Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
18. Keputusan Lukman.


__ADS_3

"Bibi tolong.." Aura memohon penuh harap menatap Bi Husna yang masih enggan bicara padanya.


"Apa sih Nduk, bibi sudah sangat kecewa padamu, pernikahan sudah tinggal empat hari lagi, semua persiapan sudah matang, tapi semuanya batal gara-gara ulahmu," Bibi Husna akhirnya menumpahkan kekesalannya yang di pendam sejak kemarin pada Aura, ia sedih juga malu, gak tau harus bilang apa nanti bila di tanyakan orang. Bahkan dari pihak kerabat sudah banyak yang bertanya karna di antara mereka sempat mendengar keributan kemarin, tapi bibi husna masih menutupinya kalau semuanya baik-baik saja, tapi sampai kapan kebohongan ini akan bertahan.


"Saya terima salah bi," Aura menunduk dengan perasaan getir. "Tapi ini tentang ayah,"


"Kenapa ayahmu?"


"Ayah belum keluar dari kamar sejak kemarin bi, saya kawatir,... kawatir penyakit ayah kambuh dan," Aura tak bisa melanjutkan ucapannya karna keburu terisak.


Tanpa kata Bibi Husna segera bergegas kerumah Aura iapun sangat kawatir dengan kakaknya itu kalau-kalau terjadi hal yang tak di inginkan padanya.


Setelah mengetuk pintu berkali-kali di sertai memanggil-manggil namanya, barulah Lukman membuka pintu kamar, Bi Husna segera masuk dan menutup rapat kembali pintunya, meski Aura tidak di perbolehkan ikut masuk, tapi gadis itu merasa senang karna ternyata Lukman baik-baik saja, ia mungkin masih merasa enggan untuk ketemu putrinya.


Bisa di pahami kalau Lukman sangat marah dan kecewa pada Aura tapi juga tak bisa untuk bertindak kasar pada putri semata wayangnya, karnanya ia memilih untuk mendiamkan saja anak gadisnya itu.


Sekali lagi Aura mencoba menghubungi Kaivan sembari menunggu Bibi Husna selesai bicara dengan ayahnya, namun hasilnya masih sama seperti semalam, tak terhubung. Aura ingin sedikit menceritakan perihal kiriman fhoto itu, berharap Kaivan bisa sedikit membantu menjernihkan persoalan.


Aura sudah memeriksa alamat pengirim fhoto dirinya dan Damaresh yang tertera di atas amplop besar berwarna coklat itu, yang ternyata benar alamat yang tertulis adalah tepat di sebelah kantor Mediatama Corp Surabaya, perusahaan yang di pimpin Edgard Willyam.


Sehingga Aura memutuskan dengan bulat kalau fhoto itu di ambil dan di kirimkan atas perintah Edgard.


"Niat banget sih bos Mediatama itu menghancurkan hidupku, memang seberapa besar kerugian yang ia alami gara-gara kejujuranku tentang proyek RS Medika pada Pak Damaresh," Sungut Aura dalam hati.


Tak pernah tau dan tak pernah memahami lika-liku dalam dunia bisnis, seorang Aura hanya melakukan sesuatu yang sesuai hati nuraninya saja, yaitu jujur.


Ternyata akibat kejujurannya itu berbuntut panjang


dalam hidupnya.


Di mulai dari ancaman dan intimidasi oleh anak buah Edgard yang berhasil di atasi Aura.


Kemudian di jebak dengan obat bius untuk melakukan hubungan terlarang, namun beruntung dia di selamatkan oleh Damaresh, dan terakhir, dimana kini keberuntungan itu tak lagi berpihak padanya, ketika tak ada Damaresh dan Kaivan yang melindunginya seperti sebelum-sebelumnya. Gadis itu kehilangan calon suami dan gagal menjadi pengantin tepat empat hari sebelum acara pernikahan.


Haruskah kini Aura menyesal karna telah berkata jujur??


"Aura, ayahmu ingin bicara," ucap Bi Husna setelah Aura menunggu lama di ruang tengah. Gadis cantik itu segera bangkit dan bergesa masuk kekamar ayahnya dengan wajah berbinar.

__ADS_1


"Ayahh" Aura segera memeluk Lukman yang duduk tenang di tepi pembaringan seraya menatap putrinya datar, meskipun Lukman tak merespon pelukannya


tapi Aura sangat senang mendapati ayahnya itu baik-baik saja.


"Duduklah!" Lukman menunjuk kursi di depannya.


Aura menurut ia duduk di kursi itu dengan kepala tertunduk.


"Ayah sangat kecewa padamu," Lukman berkata dengan penuh penekanan.


"Aura tau ayah," Gadis itu menatap Lukman dengan sepasang mata yang langsung berkaca-kaca.


"Tapi aku, sama sekali tak pernah melakukan perbuatan seperti itu, ayah." Aura mencoba menjelaskan. Siapa tau kali ini, Lukman mau mendengarkan.


"Ayah sudah membuat keputusan," Lukman berkata lain, mengabaikan apa yang di ucapkan oleh Aura.


"Apa keputusan ayah?" Aura bertanya dengan suara tercekat, pikiran buruk sudah memenuhi kepalanya, kalau-kalau Lukman memutuskan untuk mengusirnya dari rumah.


"Kau harus tetap menikah, di waktu yang sudah di tentukan." putus Lukman dengan tegas.


"Apa?" meski lega karna ternyata itu bukan keputusan


"Menikah, bukankah kak Akhtar sudah mengagalkan semuanya, ayah?"


"Bukan dengan Akhtar," Ucap Lukman.


"La..lalu, aku akan menikah dengan siapa ayah?"


"Dengan seorang yang sudah aku tentukan,"


"Si.. siapa ayah?" Aura jadi gugup.


"Kau juga akan tau, nanti." Putus Lukman.


"Tap.."


"Ini sudah keputusanku, terserah padamu mau mengikutinya atau tidak," Lukman menatap putrinya itu tajam.

__ADS_1


Aura segera menunduk. Kepalanya langsung terasa pusing dengan selaksa pertanyaan yang langsung berjibun disana. Terutama tentang siapa calon yang sudah di pilih oleh Lukman untuknya. Benarkah Lukman akan mendapatkan calon pengganti untuk putrinya dalam waktu cepat. Entah siapa yang akan di seret oleh ayahnya itu untuk menemani putrinya di depan penghulu.


Bisa di pahami, jika Lukman memutuskan agar putrinya tetap menikah di hari yang memang sudah di tentukan, karna memang semua persiapan sudah matang, undangan juga sudah keburu tersebar meski tidak dalam jumblah banyak.


Dan terlebih lagi diatas semuanya, adalah untuk menyelamatkan keluarga dari fitnah. Di lingkungan sekitar keluarga Lukman memang di kenal sebagai keluarga yang cukup religius. Batalnya pernikahan Aura karna sebuah tuduhan perzinahan adalah sebuah aib besar yang pasti ingin di tutupi oleh Lukman.


Dengan kata lain, keputusan untuk Aura tetap menikah adalah untuk melindungi putrinya itu sendiri.


Tapi pertanyaannya, siapa orangnya yang sudi menjadi suami pengganti untuk seorang wanita yang ditinggal calon suami gara-gara tuduhan perzinahan??.


"Jika dengan itu, aku bisa mendapatkan maaf ayah, aku setuju," jawab Aura meskipun dengan suara yang bergetar. Baginya kini dengan siapa ia akan menikah, itu adalah perkara nomer dua, yang terpenting adalah pengampunan sang ayah. Ayahnya yang merupakan harta yang paling berharga dalam hidupnya.


Yang selama lebih dari sepuluh tahun ini sudah menjadi ayah sekaligus ibu untuknya, yang mempertaruhkan hidupnya untuk kebahagiaan dan kesuksesan Aura. Membuatnya bahagia adalah keinginan Aura sejak dulu.


Lukman mengangguk. "Berikan ponselmu pada ayah, ayah yang akan memnyimpannya mulai sekarang, agar atasanmu itu tak bisa menghubungimu lagi."


Lukman memberikan keputusan yang kedua.


yaitu menutup seluruh akses komunikasi untuk putrinya.


Aura patuh, ia segera memberikan ponselnya pada Lukman. "Sekarang kau keluarlah, ayah akan beristirahat."


"Sebaiknya ayah makan dulu, Aura bawakan makanannya kesini ya,"


"Tidak usah, aku akan makan di meja makan seperti biasa," sahut Lukman yang sudah bersiap merebahkan tubuhnya.


"Kalau begitu, aku akan siapkan ayah,"


Lukman mengangguk. Aura pun segera bergegas keluar kamar itu dan mendapati bibi Husna ternyata berada di dapur.


"Kalian sudah bicara?" tanya Bi Husna.


"Sudah bi,"


"Kau paham maksud dari keputusan ayahmu?"


"ya bi," Aura mengangguk.

__ADS_1


"Bagus," Bibi Husna mengusap pundak Aura sebelum berlalu. Gadis cantik itu menghela nafas kuat.


akan seperti apa kehidupanku nantinya, aku coba berserah padamu ya allah.


__ADS_2