADS_3

"Aku minta maaf," kata Aura pelan seraya memandang wajah suaminya yang pucat.


"Maaf untuk apa?" Tanya lirih Damaresh dengan sisa tenaga yang masih ia punya, setelah rasanya, semua tenaganya telah terkuras habis bersamaan dengan seluruh isi perutnya yang dikeluarkan barusan.


Betul sekali tebakan kalian, kalau Damaresh mengalami syndrom kehamilan simpatik, sejak beberapa minggu terakhir ini. Ia mengalami gejala umum yang biasa dirasakan oleh wanita yang hamil muda, seperti morning sirkcness dan sebagainya. Sedangkan Aura malah damai sentosa, tak ada tanda kehamilan apapun yang dirasakannya kecuali mudah mengantuk saja.


"Karena kau harus mengalami hal ini," sahut Aura sendu.


Aresh tersenyum, ia raih tapak tangan kanan Aura di bawanya ke hadapan wajahnya, dan diciuminya berkali-kali. "Justru aku senang, kita bisa berbagi, sayang."


Aura menatap penuh haru teriring senyum bahagia yang lolos dari bibirnya begitu saja.


"Jangankan hal ini, yang memang tidak bisa ditolak, bisa ku tolak sekalipun aku tak akan melakukannya."


"Terima kasih, aresh. Kau suami yang baik," ucap Aura dengan sepasang mata yang mulai mengembun.


"Alhamdulillah," ucap syukur Damaresh dengan sepenuh jiwanya, netranya lalu menyapu wajah sang istri yang kian cantik dalam pandangannya sejak terdapat ruh kehidupan di dalam rahimnya.


"Jangan ungkapkan kebahagiaan dengan air mata, Bunda," ujarnya lembut. "Tersenyumlah, senyum adalah wakil terbaik untuk sebuah kebahagiaan," lanjutnya lagi juga dengan seulas senyuman.


"Aku merasa sangat terharu, Ayah..." Aura memutus ucapannya begitu saja, ketika suara yang terucap malah terdengar parau. Namun sesaat kemudian, sebuah senyum indah berhasil terbit dari bibir mungilnya.


"Ayah pucat." Aura mengusap wajah Damaresh dengan tangannya.


"Tapi aku masih terlihat tampan, kan, Bunda."


"Ya, sangat." Aura menganggukkan kepalanya.


"Padahal bercanda saja," ujar Damaresh santai.


"Tapi itu benar dan nyata," sambut Aura. "Aku berharap putraku akan sama seperti ayahnya."


"Putri, sayang," sahut Damaresh cepat.


"Putra." Aura membantah tetap dengan keyakinannya.


"Putra dan putri." Tak ingin memperpanjang perdebatan tentang jenis kelamin anak dalam rahim Aura yang bahkan belum genap delapan minggu itu, Aresh segera menyebutkan dua jenis sekaligus.


"Dua? Kembar?"


"Ya."


Aura terdiam.


"Kau keberatan?" Damaresh menatap istrinya itu seksama.


"Tidak juga, hanya saja ... jika kita langsung punya dua orang anak, aku kawatir, aku yang kalah tidak mendapatkan waktu mu lagi."


Suara Aura terdengar mengecil di ujung kalimat.


Damaresh tersenyum menatapnya dan lalu mencubit kecil dagunya. "Itu tak akan pernah terjadi, Arra," ucapnya.


"Ada kok, beberapa suami yang mengatakan, setelah dirinya menjadi ayah, kalau ia lebih mencintai anaknya dari pada istrinya. Dan aku kawatir, kamu akan begitu, Aresh," ungkap Aura dengan raut kecemasannya.


"Aku sangat tidak setuju dengan ungkapan itu, cinta kepada anak dan cinta kepada istri itu beda bentuknya. Kalau ada seorang suami mengatakan demikian dia telah mengingkari kenyataan, bahwa tanpa istrinya, tak akan ada anaknya, jadi istri harus tetap menjadi yang pertama, dan anak adalah yang utama."


"Baiklah." Aura menghela napasnya pelan setelah mendengarkan penuturan Damaresh itu. "Aku merasa lega sekarang," ujarnya di iring senyuman.


"Jadi sudah siap punya tiga orang anak sekaligus?" Tanya Damaresh dengan senyum.


"Kok tiga, barusan bilangnya dua," protes Aura langsung.


"Tiga dengan ayahnya, Bunda," ucap Damaresh dengan mimik tanpa dosa, ia bahkan segera merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya itu seraya mencium perut Aura yang masih rata meski terhalang baju yang dikenakannya.


"Ayah..." lirih Aura sambil mengusap-usap rambut Damaresh.


"Hmmm."


"Satu jam lagi, bisa kan, turun ke bawah?"


"Ada apa?" Damaresh balik tanya.


"Ada acara."


"Acara apa?"


"Nanti juga kau akan tau, hari ini tidak usah ke kantor dulu, ya," pinta Aura sepenuh harap.


"Baiklah, apapun untukmu."


***********

__ADS_1


******************


Satu jam kemudian, sesuai yang di pinta oleh Aura, Damaresh turun ke lantai bawah, mansion, tepatnya di ruangan utama. Tatapannya menjadi terpana melihat pemandangan yang tersaji di depannya.


Selayang pandang, semua yang terlihat adalah keakraban, kehangatan, dan kekeluargaan.


Satu demi satu yang datang, juga segera berbaur dalam suasana hangat, dan kedekatan, dari mulai saling bertegur sapa dan saling bertukar kata, semuanya terbingkai dalam suasana hangat penuh kekeluargaan.


Di sebelah sana, Claudya masih setia duduk di samping William yang harus setia dengan kursi roda-nya, setelah kesadarannya dari tidur panjang beberapa waktu yang terlewat.


Keduanya sedang berbincang akrab dan juga hangat dengan putra bungsu William yang hari ini hadir sebagai tamu kehormatan.


Siapa lagi kalau bukan Alarick William dan istrinya, Sherin Mumtaza.


Di sisi lain, Airlangga yang perlahan mulai bisa berpijak di atas kedua kakinya, juga sedang terlibat perbincangan santai dan sesekali berhias tawa ringan dengan Dipo Anggara serta Dien Anggara, ketiganya seperti sedang melakukan reuni kecil-kecilan di lihat dari cara komunikasi dan saling melempar canda tawa yang terbias dari ketiganya.


Dan di tempat yang sama pula, namun di posisi yang tak sama, Cristhin William sedang berbincang dengan menantu barunya, Friska, istri Anthoni. Setelah William sadar dari koma, seluruh keluarga memutuskan untuk menerima secara terbuka, keluarga kecil Anthoni William yang selama ini menikah diam-diam, dan menjalani pernikahan tersembunyi.


Dalam perbincangan itu juga turut serta, kedua nyonya Anggara, yaitu istri dari Dipo Anggara dan istri Dien Anggara.


Sedangkan Edgard sendiri malah lebih memilih berbincang dengan Dirga, sambil menyesap minuman yang setia di pegangnya di tangan kanan, seakan minuman yang di sajikan oleh istrinya itu sangat berharga sekali, hingga tak ingin ia lepaskan. Nola sendiri setia berdiri di sisinya mengikuti setiap alur pembicaraan suaminya bersama Dirga. Satu hal yang tak pernah dilakukannya selama ini, yaitu berbicara panjang lebar dengan orang yang hanya berstatus pelayan, meski Dirga, punya kedudukan yang lebih tinggi dari pada pelayan pada umumnya.


"Ada acara apa ini, sayang?" Suara tanya itu tiba-tiba menyeruak di pendengaran Aura yang sedang berdiri di dekat jendela.


"Acara berkumpul keluarga dan silaturrahmi, sayang," sahut Aura.


"Atas gagasan siapa?"


"Aku. Kau bilang aku boleh melakukan apa saja di rumah ini, bukan?"


"Tentu saja. Kau ratu di hatiku, dan juga ratu di rumahku."


"Terima kasih," ucap Aura dan sesaat masih menatap suaminya dengan sepenuh cinta.


"Hanya ini yang ingin ku lakukan, menyatukan kembali keluarga kita dan merekatkan mereka dalam ikatan kekeluargaan tanpa adanya perbedaan. Karena di hadapan Allah, semua manusia itu sama, yang membedakannya adalah tingkat ketakwaannya."


Atas ucapan istrinya itu, Damaresh menatap wanita yang telah mengajarkannya arti cinta yang sebenarnya tersebut dengan sepenuh cinta pula, bahkan ia ingin segera merefleksikan wujud cintanya itu dalam tindakan yang nyata. Namun..


"Tidak di sini," ucap Aura.


"Apanya?" Tanya Damaresh tak paham.


"Kau tau saja, Sayangku." Damaresh hanya bisa melampiaskan rasa gemasnya pada Aura dalam sebentuk cubitan kecil di pipinya. "Tapi kau melupakan seseorang yang harusnya tak boleh kita lupakan," ujar Damaresh kemudian.


"Siapa?" Tanya Aura heran.


"Ayah Lukman," sahut Aresh.


"Tentu saja tidak, Aresh. Lihatlah di sana!" Tunjuk Aura ke luar ruangan, ke arah Lukman yang sedang bicara berdua dengan Anthoni dengan pembicaraan yang akrab dan santai, karena di selingi tawa yang sesekali menghiasi pembicaraan.


"Apa anak itu sedang coba mengambil simpati mertuaku," ucap Damaresh sambil mengerutkan keningnya


"Ayolah, sayang jangan aneh-aneh ya." Aura menatap suaminya itu tajam. Damaresh menyambutnya dengan tawa ringan.


"Temui mereka sayang, kau adalah raja di sini."


"Tentu saja, tapi aku butuh kau mendampingiku Arra. Karena tidak ada seorang raja, yang sempurna disebut raja, tanpa seorang ratu di sampingnya."


Keduanya lalu menyapa setiap orang di sana dalam balutan keramahan dan keakraban antar keluarga, tak ada lagi jarak atau sekat tak kasat mata yang selama ini ada dalam tiap-tiap diri anggota keluarga William, semuanya telah terkikis habis, ketika cinta telah bertahta dalam masing-masing pribadi, maka yang ada hanyalah rasa kasih sayang dalam kebersamaan yang hakiki.


"Assalamu alaikum," ucapan salam itu datang dari Kaivan, ia juga hadir dalam pertemuan keluarga William itu karena tentu sahabat dekat Damaresh itu juga sudah dianggap keluarga.


Tapi yang terlihat lain dari kedatangannya adalah ia tak sendiri, tetapi bersama dengan Naila Anggara yang menautkan tangannya di lengan Kaivan yang hari ini tampak begitu gagah dalam balutan baju formal.


"Kau juga datang, Kai?" Tanya Damaresh. Ia menjadi satu-satunya orang yang keheranan dengan kehadiran Kaivan


"Ya, Bos," jawab Kaivan.


"Kau tinggalkan kantor tanpa ijin padaku?"


Tukas Damaresh, sepertinya lelaki itu akan menunjukkan taring aslinya yang tajam.


Memang sejak dirinya setiap pagi harus terkapar dalam rasa mual, ia selalu datang terlambat ke kantor, menunggu sampai kondisinya pulih dulu, biasanya mual itu berlalu setelah dua atau tiga jam saja, selama itu pula kaivan yang menghandle semua urusannya.


"Kan pak bos yang mengundangku untuk datang, jadi aku tinggalkan kantor untuk memenuhi undanganmu, Bos," sahut Kaivan santai.


Damaresh yang tak merasa melakukan itu segera menoleh pada istrinya. Aura menyambut tatapan suaminya itu dengan senyuman lembut.


"Apa ini perbuatanmu, Sayang?"


"Ya.. aku membawa namamu dalam setiap tindakanku, tapi percayalah, aku akan menjaga namamu, seperti aku menjaga kehormatanku," ucap Aura dengan nada pasti.

__ADS_1


"Aku percaya," sahut Damaresh dengan pasti pula. Selanjutnya ia menatap Kaivan yang masih berdiri di depannya.


"Berani menggandeng tangan anak orang, sudah dapat ijin dari om Dien Anggara, belum?"


"Sudah kok, Kak, tinggal peresmiannya aja," sahut Naila Anggara yang di akhiri dengan beradu tatap dengan Kaivan. Sepertinya pasangan yang baru memutuskan untuk berjalan bersama itu sedang menunjukkan kekompakan mereka sekarang.


Damaresh mengacungkan jempolnya pada Kaivan. "Dia masih adikku, jaga baik-baik," ucapnya singkat.


"Percaya saja padaku, bos. Aku akan menjaganya dengan baik, lebih baik dari menjaga urusan perusahaan yang sering kau percayakan padaku," sahut Kaivan.


Dan selanjutnya pasangan itupun menghampiri William.


Dan ternyata setelah Kaivan, datang lagi pasangan yang lain, yaitu Stefan dan Clara.


"Kau juga yang mengundang mereka, Bunda?" Tanya Damaresh langsung pada istrinya.


"Stefan adalah keluarga kita, Ayah. Loyalitasnya kepadamu tidak bisa diragukan, begitu juga dengan mbak Clara, sekarang mereka memutuskan untuk bersama, aku sungguh merasa senang. Jadi mereka juga keluarga kita sekarang."


"Ya, aku setuju denganmu, Sayang."


Dan beberapa saat kemudian.


Nola berdiri menyisih dari samping Edgard menghampiri Aura yang sedang berdiri di depan jendela sembari memperhatikan layar ponselnya, wanita ayu berhijab itu sedang membaca pesan atau sedang berbalas pesan dengan quinsha Daneen, sahabatnya.


"Aku baru tau, bagaimana rasanya tersenyum dengan tulus." Demikian ucapan Nola sesaat setelah ia membalas senyuman Aura yang menyambut kedatangannya.


"Senyum yang lahir dari hati, bukan tuntutan, bukan paksaan, rasanya, sangat indah sekali.


Lebih indah dari pada emas permata yang menyilaukan pandangan," lanjut Nola dengan tatapan sedikit menerawang seakan hendak menembus lagi masa yang terlewatkan, dimana senyum menjadi sesuatu yang mudah ia berikan, namun lahir karena sebuah keterpaksaan, atau karena keharusan. Demi untuk sebuah nama baik, citra baik dan sebagainya.


"Senyum yang tulus itu lahir dari hati yang ikhlas, hati yang ikhlas, adalah hati yang dipenuhi cinta," sambut Aura.


"Dan cinta tidak akan tumbuh di dalam hati yang terhalangi tahta. Berupa kekuasaan, keegoisan dan sebagainya," lanjutnya lagi.


"Dan kamu Aura, yang mengajari kami akan indahnya cinta yang tak terhalang tahta.


Tahta itu tetap ada, tapi ketika semuanya dijalankan dengan cinta, maka tak ada lagi cinta yang terhalang tahta." Ungkapan itu berasal dari Claudya, entah darimana datangnya kenapa tiba-tiba wanita itu sudah ada di dekat mereka.


"Sekarang tak ada lagi cinta yang terhalang tahta, yang ada adalah, cinta yang bertahta,"


Ucap Christhine, ia juga hadir diantara mereka melanjutkan ucapan.


"Terima kasih, Sayang, untuk semuanya."


Baik Claudya maupun Christhine sama-sama memeluk Aura dan memberinya ciuman hangat.


Alhamdulillahi rabbil'alaminn..


Terima kasih ya Allah.


Kalimat syukur itu terpahat dalam hati Aura, juga semua yang hadir di sana.


The End.


**************


Alhamdulillahh..walau dengan tertatih-tatih untuk bisa menuntaskan kisah ini, sebab kesibukan saya di dunia nyata, cerita ini bisa ending juga, semoga sesuai dengan apa yang pembaca sekalian harapkan, kalaupun tidak, saya minta maaf yang sebesar2nya.


Dari awal menulis cerita ini, saya sudah menentukan alur ceritanya, konflik utamanya, konflik penyerta dan endingnya bakal bagaimana, dan saya tidak bisa merubah alur kisah yang sudah saya putuskan, walaupun pada perjalanannya, banyak pembaca yang memberi saran dan masukan. Dengan berat hati, saya tak dapat mengambil saran itu karena tak ingin membuat alur yang sudah saya tetapkan akan berantakan..


Salah satu contoh tentang tokoh William yang oleh sebagian besar pembaca minta di lenyapkan.


saya tak bisa turuti, karena saya pikir adalah, Akhir yang terbaik bagi seorang manusia yang bersalah, adalah menyadari kesalahannya, mempertanggung jawabkannya, dan memperbaikinya.


Oleh sebab saya sayang pada semua tokoh dalam cerita ini, baik yang protagonis ataupun yang antagonis, jadi saya ingin mereka di akhir cerita sama-sama duduk berdampingan merasakan kehidupan yang indah dalam harmonisasi cinta.


Dan menyadari, kekuasaan Allah yang maha rahman dalam kehidupan.


Karena ketika manusia itu tersadar dari kesalahan, ia akan lebih khusyu bertasbih memuji Tuhan.


TAPI saya sangat tau..usul dan saran yang kalian berikan, adalah tanda cinta kalian pada cerita receh saya ini. TERIMA KASIHHH YANG TAK TERHINGGA.


Mohon maaf juga karena tidak semua komentarnya bisa saya jawab..tapi dalam hati saya berikan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk semua pembaca yang telah meninggalkan jejak bacaannya, karena itu adalah pemicu semangat saya untuk berkarya..


Dan bagi semua teman-teman yang masih belum ingin berpisah dari Aresh dan Arra, saya akan berikan dua atau tiga extra part ke depan, insha allah..aminn..


Salam cinta dari saya,


Najwa Aini.


Jember-Jawa timur.

__ADS_1


__ADS_2