Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
79. Studying & Learning


__ADS_3

"Kai!" panggil Damaresh sembari melangkah mendekati di ikuti oleh Naila.


"Ya," jawab Kai singkat dan langsung berdiri di ikuti oleh Aura.


"Kau antar Naila kembali ke kantor!"


Titah Damaresh dan segera meraih tangan Aura lalu berbalik badan membawa istrinya itu pergi tanpa kata.


"Kak Aresh mau kemana? Jam dua siang kita ada meeting lagi, kak!" seru Naila pada Damaresh yang telah melangkah menjauhi.


Lelaki itu hentikan langkah, memutar kepalanya ke arah Naila. "Sepuluh menit sebelum meeting dimulai, aku sudah akan tiba di lokasi," ujarnya dengan pasti.


"Tapi kita perlu briefing dulu kak," sanggah Naila.


"Dengan Kai, sama saja,"pungkas Damaresh dan terus berlalu membawa tangan Aura dalam genggaman tangannya.


Aura membiarkan jemarinya dalam penguasaan tangan Damaresh, membiarkan langkah kakinya setia mengikuti kemana lelaki itu pergi.


Membiarkan suasana terlalui dalam kebungkaman. Sampai mereka tiba di mobil dan sama-sama memasukinya, lalu membiarkan kuda besi itu membawa tubuh keduanya pergi meninggalkan gedung kantor Willson Corp.


"Sekarang ceritakan kenapa kau ada disini!" saat perjalanan telah terlewati


Dalam jarak waktu hampir sepuluh menit, barulah terdengar Damaresh berkata.


"Jadi, sekarang sudah waktunya aku bicara?" Aura masih bertanya sambil menatap lelaki di sampingnya.


"Perlu ku ulangi ucapanku?" sergah Damaresh cepat.


"Aku sangat merindukanmu Aresh, tapi kau tampak tak senang bertemu denganku," ucap Aura dengan suara bergetar.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Arra, jawab saja pertanyaanku!"


Lelaki itu berucap tandas sambil menatap Aura yang juga menentang tatapannya dengan sepasang mata berkaca.


Melihat itu Damaresh menghembuskan napasnya kasar. Dan akhirnya ia menyerah, beberapa kalimat muncul dari bibirnya."Aku senang Arra, dan aku juga rindu. Tapi kekawatiranku mengalahi semuanya, aku kawatir kau tiba-tiba ada di kota ini sendirian, kemana teman-temanmu, dan kemana Dirga?


Ceritakan semuanya padaku!"


Kata Damaresh cepat, kekawatiran itu kini tercetak jelas di wajahnya.


Aura menunduk dan menelan salivanya.


"Dirga tidak ikut, saat aku telfhon kamu, kami sudah ada di Bandara."


"Kenapa tidak memberitauku sebelumnya?"


"Tidak bisa. Sudah berkali-kali ku coba,


Aku juga kawatir kau sedang istirahat, karna selisih waktu di sini dan Jakarta cukup jauh."


Damaresh diam, sepertinya mempermasalahkan telfhon sudah tak penting lagi sekarang.


"Aku juga tidak tau kalau kami mau ke kota ini, bu Olivia hanya mengatakan akan menyusul Nyonya Christhine setauku nyonya Christhine pergi ke Taiwan, ternyata dia ada di sini."


Aura menjelaskan.


"Dan tujuan kalian kemari apa?"


"L&D menggagas untuk membuka lahan usaha baru dibidang fashion, dan bu Christhine kemari untuk studying dan learning pada temannya yang memiliki perusahaan sukses yang bergerak dibidang fashion di sini."


"Willson Corp," desis Damaresh samar.


"Lalu dimana yang lain, kenapa kau ada di Willson Corp sendirian?" lanjut interogasi Damaresh.


"Aku juga tidak tau, tadi kami berbincang bersama, tapi aku pamit karna ada telfhon dari ayah, saat aku mau menghubungi bu Olivia yang sudah tak ada ditempat kami bersama, aku tak sengaja menubruk lelaki itu yang aku tidak tau dia siapa,"


"Sean Willson, CEO Willson Corp."


Damaresh mengambil ponselnya dan menghubungi Olivia. "Kau dimana?" ia bertanya cepat, saat panggilan telah terhubung."


"Di London," sahut Olivia kikuk.


"Ya aku tau kau di London, posisimu di mana sekarang?" lanjut tanya Damaresh dengan suara datar.


"Bicester outlet village. Saya sedang bersa---" tak sampai tuntas Olivia memberikan keterangannya, Damaresh sudah memutus telfhon secara sepihak, segera ia bawa kuda besinya dengan cepat menuju kawasan perbelanjaan elite yang letaknya tak jauh dari oxford itu.


Di Bicester outlet village itu sendiri, di salah satu outlet yang menjual barang-barang dari brand ternama negara britania raya tersebut.

__ADS_1


"Gimana sarah, sudah kau telfhon putramu?" tanya Cristhine pada seorang wanita cantik seusianya.


"Ya, Sean sebentar lagi, sampai," sahut Sarah Willson.


Christhine menarik napas lega sambil saling tatap dengan Olivia yang juga melakukan hal serupa bahkan dengan senyum terkembang di bibirnya.


"Gimana, sudah kalian dapatkan apa yang kalian cari?" tanya sarah sambil membenarkan posisi duduknya.


"Ya sudah semuanya. Mungkin besok lusa kami langsung kembali," jawab Chtisthine sembari memeriksa beberapa paper bag belanjaannya.


"Nanti malam, aku undang kalian ke mansion ku," ajak Sarah dengan senyum khasnya.


"Wahh" Christhine dan Olivia berseru senang bersamaan.


Seorang lelaki tampan dan gagah menghampiri mereka.


"Mom." lelaki itu segera mencium sarah.


"Lho Sean kok sendiri saja?" tanya Sarah heran.


"Harusnya sama siapa, Mom? sama Alesya? dia sudah memilih Erlan, Mom." Sean tampak menggeleng sedih,


Sarah segera mengusap pipi putra tampannya itu lembut.


"Bukan itu maksudku sayang, mommy tadi minta tolong kamu buat ngantarkan temannya tante Christhine kemari, kan?"


"Wanita cantik pakai kerudung?"


Sean segera paham siapa yang dimaksud, karna Sarah memang sempat mengirim fhoto wanita itu tadi, saat ia minta putranya untuk mengantarkan wanita yang masih ada di Willson Corp itu kesana.


"Iya, dimana dia sekarang, Sean?" tanya Christhine.


"Dia sudah bersama pawangnya, Tante. Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba di sini," jawab Sean.


Christhine mengangguk, meski tak sepenuhnya paham apa yang dimaksud pawang oleh Sean, tapi perasaannya lega karna Sean mengatakan kalau orang yang dimaksud akan tiba di sini.


"Duduk sayang, momy pesankan minuman," pinta sarah pada putra tunggalnya itu.


"No, Mom. Aku langsung antar Mommy pulang saja, karna aku harus balik ke kantor," tolak Sean yang nampak sedang tergesa. Lelaki itu melihat jam tangannya lalu pandangannya berlabuh ke segala arah.


"Apa ada yang sedang kau tunggu sayang?" lagi-lagi sarah bertanya lembut. nunggu Alesya mom, mungkin angin lalu membawanya dari paris kesini, untuk obati rinduku. Kata yang hanya terucap di hati Sean, sedang bibir indahnya hanya menyunggingkan senyuman di serta gelengan kepala.


"Kenapa Mom?"


"Untuk menghibur hatimu," lanjut Sarah.


"Hatiku selalu terhibur melihat senyummu, Mom."


Sean kembali mencium pipi ibunya dengan sayang.


Sebuah pemandangan langka, seorang seperti Sean dengan tampang dingin dan tatapan tajamnya ternyata begitu lembut dan hormat pada ibunya.


(berbanding terbalik dengan Damaresh ya? tapi AResh


punya alasan di balik sikapnya yang sangat memusuhi sang ibu)


"Untuk melupakan sebuah cinta, kita harus jatuh cinta lagi pada orang lain, Sean." Christhine menimpali, sebagai sahabat Sarah, ia sudah tau kisah putra tunggal sahabatnya itu dari mulut Sarah sendiri.


"Tidak Tante, hatiku sudah memilih dan selamanya akan tetap begitu," tegas Sean didukung expresi wajahnya yang sepenuh tekad, menandakan keputusannya sudah pungkas. Hanya satu nama yang akan bertahta di hatinya. Alesya.


"Nah itu yang kalian tunggu sudah datang!" tunjuk Sean arah jam sembilan dari mereka duduk.


Christhine dan Olivia serempak berdiri dari duduk anggunnya melihat siapa yang datang.


"Aresh, Aura," sapa Christhine gugup begitu keduanya telah tiba di dekat mereka.


Damaresh hanya menatap datar, beda dengan Aura yang segera kembangkan senyuman.


"Ini, Damaresh putranya Airlangga?" Sarah menunjuk Damaresh dengan expresi kaget.


"Ya Sarah," jawab Cristhine.


"Wajahmu sangat mirip Airlangga sekali, Aresh..Kau sangat tampan." Sarah gegas memeluk Damaresh selayaknya dua orang yang baru ketemu.


"Putramu lebih tampan, Mommy," celetuk Sean yang menatap tak suka tatkala sang ibu begitu memuji Damaresh.


Aresh menatap Sean sambil kerutkan kening.

__ADS_1


"Dia mommy-ku, Sarah Willson," ucap Sean.


"Aku tau," sahut Damaresh singkat.


"Kita bertemu lagi, tapi jangan bilang kita jodoh," kata Sean lagi, meski kalimatnya terdengar lucu, tapi wajahnya terlihat datar.


"Tapi di sini, aku tak mau mendengar khotbahmu lagi,"


sahut Damaresh.


Sean tergelak.


"Kalian saling kenal?" tanya Sarah.


"Kita rekan bisnis, Mom," sahut Sean.


"Wah bagus dong!" Sarah berseru senang.


Sean segera mengajak ibunya pergi setelah melakukan ritual wajib bagi dua orang yang akan berpisah antara Sarah Willson dan Christhine serta Olivia.


Dan segera atmosfer ketegangan menyelimuti mereka, dapat diduga kalau Damaresh akan murka gara-gara meninggalkan Aura sendirian di gedung Willson Corp,


"Ee Aresh, kami tak menyangka bisa bertemu denganmu di kota ini." Cristhine segera berinisiatif menyapa lebih dulu sebelum Damaresh memuntahkan amarahnya.


"Kalau tidak bertemu denganku di sini apa yang akan terjadi Tante?" sergah Damaresh cepat.


"Ee kami tadi tiba-tiba di ajak Sarah kemari, tapi Sarah sudah minta Sean untuk mengantar Aura menyusul kemari," kata Christhine, sedangkan Olivia malah tak bisa mendongak sama sekali.


"Masih berapa hari lagi agenda, studying dan learning sekaligus shoping kalian di sini?"


mengabaikan keterangan Christhine, Damaresh justru bertanya hal lain, yang sedikit menyindir kegiatan mereka di kota ini.


"Rencana lusa kami kembali ke Jakarta, Pak," sahut Olivia.


"Kalau begitu Arra akan kembali lebih dulu, besok!"


putus Damaresh.


"Kalau begitu kami juga akan kembali besok," kata Christhine cepat. Ia paham kalau tak ikut pulang besok


bisa jadi dirinya dan Olivia tak akan dapat pulang dengan jet pribadi, karna fasilitas mewah milik keluarga Willyam itu baru bisa digunakan atas ijin Damaresh selaku pemegang kekuasaan tertinggi di Pramudya Corp.


"Bagus," sambut Damaresh. "Dan satu hal lagi," Damaresh menatap Christhine dan Olivia bergantian.


"Jangan memberikan tugas keluar pada istriku, terlebih ke luar negeri, jika kalian tak bisa menjamin keselamatannya!" Lelaki itu berkata tegas.


"Iya, Aresh, aku akan mengingat itu," sahut Christhine sedangkan Olivia hanya bisa tertunduk saja.


"Ayo Arra!" Damaresh kembali menarik tangan Aura untuk segera pergi dari tempat itu.


"Aura mau dibawa kemana, Pak? kami sudah memesan penginapan mewah untuk kami nanti."


Olivia menyebutkan fasilitas yang telah di booking untuk menebus kesalahan.


"Arra akan menginap di tempatku malam ini, apa ada masalah?"


"Tidak Pak." Olivia cepat menggeleng.


Damaresh pun meneruskan langkahnya melenggang pergi sambil tak melepaskan jemari Aura dalam tautan tangannya.


-----???-----


---?---???---????--


Maaf ya man teman.up nya telat banget.


oya..buat yang penasaran sama Sean Willson dan ingin kenal dia lebih lanjut..berikut kisah cintanya dengan Alesya..kunjungi rumah mereka ya..


di bawah ini alamatnya



Cerita karya kak Nofia Hayati ini wajib dikunjungi kalau ingin ketemu Sean dan Alesya ..ratu hatinya Sean di sana.



Sean Willson.

__ADS_1



Alesya..


__ADS_2